Nomor Telepon Basecamp Gunung-gunung di Indonesia

Di bawah ini adalah nomor telepon basecamp gunung-gunung di Indonesia. Siapa tau kamu sedang butuh informasi mengenai gunung yang ingin didaki, atau mengecek temanmu yang sedang mendaki apakah sudah turun atau belum. Atau, untuk keperluan emergensi.

Gunung Jawa Barat:

Gunung Salak

  • Jalur Kawah Ratu/Javana Spa : 085724995370 (P. Dadang)
  • Jalur Cidahu : 08176689004 (Acheng)

Gunung Gede-Pangrango

  • Taman Nasional Gunung Gede Pangarango : 0263519415 (office) / 0263512776 (booking)
  • 081912021180 (P. Usep)

Gunung Ciremai

  • Balai Taman Nasional Gunung Ciremai : (0232) 613152, 085724111966 (Basecamp), 087717717913 (Bang Jaka)
  • Jalur LinggarJati : 081324092194 (Kakek Petualang), 085759891011 / 085321978011 (Cucu Supriatna)
  • Jalur Apuy : 085864245459 (Pak Ubuh), 085795067448 (Iding Iskandar)
  • Jalur Palutungan (Cirebon) : 0821156878243/082115687824 (Kang Kusna)
  • Jalur Linggasana (Kuningan) : 085295810025 (Guntina), 085695500641 (Yudha)

Gunung Cikuray

  • Jalur Pemancar : 081220269190 (Kang Hendy), 0821 2083 5884 (Dede Rohana) 0878 3839 1009 (Kang Dede)
  • BASARNAS : 08111 39349 (Pak Yudi)
  • Jalur Cilawu : 089699835043 – 087827497606 (Kang Ade)

Gunung Papandayan

  • 085659135058 (Erfan), 089661003465 (Kang Zoel), 085723531844 (Kang Ade Bayor)
  • Jalur Cisurupan : 085793371645/ 087827382417 (Omik)
  • Web :http://www.papandayan.info/

Gunung Pulosari

  • Tb Rimbun Nuansa : 087772502505

Gunung Jawa Tengah:

Gunung Slamet

  • Jalur Guci : 085643755398 (Mas Uceng), 081803984342 (Iding), 087730010430 (Aisal)
  • Jalur Bambangan : 085726000335 (P. Sugeng), 085726666912 / 085725107774 (Mas Didin)
  • Jalur Kaliwadas / Kali Gua : 085742035447 (Aji Satriani)
  • Jalur Prabasari, Basecamp : 085629278312
  • FB : InfoSlamet, Twitter:infoslamet

Gunung Sindoro

  • Jalur Kledung : 081328096081, 08190386023, 085869115403 (Mas Poteng), HT : 148.790 MHz
  • Bansari : 085752323195, 082227563734
  • Orang Desa : 085292781090
  • Jalur Tambi : 081227967705
  • Twitter :sindoro_sumbing

Gunung Sumbing

  • Jalur Kaliangkrik – Pak Lilik Setyawan (Kadus Dsn Butuh) : 0896-8824-6671 , 085868611446
  • Twitter :SumbingMt, sindoro_sumbing.

Gunung Lawu

  • CP : 085741307298
  • Jalur Cemoro Sewu : 0857292643795 (Hasan), 085642072573 (Pak Agus)
  • Jalur Cemoro Kandang : 081575899797

Gunung Merapi

  • CP : 081329266656 (P. Syamsuri), 085713121271 (Mas grandong)
  • Jalur New Selo : 085640657456 / 087835090433 (Suroto Sheby)

Gunung Merbabu

  • Jalur Selo : 085728659968
  • Jalur Tekelan : 085225552130 (Mas Thipuk Sidarta); 085225321749 (Mas Masnoer S) atau via twitter @dieeppoo
  • Jalur Cuntel/Kopeng : 085743432595/0857434325957 (Mas Kamplink); 081325932700 (P. Tono) ; 085329720365 (Mas Ando)
  • Jalur Wekas : 085740540437 (GRABUPALA), 082327290278

Gunung Ungaran

  • CP : 085729968373
  • Jalur Bandungan : 081225711243 (Arief)

Gunung Prau

  • CP : 085602170444 ; 085326903444
  • Basecamp : 081229075300
  • Jalur Patakbanteng : 085228283428, 08562777105,
    • Mujib syafii (Mas Pi’i) : 085640086004 / 085228283428,
    • Mas Barudin : 085329449515,
    • Mas Afifi : 08586893 9535,
    • Andi : 087700152388
    • Kukuh : 08562777105
    • Heru : 085642895150

Gunung Jawa Timur

Gunung Arjuna-Welirang

  • Jalur Tretes : 085856052510 (Basecamp)
  • Jalur Lawang : 081330787722 (P. Rudi – Penjaga pos masuk hutan lindung R. Suryo), 081554432204 (Junaedi)
  • Kantor PANDAAN : 0343 630173
  • Kantor MALANG : 0341 483254

Gunung Argopuro

  • CP : 081336017979 (P.Suryadi), 082336446256 (Samhaji)
  • Jalur Baderan : 08113651015 (P.Susiono)

Gunung Semeru

  • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru : (0341) 491828 ; Fax. (0341) 490885
  • CP : 0341787055 (P.Samsul)
  • Resort Ranupane : 08283930822, 081227920297 – Mahmudin (petugas), 0341787055 (Mas Gofur)

Gunung Raung

  • KPW Gunung Raung : (0332) 321305 / Hp 08133386224
  • Jalur Kalibaru : 087755632664 (Ely)
  • REGGAS : 081336367861 (Hilmi), 085859038489 (Cak Inung)

Gunung Buthak Blitar

  • Jalur Sirah kencong Blitar dan Jalur Panderman Batumalang : 081555667595 (Nunung)

Gunung Anjasmoro Mojokerto

  • CP : 085648225766 (Kang Bayik)

Gunung Luar Jawa

Gunung Rinjani :

  • Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
    Jl. Arya Banjar Getas Lingkar Selatan, Mataram – NTB.
    Telp.(0370) 641155(0370) 27851 (Dephut), (0370) 627764 (Pengelola)
  • 081803644654 (Opik Mtp)

Gunung Kerinci :

  • Kantor Balai Besar TNKS :
    Jl. Basuki Rahmat No. 11, Sungai Penuh 32112, Jambi 37101
    Telp. (0748) 22250; Fax. (0748) 22300
  • 085367588494 (Mas Lihun – Penjaga)

Gunung Tambora :

  • Balai Konservasi SDA Nusa Tenggara Barat
    Jl. Majapahit No. 54.B Mataram 83115
    Tlp. (0370) 627851, 633953 | Fax. 0370-627851
  • 085216032004 (Arisman)
  • 082340693138 (Bang Syaiful – Base Camp Desa Pancasila)

Informasi lain seputar pendakian:

ViewRanger – Pemandu Arah dalam Menjelajah

Seperti yang kita tau, salah satu perlengkapan penting dalam melakukan pendakian adalah alat bantu navigasi yaitu peta, kompas, dan GPS. Alat bantu navigasi dapat membantu kita untuk mengetahui arah dan posisi. Tentu saja untuk menggunakannya dengan baik dan benar, kita harus menguasai ilmu navigasi darat. Bila kamu tidak menguasai ilmu navigasi darat, saya sangat menyarankan kamu (yang memang senang mendaki gunung) untuk belajar navigasi darat.

Wait…! Bukannya GPS device itu mahal, ya? Padahal kan gue naik gunung nggak sering-sering banget.

Weitsssss... Kamu tau nggak, kalau GPS pada smartphone itu bisa digunakan secara offline? Sejak beberapa tahun terakhir, saya menggunakan ponsel pintar saya sebagai alat bantu navigasi saat melakukan pendakian. Awalnya, saya yang juga sadar kalo harga GPS device itu nggak murah, mencoba ngoprek cara kerja GPS pada ponsel pintar berbasis Android. Saya sempat berpikir, kalau GPS yang tertanam pada ponsel pintar itu hanya bisa berfungsi saat ponsel dalam keadaan mempunyai koneksi internet. Secara jika internet mati, aplikasi GoogleMaps tidak bisa menampilkan peta.

