Nomor Telepon Basecamp Gunung-gunung di Indonesia

Di bawah ini adalah nomor telepon basecamp gunung-gunung di Indonesia. Siapa tau kamu sedang butuh informasi mengenai gunung yang ingin didaki, atau mengecek temanmu yang sedang mendaki apakah sudah turun atau belum. Atau, untuk keperluan emergensi.

Gunung Jawa Barat:

Gunung Salak

  • Jalur Kawah Ratu/Javana Spa : 085724995370 (P. Dadang)
  • Jalur Cidahu : 08176689004 (Acheng)

Gunung Gede-Pangrango

  • Taman Nasional Gunung Gede Pangarango : 0263519415 (office) / 0263512776 (booking)
  • 081912021180 (P. Usep)

Gunung Ciremai

  • Balai Taman Nasional Gunung Ciremai : (0232) 613152, 085724111966 (Basecamp), 087717717913 (Bang Jaka)
  • Jalur LinggarJati : 081324092194 (Kakek Petualang), 085759891011 / 085321978011 (Cucu Supriatna)
  • Jalur Apuy : 085864245459 (Pak Ubuh), 085795067448 (Iding Iskandar)
  • Jalur Palutungan (Cirebon) : 0821156878243/082115687824 (Kang Kusna)
  • Jalur Linggasana (Kuningan) : 085295810025 (Guntina), 085695500641 (Yudha)

Gunung Cikuray

  • Jalur Pemancar : 081220269190 (Kang Hendy), 0821 2083 5884 (Dede Rohana) 0878 3839 1009 (Kang Dede)
  • BASARNAS : 08111 39349 (Pak Yudi)
  • Jalur Cilawu : 089699835043 – 087827497606 (Kang Ade)

Gunung Papandayan

  • 085659135058 (Erfan), 089661003465 (Kang Zoel), 085723531844 (Kang Ade Bayor)
  • Jalur Cisurupan : 085793371645/ 087827382417 (Omik)
  • Web :http://www.papandayan.info/

Gunung Pulosari

  • Tb Rimbun Nuansa : 087772502505

Gunung Jawa Tengah:

Gunung Slamet

  • Jalur Guci : 085643755398 (Mas Uceng), 081803984342 (Iding), 087730010430 (Aisal)
  • Jalur Bambangan : 085726000335 (P. Sugeng), 085726666912 / 085725107774 (Mas Didin)
  • Jalur Kaliwadas / Kali Gua : 085742035447 (Aji Satriani)
  • Jalur Prabasari, Basecamp : 085629278312
  • FB : InfoSlamet, Twitter:infoslamet

Gunung Sindoro

  • Jalur Kledung : 081328096081, 08190386023, 085869115403 (Mas Poteng), HT : 148.790 MHz
  • Bansari : 085752323195, 082227563734
  • Orang Desa : 085292781090
  • Jalur Tambi : 081227967705
  • Twitter :sindoro_sumbing

Gunung Sumbing

  • Jalur Kaliangkrik – Pak Lilik Setyawan (Kadus Dsn Butuh) : 0896-8824-6671 , 085868611446
  • Twitter :SumbingMt, sindoro_sumbing.

Gunung Lawu

  • CP : 085741307298
  • Jalur Cemoro Sewu : 0857292643795 (Hasan), 085642072573 (Pak Agus)
  • Jalur Cemoro Kandang : 081575899797

Gunung Merapi

  • CP : 081329266656 (P. Syamsuri), 085713121271 (Mas grandong)
  • Jalur New Selo : 085640657456 / 087835090433 (Suroto Sheby)

Gunung Merbabu

  • Jalur Selo : 085728659968
  • Jalur Tekelan : 085225552130 (Mas Thipuk Sidarta); 085225321749 (Mas Masnoer S) atau via twitter @dieeppoo
  • Jalur Cuntel/Kopeng : 085743432595/0857434325957 (Mas Kamplink); 081325932700 (P. Tono) ; 085329720365 (Mas Ando)
  • Jalur Wekas : 085740540437 (GRABUPALA), 082327290278

Gunung Ungaran

  • CP : 085729968373
  • Jalur Bandungan : 081225711243 (Arief)

Gunung Prau

  • CP : 085602170444 ; 085326903444
  • Basecamp : 081229075300
  • Jalur Patakbanteng : 085228283428, 08562777105,
    • Mujib syafii (Mas Pi’i) : 085640086004 / 085228283428,
    • Mas Barudin : 085329449515,
    • Mas Afifi : 08586893 9535,
    • Andi : 087700152388
    • Kukuh : 08562777105
    • Heru : 085642895150

Gunung Jawa Timur

Gunung Arjuna-Welirang

  • Jalur Tretes : 085856052510 (Basecamp)
  • Jalur Lawang : 081330787722 (P. Rudi – Penjaga pos masuk hutan lindung R. Suryo), 081554432204 (Junaedi)
  • Kantor PANDAAN : 0343 630173
  • Kantor MALANG : 0341 483254

Gunung Argopuro

  • CP : 081336017979 (P.Suryadi), 082336446256 (Samhaji)
  • Jalur Baderan : 08113651015 (P.Susiono)

Gunung Semeru

  • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru : (0341) 491828 ; Fax. (0341) 490885
  • CP : 0341787055 (P.Samsul)
  • Resort Ranupane : 08283930822, 081227920297 – Mahmudin (petugas), 0341787055 (Mas Gofur)

Gunung Raung

  • KPW Gunung Raung : (0332) 321305 / Hp 08133386224
  • Jalur Kalibaru : 087755632664 (Ely)
  • REGGAS : 081336367861 (Hilmi), 085859038489 (Cak Inung)

Gunung Buthak Blitar

  • Jalur Sirah kencong Blitar dan Jalur Panderman Batumalang : 081555667595 (Nunung)

Gunung Anjasmoro Mojokerto

  • CP : 085648225766 (Kang Bayik)

Gunung Luar Jawa

Gunung Rinjani :

  • Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
    Jl. Arya Banjar Getas Lingkar Selatan, Mataram – NTB.
    Telp.(0370) 641155(0370) 27851 (Dephut), (0370) 627764 (Pengelola)
  • 081803644654 (Opik Mtp)

Gunung Kerinci :

  • Kantor Balai Besar TNKS :
    Jl. Basuki Rahmat No. 11, Sungai Penuh 32112, Jambi 37101
    Telp. (0748) 22250; Fax. (0748) 22300
  • 085367588494 (Mas Lihun – Penjaga)

Gunung Tambora :

  • Balai Konservasi SDA Nusa Tenggara Barat
    Jl. Majapahit No. 54.B Mataram 83115
    Tlp. (0370) 627851, 633953 | Fax. 0370-627851
  • 085216032004 (Arisman)
  • 082340693138 (Bang Syaiful – Base Camp Desa Pancasila)

Informasi lain seputar pendakian:

ViewRanger – Pemandu Arah dalam Menjelajah

Seperti yang kita tau, salah satu perlengkapan penting dalam melakukan pendakian adalah alat bantu navigasi yaitu peta, kompas, dan GPS. Alat bantu navigasi dapat membantu kita untuk mengetahui arah dan posisi. Tentu saja untuk menggunakannya dengan baik dan benar, kita harus menguasai ilmu navigasi darat. Bila kamu tidak menguasai ilmu navigasi darat, saya sangat menyarankan kamu (yang memang senang mendaki gunung) untuk belajar navigasi darat.

