Hati-hati, jangan buru-buru.

Rasa-rasanya, bukan sekali dua kali saya menganjurkan untuk tidak terburu-buru dan menjaga kehati-hatian dalam menjatuhkan tuduhan, label, atau putusan pada masalah-masalah yang kebenaran di dalamnya adalah samar. Rasa-rasanya, bukan sekali dua kali saya mengatakan bahwa segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawabannya. Bukan apa-apa. Alih-alih “menyuarakan kebenaran”, yang ada hanya memburuknya hati karena buruk sangka, keluarnya celaan dan hinaan, ghibah, bahkan fitnah. Inilah kenapa saya katakan bahwa melakukan kroscek atau tabayyun terlebih dahulu itu penting.
Supaya tidak terjebak pada hal-hal yang demikian, ada beberapa prosedur yang biasa saya lakukan dalam menyikapi masalah seperti ini.
Yang pertama, saya harus mengetahui dulu dasar berita yang dibuat, istilah-istilah yang dipakai, dan kemudian membandingkannya dengan fakta-fakta (bukan asumsi apalagi tuduhan orang lain) yang ada.
1. Apabila tersebar berita, seseorang dianggap komunis/liberal/penganut isme-isme tertentu, pahami dulu term/istilah komunis/liberal/isme-isme yang digunakan. Hal ini penting. Karena kebanyakan orang yang menjatuhkan tuduhan-tuduhan semacam itu, tidak mengerti istilah-istilah yang digunakan.
Sebagai contoh, “komunis tidak mempercayai Tuhan”. Faktanya, komunisme sendiri secara garis besar adalah ideologi politik yang mengedepankan kesetaraan dan kesejahteraan rakyat. Dan faktanya, term ini digunakan pada rezim orba untuk mendemonisasi mereka yang lebih pro kepada kerakyatan daripada ke rezim yang berkuasa pada saat itu. Tidak ada hubungannya antara kepercayaan/belief seseorang terhadap keberpihakan seseorang dalam politik.
Setelah mengerti term yang dimaksud, lalu sandingkan dengan fakta-fakta (bukan asumsi/tuduhan) dan bukti-bukti yang ada, apakah seseorang yang dimaksud itu menganut isme-isme tersebut? Kalau iya, apakah salah? Salahnya di mana? Bila yang dilakukan salah, mana yang benar yang seharusnya dilakukan?
2. Apabila tersebar berita, seseorang dianggap sesat/kafir, coba cari tau bagaimana pandangan para ulama mengenai perilaku yang diberitakan sesat tersebut. Cari rujukan/dasar hukum dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan kitab-kitab klasik ulama-ulama terdahulu. Pahami rujukan tersebut. Setelah itu semua dilakukan, lihat ke yang dituduh, apakah ia melakukan amaliyah yang menjadikannya ia sebagai tertuduh pelaku kesesatan. Apakah benar dia melakukannya atau tidak? Kalau ia melakukan, cari tau musabab ia melakukan hal tersebut dan kembali lagi membandingkan dengan dasar hukum yang ada (Qur’an Hadits, Ijma’). Tidak cukup sampai di situ saja, lihat juga ke diri sendiri, apakah diri sendiiri cukup kompeten menjatuhkan tuduhan sesat/kafir terhadap orang tersebut? (Ini juga berlaku terhadap tuduhan-tuduhan bahwa seseorang itu syiah, atau apakah syiah itu sesat atau tidak).
Lalu bagaimana jika dalam mencari rujukan dari ijma’ para ulama kemudian ditemukan perbedaan pendapat? Bolehkah kita lantas mencela atau menghina apalagi memfitnah ulama yang berbeda pendapat tersebut? Dalam hal ini, saya selalu melihat ke diri sendiri, apakah saya cukup pantas dan kompeten (dengan segala keilmuan yang saya punya) untuk menghakimi? Dan yang paling penting, apakah diperbolehkan untuk menghina/mencaci/memfitnah mereka yang masih bersyahadat (bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad Rasulullah adalah utusan-Nya), dan shalat menghadap kiblat? Adakah dasar hukum (Qur’an/Hadits/Ijma’) yang memperbolehkan kita melakukan hal tersebut? Kalau saya, memilih diam. Pun terhadap ulama-ulama yang saya tidak sependapat pada fatwanya (dikarenakan perbedaan pendapat dari fatwa guru-guru saya yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah Saw, yang tentunya, adab seorang murid harus mempercayai gurunya), saya tetap merasa tidak pantas memberikan cacian/hinaan/fitnah terhadap mereka. Alih-alih demikian, lebih baik saya memohon petunjuk kepada Allah dan mengembalikan permasalahan kepada-Nya.
3. Jika beredar suatu berita pun, sebaiknya lakukan kroscek dan membandingkan antara sumber satu dengan sumber lainnya. Jangan terburu-buru menyebarkan. Membaca, mencari tahu, dan mengedukasi diri sendiri itu lebih penting dibanding terburu-buru menggerutu dan menyebarkan konten hanya karena nafsu tersulut oleh judul berita dan narasi yang disampaikan.
Berhati-hati itu penting, supaya kita tidak merugi. Ya semoga saja kita bukan termasuk orang-orang yang gemar memakan daging saudara sendiri. Semoga saja kita bukan termasuk orang-orang yang merugi. Semoga Allah memberikan petunjuk dan ampunan terhadap kita.
19149391_10210817759493256_3963627962785621505_n