Akhirnya saya coba cari di PlayStore aplikasi peta yang bisa digunakan secara offline. Setelah coba-pasang aplikasi per aplikasi, ternyata saya menjatuhkan pilihan pada ViewRanger karena fitur-fiturnya yang kelihatan oke. Namun masalahnya tetap sama. Tetap saja peta tidak dapat muncul ketika ponsel dalam moda pesawat (Airplane mode). Saya terus mengulik aplikasi tersebut, dan akhirnya menemukan bahwa ternyata ViewRanger dapat digunakan secara offline. Oke nih, buat naik gunung. Semenjak itu, saya selalu menggunakan aplikasi ini saat melakukan pendakian.

Gimana sih, cara makenya? Oke-oke kita bahas satu per satu dari awal.

Pertama, tentunya kamu harus terlebih dahulu mengunduh ViewRanger, meng-install-nya pada smartphone-mu. Tenang saja, aplikasi ini tersedia untuk pengguna Android dan iPhone. Untuk WindowsPhone, sayangnya aplikasi ini tidak tersedia. Untuk Blackberry? Assalamu’alaykum yaa ahlii kubuur aja, ya. :))) Setelah itu, kamu akan diharuskan membuat akun ViewRanger-mu. Gratis. Ketika kamu membuat akun, akun ini nantinya akan terintegrasi dengan peta yang kamu beli (beberapa layanan peta adalah berbayar, tapi tenang, nggak kepake benget kok), data tracklog atau laporan perjalanan yang kamu rekam, atau rute yang kamu buat.  Tampilan aplikasi ini pada ponsel berbasis Android, adalah seperti ini:

Nah, kalau sudah ter-install di ponselmu dan kamu sudah login dengan akun yang kamu buat, pertama-tama kamu harus mengenali dulu masing-masing fungsi dari ikon yang ada.

Tab browser berfungsi sebagai “pendeteksi” apabila ada tracks atau routes (yang pernah user lain unggah) di area yang terlihat pada Map browser. Kamu bisa mempersempit pencarian dengan mengutak-atik filters. Hasilnya, akan terlihat di bawahnya.

Tab maps berfungsi untuk menampilkan peta seutuhnya. Di sini nanti kita akan banyak “bekerja”. Di tab maps ini, kamu akan mendapatkan informasi koordinat dan ketinggian (altitude) tempat kamu berada. Terdapat juga kompas untuk menunjukkan arah.

Tab profile ini memuat semua informasi tentang kamu pada ViewRanger. Seperti tracks dan routes yang terakhir kamu buat, gunakan, atau kamu unduh. Untuk tab search, sengaja tidak saya sertakan screenshoot-nya, karena ternyata fungsinya masih sama dengan aplikasi kebanyakan. Yaitu untuk mencari. Iya, maaf.

Langsung lanjut ke Tab more options, di sini tempat kamu menyeting ViewRanger kamu.

Oke, setelah kamu mengenali interface aplikasi ini beserta fungsinya, sekarang mari kita masuk ke babak “Cara menggunakan ViewRanger“. Tentunya secara offline. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah mengunduh area di mana kamu akan menggunakan ViewRanger. Kalo saya sih biasanya melakukan ini (beberapa waktu) sebelum pendakian dan menumpang WiFi teman. Gimana cara mengunduh area-nya? Masuk ke Tab-maps, arahkan peta ke tempat kamu mau menggunakan ViewRanger, pilih ikon Maps-options, lalu akan muncul pilihan Save for offline use, lalu pilihlah Detailed. Dalam contoh gambar di bawah ini, saya memilih area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan sekitarnya.

Nah, kamu bisa lihat, area yang kamu pilih akan diselimuti grid. Pilihlah kotak-kotak yang meliputi area yang kira-kira akan kamu jelajahi. Jika kamu kurang jelas melihat, kamu bisa memperbesar gambar peta dengan tombol Zoom in. Sementara, jika kamu ingin menggeser peta, pastikan tombol Select Tile kamu tekan terlebih dahulu dan berubah menjadi Pan Map, supaya saat kamu menekan layar, grid/tile yang sudah kamu select (berwarna merah) malah jadi unselected (kembali menjadi netral).

Di sudut kanan atas, akan terdapat informasi jumlah tiles yang kamu pilih, dan perkiraan besar file yang akan kamu unduh. Setelah kamu yakin, klik tombol Download untuk mengunduh area yang kamu pilih. Beri nama semerdeka kamu. Pastikan semua terunduh dengan baik, dan tidak ada error. Supaya tidak menyusahkan kamu saat kamu memakainya di tempat yang tidak ada jaringan internet sama sekali.

Setelah itu, saatnya kamu coba secara offline. Tentunya dengan mencobanya langsung di area yang sudah kamu unduh tadi. Aktifkan GPS location ponsel kamu, dan jangan lupa untuk mengaktifkan Moda Pesawat (Airplane mode). Lalu, buka ViewRanger. Pilih Tab more options > My Maps. On Device adalah maps atau area yang sudah kamu unduh, dan My Maps adalah peta-peta atau area-area yang pernah kamu unduh dan tersimpan di akun ViewRanger-mu.

Pilih peta di tab On Device yang sudah kamu unduh areanya, lalu pilih Open Map. Setelah itu, ketuk ikon kompas supaya kamu bisa melihat posisi kamu saat ini. Lalu, tekan tombol Map Actions yang berada di kanan bawah, dan pilih Record Track, lalu tekan tanda panah pada kiri atas (di sebelah tulisan Track) untuk kembali ke moda peta.

Mulailah berjalan. Nantinya perjalanan kamu akan terekam menjadi jejak yang membentuk jalur mengikuti posisi kamu berada. Bila kamu berhenti untuk beristirahat dalam waktu yang cukup lama, jangan lupa pause record dengan cara mengetuk  pop-up Trip Time yang berada di atas tombol Action Maps. Begitu juga jika kamu ingin berhenti merekam track apabila kamu sudah sampai di tujuan. Track yang terekam, nantinya bisa kamu ekspor menjadi file GPX, atau kamu jadikan route untuk kamu gunakan di kemudian hari.

Oh iya, bicara tentang GPX, sebelum mendaki, kamu juga dapat mengimpor file GPX pada aplikasi ini. Misalnya, kamu ingin mengimpor track atau route jalur pendakian, kamu tinggal ketuk Tab more options > Import / Export > Import Externally lalu pilih file GPX (file berekstensi *.gpx) dari lokasi tempat kamu menyimpan file tersebut pada ponselmu. Nanti ketika kamu membuka peta, peta kamu akan muncul track/route yang berasal dari file GPX yang kamu impor. Kamu akan mudah mengikuti jalur yang sudah tersedia tanpa khawatir tersesat.

Kamu nggak tau di mana nyari file GPX jalur-jalur pendakian? Tenang, saya sudah mengumpulkan sebagian besar file GPX untuk gunung-gunung di Nusantara dari beberapa situs, terutama situs gunungbagging.com. Kamu bisa cari di tabel-tabel di akhir postingan ini. Selamat menjelajah, dan semoga bermanfaat.









CATATAN PENTING!

Meski aplikasi ini memudahkan kamu, pengetahuan mengenai navigasi darat TETAP HARUS kamu ketahui dalam kegiatan pendakian, untuk menjagamu dari skenario yang paling buruk yang sangat mungkin terjadi di alam bebas!


Informasi lain seputar pendakian:

Shalat Saat Travelling atau Mountaineering

Shalat merupakan salah satu dari lima rukun islam. Dan shalat lima waktu merupakan kewajiban setiap muslim, baik dalam kondisi apapun. Sehat maupun sakit, berdiri maupun duduk, di manapun seorang muslim tersebut berada. Dalam Al-Qur’an, disebutkan:

“…dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
[QS. Thaahaa : 14]

“Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
[QS. An-Nisaa’ : 103]

Lalu bagaimana bila seorang muslim sedang dalam perjalanan? Atau, bagaimana bila ia sedang berada di alam bebas seperti gunung? Berikut ini akan saya bahas mengenai tata cara shalat selama dalam perjalanan.