Wait…! Bukannya GPS device itu mahal, ya? Padahal kan gue naik gunung nggak sering-sering banget.

Weitsssss... Kamu tau nggak, kalau GPS pada smartphone itu bisa digunakan secara offline? Sejak beberapa tahun terakhir, saya menggunakan ponsel pintar saya sebagai alat bantu navigasi saat melakukan pendakian. Awalnya, saya yang juga sadar kalo harga GPS device itu nggak murah, mencoba ngoprek cara kerja GPS pada ponsel pintar berbasis Android. Saya sempat berpikir, kalau GPS yang tertanam pada ponsel pintar itu hanya bisa berfungsi saat ponsel dalam keadaan mempunyai koneksi internet. Secara jika internet mati, aplikasi GoogleMaps tidak bisa menampilkan peta.

Akhirnya saya coba cari di PlayStore aplikasi peta yang bisa digunakan secara offline. Setelah coba-pasang aplikasi per aplikasi, ternyata saya menjatuhkan pilihan pada ViewRanger karena fitur-fiturnya yang kelihatan oke. Namun masalahnya tetap sama. Tetap saja peta tidak dapat muncul ketika ponsel dalam moda pesawat (Airplane mode). Saya terus mengulik aplikasi tersebut, dan akhirnya menemukan bahwa ternyata ViewRanger dapat digunakan secara offline. Oke nih, buat naik gunung. Semenjak itu, saya selalu menggunakan aplikasi ini saat melakukan pendakian.

Gimana sih, cara makenya? Oke-oke kita bahas satu per satu dari awal.

Pertama, tentunya kamu harus terlebih dahulu mengunduh ViewRanger, meng-install-nya pada smartphone-mu. Tenang saja, aplikasi ini tersedia untuk pengguna Android dan iPhone. Untuk WindowsPhone, sayangnya aplikasi ini tidak tersedia. Untuk Blackberry? Assalamu’alaykum yaa ahlii kubuur aja, ya. :))) Setelah itu, kamu akan diharuskan membuat akun ViewRanger-mu. Gratis. Ketika kamu membuat akun, akun ini nantinya akan terintegrasi dengan peta yang kamu beli (beberapa layanan peta adalah berbayar, tapi tenang, nggak kepake benget kok), data tracklog atau laporan perjalanan yang kamu rekam, atau rute yang kamu buat.  Tampilan aplikasi ini pada ponsel berbasis Android, adalah seperti ini:

Nah, kalau sudah ter-install di ponselmu dan kamu sudah login dengan akun yang kamu buat, pertama-tama kamu harus mengenali dulu masing-masing fungsi dari ikon yang ada.

Tab browser berfungsi sebagai “pendeteksi” apabila ada tracks atau routes (yang pernah user lain unggah) di area yang terlihat pada Map browser. Kamu bisa mempersempit pencarian dengan mengutak-atik filters. Hasilnya, akan terlihat di bawahnya.

Tab maps berfungsi untuk menampilkan peta seutuhnya. Di sini nanti kita akan banyak “bekerja”. Di tab maps ini, kamu akan mendapatkan informasi koordinat dan ketinggian (altitude) tempat kamu berada. Terdapat juga kompas untuk menunjukkan arah.

Tab profile ini memuat semua informasi tentang kamu pada ViewRanger. Seperti tracks dan routes yang terakhir kamu buat, gunakan, atau kamu unduh. Untuk tab search, sengaja tidak saya sertakan screenshoot-nya, karena ternyata fungsinya masih sama dengan aplikasi kebanyakan. Yaitu untuk mencari. Iya, maaf.

Langsung lanjut ke Tab more options, di sini tempat kamu menyeting ViewRanger kamu.

Oke, setelah kamu mengenali interface aplikasi ini beserta fungsinya, sekarang mari kita masuk ke babak “Cara menggunakan ViewRanger“. Tentunya secara offline. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah mengunduh area di mana kamu akan menggunakan ViewRanger. Kalo saya sih biasanya melakukan ini (beberapa waktu) sebelum pendakian dan menumpang WiFi teman. Gimana cara mengunduh area-nya? Masuk ke Tab-maps, arahkan peta ke tempat kamu mau menggunakan ViewRanger, pilih ikon Maps-options, lalu akan muncul pilihan Save for offline use, lalu pilihlah Detailed. Dalam contoh gambar di bawah ini, saya memilih area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan sekitarnya.

Nah, kamu bisa lihat, area yang kamu pilih akan diselimuti grid. Pilihlah kotak-kotak yang meliputi area yang kira-kira akan kamu jelajahi. Jika kamu kurang jelas melihat, kamu bisa memperbesar gambar peta dengan tombol Zoom in. Sementara, jika kamu ingin menggeser peta, pastikan tombol Select Tile kamu tekan terlebih dahulu dan berubah menjadi Pan Map, supaya saat kamu menekan layar, grid/tile yang sudah kamu select (berwarna merah) malah jadi unselected (kembali menjadi netral).

Di sudut kanan atas, akan terdapat informasi jumlah tiles yang kamu pilih, dan perkiraan besar file yang akan kamu unduh. Setelah kamu yakin, klik tombol Download untuk mengunduh area yang kamu pilih. Beri nama semerdeka kamu. Pastikan semua terunduh dengan baik, dan tidak ada error. Supaya tidak menyusahkan kamu saat kamu memakainya di tempat yang tidak ada jaringan internet sama sekali.

Setelah itu, saatnya kamu coba secara offline. Tentunya dengan mencobanya langsung di area yang sudah kamu unduh tadi. Aktifkan GPS location ponsel kamu, dan jangan lupa untuk mengaktifkan Moda Pesawat (Airplane mode). Lalu, buka ViewRanger. Pilih Tab more options > My Maps. On Device adalah maps atau area yang sudah kamu unduh, dan My Maps adalah peta-peta atau area-area yang pernah kamu unduh dan tersimpan di akun ViewRanger-mu.

Pilih peta di tab On Device yang sudah kamu unduh areanya, lalu pilih Open Map. Setelah itu, ketuk ikon kompas supaya kamu bisa melihat posisi kamu saat ini. Lalu, tekan tombol Map Actions yang berada di kanan bawah, dan pilih Record Track, lalu tekan tanda panah pada kiri atas (di sebelah tulisan Track) untuk kembali ke moda peta.

Mulailah berjalan. Nantinya perjalanan kamu akan terekam menjadi jejak yang membentuk jalur mengikuti posisi kamu berada. Bila kamu berhenti untuk beristirahat dalam waktu yang cukup lama, jangan lupa pause record dengan cara mengetuk  pop-up Trip Time yang berada di atas tombol Action Maps. Begitu juga jika kamu ingin berhenti merekam track apabila kamu sudah sampai di tujuan. Track yang terekam, nantinya bisa kamu ekspor menjadi file GPX, atau kamu jadikan route untuk kamu gunakan di kemudian hari.

Oh iya, bicara tentang GPX, sebelum mendaki, kamu juga dapat mengimpor file GPX pada aplikasi ini. Misalnya, kamu ingin mengimpor track atau route jalur pendakian, kamu tinggal ketuk Tab more options > Import / Export > Import Externally lalu pilih file GPX (file berekstensi *.gpx) dari lokasi tempat kamu menyimpan file tersebut pada ponselmu. Nanti ketika kamu membuka peta, peta kamu akan muncul track/route yang berasal dari file GPX yang kamu impor. Kamu akan mudah mengikuti jalur yang sudah tersedia tanpa khawatir tersesat.

