Ahli Segala, Pakar Mengada-ada

Kemarin lusa, banyak orang-orang tiba-tiba saja menjadi pakar agama. Tiba-tiba saja mereka menjadi ahli dalam menjatuhkan vonis ini itu kepada siapa saja yang berbeda. Pokoknya, sumber-sumber mereka yang cuma satu dua paragraf, beberapa ceramah, atau penggalan-penggalan ayat maupun sabda Rasul, cukuplah untuk menjadikan mereka ahli. Siapa peduli yang berbeda dari mereka lahir dari sekian banyak kitab, dan puluhan tahun menuntut ilmu agama.

Lalu, tiba-tiba mereka jadi ahli fisika. Dari segudang teori fisika, paper, dan jurnal ilmiah, itu mah nggak ada apa-apanya dibanding yakin. Iya, yakin kalau bumi itu nggak speris. Bumi itu datar. Jadi segala macam teori dan penelitian itu ya cuma konspirasi aja. Nggak tau deh konspirasi buat ngapain.

Setelah itu, tiba-tiba saja orang-orang mendadak menjadi pakar politik. Paham betul mereka tentang macam-macam ideologi. Ya pokoknya yang berbeda dari mereka itu liberal, atau komunis. Iya, komunis. Itu lho, yang anti Tuhan. Salah lah pokoknya. Meski disodorkan pengertian-pengertian dan serenceng definisi tentang macam-macam ideologi, pokoknya liberal dan komunis itu adalah sebuah cacat peradaban. Harus dibasmi karena mengancam. Entah mengancam siapa. Ya pokoknya mengancam. Meski sudah tinggal nama dan menjadi hantu, pokoknya biar ada kambing hitam aja. Jangan mau salah dong.

Belum juga habis rokok sebatang, tiba-tiba mereka sudah jadi ahli intelejen. Sigap betul bilang mau ada invansi gede-gedean dari negeri seberang. Cekatan bilang pemerintahan ini mau menghancurkan agama. Informasi intelejen itu datang bertubi-tubi dari sosial media, juga artikel-artikel di blog, atau portal berita yang kantornya sendiri nggak tau ada di mana, reporternya siapa, editornya siapa, redakturnya siapa, dan sering terbukti nggak benar. Pokoknya ambil aja, klik share, sambil kasih tanggapan menggerutu. Kalau salah, ya bodo amat. Salah itu kan menurut mereka yang nggak berdiri di pihak mereka. Buat mereka ya bener-bener aja.

Cukup? Nggak dong. Buktinya, nggak lama, mereka langsung jadi ahli sejarah. Pokoknya, bukti-bukti sejarah, penelitian, referensi, citation, dan lain sebagainya itu salah. Ini karena ada upaya dari pihak lain untuk menyembunyikan kebenaran, yang tentunya versi mereka. Si anu sebenarnya beragama sama dengan kita. Si ini dan si itu juga. Napoleon masuk agama kita. Wong Fei Hung. Hitler. Jackie Chen. Semuanya. Kerajaan Hindu Buddha yang dulu itu, sebenernya kesultanan. Candi ini dan candi itu adalah jejak budaya agama kita. Peninggalan salah satu nabi kita. Walisongo itu cuma hoax. Dan lain sebagainya. Segala sesuatu di masa lampau harus berkaitan dengan agama lah pokoknya. Sebodo amat sama berbagai referensi. Malas baca. Neliti langsung juga cape. Mending patokannya ke satu dua artikel aja.

Jadi ahli kesehatan juga dong. Jangan sampe lah anak dikasih vaksin. Itu racun. Haram. Apalah. Pokoknya jangan deh. Itu nggak sehat. Peduli amat sama yang nolak vaksin terus akhirnya kena penyakit. Udah takdirnya kali.

Duh, kalian ini. Apakah kita sebegitu kerdilnya sehingga begitu haus akan pengakuan, haus akan keagungan, haus akan kekuatan? Kenapa sulit sekali menelan fakta-fakta? Kenapa malas sekali beranjak dari kebodohan sementara begitu jumawa mengenakan jubah kesombongan? Ah, tapi tenang saja. Bagaimanapun juga, kalian tetaplah pakar. Ahli dalam segala. Pakar mengada-ada. Jadi, tetap teruskan, dan jangan berhenti di kamu. Semua orang harus menerima kebenaran versimu. Teruskan. Katakan Aamiin dan bagikan secara paksa pemahamanmu sambil mengatasnamakan agama, meski mengada-ada dilarang dalam agama. Sukses selalu dengan kebodohanmu ya.

Advertisements