A. Saat berada dalam kendaraan 

Kamu sedang berada dalam kendaraan yang berjalan, sementara waktu shalat sudah tiba. Jangan khawatir. Kamu tetap dapat melaksanakan shalat meskipun dalam kondisi kendaraan sedang berjalan. Namun hanya shalat yang diperkenankan dilakukan saat berada dalam kendaraan hanyalah shalat sunnah. Sementara shalat fardhu hendaknya di-qadha, di-qashar, atau di-jamak apabila seorang pejalan telah sampai pada tempat tujuannya.

1. Bersuci

Sebelum shalat, seorang muslim diwajibkan untuk bersuci dahulu, yaitu berwudhu. Saat dalam perjalanan jauh menggunakan kereta api, atau bus yang ada kamar mandinya, tentu saja kita bisa melakukan wudhu. Namun bagaimana bila kendaraan yang kita tumpangi tidak memungkinkan untuk kita mengambil wudhu? Kita bisa menggantinya dengan tayyamum. Caranya sederhana:

– Membaca basmalah (Bismillahirrahmannirrahim), dilanjutkan niat dalam hati (untuk shalat).
Lafadz niat Tayammum adalah : “Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta’aalaa.”
– Meletakkan kedua telapak tangan kepada benda atau tempat yang berdebu bersih.
– Kedua telapak tangan tersebut ditapukkan kemudian diusapkan ke muka sebanyak dua kali.
– Kedua telapak tangan, tangan kiri mengusap punggung telapak tangan kanan sampai kedua sikut, dua kali. Dan sebaliknya, tangan mengusap punggung telapak tangan kiri sampai kedua sikut, dua kali.
– Urutan dilakukan dengan tertib.

Namun tayyamum tersebut menjadi batal apabila mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu, seperti buang air besar/kecil, buang angin, dan lain-lain. Tayyamum juga menjadi batal apabila sebelum shalat orang yang sudah ber-tayyamum melihat air.

2. Menentukan arah kiblat

Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat. Namun bagaimana jika kita shalat dalam kendaraan yang mana kendaraan tersebut berubah-ubah arah mengikuti jalur yang dilalui?

Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah Saw bersabda:

“Adalah Rasulallah shallallahu alahi wasallam shalat di atas kendaraannya dengan menghadap arah yang dituju kendaraan. Dan jika beliau hendak shalat fardhu maka beliau turun dan menghadap kiblat.”
(HR. al-Bukhari No.400)

“Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibn Umarradhiallahu anhu bahwa beliau berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.””
[HR. Bukhari No.1000]

“Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnah di atas punggung unta kemanapun arah menghadap. Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Ibn Umar-pun melakukan hal serupa.”
[HR. al-Bukhari No.1105]

Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’an, “Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat; maka ke mana jugapun kamu menghadap, di­sanapun ada wajah Allah;sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah : 115]. 

3. Tata cara shalat

Apabila sedang berada dalam kendaraan, shalat bisa dilakukan secara duduk. Namun seperti yang dibahas di atas, shalat dalam kendaraan hanya diperuntukkan untuk shalat sunnah. Sementara shalat fardhu sebisa mungkin hendaknya dilaksanakan dengan cara di-jamak atau di-qashar. Namun apabila kondisi tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan, ada keringanan lain untuk melakukan shalat di kendaraan. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 21869)

a. Qadha

Qadha shalat adalah mengerjakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan untuk mengganti shalat wajib yang ditinggalkan, sengaja maupun tidak. Tidak disyaratkan dalam meng-qadha shalat pada waktu yang sama dengan shalat yang ditinggalkan, seperti diperbolehkan meng-qadha shalat dhuhur di waktu isya’ atau lainnya.
Namun lebih utama tidak meng-qadha shalat di waktu-waktu yang dimakruhkan, yaitu :

1. setelah shalat subuh hingga terbitnya matahari
2. ketika terbitnya matahari hingga ketinggian seukuran tombak.
3. ketika istiwa’ (posisi matahari tepat di tengah).
4. setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari
5. ketika menguningnya matahari mendekati terbenam hingga sempurna terbenam.

Meng-qadha shalat dapat ditunda pelaksanaannya jika ketika meninggalkan shalat karena udzur seperti sakit, lupa, ketiduran (tanpa kesengajaan), dan lain-lain yang terjadi tanpa sengaja. Namun jika tanpa udzur seperti karena malas, maka wajib bersegera meng-qadha tanpa melaksanakan amal ibadah lainnya sebelumnya (seperti shalat sunnah) kecuali untuk tidur dan mencari nafkah yang diwajibkan.

Meng-qadha shalat jahriyah (shalat maghrib, isya’ dan subuh) di siang hari disunnahkan meng-isror (melirihkan) bacaan. Sebaliknya mengqadha shalat sirriyah (shalat dhuhur dan ashar) di malam hari disunahkan untuk mengeraskan bacaan. Kecuali, menurut Imam Mawardi tetap disunnahkan melirihkan bacaan shalat sirriyah sekalipun di-qadha di malam hari dan mengeraskan bacaan shalat jahriyah walaupun di-qadha di siang hari.

b. Qashar

Shalat qashar adalah shalat wajib empat rakaat yang dipendekkan menjadi dua rokaat. Shalat tersebut adalah shalat Dzuhur, Ashar dan Isya. Bagi seorang muslim yang sedang dalam perjalanan dengan jarak yang memenuhi syarat, maka ia boleh memendekkan shalatnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Namun itu hanya pilihan. Ia bisa juga tetap melakukan shalat empat rakaat.

Dalam al-Qur’an dikatakan:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
[QS. An-Nisa : 101]

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi seorang pejalan untuk dapat melakukan shalat qashar, yaitu:

– Jarak perjalanan mencapai 48 mil atau sekitar 78 km.
– Niat safar (bepergian). Maksudnya, harus ada niat yang jelas kemana arah perjalanan yang dituju.
– Perjalanan yang dibolehkan. Bukan perjalanan dosa (maksiyat). Orang yang bepergian dengan niat hendak mencuri, atau berzina, tidak boleh mengqashar shalat.

Qashar tidak boleh dilakukan jika:

– Niat tinggal di tempat tujuan lebih dari empat hari secara sempurna selain pulang dan pergi-nya. Namun Apabila niat tinggal di tempat yang dituju kurang dari 4 hari, atau tidak niat sama sekali maka ia boleh melakukan shalat qashar selama empat hari.
– Apabila sudah sampai ke tempat ia tinggal secara tetap.

Lalu bagaimana niat shalat qashar?

Shalat Qashar Dhuhur: Ushalli fardaz – Dzuhri qasran rokataini lillahi ta’ala.
Artinya: Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Ashar: Ushalli fardal Ashri qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Ashar secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Isya: Ushalli fardal Isya’i qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Isya secara qashar dua rakaat karena Allah.

Apabila qashar dilakukan secara berjamaah, maka tinggal menambah kata “imaman” (sebagai imam) atau “makmuman” (sebagai makmum) sebelum kata “Lillahi Taala”.

c. Jamak Taqdim dan Ta’khir

Seorang musafir juga diperbolehkan untuk melakukan shalat jamak, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Shalat jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang pertama yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Dzuhur atau Maghrib. Dengan kata lain, shalat Ashar dilakukan di waktu Dzuhur, dan shalat Isya dilaksanakan di waktu Maghrib.

Shalat jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang kedua yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Ashar atau Isya. Jadi, shalat Dzuhur dilaksanakan di waktu Ashar, dan shalat Maghrib dilakukan di waktu Isya.