Kamu nggak tau di mana nyari file GPX jalur-jalur pendakian? Tenang, saya sudah mengumpulkan sebagian besar file GPX untuk gunung-gunung di Nusantara dari beberapa situs, terutama situs gunungbagging.com. Kamu bisa cari di tabel-tabel di akhir postingan ini. Selamat menjelajah, dan semoga bermanfaat.









CATATAN PENTING!

Meski aplikasi ini memudahkan kamu, pengetahuan mengenai navigasi darat TETAP HARUS kamu ketahui dalam kegiatan pendakian, untuk menjagamu dari skenario yang paling buruk yang sangat mungkin terjadi di alam bebas!


Informasi lain seputar pendakian:

Scan14-12-17 2022

You can’t avoid her
She’s in the air
In between molecules
of Oxygen and Carbondioxyde
(Weezer, Only in Dreams, 1994)

Shalat Saat Travelling atau Mountaineering

Shalat merupakan salah satu dari lima rukun islam. Dan shalat lima waktu merupakan kewajiban setiap muslim, baik dalam kondisi apapun. Sehat maupun sakit, berdiri maupun duduk, di manapun seorang muslim tersebut berada. Dalam Al-Qur’an, disebutkan:

“…dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
[QS. Thaahaa : 14]

“Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
[QS. An-Nisaa’ : 103]

Lalu bagaimana bila seorang muslim sedang dalam perjalanan? Atau, bagaimana bila ia sedang berada di alam bebas seperti gunung? Berikut ini akan saya bahas mengenai tata cara shalat selama dalam perjalanan.

A. Saat berada dalam kendaraan 

Kamu sedang berada dalam kendaraan yang berjalan, sementara waktu shalat sudah tiba. Jangan khawatir. Kamu tetap dapat melaksanakan shalat meskipun dalam kondisi kendaraan sedang berjalan. Namun hanya shalat yang diperkenankan dilakukan saat berada dalam kendaraan hanyalah shalat sunnah. Sementara shalat fardhu hendaknya di-qadha, di-qashar, atau di-jamak apabila seorang pejalan telah sampai pada tempat tujuannya.

1. Bersuci

Sebelum shalat, seorang muslim diwajibkan untuk bersuci dahulu, yaitu berwudhu. Saat dalam perjalanan jauh menggunakan kereta api, atau bus yang ada kamar mandinya, tentu saja kita bisa melakukan wudhu. Namun bagaimana bila kendaraan yang kita tumpangi tidak memungkinkan untuk kita mengambil wudhu? Kita bisa menggantinya dengan tayyamum. Caranya sederhana:

– Membaca basmalah (Bismillahirrahmannirrahim), dilanjutkan niat dalam hati (untuk shalat).
Lafadz niat Tayammum adalah : “Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta’aalaa.”
– Meletakkan kedua telapak tangan kepada benda atau tempat yang berdebu bersih.
– Kedua telapak tangan tersebut ditapukkan kemudian diusapkan ke muka sebanyak dua kali.
– Kedua telapak tangan, tangan kiri mengusap punggung telapak tangan kanan sampai kedua sikut, dua kali. Dan sebaliknya, tangan mengusap punggung telapak tangan kiri sampai kedua sikut, dua kali.
– Urutan dilakukan dengan tertib.

Namun tayyamum tersebut menjadi batal apabila mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu, seperti buang air besar/kecil, buang angin, dan lain-lain. Tayyamum juga menjadi batal apabila sebelum shalat orang yang sudah ber-tayyamum melihat air.

2. Menentukan arah kiblat

Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat. Namun bagaimana jika kita shalat dalam kendaraan yang mana kendaraan tersebut berubah-ubah arah mengikuti jalur yang dilalui?

Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah Saw bersabda:

“Adalah Rasulallah shallallahu alahi wasallam shalat di atas kendaraannya dengan menghadap arah yang dituju kendaraan. Dan jika beliau hendak shalat fardhu maka beliau turun dan menghadap kiblat.”
(HR. al-Bukhari No.400)

“Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibn Umarradhiallahu anhu bahwa beliau berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.””
[HR. Bukhari No.1000]

“Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnah di atas punggung unta kemanapun arah menghadap. Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Ibn Umar-pun melakukan hal serupa.”
[HR. al-Bukhari No.1105]

Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’an, “Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat; maka ke mana jugapun kamu menghadap, di­sanapun ada wajah Allah;sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah : 115]. 

3. Tata cara shalat

Apabila sedang berada dalam kendaraan, shalat bisa dilakukan secara duduk. Namun seperti yang dibahas di atas, shalat dalam kendaraan hanya diperuntukkan untuk shalat sunnah. Sementara shalat fardhu sebisa mungkin hendaknya dilaksanakan dengan cara di-jamak atau di-qashar. Namun apabila kondisi tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan, ada keringanan lain untuk melakukan shalat di kendaraan. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 21869)

a. Qadha

Qadha shalat adalah mengerjakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan untuk mengganti shalat wajib yang ditinggalkan, sengaja maupun tidak. Tidak disyaratkan dalam meng-qadha shalat pada waktu yang sama dengan shalat yang ditinggalkan, seperti diperbolehkan meng-qadha shalat dhuhur di waktu isya’ atau lainnya.
Namun lebih utama tidak meng-qadha shalat di waktu-waktu yang dimakruhkan, yaitu :

1. setelah shalat subuh hingga terbitnya matahari
2. ketika terbitnya matahari hingga ketinggian seukuran tombak.
3. ketika istiwa’ (posisi matahari tepat di tengah).
4. setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari
5. ketika menguningnya matahari mendekati terbenam hingga sempurna terbenam.

Meng-qadha shalat dapat ditunda pelaksanaannya jika ketika meninggalkan shalat karena udzur seperti sakit, lupa, ketiduran (tanpa kesengajaan), dan lain-lain yang terjadi tanpa sengaja. Namun jika tanpa udzur seperti karena malas, maka wajib bersegera meng-qadha tanpa melaksanakan amal ibadah lainnya sebelumnya (seperti shalat sunnah) kecuali untuk tidur dan mencari nafkah yang diwajibkan.

Meng-qadha shalat jahriyah (shalat maghrib, isya’ dan subuh) di siang hari disunnahkan meng-isror (melirihkan) bacaan. Sebaliknya mengqadha shalat sirriyah (shalat dhuhur dan ashar) di malam hari disunahkan untuk mengeraskan bacaan. Kecuali, menurut Imam Mawardi tetap disunnahkan melirihkan bacaan shalat sirriyah sekalipun di-qadha di malam hari dan mengeraskan bacaan shalat jahriyah walaupun di-qadha di siang hari.

b. Qashar

Shalat qashar adalah shalat wajib empat rakaat yang dipendekkan menjadi dua rokaat. Shalat tersebut adalah shalat Dzuhur, Ashar dan Isya. Bagi seorang muslim yang sedang dalam perjalanan dengan jarak yang memenuhi syarat, maka ia boleh memendekkan shalatnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Namun itu hanya pilihan. Ia bisa juga tetap melakukan shalat empat rakaat.