Syaratnya adalah:

– Perjalanan yang dilakukan harus mencapai jarak bolehnya Qashar yakni 78 km atau 48 mil.
– Harus tertib. Yakni, shalat dzuhur dulu baru shalat Ashar; shalat Maghrib dulu baru shalat Isya.
– Niat jamak di shalat yang pertama
– Muwalat (segera) antara dua shalat tidak ada aktifitas pemisah yang panjang.
– Dalam perjalanan. Kedua shalat dilakukan di tengah perjalanan.

Sementara, syarat shalat Jamak Ta’khir adalah:

– Niat shalat ta’khir di waktu yang pertama di luar shalat. Artinya, ketika pejalan memutuskan hendak jamak ta’khir dan saat itu sudah masuk waktu dzuhur, maka ia harus niat untuk jamak ta’khir.
– Dalam perjalanan sampai selesainya kedua shalat.
– Dalam jamak ta’khir, tertib atau urut tidak wajib. Maka, boleh melakukan shalat Ashar atau dzuhur lebih dulu; atau mendahulukan maghrib atau isya. Ini berbeda dengan shalat jamak taqdim. Namun, tertib itu sunnah.

Untuk niat shalat jamak taqdim:

– Niat shalat jamak taqdim Dzuhur dengan Ashar: Ushalli fardaz-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak dengan Ashar karena Allah.

– Niat shalat jamak taqdim Maghrim dengan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a taqdimin bil Isya’i fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak dengan Isya karena Allah.

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak taqdim.

Untuk niat shalat jamak ta’khir:

– Niat shalat jamak ta’khir Dzuhur dan Ashar: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak ta’khir dengan Ashar karena Allah

– Niat shalat jamak ta’khir Maghrib dan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a ta’khirin bil Isya’i fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak ta’khir dengan Isya’ karena Allah

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak ta’khir.

d. Jamak dan Qashar (digabung sekaligus)

Yaitu dua shalat dikumpulkan dalam satu waktu, sekaligus rokaatnya disingkat untuk yang asalnya empat rakaat, seperti dzuhur, ashar dan isya.
Niatnya adalah:

– Niat shalat qashar dan jamak taqdim: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.
– Niat shalat qashar dan jamak ta’khir: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.

Catatan:
– Ganti kata Dzuhur dan Ashar dengan Maghrib dan Isya sesuai keperluan.

B. Saat berada di alam lepas

Ketika travelling ke alam liar seperti gunung, bukan alasan untuk tidak melakukan shalat.

1. Memperhitungkan waktu 

Di era sekarang, mungkin sangat mudah menentukan waktu shalat karena sudah ada alat penunjuk waktu, baik jam tangan maupun handphone. Namun bagaimana jika kamu berada dalam kondisi tidak mempunyai alat penunjuk waktu dan tidak mengetahui waktu? Kamu bisa saja mengetahui waktu dari memperkirakan pergerakan benda-benda langit, seperti matahari atau bintang.

a. Shubuh

Waktu subuh menurut kesepakatan para ulama adalah ketika terbitnya fajar shadiq, dan ini adalah sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat subuh ketika fajar merekah.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ary)

Fajar ada dua macam yaitu fajar shadiq dan fajar kadzib (dusta).
Fajar kadzib berciri: Pada cakrawala tempat terbit matahari, ada cahaya putih ke atas dan akan turun terus sampai akhirnya menyebar ke utara dan selatan sampai mendatar. Di saat tersebut (ketika fajar kadzib) sisi kiri dan kanan (nomor 2 dan 3) dari cakrawala tempat terbit matahari (nomor 1), masih dalam keadaan gelap.

Perhatikan gambar:

fajar_false-white_syafaq_zodiacal-light1
Sementara, fajar shadiq dapat dikenali seperti gambar di bawah ini:

fajar_shadiq_pakarfisika
– No. 1 cahayanya putih mendatar. Ini menunjukkan fajar shadiq. Patokannya tergantung letak matahari ketika terbitnya.
– No. 2 kelihatan gelap/hitam. Warna gelap ini akan berangsur-angsur hilang dan berubah jadi warna putih.

Kemudian, untuk akhir waktu subuh dibagi dua:

1. Ikhtiyary (pilihan) terus berlangsungnya waktu tersebut.
2. Idlthirary (terpaksa) sampai terbitnya matahari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Barangsiapa menjumpai rakaat sebelum terbitnya matahari sungguh telah menjumpai shalat subuh.” (HR. Bukhari no. 545 dan Muslim no. 656 dari Abu Hurairah)

b. Dzuhur

Para ulama telah sepakat bahwa waktu dhuhur berawal ketika matahari sudah tergelincir (waktu zawal), sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Dan waktu dhuhur dimulai ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

Dan waktu dhuhur berakhir ketika masuk waktu ashar (ketika bayangan benda sepanjang aslinya). Seperti yang disebutkan dalam hadits: “Dan waktu dhuhur adalah sebelum tiba waktu ashar.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

c. Ashar

Awal waktu ashar adalah akhir dari waktu dhuhur. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Jibril shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya pada hari pertama ketika bayangannya sama dengan bendanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

Sementara, waktu berakhirnya ashar ada dua macam:

1. Waktu ikhtiyari, yaitu ketika bayangan benda dua kali panjang aslinya.

“Dan pada hari kedua Jibril shalat bersama mereka ketika bayangan dua kali lipat panjang bendanya. Kemudian dia mengatakan waktu ashar adalah diantara dua ini.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

2. Waktu idlthirary (waktu terpaksa), yaitu sampai tenggelamnya matahari.

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari tenggelam berarti ia mendapatkan shalat ashar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

d. Maghrib

Para ulama bersepakat bahwa waktu maghrib adalah ketika matahari terbenam. Cara mengetahuinya adalah sebagai berikut:

1. Bila sedang berada di pesisir/pantai, coba menghadap ke barat supaya pengamatan menjadi lebih mudah. Bundaran matahari akan terlihat dengan jelas ketika terbenam. Di saat itulah, waktu maghrib tiba.

2. Bila di arah barat terbentang gunung atau benda yang menjulang sehingga menghalangi cakrawala, maka pengamatan bisa dilakukan dengan cara melihat ke arah timur, kemudian perhatikan. Apabila langit yang mendekati cakrawala timur terlihat hitam (gelap) secara merata, dan yang di atasnya terlihat lebih terang, maka sudah masuk waktu maghrib. Perbedaan kontras antara dua bagian langit tersebut pun harus jelas. Bila masih samar, maka belum masuk waktu maghrib. Untuk meyakinkannya kamu bisa menghadap ke arah barat, ke tempat yang cukup tinggi. Kalau sudah tidak ada lagi sinar dari arah barat berarti sudah masuk waktu maghrib, dan biasanya ditandai dengan warna kemerah-merahan di langit. Namun jika sinar masih ada, maka diperkirakan matahari belum terbenam, meskipun langit berwarna merah atau gelap sekalipun.

“Dan waktu maghrib ketika terbenam matahari.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 1023 dari Jabir bin ‘Abdillah)

Untuk akhir waktu maghrib, yaitu ketika terbenamnya warna kemerah-merahan di langit.

“Dan waktu maghrib adalah selama syafaq (warna kemerah-merahan) belum hilang.” (HR. Muslim no. 967 dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash)

e. Isya’

Awal waktu isya’ adalah setelah hilangnya warna kemerah-merahan di langit.

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat isya’ ketika terbenamnya warna kemerah-merahan.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ari)

Dan akhir waktu isya’ dibagi dua.

1. Waktu ikhtiyary (pilihan), yaitu ketika pertengahan malam. Misalnya, jika matahari terbenam pada pukul 6 sore dan terbit pada jam 6 pagi maka batas akhir waktu isya’ adalah pukul 12 malam.

“Dan waktu isya’ sampai pertengahan malam.” (HR. Muslim no. 967 dari Abdullah bin Amr bin Ash)

2. Waktu idlthirary (terpaksa) sampai masuknya waktu subuh.

“Suatu hal yang berlebih-lebihan bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datangnya waktu shalat yang lain.” (HR. Muslim no. 1099 dari Abu Qatadah)

2. Bersuci

Sama seperti ketika dalam perjalanan, apabila tidak diketemukan air untuk berwudhu, maka diperbolehkan mengganti dengan tayyamum. Hal yang sama juga diperbolehkan apabila air terlalu dingin sehingga dapat membahayakan tubuh atau mengganggu kekhusyukan shalat. Namun, sangat disarankan sebisa mungkin tetap menggunakan air selama keadaan tidak darurat.

Dalam berwudhu, anggota badan yang wajib untuk dibasuh adalah wajah, kedua tangan hingga batas siku, mengusap sebagian kepala dan mencuci kaki hingga batas mata kaki. Masing-masing wajib dibasuh/diusap sekali saja. Kalau dua atau tiga kali sifat hanya sunnah.

Berwudhu juga bisa dilakukan ketika masih menggunakan sepatu.  Praktek seperti ini memang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dahulu. Dan menjadi bagian dalam tata aturan berwudhu` terutama bila dalam keadaan udara yang sangat dingin.

Caranya sama dengan wudhu` biasa kecuali hanya pada ketika hendak mencuci kaki, maka tidak perlu mencopot sepatu, tapi cukup membasuh bagian atas sepatu dari bagian depat terus ke belakang sebagai ganti dari cuci kaki. Sepatu tetap dalam keadaan dipakai dan tidak dilepas.

Namun perlu diingat, sepatu yang digunakan haruslah yang menutupi hingga mata kaki dan bukan terbuat dari bahan yang tipis tembus air. Juga tidak boleh ada bagian yang bolong/robek.

3. Menentukan arah kiblat

Ketika hari masih terang, kita mudah menentukan arah kiblat. Namun akan menjadi kendala ketika malam hari atau ketika kondisi tertutup kabut tebal yang menutup cahaya matahari.

Ada beberapa cara menentukan arah kiblat :
– Cara termudah gunakan kompas/GPS.
– Perhatikan tumbuhan lumut yang banyak terdapat di gunung. Lumut biasa hidup di daerah yang minim mendapatkan cahaya matahari, oleh karena itu kebanyakan lumut akan hidup di daerah yang menghadap ke arah barat.
– Rasi Bintang Orion (Bintang Waluku/Bajak/Belantik) untuk arah Barat.
Ini adalah rasi paling mudah dikenali. Ciri khasnya adalah tiga buah bintang yang terang, saling berdekatan dan dalam satu garis lurus. Tiga bintang itu disebut sabuk orion. Satu garis yang menghubungkan tiga bintang itu bisa dijadikan petunjuk arah kiblat.

Bila masih bisa melihat posisi matahari, jangan salah. Kamu bisa saja terkecoh. Karena matahari tidak selalu benar-benar terbit di arah timur, dan tenggelam di arah barat.

Hal ini disebabkan karena perbedaan kecondongan belahan bumi terhadap matahari pada waktu-waktu tertentu.

Untuk mengetahui arah dengan melihat posisi matahari, silakan perhatikan gambar berikut:

pathofsun_40deg

C. Kondisi-kondisi lain

1. Ber-hadas besar

Untuk bersuci dari hadas besar di alam terbuka, dapat dilakukan dengan benda padat seperti batu, kayu dan lain-lainnya, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang lebih banyak menggunakan batu. Yaitu tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Penggunaan tissue basah juga diperbolehkan.

2. Baju tidak suci

Apabila kondisi pakaian tidak suci atau terkena najis, baik ringan maupun berat, maka hendaknya tidak melakukan shalat dan mengganti shalatnya (meng-qadha) ketika sudah mendapatkan pakaian yang bersih dari najis. Itulah sebabnya disarankan membawa peralatan shalat saat bepergian jauh, supaya lebih terjaga dari najis.

3. Baju tidak menutup aurat

Salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat. Maka apabila pakaian yang dikenakan tidak menutupi aurat, hendaknya ia meng-qadha shalatnya sampai ia menemukan pakaian yang menutupi aurat. Kecuali jika kamu berada dalam kondisi darurat. Seperti dalam kondisi survival, misalnya. Hal ini juga berlaku pada poin nomer 2 di atas.

4. Sakit dan kondisi cuaca

Bukan hal yang aneh lagi ketika seorang pejalan, atau pendaki, mengalami sakit dalam perjalanannya. Entah karena fisik yang drop, atau kondisi yang tidak memungkinkan tubuhnya bergerak bebas, seperti kedinginan yang amat sangat. Maka islam memberikan solusi untuk melakukan shalat dengan cara duduk, berbaring, atau dengan isyarat tubuh (gerakan jari atau mata). Begitu juga apabila cuaca sedang badai, atau hujan deras. Maka shalat dalam keadaan tersebut sangat diperbolehkan.

4. Junub

Apabila seorang pejalan mengalami mimpi basah, atau yang perempuan baru selesai menstruasi, normalnya adalah melakukan mandi junub. Namun apabila kondisi lingkungan tidak terdapat air sama sekali, atau tidak memungkinkan untuk menggunakan air, maka mandi junub bisa diganti dengan tayyamum, dengan tambahan niat: “sebagai pengganti mandi besar.”

Wallahu’alam bis sawab


Informasi lain seputar pendakian:

11 Teknik Bertahan Hidup di Alam Liar

Disadur dari: http://www.hipwee.com/tips/12-skill-bertahan-hidup-yang-harus-kamu-kuasai-jika-ingin-selamat-di-alam-liar/ dan ditambahkan beberapa item yang kelak berguna untuk survival.

1. Menemukan Lokasi Bermalam Yang Aman

Kamu mesti menemukan tempat yang kering dan tidak terletak lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya. Hindari lembah dan area yang bisa dialiri air karena banjir bisa datang kapan saja. Pilih tempat yang jauh dari sarang serangga atau pohon-pohon lapuk. Kamu nggak mau ditimpuk kayu saat tidur, ‘kan?

2. Mendirikan Shelter Darurat

Ingat ya, ini sekedar tempat berlindung. Jadi jangan harap kamu akan menemukan kenyamanan ala di tenda. Hipotermia adalah pembunuh utama jika kamu terdampar di daerah bercuaca dingin seperti gunung. Supaya selamat, kamu butuh tempat berlindung yang terisolasi agar suhu badanmu tetap hangat.

primitive_shelter

Contoh Shelter darurat

Temukan beberapa cabang pohon yang cukup kuat untuk disusun sebagai tempat berlindung. Gunakan pohon yang masih berdiri sebagai tumpuan. Lapisi shelter kamu dengan daun atau ranting. Jangan lupa, lapisi juga lantainya dengan daun yang lebih lebar. Itu untuk mencegah panas tubuhmu diserap oleh tanah.

3. Menyalakan Api

Kamu dianjurkan menyalakan api menggunakan baterai. Baterai jenis apa aja bisa — kamu tinggal bikin arusnya jadi pendek. Hubungkan kutub (+) dan (-) dari baterai dengan kertas timah (dari bungkus rokok atau permen karet). Percikkan api yang akan tercipta ke bundelan yang terbuat dari benda kering dan lembut seperti akar, rumput, atau kain. Jaga apimu supaya tetap menyala. Siapkan kayu bakar. Jika kamu nggak punya baterai, kamu bisa menyalakan api dengan batu dan gesekan kayu.

4. Membesarkan Api

Setelah berhasil menyalakan api di bundelan, kamu butuh kayu dalam beberapa ukuran: sebesar tusuk gigi, cotton bud, dan pensil. Pertama-tama, siapkan balok kayu seukuran lenganmu sebagai alas bundelan. Kemudian, sandarkan kayu sebesar tusuk gigi dengan miring di atas bundelan tersebut — ini akan membentuk sudut yang bisa dilalui oksigen. Tambahkan kayu yang berukuran lebih besar satu per satu. Begitu seterusnya hingga api unggunmu siap.