Dalam al-Qur’an dikatakan:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
[QS. An-Nisa : 101]

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi seorang pejalan untuk dapat melakukan shalat qashar, yaitu:

– Jarak perjalanan mencapai 48 mil atau sekitar 78 km.
– Niat safar (bepergian). Maksudnya, harus ada niat yang jelas kemana arah perjalanan yang dituju.
– Perjalanan yang dibolehkan. Bukan perjalanan dosa (maksiyat). Orang yang bepergian dengan niat hendak mencuri, atau berzina, tidak boleh mengqashar shalat.

Qashar tidak boleh dilakukan jika:

– Niat tinggal di tempat tujuan lebih dari empat hari secara sempurna selain pulang dan pergi-nya. Namun Apabila niat tinggal di tempat yang dituju kurang dari 4 hari, atau tidak niat sama sekali maka ia boleh melakukan shalat qashar selama empat hari.
– Apabila sudah sampai ke tempat ia tinggal secara tetap.

Lalu bagaimana niat shalat qashar?

Shalat Qashar Dhuhur: Ushalli fardaz – Dzuhri qasran rokataini lillahi ta’ala.
Artinya: Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Ashar: Ushalli fardal Ashri qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Ashar secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Isya: Ushalli fardal Isya’i qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Isya secara qashar dua rakaat karena Allah.

Apabila qashar dilakukan secara berjamaah, maka tinggal menambah kata “imaman” (sebagai imam) atau “makmuman” (sebagai makmum) sebelum kata “Lillahi Taala”.

c. Jamak Taqdim dan Ta’khir

Seorang musafir juga diperbolehkan untuk melakukan shalat jamak, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Shalat jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang pertama yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Dzuhur atau Maghrib. Dengan kata lain, shalat Ashar dilakukan di waktu Dzuhur, dan shalat Isya dilaksanakan di waktu Maghrib.

Shalat jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang kedua yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Ashar atau Isya. Jadi, shalat Dzuhur dilaksanakan di waktu Ashar, dan shalat Maghrib dilakukan di waktu Isya.

Syaratnya adalah:

– Perjalanan yang dilakukan harus mencapai jarak bolehnya Qashar yakni 78 km atau 48 mil.
– Harus tertib. Yakni, shalat dzuhur dulu baru shalat Ashar; shalat Maghrib dulu baru shalat Isya.
– Niat jamak di shalat yang pertama
– Muwalat (segera) antara dua shalat tidak ada aktifitas pemisah yang panjang.
– Dalam perjalanan. Kedua shalat dilakukan di tengah perjalanan.

Sementara, syarat shalat Jamak Ta’khir adalah:

– Niat shalat ta’khir di waktu yang pertama di luar shalat. Artinya, ketika pejalan memutuskan hendak jamak ta’khir dan saat itu sudah masuk waktu dzuhur, maka ia harus niat untuk jamak ta’khir.
– Dalam perjalanan sampai selesainya kedua shalat.
– Dalam jamak ta’khir, tertib atau urut tidak wajib. Maka, boleh melakukan shalat Ashar atau dzuhur lebih dulu; atau mendahulukan maghrib atau isya. Ini berbeda dengan shalat jamak taqdim. Namun, tertib itu sunnah.

Untuk niat shalat jamak taqdim:

– Niat shalat jamak taqdim Dzuhur dengan Ashar: Ushalli fardaz-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak dengan Ashar karena Allah.

– Niat shalat jamak taqdim Maghrim dengan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a taqdimin bil Isya’i fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak dengan Isya karena Allah.

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak taqdim.

Untuk niat shalat jamak ta’khir:

– Niat shalat jamak ta’khir Dzuhur dan Ashar: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak ta’khir dengan Ashar karena Allah

– Niat shalat jamak ta’khir Maghrib dan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a ta’khirin bil Isya’i fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak ta’khir dengan Isya’ karena Allah

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak ta’khir.

d. Jamak dan Qashar (digabung sekaligus)

Yaitu dua shalat dikumpulkan dalam satu waktu, sekaligus rokaatnya disingkat untuk yang asalnya empat rakaat, seperti dzuhur, ashar dan isya.
Niatnya adalah:

– Niat shalat qashar dan jamak taqdim: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.
– Niat shalat qashar dan jamak ta’khir: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.

Catatan:
– Ganti kata Dzuhur dan Ashar dengan Maghrib dan Isya sesuai keperluan.

B. Saat berada di alam lepas

Ketika travelling ke alam liar seperti gunung, bukan alasan untuk tidak melakukan shalat.

1. Memperhitungkan waktu 

Di era sekarang, mungkin sangat mudah menentukan waktu shalat karena sudah ada alat penunjuk waktu, baik jam tangan maupun handphone. Namun bagaimana jika kamu berada dalam kondisi tidak mempunyai alat penunjuk waktu dan tidak mengetahui waktu? Kamu bisa saja mengetahui waktu dari memperkirakan pergerakan benda-benda langit, seperti matahari atau bintang.

a. Shubuh

Waktu subuh menurut kesepakatan para ulama adalah ketika terbitnya fajar shadiq, dan ini adalah sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat subuh ketika fajar merekah.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ary)

Fajar ada dua macam yaitu fajar shadiq dan fajar kadzib (dusta).
Fajar kadzib berciri: Pada cakrawala tempat terbit matahari, ada cahaya putih ke atas dan akan turun terus sampai akhirnya menyebar ke utara dan selatan sampai mendatar. Di saat tersebut (ketika fajar kadzib) sisi kiri dan kanan (nomor 2 dan 3) dari cakrawala tempat terbit matahari (nomor 1), masih dalam keadaan gelap.

Perhatikan gambar:

fajar_false-white_syafaq_zodiacal-light1
Sementara, fajar shadiq dapat dikenali seperti gambar di bawah ini:

fajar_shadiq_pakarfisika
– No. 1 cahayanya putih mendatar. Ini menunjukkan fajar shadiq. Patokannya tergantung letak matahari ketika terbitnya.
– No. 2 kelihatan gelap/hitam. Warna gelap ini akan berangsur-angsur hilang dan berubah jadi warna putih.

Kemudian, untuk akhir waktu subuh dibagi dua:

1. Ikhtiyary (pilihan) terus berlangsungnya waktu tersebut.
2. Idlthirary (terpaksa) sampai terbitnya matahari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Barangsiapa menjumpai rakaat sebelum terbitnya matahari sungguh telah menjumpai shalat subuh.” (HR. Bukhari no. 545 dan Muslim no. 656 dari Abu Hurairah)

b. Dzuhur

Para ulama telah sepakat bahwa waktu dhuhur berawal ketika matahari sudah tergelincir (waktu zawal), sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Dan waktu dhuhur dimulai ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

Dan waktu dhuhur berakhir ketika masuk waktu ashar (ketika bayangan benda sepanjang aslinya). Seperti yang disebutkan dalam hadits: “Dan waktu dhuhur adalah sebelum tiba waktu ashar.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

c. Ashar

Awal waktu ashar adalah akhir dari waktu dhuhur. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Jibril shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya pada hari pertama ketika bayangannya sama dengan bendanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

Sementara, waktu berakhirnya ashar ada dua macam:

1. Waktu ikhtiyari, yaitu ketika bayangan benda dua kali panjang aslinya.

“Dan pada hari kedua Jibril shalat bersama mereka ketika bayangan dua kali lipat panjang bendanya. Kemudian dia mengatakan waktu ashar adalah diantara dua ini.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

2. Waktu idlthirary (waktu terpaksa), yaitu sampai tenggelamnya matahari.

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari tenggelam berarti ia mendapatkan shalat ashar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

d. Maghrib

Para ulama bersepakat bahwa waktu maghrib adalah ketika matahari terbenam. Cara mengetahuinya adalah sebagai berikut:

1. Bila sedang berada di pesisir/pantai, coba menghadap ke barat supaya pengamatan menjadi lebih mudah. Bundaran matahari akan terlihat dengan jelas ketika terbenam. Di saat itulah, waktu maghrib tiba.