5. Mencari Air Bersih

Ada dua jenis air di alam liar: air yang bisa kamu minum dan air yang bisa membunuh kamu. Saat kamu ragu air itu bisa diminum atau nggak, pilihan terbaik kamu adalah memasaknya. Jika opsi memasak air tidak ada di menu, kamu harus bergantung pada hujan dan embun karena air hujan dan embun tidak perlu dimasak. Tampung air ketika hujan. Di pagi hari, usap embun di dedaunan dengan kain lap lalu peras kainnya di wadah penampung. Akar-akar pohon dan beberapa jenis kaktus seperti sylibum (milk thistles) mengandung air di dalamnya. Kalau kamu sedang di luar negeri dan ada pohon mapel disekitarmu, sayat batangnya karena getah pohon mapel bisa jadi sirup berenergi buatmu.

6. Panen Air Dari Pohon

Seperti manusia, tumbuhan itu juga ‘berkeringat’ sepanjang hari. Proses menguapkan air ini namanya transpirasi. Untuk bisa memanen air bersih dan bisa diminum ini, kamu tinggal membungkus ranting pohon yang berdaun dengan plastik, lalu ikat plastiknya rapat-rapat. Dalam waktu beberapa jam air akan terkumpul di dalam plastik dan siap diminum.

7. Mencari Tumbuhan Yang Bisa Dimakan

Dalam situasi dimana tujuan utamamu adalah bertahan hidup, tidak usah muluk-muluk berniat berburu hewan liar. Jangankan rusa, kelinci aja susah ditangkap. Gantungkan hidupmu pada hewan-hewan kecil seperti ikan, katak, atau kadal. Namun, pilihan paling aman adalah menyantap tumbuhan. Pisang dan nanas sangat mudah ditemukan di hutan Indonesia. Selain itu, kamu juga bisa mengonsumsi rotan, rebung, daun semanggi, dan paku-pakuan. Tambah wawasan kamu soal makanan di alam liar dari buku-buku panduan. Berikut ini adalah beberapa tumbuhan yang bisa kamu makan di dalam hutan. (sumber: belantaraindonesia.org)

— Daun semanggi

Daun Semanggi

Mungkin Anda pernah melihat ada rumput kecil di bawah tanah, dan memiliki daun mirip yang berbentuk seperti hati. Inilah daun semanggi atau biasa disebut clover.

Tak sulit untuk menemukan rumput clover. Rumput ini termasuk kosmopolit atau mudah ditemukan di dataran, termasuk hutan Indonesia. Nah, saat tersesat, tanaman inilah yang paling mudah Anda cari untuk bahan makanan. Ambil saja daunnya dan bersihkan kemudian konsumsi.

— Nanas

Nanas

Buah nanas tidak hanya bisa ditemukan di pekarangan rumah atau ladang saja. Tumbuhan yang masuk dalam suku Bromeliaceae atau nanas-nanasan ini bisa ditemukan di beberapa hutan yang ada di Indonesia.

Jika melihat ada buah nanas yang sudah cukup matang, Anda bisa memakan bagian buahnya. Keluarkan pisau lipat Anda, dan potong kecil-kecil daging buah. Jika membawa garam, nanas sebaiknya direndam dulu di air garam untuk meminimalisir getah.

 — Begonia

Begonia

Anda tahu tanaman begonia? Biasanya tanaman ini dipajang di depan rumah sebagai hiasan. Nah, ternyata begonia juga banyak ditemukan di dalam hutan. Ciri-cirinya adalah tumbuhan ini berbulu di bagian tangkai hingga daun.

Meski tanaman berbulu biasanya tidak layak dikonsumsi, begonia bisa Anda manfaatkan sebagai bahan makanan jika sedang tersesat di hutan. Potonglah daun dan tangkainya kecil-kecil sebelum dimakan. Jika Anda membawa alat masak, sebaiknya direbus dulu sebelum dikonsumsi.

— Pisang

Pisang

Nah, siapa yang tidak kenal dengan pisang? Buah yang berasal dari famili Musaceae ini biasanya bisa Anda temukan di dalam hutan yang banyak dihuni monyet atau kera. Cukup ambil buahnya yang sudah matang, Anda pun meng-konsumsinya.

Bagaimana kalau pohon pisang yang Anda temukan, belum berbuah? Jangan khawatir, belahlah batang pisang tersebut. Ambil batang muda di bagian paling tengah batang pisang. Batang muda itu bisa dimakan, walaupun rasanya tawar.

— Pohpohan

Pohpohan

Pohpohan adalah salah satu tumbuhan yang sudah biasa dijadikan lalapan di rumah-rumah. Tumbuhan berdaun lebar ini ternyata banyak ditemukan di hutan Indonesia. Biasanya, bagian pohpohan yang sering dikonsumsi adalah bagian daun mudanya.

— Paku sayur

Paku Sayur

Salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di dalam hutan, terutama hutan Indonesia adalah jenis paku-pakuan. Tanaman paku memiliki ciri daun bergerigi, dan biasanya ada banyak kantung spora seperti bintik-bintik hitam di bagian bawah daun.

Nah, jika Anda bertemu tanaman seperti ciri-ciri di atas, berarti Anda dihadapkan dengan tanaman paku. Tanaman ini juga biasa dijadikan lalapan, sehingga disebut paku sayur. Sama seperti pohpohan, bagian tumbuhan paku yang bisa dinikmati adalah daun mudanya.

— Rotan

Rotan

Nah, selain paku tumbuhan lain yang banyak ditemukan di hutan Indonesia adalah rotan. Biasanya rotan hutan menjadi musuh utama para pendaki karena duri yang menyelimuti seluruh batangnya.

Namun ternyata tumbuhan ini bisa menjadi sahabat ketika Anda tersesat. Buah dari rotan yang masih muda aman untuk dimakan langsung. Sedangkan batangnya menyimpan air yang bisa untuk diminum.

— Buah lo

Buah Lo

Mungkin Anda belum pernah mendengar namanya. Ini adalah buah yang dihasilkan dari pohon elow. Beberapa daerah menyebutnya dengan nama buah lo atau elow. Sama seperti tanaman lain, buah lo banyak ditemukan di dalam hutan.

Buah ini berbentuk bulat dengan kulit hijau sedikit mengkilap. Jika dibelah, Anda bisa melihat bagian dalam buah yang diisi banyak biji-biji kecil, seperti bagian dalam buah nangka. Buah lo bisa dimakan mentah atau direbus. Saat mentah buah ini terasa agak asam, namun setelah direbus buah ini terasa manis.\

— Bambu

Bambu

Saat tersesat dan kehabisan bahan makanan, tengoklah ke sekitar Anda, kali saja ada pohon bambu. Jika ada ambil bagian pangkal bambu muda yang biasa disebut rebung. Potong-potong hingga kecil dan konsumsi bagian yang tidak terasa pahit.

— Selaginella

Selaginella

Selaginella adalah tanaman berdaun kecil seperti jenis paku-pakuan lainnya. Ya, selaginella memang masuk dalam kelompok paku.

Umumnya, daun selaginella berwarna hijau, tapi jangan kuatir jika melihat daun ini berwarna biru atau kemerahan. Selaginella memang bisa berfungsi sebagai penentu kadar asam basa tanah. Cara mengonsumsinya harus sedikit berhati-hati, cuci daunnya dan potong kecil-kecil.

— Cantigi

cantigi

Nah, Cantigi ini merupakan tumbuhan semak yang biasa terdapat di gunung-gunung pulau Jawa. Cantigi yang merupakan kerabat Ericaceae masih berkerabat dengan bilberry, huckelberry, blueberry, cranberry, dan berbagai buah beri utama lainnya di dunia. Tumbuhan ini dapat di temui di seluruh pulau Jawa pada ketinggian antara 1500-3300 MDPL. Biasanya tumbuhan ini tumbuh mendominasi kawasan sekitar kawah pegunungan.

Ciri-cirinya, pohon ini bisa tumbuh sampai 2 meter lebih, berdaun kecil dan mempunyai pucuk daun berwarna merah, oranye, atau ungu. Pucuk daun inilah yang dapat dimakan dengan sensasi rasa asam, manis, dan segar. Selain pucuk daun, buah cantigi yang berwarna kehitaman juga bisa dimakan dan cukup enak karena rasanya yang manis. Kayu cantigi juga dapat digunakan sebagai kayu bakar untuk keperluan survival.

8. Berburu Dengan Tombak

Ketika hasrat karnivoramu udah gak bisa dibendung lagi, buatlah tombak bermata empat yang akan jauh lebih efektif dalam menangkap ikan dan hewan buruan lain daripada tombak bermata tunggal. Caranya, tebas kayu pohon sehingga panjangnya sama dengan tombak pada umumnya dan diameternya kira-kira 2,5 cm. Belah salah satu ujungnya jadi empat bagian, masing-masing sepanjang 25 cm. Sempalkan kayu atau batu kecil agar empat bagian tadi terpisah. Tajamkan ujung-ujungnya. Jadilah tombak bermata empat hasil kerja keras tanganmu.

9. Menentukan Arah (Navigasi)

Pembahasan ini merupakan bagian pembahasan dari teknik Navigasi Darat. Hal ini penting untuk diketahui jika kamu tersesat. Kamu harus bisa menentukan arah mata angin untuk mengambil keputusan ke mana kamu harus berjalan. Berikut ini adalah beberapa teknik menentukan arah mata angin.

Membaca Kompas Alam

Jika GPS dan kompasmu rusak (atau lupa kamu bawa), dengan mudah kamu bisa menentukan arah timur dan barat dari posisi matahari terbit dan terbenam. Jika kamu menggunakan jam tangan analog, hadapkan jarum pendek ke arah matahari. Tarik garis imajiner diantara jarum pendek dan angka 12 — Garis imajiner tersebut merupakan arah utara.

Bila kamu membawa jarum atau peniti, kamu bisa gesekkan jarum atau peniti tersebut ke rambut atau kain. Tusukkan jarum tersebut pada daun dan letakkan di air. Maka jarum tersebut akan menunjuk ke utara atau selatan. Nah, masalahanya, kita belum tahu pasti yang mana utara yang mana selatan, kan? Untuk itu kamu perlu mengetahui waktu saat itu. Apakah pagi, siang atau sore. Lalu perhatikan matahari. Bila sore, otomatis matahari akan lebih condong ke barat. Maka kamu bisa menentukan kutub utara dan selatan yang ada pada jarum.

Kamu juga bisa memperhatikan lumut. Karena lumut selalu tumbuh menghadap utara.

Membaca Rasi Bintang

Cara paling mudah untuk menentukan arah mata angin setelah matahari terbenam ialah menemukan rasi bintang Beruang Besar. Rasi ini dikenal juga dengan nama Gayung Besar. Istimewanya, ketika rasi bintang lain berputar dan ‘berpindah’ sepanjang malam rasi bintang ini tetap berada di utara. Ciri-ciri gugusan bintang ini adalah terdiri dari 7 bintang dan berbentuk gayung. Nah, di seberang Gayung Besar terdapat gugusan bintang Gayung Kecil, yang seperti namanya berukuran lebih kecil dan nggak sebenderang Gayung Besar. Di ujung ‘gagang’ Gayung Kecil terdapat Polaris a.k.a. North Star: arah utara yang paling hakiki. Di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, North Star bisa ditemui di dekat garis horizon.

UMa-UMi-spring1-1024x589-850x488

10. Membuat Simpul Bowline

Beruntung jika kamu dulu rajin ikut kegiatan pramuka: anak-anak pramuka simpul ini sebagai simpul bendera. Bagi kamu yang belum tahu, simpul ini berguna banget untuk mengikat dan menahan beban. Semakin berat beban yang ditahannya, semakin kencang simpul itu mengikat. Caranya:

1

2

3

4

5

6

7

11. Mengirim Sinyal S.O.S.

Pada suatu waktu, mungkin karena kondisi fisik, satu-satunya harapanmu adalah menunggu pertolongan. Pastikan kamu berada di tempat terbuka seperti padang rumput atau puncak bukit agar kamu mudah dilihat dan dievakuasi.

Pilihan pertama membuat sinyal ialah dengan kepulan asap dari api. Harap diingat: ini bukan soal api gede doang, tapi juga gimana caranya asap yang kamu hasilkan bisa mengepul tebal sehingga menarik perhatian pesawat atau kapal yang lewat. Jadi ketika api yang kamu buat udah membara, tumpukkan dedaunan dan rumput yang masih hijau dan lembab di atasnya. Asap akan mengepul tebal. Walaupun hanya bertahan 10-15 detik, itu akan cukup untuk menarik perhatian.

Pilihan kedua adalah menggunakan sinyal dari cermin. Bahkan refleksi dari cahaya bulan bisa dilihat dari jarak hampir 160 kilometer, lebih jauh jangkauannya daripada senter. Manfaatkan benda apapun yang bisa memantulkan cahaya seperti spion atau layar ponsel. Kuncinya ialah mengarahkan pantulan cahaya secara tepat, dan ini cukup mudah. Arahkan cermin yang kamu punya ke matahari atau bulan (tidak secara langsung, tapi dimiringkan sedikit) hingga kamu melihat pantulan cahaya di permukaan cermin tersebut. Ketika kamu melihat kapal atau pesawat lewat, bikin salam peace dengan salah satu tangan kamu, dan “letakkan” kapal atau pesawat nan jauh disana itu di antara dua jari damai tadi. Kemudian gerakin pemantul cahaya maju dan mundur dibelakang salam peace kamu.


Disusun dan dirangkum dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan.

Informasi lain seputar pendakian:

Penyakit-penyakit Gunung dan Cara Penanganannya

Sebelum melakukan kegiatan pendakian, saya rasa ada baiknya kita mengenali penyakit-penyakit gunung, beserta gejala dan penanganannya.

1. HEAT CRAMPS

Heat Cramps atau kram karena panas, adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat Cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, Heat Cramps bisa menyebabkan Heat Exhaustion.

GEJALANYA:

  • Kram yang tiba-tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki.
  • Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.

PENANGANANNYA:

Dengan meminum atau memakan minuman/makanan yang mengandung garam.

2. HEAT EXHAUSTION

Heat Exhaustion atau kelelahan karena panas adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena/terpapar panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan. Jika tidak segera diatasi, Heat Exhaustion bisa menyebabkan Heat Stroke.

GEJALANYA:

  • Kelelahan.
  • Kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat.
  • Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
  • Denyut jantung menjadi lambat dan lemah.
  • Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab.
  • Penderita menjadi linglung/bingung terkadang pingsan.

PENANGANANNYA:

  • Istirahat di daerah yang teduh.
  • Berikan minuman yang mengandung elektrolit.

3. HEAT STROKE

Heat Stroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika tidak segera diobati, Heat Stroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41°C adalah sangat serius, 1 derajat diatasnya seringkali berakibat fatal. Kerusakan permanen pada organ dalam (misalnya otak) bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.

GEJALANYA:

  • Sakit kepala.
  • Perasaan berputar (vertigo).
  • Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering.
  • Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit (normal 60-100 kali/menit).
  • Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
  • Suhu tubuh meningkat sampai 40° – 41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar.
  • Penderita bisa mengalami disorientasi (bingung) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.

PENANGANANNYA:

  • Pindahkan korban dengan segera ke tempat yang sejuk, buka seluruh baju luarnya.
  • Bungkus korban dengan selimut yang sejuk dan basah. Usahakan agar selimut tetap basah.
  • Dinginkan korban hingga suhunya mencapai 38° Celcius.
  • Saat temperatur mencapai 38° Celcius, ganti selimut basah dengan yang kering, lanjutkan perawatan pada korban secara hati-hati.

4. MOUNTAIN SICKNESS

Penyebab utamanya adalah penurunan kadar oksigen di dalam darah karena berada di ketinggian tertentu. Faktor yang bisa menjadi penyebabnya adalah :
Kurangnya aklimatisasi (proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda).
Pergerakan mencapai ketinggian tertentu yang terlalu cepat.