2. Bila di arah barat terbentang gunung atau benda yang menjulang sehingga menghalangi cakrawala, maka pengamatan bisa dilakukan dengan cara melihat ke arah timur, kemudian perhatikan. Apabila langit yang mendekati cakrawala timur terlihat hitam (gelap) secara merata, dan yang di atasnya terlihat lebih terang, maka sudah masuk waktu maghrib. Perbedaan kontras antara dua bagian langit tersebut pun harus jelas. Bila masih samar, maka belum masuk waktu maghrib. Untuk meyakinkannya kamu bisa menghadap ke arah barat, ke tempat yang cukup tinggi. Kalau sudah tidak ada lagi sinar dari arah barat berarti sudah masuk waktu maghrib, dan biasanya ditandai dengan warna kemerah-merahan di langit. Namun jika sinar masih ada, maka diperkirakan matahari belum terbenam, meskipun langit berwarna merah atau gelap sekalipun.

“Dan waktu maghrib ketika terbenam matahari.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 1023 dari Jabir bin ‘Abdillah)

Untuk akhir waktu maghrib, yaitu ketika terbenamnya warna kemerah-merahan di langit.

“Dan waktu maghrib adalah selama syafaq (warna kemerah-merahan) belum hilang.” (HR. Muslim no. 967 dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash)

e. Isya’

Awal waktu isya’ adalah setelah hilangnya warna kemerah-merahan di langit.

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat isya’ ketika terbenamnya warna kemerah-merahan.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ari)

Dan akhir waktu isya’ dibagi dua.

1. Waktu ikhtiyary (pilihan), yaitu ketika pertengahan malam. Misalnya, jika matahari terbenam pada pukul 6 sore dan terbit pada jam 6 pagi maka batas akhir waktu isya’ adalah pukul 12 malam.

“Dan waktu isya’ sampai pertengahan malam.” (HR. Muslim no. 967 dari Abdullah bin Amr bin Ash)

2. Waktu idlthirary (terpaksa) sampai masuknya waktu subuh.

“Suatu hal yang berlebih-lebihan bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datangnya waktu shalat yang lain.” (HR. Muslim no. 1099 dari Abu Qatadah)

2. Bersuci

Sama seperti ketika dalam perjalanan, apabila tidak diketemukan air untuk berwudhu, maka diperbolehkan mengganti dengan tayyamum. Hal yang sama juga diperbolehkan apabila air terlalu dingin sehingga dapat membahayakan tubuh atau mengganggu kekhusyukan shalat. Namun, sangat disarankan sebisa mungkin tetap menggunakan air selama keadaan tidak darurat.

Dalam berwudhu, anggota badan yang wajib untuk dibasuh adalah wajah, kedua tangan hingga batas siku, mengusap sebagian kepala dan mencuci kaki hingga batas mata kaki. Masing-masing wajib dibasuh/diusap sekali saja. Kalau dua atau tiga kali sifat hanya sunnah.

Berwudhu juga bisa dilakukan ketika masih menggunakan sepatu.  Praktek seperti ini memang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dahulu. Dan menjadi bagian dalam tata aturan berwudhu` terutama bila dalam keadaan udara yang sangat dingin.

Caranya sama dengan wudhu` biasa kecuali hanya pada ketika hendak mencuci kaki, maka tidak perlu mencopot sepatu, tapi cukup membasuh bagian atas sepatu dari bagian depat terus ke belakang sebagai ganti dari cuci kaki. Sepatu tetap dalam keadaan dipakai dan tidak dilepas.

Namun perlu diingat, sepatu yang digunakan haruslah yang menutupi hingga mata kaki dan bukan terbuat dari bahan yang tipis tembus air. Juga tidak boleh ada bagian yang bolong/robek.

3. Menentukan arah kiblat

Ketika hari masih terang, kita mudah menentukan arah kiblat. Namun akan menjadi kendala ketika malam hari atau ketika kondisi tertutup kabut tebal yang menutup cahaya matahari.

Ada beberapa cara menentukan arah kiblat :
– Cara termudah gunakan kompas/GPS.
– Perhatikan tumbuhan lumut yang banyak terdapat di gunung. Lumut biasa hidup di daerah yang minim mendapatkan cahaya matahari, oleh karena itu kebanyakan lumut akan hidup di daerah yang menghadap ke arah barat.
– Rasi Bintang Orion (Bintang Waluku/Bajak/Belantik) untuk arah Barat.
Ini adalah rasi paling mudah dikenali. Ciri khasnya adalah tiga buah bintang yang terang, saling berdekatan dan dalam satu garis lurus. Tiga bintang itu disebut sabuk orion. Satu garis yang menghubungkan tiga bintang itu bisa dijadikan petunjuk arah kiblat.

Bila masih bisa melihat posisi matahari, jangan salah. Kamu bisa saja terkecoh. Karena matahari tidak selalu benar-benar terbit di arah timur, dan tenggelam di arah barat.

Hal ini disebabkan karena perbedaan kecondongan belahan bumi terhadap matahari pada waktu-waktu tertentu.

Untuk mengetahui arah dengan melihat posisi matahari, silakan perhatikan gambar berikut:

pathofsun_40deg

C. Kondisi-kondisi lain

1. Ber-hadas besar

Untuk bersuci dari hadas besar di alam terbuka, dapat dilakukan dengan benda padat seperti batu, kayu dan lain-lainnya, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang lebih banyak menggunakan batu. Yaitu tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Penggunaan tissue basah juga diperbolehkan.

2. Baju tidak suci

Apabila kondisi pakaian tidak suci atau terkena najis, baik ringan maupun berat, maka hendaknya tidak melakukan shalat dan mengganti shalatnya (meng-qadha) ketika sudah mendapatkan pakaian yang bersih dari najis. Itulah sebabnya disarankan membawa peralatan shalat saat bepergian jauh, supaya lebih terjaga dari najis.

3. Baju tidak menutup aurat

Salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat. Maka apabila pakaian yang dikenakan tidak menutupi aurat, hendaknya ia meng-qadha shalatnya sampai ia menemukan pakaian yang menutupi aurat. Kecuali jika kamu berada dalam kondisi darurat. Seperti dalam kondisi survival, misalnya. Hal ini juga berlaku pada poin nomer 2 di atas.

4. Sakit dan kondisi cuaca

Bukan hal yang aneh lagi ketika seorang pejalan, atau pendaki, mengalami sakit dalam perjalanannya. Entah karena fisik yang drop, atau kondisi yang tidak memungkinkan tubuhnya bergerak bebas, seperti kedinginan yang amat sangat. Maka islam memberikan solusi untuk melakukan shalat dengan cara duduk, berbaring, atau dengan isyarat tubuh (gerakan jari atau mata). Begitu juga apabila cuaca sedang badai, atau hujan deras. Maka shalat dalam keadaan tersebut sangat diperbolehkan.

4. Junub

Apabila seorang pejalan mengalami mimpi basah, atau yang perempuan baru selesai menstruasi, normalnya adalah melakukan mandi junub. Namun apabila kondisi lingkungan tidak terdapat air sama sekali, atau tidak memungkinkan untuk menggunakan air, maka mandi junub bisa diganti dengan tayyamum, dengan tambahan niat: “sebagai pengganti mandi besar.”

Wallahu’alam bis sawab


Informasi lain seputar pendakian:

Untuk Rara, Dari Papandayan

“Selamat ulang tahun, Raraaaaa…. Hadiahnya dua minggu lagi, yaa… Lo mulai beli perlengkapan naik gunung, deh. Carrier, sepatu, jaket, celana trekking, sleeping bag, nanti gue bikinin list-nya, deh.”

“Lo mau ngajak gue naek gunung? Yang bener aja?”

“Gue mau ngasih kejutan spesial buat lo. Udah lah. Nurut aja.”

Sore itu, 11 Oktober 2014, Rara, salah seorang teman baik saya yang saya kenal di salah satu social media dan komunitas musik independen, sedang merayakan ulang tahunnya di taman kota bersama pacar dan teman-teman dekatnya yang lain. Entah kenapa, muncul ide untuk mengajaknya ke tempat-tempat yang spesial bagi saya yang pernah saya kunjungi. Sore itu saya mengajaknya naik gunung di dua minggu mendatang. Karena baru pertama kali, maka saya pilih Papandayan yang trek-nya cukup mudah untuk orang yang pertama kali naik gunung.

“Gue ajak pacar gue, boleh nggak?” Rara merajuk, diikuti Agita, pacarnya Rara yang senyum-senyum meminta persetujuan.

“Nggak boleh!!! Ya boleh, lah!!!” Kemudian saya menoleh ke Ricky, teman yang biasa mendaki bersama saya. “Cuy, lo ikut, yaa… Buat back up gue.”

“Sip!!!” Ricky setuju.

“Gue ikut, dong.” Fina, pacar Ricky juga meminta persetujuan.

“Gue juga ikut, yaa…” Shitta, yang juga teman dekat kami juga antusias untuk ikut.

“Ya udah. Nanti yang mau ikut, gue bikinin grup WhatsApp untuk koordinasi dan ngasih tau kalian itinerary sama apa aja yang dibutuhin.”

Sepulang dari taman, saya mulai merancang itinerary dan membuat grup WhatsApp untuk memudahkan koordinasi dan brief. Selama kurang lebih seminggu, saya matangkan perencanaan, mempersiapkan peralatan, dan apa-apa saja yang kurang. Semuanya tercantum dalam check list yang saya buat. Lalu beberapa hari sebelum keberangkatan, saya mulai cek lagi kesiapan dari masing-masing personel yang ingin ikut mendaki. Bukan apa-apa. Tapi saya memang tidak pernah mau mengabaikan keselamatan dan safety procedure. Meskipun hanya mendaki gunung yang pendek, atau melewati trek yang cukup mudah. Saya tidak pernah mau meremehkan alam. Saya selalu memperhitungkan resiko dan kemungkinan terburuk yang bisa kapan saja terjadi, supaya semua yang saya bawa bisa selamat kembali sampai rumah tanpa kurang satu apapun, termasuk kesehatan.

Satu per satu saya berikan mereka check list peralatan pribadi yang harus di bawa. Seperti sleeping bag, sepatu, jaket, carrier, matras, jas hujan, dan gear lainnya. Bahkan saya menyempatkan untuk mengeceknya sendiri dengan mengunjungi mereka satu persatu. Sementara Ricky saya beri tugas untuk mempersiapkan dan mengecek peralatan tim. Seperti tenda, kompor, dan cooking set. Dan Fina saya beri tugas untuk mempersiapkan logistik yang sudah saya catat, baik Food Logistic maupun Non-Food Logistic seperti gas portabel, paraffin untuk cadangan bahan bakar, tali, trash bag, dan lain lain. Tak lupa saya brief mereka tata cara packing yang baik, supaya mereka nyaman dalam membawa perlengkapan mereka.

Jum’at sore, 24 Oktober 2014, kami berlima, berkumpul di kediaman Ricky untuk selanjutnya menuju ke terminal bis Primajasa di Cililitan. Bis kami berangkat sekitar pukul sepuluh malam. Shitta tidak berangkat brsama kami dari Jakarta, karena ia tinggal di Bandung. Maka kami janjian bertemu di terminal Guntur, Garut. Perjalanan memakan waktu kurang lebih lima jam. Selama perjalanan, kami bercanda terus menerus. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.

Sampai di terminal Guntur pukul 2.30 pagi. Saat itu gerimis turun setelah cukup lama Garut tidak diguyur hujan. Saya membaca kekhawatiran di raut wajah teman-teman saya pada saat itu. Kekhawatiran akan pemandangan yang tidak bisa dinikmati karena hujan. Kemudian saya ajak teman-teman untuk berteduh sambil istirahat meluruskan punggung dan kaki setelah berjam-jam mereka berada di kendaraan. Sementara mereka berteduh, saya dan Ricky bergegas mencari mobil Elf untuk mengangkut kami ke Cisurupan. Sebenarnya, tarif Elf ke Cisurupan semuanya sama. Yaitu setiap penumpang dikenakan tarif Rp. 20.000. Namun tetap kami harus mencari yang kursinya cukup untuk rombongan kami.

Kapasitas Elf lazimnya adalah 11-12 orang. Namun, berdasarkan peraturan dan kesepakatan antara supir Elf sana, maka mereka baru mau jalan jika mobil sudah berisi 13 orang. Tidak peduli ukuran badan. Belum termasuk supir. Karena hal itulah saya agak berhati-hati memilih Elf. Saya akhirnya ditawari oleh salah seorang supir Elf. Katanya, mobilnya baru berisi 7 orang. Pas lah dengan rombongan saya yang berjumlah 6 orang. Salahnya, saya tidak mengecek ulang ke dalam mobilnya dan menghitung sendiri. Kami sudah terlanjur menaikkan barang-barang, dan sebagian dari rombongan saya juga sudah saya suruh masuk Elf. Ternyata rombongan yang ada di dalam berjumlah 9 orang. Kalau ditambah rombongan saya jadi totalnya 15 orang belum termasuk supir. Jelas semua yang akan menaiki Elf tersebut komplain. Terutama Shitta yang memang agak galak. Ada perdebatan antara saya dengan supir dan calo-calo Elf di sana. Setelah dipaksakan, semua bisa masuk, kecuali saya. Saya marah dan memutuskan untuk mencari angkot lain. Tapi saya terus dibujuk dan akhirnya saya “dilipat” supaya semua penumpang bisa terangkut. Ya. Badan saya memang kecil. Rombongan saya dan rombongan lain yang ada di dalam, yang tadinya marah-marah, kemudian jadi tertawa melihat saya yang tersiksa “dilipat” di samping supir. Apalagi selama perjalanan saya ngoceh misuh-misuh ke supir, dengan backsong “Sakitnya Tuh Di Sini….”

Sampai Cisurupan, saya tidak bisa keluar. Kaki saya kram karena dilipat. Dengan dibantu teman-teman dan beberapa orang dari rombongan yang semobil dengan kami, saya digotong dengan kaki yang masih terlipat. Sudah beres? Belum. Baru saja saya meluruskan kaki, si supir dengan kurang ajarnya meminta saya untuk naik ke kap mobil karena ada tali yang menyangkut.

“KENAPA GUE????”

“Ya kan Akang yang paling kecil dan ringan badannya.”

Karena muka si supir sumringah, maka saya tidak jadi marah dan tidak bisa menolak. Sambil tertawa dan sambil kesal, saya segera memanjat Elf untuk mengurai tali yang kusut. Setelah selesai unload barang-barang kami, rombongan saya dan rombongan yang semobil dengan saya kemudian berkenalan. Lalu janjian untuk menyewa pick up bersama. Supaya lebih cepat dan mudah dan tidak menunggu-nunggu sampai pick up penuh quota. Kami sempatkan sarapan dulu sebelum menyewa pick up. Karena makanan di Camp David lumayan lebih mahal dibandingkan di bawah.

Pick up sudah siap. Kami mulai memasukkan barang-barang kami ke dalam pick up. Setelah semua masuk, maka kami berangkat menuju Camp David. Sepanjang jalan kami disajikan langit berawan dan matahari pagi yang malu-malu bersinar. Tampak gunung Cikuray menjadi primadona pemandangan pagi itu. Untuk tarif pick up, per orang dikenakan Rp. 20.000.

Perjalanan ke Camp David. Latar belakang adalah Gunung Cikuray.

Perjalanan ke Camp David. Latar belakang adalah Gunung Cikuray.

Sampai di Camp David, perwakilan rombongan saya dan rombongan yang baru kami kenal tadi pagi turun di pos penjaga untuk registrasi. Yang lainnya masuk lebih dulu dan kemudian unload barang. Tiap orang yang kami daftarkan, dikenakan biaya registrasi Rp. 7500 untuk satu hari. Karena kami bermalam, maka kami membayar untuk dua hari per orangnya. Setelah registrasi, saya menghampiri mereka. Kami istirahat sebentar, lalu kami berpamitan kepada rombongan yang baru kami kenal tadi untuk melakukan pendakian lebih awal. Kami berpisah di Camp David untuk kemudian janjian bertemu di Pondok Saladah. Tak lupa saya beri tahu mereka posisi di mana saya biasa mendirikan tenda. Yaitu Pondok Saladah agak ke ujung barat di antara pepohonan. Supaya terlindung dari angin dan lebih hangat.

Di Camp David sebelum melakukan pendakian.

Di Camp David sebelum melakukan pendakian.

Kami berpisah dengan rombongan tadi. Sebelum mendaki, tak lupa saya brief teman-teman saya mengenai apa-apa yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat mendaki gunung. Dari mulai menjaga formasi, menjaga interval, tidak putus komunikasi, sampai kode-kode yang akan kami pakai untuk memberitahu sesuatu kepada yang lainnya (interval, tempo, break, stop, dan isyarat-isyarat lain). Sebelum memulai pendakian, saya juga minta mereka melepaskan jaket yang mereka pakai. Karena meskipun pagi itu cukup dingin, namun nantinya saat pendakian mereka akan mengeluarkan keringat akibat gerak tubuh dan sengatan matahari, yang kalau ditutup jaket, maka tubuh akan mengalami dehidrasi. Saya juga minta mereka menyiapkan masker di tempat yang mudah dijangkau, karena kami akan melewati kawah.

Setelah mengecek kesiapan tiap personel, dari mulai tali sepatu sampai posisi carrier, mulailah kami mendaki. Sepanjang jalan, saya meminta mereka untuk mengambil pijakan yang paling landai supaya mereka tidak cepat lelah. Saya juga beritahu mereka untuk mengatur napas dan tidak ragu meminta istirahat apabila badan mulai terasa lelah, atau keluhan-keluhan tertentu yang mungkin mereka alami. Matahari semakin meninggi. Beberapa kali kami beristirahat sebentar-sebentar untuk mengumpulkan napas dan tenaga di jalur sepanjang kawah. Saya memang menekankan kepada mereka supaya tidak ngotot dalam mendaki. Karena destinasi tidak akan lari. Yang terpenting adalah keselamatan mereka selama perjalanan. Saat mulai memasuki kawah, saya pinta mereka memasang masker untuk menghindari gas beracun yang dikeluarkan kawah terhirup. Di warung sesudah kawahlah kami beristirahat agak lama.

Beberapa kali juga mereka takjub dengan pemandangan-pemandangan yang mereka lihat selama perjalanan. “Ini beneran nyata, kan?” “Sekarang lo semua jadi tau, kan!? Kenapa gue sering kabur sendirian dan jarang pulang. Ini hadiah buat kalian. Jadi, jaga baik-baik. Kebersiannya, dan kelestariannya juga. Ini rumah kalian juga sekarang.” Ujar saya sambil tersenyum. Mereka juga sempat terbengong-bengong pada pemandangan warga lokal yang beberapa kali mendahului kami menggunakan motor. “Itu mereka ngapain dan mau ke mana?” “Nanti lo tau sendiri.” Ujar saya.

Warga lokal menaiki motor melintasi jalur pendakian.

Warga lokal menaiki motor melintasi jalur pendakian.

Kami beristirahat kurang lebih 30 sampai 45 menit di warung sesudah kawah. Kami juga sempat memesan teh manis yang dijual juga lontong isi untuk sekedar mengganjal perut. Setelah cukup lama kami beristirahat, kami melanjutkan pendakian. Tak lupa sebelum berjalan kami saling mengecek kondisi satu sama lain. Kami mendaki perlahan namun pasti. Seperti sebelumnya, kami juga banyak berhenti sebentar-sebentar untuk sekedar mengatur napas.

Di jalur setelah kawah, menuju Gober Hut.

Di jalur setelah kawah, menuju Gober Hut.

Di jalur menuju Gober Hut.

Di jalur menuju Gober Hut.

Pemberhentian selajutnya adalah Pos Gober Hood. Sekitar 15 menit rombongan beristirahat di sana sambil menunggu saya melapor kepada ranger yang berjaga di sana.

Berisitirahat di Gober Hut.

Berisitirahat di Gober Hut.

“Pondok Saladah sebentar lagi. Kita jalan, yuk.” Ajak saya ketika saya rasa mereka sudah cukup pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Memasuki Pondok Saladah, saya berhenti untuk sekedar menoleh ke belakang. Raut muka teman-teman saya yang letih berubah menjadi sumringah. “Ini beneran pohon Edelweiss?” Saya hanya tersenyum lebar, lalu kembali berjalan. Baru berjalan sebentar, tiba-tiba Rara berseru. “Eh, kok ada cilok? Bentar-bentar! Gue mau jajan!” “Ya udah. Kita nanti nge-camp di sana.” Ujar saya sambil menunjuk satu tempat di antara pepohonan.

Mendirikan tenda di antara pepohonan.

Mendirikan tenda di antara pepohonan.

Kami sampai di Pondok Saladah sekitar pukul 10 pagi. Lalu saya membagi tugas kepada masing-masing personel. Ada yang membantu saya mendirikan tenda, ada juga yang menyiapkan makan siang. Dua tenda sudah dibuat. Setelah merapihkan barang-barang ke dalam tenda masing-masing, kami makan siang bersama. Selepas makan siang, saya membebaskan mereka melakukan apa saja selama bukan melakukan hal yang dilarang, dan tidak mengganggu pendaki lain. Rara dan Agita memilih berkeliling Pondok Saladah, sampai akhirnya mereka duduk membaca buku di antara rumpun-rumpun edelweiss. Shitta dan Fina memilih tidur. Saya dan Ricky minum teh di beranda tenda.

Agita menikmati pemandangan Edelweiss Pondok Saladah.

Agita menikmati pemandangan Edelweiss Pondok Saladah.

Sekitar pukul 12, rombongan yang bertemu kami sebelumnya, tiba di tempat yang saya. Mereka mendirikan tenda dekat dengan tenda kami. Kami tidak banyak mengobrol. Karena setelah mereka makan siang, mereka melanjutkan jalan-jalan menuu kawasan Hutan Mati, sementara kami menunggu Shitta dan Fina bangun tidur. Mereka bangun pukul 3 sore. Namun sayang, kabut tiba-tba turun. Akhirnya kami memilih untuk tetap di tenda sampai kabut menipis.

Kabut baru menipis sekitar pukul 4.30 sore. Setelah menghabiskan teh dan kopi, kami akhirnya sepakat untuk jalan-jalan ke kawasan Hutan Mati. Sudah cukup gelap ketika kami sampai di sana. Selain karena kabut, langit juga cukup berawan. Kami menghabiskan waktu dengan berfoto di sana sampai gelap. Tidak sulit untuk kembali ke tenda. Kami sudah mempersiapkan head lamp untuk berjaga-jaga jika kami lupa waktu bermain di sana.

Sesampainya di tenda, kami segera memasak makan malam. Sebagian saya pinta untuk mengambil air di sumber air. Setelah makan malam siap, kami berkumpul untuk makan bersama. Sambil bercanda tentunya. Malam itu dingin sekali. Akhirnya setelah makan, semuanya masuk ke dalam tenda, kecuali saya dan Ricky.  Saya lebih memilih mengobrol di luar sambil menikmati teh hangat.

Tiba-tiba, dari dalam tenda, Rara memanggil saya. Ada yang penting, katanya. Saya pun masuk ke dalam tenda. Ternyata, Agita mengalami kedinginan yang amat sangat. Saya cek kondisi tubuhnya. Kakinya dingin sekali da tidak bisa digerakkan. Padahal pakaian yang dipakainya cukup safe dan seharusnya bisa melindungi ia dari hawa dingin. Saya langsung pinta Ricky membawakan saya kompor portabel dan satu panci, lalu saya memasak air di dalam tenda. Supaya tenda menjadi sedikit lebih hangat. Sementara menunggu air matang, saya buka thermal pad, untuk dipasangkan ke kaki Agita. Usut punya usut, ternyata Agita memang tidak begitu tahan dengan hawa dingin. Saya terus ajak Agita bicara dan memintanya untuk menceritakan proses perjalanan yang sudah kami lewati. Tentunya obrolan kami juga saya selingi hal-hal yang lucu yang kiranya bisa membuat Agita tertawa. Tujuannya supaya ia tidak panik, atau bahkan hilang kesadaran, dan bisa terus mengingat. Air sudah matang. Saya langsung buatkan teh pahit untuk diminumkan ke Agita.

Setelah tubuhnya mulai bisa merasakan panas, saya ajak Agita keluar dan berkeliling dengan iming-iming melihat bintang. Padahal tujuannya supaya tubuhnya bergerak sehingga bisa tetap menjaga panas tubuh. Yah, sayangnya, langit sedang berawan. Bintang-bintang tidak begitu kelihatan. Lalu saya ajak Ia untuk ke tenda rombongan yang baru kami kenal tadi. Karena mereka sedang membuat api unggun. Kami berbincang sebentar, lalu pamit untuk beristirahat. Agita dan yang lainnya masuk ke dalam tenda untuk tidur. Saya dan Ricky berada di luar tenda sambil mengobrol.

Cukup lama kami mengobrol, lalu tiba-tiba hujan. Kami segera memasukkan barang-barang yang masih berada di luar ke dalam tenda. Karena tenda saya dan Ricky berkapasitas 2 orang, maka, tak banyak yang bisa kami lakukan di dalam tenda. Akhirnya kami memilih untuk tidur.

Paginya, seperti biasa, saya bangun lebih awal untuk memasak agar-agar. Ini penting. Karena tubuh butuh asupan nutrisi dan serat yang cukup. Saya bangun sekitar pukul 4 pagi. Hujan tinggal gerimis. Maka saya memasak di teras tenda. Sekitar pukul 5 pagi, hujan baru berhenti. Saya coba lihat ke luar, ternyata kabut tebal memenuhi Pondok Saladah. Rupanya kali ini saya tidak bisa mengajak teman-teman saya untuk menikmati sunrise. Maka saya putuskan untuk kembali tidur.

Sekitar jam 7 pagi, saya terbangun lagi. Kabut masih tebal. Percuma juga bila berjalan-jalan ke luar. Rara, Agita, Shitta dan Fina yang berada di tenda depan, sudah bangun juga. Saya dan Ricky kemudian bergabung masuk ke tenda depan sambil menenteng kompor dan cooking set. Kami mengobrol dan bercanda sambil sarapan dan menikmati teh, juga kopi. Cukup lama kami berada di dalam. Sekitar pukul 8 pagi, kabut mulai menipis. Akhirnya kami coba berjalan-jalan ke luar. Kami bersama-sama menyambangi rombongan sebelah untuk mengobrol.

Bertamu ke Tenda sebelah.

Bertamu ke Tenda sebelah.

Kabut tebal di Pondok Saladah.

Kabut tebal di Pondok Saladah.

Menghabiskan sisa logistik.

Menghabiskan sisa logistik.

Pukul 8.30, kabut kembali turun dan lebih tebal dari sebelumnya. Bahkan jarak pandang pun tidak sampai 2 meter. Padahal kami berencana turun pukul 9.30. Saya pikir, ini cukup berbahaya. Mengingat pada beberapa titik, jalur berbatasan langsung dengan jurang. Apalagi ini adalah pendakian perdana teman-teman saya, selain Ricky. Saya putuskan untuk menunggu. Tidak sampai setengah jam saya membuat keputusan, tiba-tiba hujan turun lagi dengan deras. Kami akhirnya masuk ke dalam tenda. Kami mengobrol lagi sambil menikmati teh hangat dan hawa dingin.

Berteduh di dalam tenda.

Berteduh di dalam tenda.

Hujan berhenti sekitar pukul 12 siang. Kabut pun mulai menipis. Namun langit mendung. Kamipun segera packing lalu bergegas turun. Tak lupa kami melakukan brief sebelum berjalan.

Saya dan Shitta beristirahat di jalur pendakian saat turun.

Saya dan Shitta beristirahat di jalur pendakian saat turun.

Kami sampai Camp David sekitar pukul 2.30 siang. Tak menunggu lama, kami segera mencari pick up untuk mengangkut kami ke Cisurupan. Sesampainya di Cisurupan, kami juga langsung mencari Elf untuk menuju ke terminal. Sesampainya di terminal, beberapa orang dari kami mandi dan makan. Kami baru kembali ke Jakarta sekitar pukul 5 sore. Shitta yang berdomisil di Bandung, menaiki mobil yang sama lalu turun di Tol Cileunyi.