GEJALANYA:

  • Pusing.
  • Nafas sesak.
  • Tidak nafsu makan.
  • Mual terkadang muntah.
  • Badan terasa lemas, lesu, malas.
  • Jantung berdenyut lebih cepat.
  • Penderita sukar tidur.
  • Muka pucat, kuku dan bibir terlihat kebiru-biruan.

PENANGANANNYA:

  • Beristirahat yang cukup, pada umumnya gejala ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat selama 24 s/d 48 jam.
  • Jika kondisi tidak membaik turunkan si penderita dari ketinggian tersebut, sekitar 500 s/d 600 meter.

5. HYPOTHERMIA

Hypothermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh dibawah 35°C. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya:

  • Suhu yang ekstrim.
  • Pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah.
  • Kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.

GEJALANYA:

  • Menggigil.
  • Dingin, pucat, kulit kering.
  • Bingung, sikap-sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi.
  • Jatuh kesadaran.
  • Bernapas pelan dan pendek.
  • Denyut nadi yang pelan dan melemah.

GEJALANYA DILIHAT DARI SUHUNYA:

  • 37°: Adalah suhu normal.
  • 36° – 35°: Menggigil dengan disertai bulu roma berdiri, namun masih bisa terkendali. Mempengaruhi gerak langkah menjadi lamban dan koordinasi tubuh mulai terganggu.
  • 35°: Menggigil hingga tidak terkendali.
  • 35° – 33°: Pengambilan keputusan dan koordinasi tubuh mulai kabur, langkah kaki sering tersandung, berbicara kasar (dipaksakan untuk keras).
  • 33°: Tubuh semakin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun.
  • 32° – 29°: Menggigil berhenti. Kebingungan meningkat, meracau, ingatan hilang, gerakan tersentak sentak, biji mata mulai membesar.
  • 29° – 28°: Otot menjadi kaku, biji mata membesar, denyut nadi melemah dan tidak teratur, tarikan nafas melemah, warna kulit tubuh kebiru-biruan, tingkah laku kacau, menuju ke arah tidak sadar.
  • 27°: Pingsan dan biji mata tidak lagi menjawab gerakan cahaya, kehilangan gerakan spontan tampak seperti telah meninggal.
  • 26°: Koma yang sangat darurat, suhu tubuh mulai menurun dengan cepat sekali
  • 20°: Denyut jantung berhenti.

PENANGANANNYA:

  • Jangan biarkan orang yang terkena Hypothermia tidur, karena hal ini dapat membuatnya kehilangan kesadaran sehingga tidak mampu lagi menghangatkan badannya sendiri. Menggigil adalah usaha secara biologis dari badan untuk tetap hangat, karena itu usahakan untuk tidak tidur.
  • Berilah minuman hangat dan manis kepada si penderita Hypothermia.
  • Bila baju yang di pakai basah segera mungkin gantilah dengan baju yang kering.
  • Usahakan untuk mencari tempat yang aman dari hembusan angin, misalnya dengan mendirikan tenda atau pelindung lainnya.
  • Jangan baringkan si penderita di tanah dan usahakan agar memakai alas kering dan hangat.
  • Masukkanlah si penderita ke dalam kantong tidur. Usahakan agar kantong tidur tersebut di hangatkan terlebih dahulu ke dalam kantong tidur tersebut. Ingat, memasukkan penderita Hipotermia ke dalam kantong tidur yang dingin tidak akan memadai karena badan si penderita tidak akan dapat lagi menghasilkan panas yang mampu menghangatkan kantong tidur tersebut.
  • Letakkan yang di isi dengan air hangat (bukan panas) ke dalam kantong tidur untuk membantu memanaskan kantong tidur.
  • Bila kantong tidur cukup lebar, maka panas badan orang yang masih sehat dapat membantu si penderita secara langsung, yaitu dengan tidur berdampingan di dalam satu kantong tidur. Kalau mungkin, dua orang masih sehat masuk ke dalam kantong tidur rangkap dua, kemudian si penderita di selipkan di tengah tengahnya.
  • Kalau dapat buatlah perapian di kedua sisi si penderita.
    Segera setelah si penderita sadar berikanlah makanan dan minuman manis, karena hidrat arang merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan energi.

6. KRAM OTOT

Penyakit ini timbul akibat kekurangan kadar garam dalam tubuh.

GEJALANYA:

  • Kejang-kejang pada otot yang datangnya secara mendadak.
  • Nyeri pada otot yang tegang yang datangnya berulang-ulang.
  • Pada perabaan otot-otot yang keram terasa tegang serta terasa benjolan-benjolan otot.

PENANGANANNYA:

  • Baringkan penderita.
  • Renggangkan otot-otot yang kram dengan menarik atau mendorong nya.
  • Berikan tablet garam.

7. FROSTBITE

Timbul dalam pendakian gunung es sebagai akibat membekunya sel-sel air dalam sel-sel antara kulit dan kapiler (pembuluh darah kecil). Karena temperatur kulit dibawah 10°C.

GEJALANYA:

  • Kulit padat, putih keabu-abuan.
  • Jaringan kulit akan mengeras dan dapat meluas ke otot dan selanjutnya ke tulang.
  • Bagian yang terkena terasa dingin bahkan mati rasa.

PENANGANANNYA:

  • Bungkus bagian yang terkena dengan bahan yang kering dan tahan air (Water Crous).
  • Masukkan penderita ke dalam tenda, lalu masukkan bagian yang membeku ke dalam air hangat bersuhu 30°C.
  • Bila telah meluas, jalan satu-satunya adalah dipotong (Amputasi).

8. HIPOKSIA

Hipoksia yaitu kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsur-angsur kondisi tubuh normal kembali.

Efek Hipoksia yang paling dini terhadap fisiologi tubuh adalah menurunnya ketajaman penglihatan di malam hari. Kecepatan paru-paru meningkat. Bila keadaan lebih tinggi lagi, ditemukan gejala seperti: rasa mengantuk, kelesuan, kelelahan mental, sakit kepala, mual dan kadang-kadang euforia atau rasa nyaman yang semu.

Gejala sakit kepala memang tampak dominan. Jika berlebihan, membuat kejang dan mengakibatkan koma dan mati rasa. Pertimbangan daya ingat terhadap lingkungan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan kurangnya kontrol terhadap gerakan motorik terganggu. Akibatnya, kemungkinan kecelakaan jauh lebih besar.

TINGKAT HIPOKSIA

Hipoksia Fulminan. Dimana terjadi pernapasan yang sangat cepat. Paru-paru menghirup udara tanpa adanya udara bersih (oksigen). Sering dalam waktu satu menit akan jatuh pingsan.

Hipoksia Akut. Terjadi pada udara yang tertutup akibat keracunan karbon monoksida. Misalnya, seorang pendaki gunung tiba-tiba panik tatkala udara belerang datang menyergap. Udara bersih tergantikan gas racun, akhirnya paru-paru tak kuasa menyedot udara bersih. Mendadak ia pingsan.

DAMPAK DARI HIPOKSIA ADALAH :

  • Kesulitan dalam koordinasi, berbicara, dan konsentrasi.
  • Kesulitan bernapas, mengantuk, kelelahan dan sianosis.
  • Penurunan penglihatan, pendengaran dan fungsi sensorik lainnya.
  • Keringat dingin.
  • Bila berlanjut dapat mengakibatkan ketidaksadaran dan akhirnya meninggal. Hal ini tergantung pada ketinggian dan kondisi pendaki.

Proses Hipoksia timbul secara perlahan. Biasanya pendaki gunung yang terlalu lama dalam perjalanan pendakian, sesampainya di rumah tubuhnya tidak bisa menerima perubahan suhu. Hipoksia yang terjadi berjalan agak lama. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pernapasan yang dilakukan paru-paru.

Untuk mencegah dampak buruk dari Hipoksia, para pendaki gunung yang sebelumnya mengidap penyakit jantung, pernapasan dan sirkulasi darah dianjurkan untuk tidak mencapai ketinggian yang melebihi daya tahan tubuh, Dengan demikian, sebelum mendaki gunung periksa keadaan diri.


Disusun dan dirangkum dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan.

Informasi lain seputar pendakian: