Hati-hati, jangan buru-buru.

Rasa-rasanya, bukan sekali dua kali saya menganjurkan untuk tidak terburu-buru dan menjaga kehati-hatian dalam menjatuhkan tuduhan, label, atau putusan pada masalah-masalah yang kebenaran di dalamnya adalah samar. Rasa-rasanya, bukan sekali dua kali saya mengatakan bahwa segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawabannya. Bukan apa-apa. Alih-alih “menyuarakan kebenaran”, yang ada hanya memburuknya hati karena buruk sangka, keluarnya celaan dan hinaan, ghibah, bahkan fitnah. Inilah kenapa saya katakan bahwa melakukan kroscek atau tabayyun terlebih dahulu itu penting.
Supaya tidak terjebak pada hal-hal yang demikian, ada beberapa prosedur yang biasa saya lakukan dalam menyikapi masalah seperti ini.
Yang pertama, saya harus mengetahui dulu dasar berita yang dibuat, istilah-istilah yang dipakai, dan kemudian membandingkannya dengan fakta-fakta (bukan asumsi apalagi tuduhan orang lain) yang ada.
1. Apabila tersebar berita, seseorang dianggap komunis/liberal/penganut isme-isme tertentu, pahami dulu term/istilah komunis/liberal/isme-isme yang digunakan. Hal ini penting. Karena kebanyakan orang yang menjatuhkan tuduhan-tuduhan semacam itu, tidak mengerti istilah-istilah yang digunakan.
Sebagai contoh, “komunis tidak mempercayai Tuhan”. Faktanya, komunisme sendiri secara garis besar adalah ideologi politik yang mengedepankan kesetaraan dan kesejahteraan rakyat. Dan faktanya, term ini digunakan pada rezim orba untuk mendemonisasi mereka yang lebih pro kepada kerakyatan daripada ke rezim yang berkuasa pada saat itu. Tidak ada hubungannya antara kepercayaan/belief seseorang terhadap keberpihakan seseorang dalam politik.
Setelah mengerti term yang dimaksud, lalu sandingkan dengan fakta-fakta (bukan asumsi/tuduhan) dan bukti-bukti yang ada, apakah seseorang yang dimaksud itu menganut isme-isme tersebut? Kalau iya, apakah salah? Salahnya di mana? Bila yang dilakukan salah, mana yang benar yang seharusnya dilakukan?
2. Apabila tersebar berita, seseorang dianggap sesat/kafir, coba cari tau bagaimana pandangan para ulama mengenai perilaku yang diberitakan sesat tersebut. Cari rujukan/dasar hukum dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan kitab-kitab klasik ulama-ulama terdahulu. Pahami rujukan tersebut. Setelah itu semua dilakukan, lihat ke yang dituduh, apakah ia melakukan amaliyah yang menjadikannya ia sebagai tertuduh pelaku kesesatan. Apakah benar dia melakukannya atau tidak? Kalau ia melakukan, cari tau musabab ia melakukan hal tersebut dan kembali lagi membandingkan dengan dasar hukum yang ada (Qur’an Hadits, Ijma’). Tidak cukup sampai di situ saja, lihat juga ke diri sendiri, apakah diri sendiiri cukup kompeten menjatuhkan tuduhan sesat/kafir terhadap orang tersebut? (Ini juga berlaku terhadap tuduhan-tuduhan bahwa seseorang itu syiah, atau apakah syiah itu sesat atau tidak).
Lalu bagaimana jika dalam mencari rujukan dari ijma’ para ulama kemudian ditemukan perbedaan pendapat? Bolehkah kita lantas mencela atau menghina apalagi memfitnah ulama yang berbeda pendapat tersebut? Dalam hal ini, saya selalu melihat ke diri sendiri, apakah saya cukup pantas dan kompeten (dengan segala keilmuan yang saya punya) untuk menghakimi? Dan yang paling penting, apakah diperbolehkan untuk menghina/mencaci/memfitnah mereka yang masih bersyahadat (bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad Rasulullah adalah utusan-Nya), dan shalat menghadap kiblat? Adakah dasar hukum (Qur’an/Hadits/Ijma’) yang memperbolehkan kita melakukan hal tersebut? Kalau saya, memilih diam. Pun terhadap ulama-ulama yang saya tidak sependapat pada fatwanya (dikarenakan perbedaan pendapat dari fatwa guru-guru saya yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah Saw, yang tentunya, adab seorang murid harus mempercayai gurunya), saya tetap merasa tidak pantas memberikan cacian/hinaan/fitnah terhadap mereka. Alih-alih demikian, lebih baik saya memohon petunjuk kepada Allah dan mengembalikan permasalahan kepada-Nya.
3. Jika beredar suatu berita pun, sebaiknya lakukan kroscek dan membandingkan antara sumber satu dengan sumber lainnya. Jangan terburu-buru menyebarkan. Membaca, mencari tahu, dan mengedukasi diri sendiri itu lebih penting dibanding terburu-buru menggerutu dan menyebarkan konten hanya karena nafsu tersulut oleh judul berita dan narasi yang disampaikan.
Berhati-hati itu penting, supaya kita tidak merugi. Ya semoga saja kita bukan termasuk orang-orang yang gemar memakan daging saudara sendiri. Semoga saja kita bukan termasuk orang-orang yang merugi. Semoga Allah memberikan petunjuk dan ampunan terhadap kita.
19149391_10210817759493256_3963627962785621505_n

Ahli Segala, Pakar Mengada-ada

Kemarin lusa, banyak orang-orang tiba-tiba saja menjadi pakar agama. Tiba-tiba saja mereka menjadi ahli dalam menjatuhkan vonis ini itu kepada siapa saja yang berbeda. Pokoknya, sumber-sumber mereka yang cuma satu dua paragraf, beberapa ceramah, atau penggalan-penggalan ayat maupun sabda Rasul, cukuplah untuk menjadikan mereka ahli. Siapa peduli yang berbeda dari mereka lahir dari sekian banyak kitab, dan puluhan tahun menuntut ilmu agama.

Lalu, tiba-tiba mereka jadi ahli fisika. Dari segudang teori fisika, paper, dan jurnal ilmiah, itu mah nggak ada apa-apanya dibanding yakin. Iya, yakin kalau bumi itu nggak speris. Bumi itu datar. Jadi segala macam teori dan penelitian itu ya cuma konspirasi aja. Nggak tau deh konspirasi buat ngapain.

Setelah itu, tiba-tiba saja orang-orang mendadak menjadi pakar politik. Paham betul mereka tentang macam-macam ideologi. Ya pokoknya yang berbeda dari mereka itu liberal, atau komunis. Iya, komunis. Itu lho, yang anti Tuhan. Salah lah pokoknya. Meski disodorkan pengertian-pengertian dan serenceng definisi tentang macam-macam ideologi, pokoknya liberal dan komunis itu adalah sebuah cacat peradaban. Harus dibasmi karena mengancam. Entah mengancam siapa. Ya pokoknya mengancam. Meski sudah tinggal nama dan menjadi hantu, pokoknya biar ada kambing hitam aja. Jangan mau salah dong.

Belum juga habis rokok sebatang, tiba-tiba mereka sudah jadi ahli intelejen. Sigap betul bilang mau ada invansi gede-gedean dari negeri seberang. Cekatan bilang pemerintahan ini mau menghancurkan agama. Informasi intelejen itu datang bertubi-tubi dari sosial media, juga artikel-artikel di blog, atau portal berita yang kantornya sendiri nggak tau ada di mana, reporternya siapa, editornya siapa, redakturnya siapa, dan sering terbukti nggak benar. Pokoknya ambil aja, klik share, sambil kasih tanggapan menggerutu. Kalau salah, ya bodo amat. Salah itu kan menurut mereka yang nggak berdiri di pihak mereka. Buat mereka ya bener-bener aja.

Cukup? Nggak dong. Buktinya, nggak lama, mereka langsung jadi ahli sejarah. Pokoknya, bukti-bukti sejarah, penelitian, referensi, citation, dan lain sebagainya itu salah. Ini karena ada upaya dari pihak lain untuk menyembunyikan kebenaran, yang tentunya versi mereka. Si anu sebenarnya beragama sama dengan kita. Si ini dan si itu juga. Napoleon masuk agama kita. Wong Fei Hung. Hitler. Jackie Chen. Semuanya. Kerajaan Hindu Buddha yang dulu itu, sebenernya kesultanan. Candi ini dan candi itu adalah jejak budaya agama kita. Peninggalan salah satu nabi kita. Walisongo itu cuma hoax. Dan lain sebagainya. Segala sesuatu di masa lampau harus berkaitan dengan agama lah pokoknya. Sebodo amat sama berbagai referensi. Malas baca. Neliti langsung juga cape. Mending patokannya ke satu dua artikel aja.

Jadi ahli kesehatan juga dong. Jangan sampe lah anak dikasih vaksin. Itu racun. Haram. Apalah. Pokoknya jangan deh. Itu nggak sehat. Peduli amat sama yang nolak vaksin terus akhirnya kena penyakit. Udah takdirnya kali.

Duh, kalian ini. Apakah kita sebegitu kerdilnya sehingga begitu haus akan pengakuan, haus akan keagungan, haus akan kekuatan? Kenapa sulit sekali menelan fakta-fakta? Kenapa malas sekali beranjak dari kebodohan sementara begitu jumawa mengenakan jubah kesombongan? Ah, tapi tenang saja. Bagaimanapun juga, kalian tetaplah pakar. Ahli dalam segala. Pakar mengada-ada. Jadi, tetap teruskan, dan jangan berhenti di kamu. Semua orang harus menerima kebenaran versimu. Teruskan. Katakan Aamiin dan bagikan secara paksa pemahamanmu sambil mengatasnamakan agama, meski mengada-ada dilarang dalam agama. Sukses selalu dengan kebodohanmu ya.

Kata Sains ke Jurassic Park: Dinosaurus Nggak Gitu, Kok

Siapa sih,  yang nggak tau film Jurassic Park? Film yang diangkat dari novel fiksi sains karangan Michael Crichton tahun 1990 ini, pertama kali diputar di awal 90an. Film yang digarap oleh sutradara terkenal, Steven Spielberg, dan dirilis ke layar lebar pada tahun 1993. Waktu itu, saya yang masih bersekolah di tingkat SD dan suka banget sama Dinosaurus, antusias banget nonton film ini. Melihat binatang yang sudah punah “dihidupkan” lagi dan dipelihara dalam sebuah kebun binatang pra-sejarah, saya waktu itu benar-benar berharap film itu beneran nyata.

Di film itu, beberapa Dinosaurus ditampilkan, dan beberapa di antaranya menjadi primadona, seperti Tyrannosaurus Rex (T-Rex), Dilophosaurus, Brachiosaurus, dan Velociraptor. Bahkan T-rex dan Velociraptor tetap menjadi primadona di film-film selanjutnya (Jurassic Park II: The Lost World, Jurassic Park III, Jurassic World). Film ini dan sequel-nya tetap menjadi favorit saya sampai sekarang, meski seiring waktu berjalan, saya yang memang penyuka Dinosaurus, dan selalu mencari tau segala hal tentang Dinosaurus, menemukan banyak hal yang… Dude, it ruined my childhood. Karena nggak sesuai dengan fakta-fakta sains mengenai Dinosaurus itu sendiri. Mungkin yang akan dibahas di sini akan ngacak. Tapi, daripada kebanyakan pembukaan, ayo lah kita mulai bahas beberapa fakta tentang Dinosaurus yang jauh berbeda dari apa yang terlihat di film Jurassic Park dan sequel-nya.

Banyak kesalahan yang cukup fatal dan sangat signifikan terlihat pada setiap sequel film Jurassic Park. Di film Jurassic Park, kita mengenal Velociraptor sebagai predator pemburu yang berukuran se-manusia dewasa. Velociraptor diperkirakan hidup sekitar 75 – 71 juta tahun yang lalu, di masa Cretaceous[1]. Fosilnya pertama kali ditemukan di gurun Gobi, Mongolia, dan pertama kali “disusun ulang” pada 19 Agustus 1923 oleh Peter Kaisen. Banyak yang nggak tau bahwa Velociraptor dewasa ternyata rata-rata hanya seukuran 0,5 meter dengan panjang 2,07 meter[2]. Iya, sebesar ayam kalkun. Dan banyak yang nggak tau kalo Velociraptor ini seluruh tubuhnya ditutupi bulu seperti burung[3][4].

Perbandingan ukuran Velociraptor dengan manusia dewasa

Jadi, Velociraptor yang kalian liat di film itu sangat amat jaaaaauuuuuh berbeda dengan kenyataannya. Ukuran Velociraptor di film, lebih mirip ukuran Utahraptor, kerabat Velociraptor (meski “model yang dipakai” untuk Velociraptor dalam film ini adalah Deinonychus.[5]). Jika Velociraptor belum punah dan berevolusi menjadi burung modern, kesan yang akan kamu dapatkan ketika melihatnya adalah seperti melihat burung yang nggak biasa. Hal ini juga diungkapkan Mark Norell, kurator fosil reptil, amfibi dan burung pada Museum Sejarah Nasional Amerika.

“The more that we learn about these animals the more we find that there is basically no difference between birds and their closely related dinosaur ancestors like velociraptor. Both have wishbones, brooded their nests, possess hollow bones, and were covered in feathers. If animals like velociraptor were alive today our first impression would be that they were just very unusual looking birds.”[6]

Velociraptor Mongoliensis yang digambar ulang oleh Matthew Martyniuk (2006).

Perbandingan ukuran Velociraptor dengan Dromaeosaurus yang lain.

Lalu bagaimana dengan T-Rex? Hasil dari beberapa penelitian baru-baru ini, mengindikasikan bahwa kemungkinan besar Tyrannosaurus Rex tubuhnya juga tertutup bulu. Lho, kok bisa? Pada tahun 2009, Peter Makovicky dan timnya mendeskripsikan tentang temuan fosil sepupu Tyrannosaurus bernama Xiongguanlong Baimoensis[7] yang hidup antara 100 juta dan 125 juta tahun yang lalu. Dan, pada tahun 2012, Xu Xing dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing dan timnya menggambarkan sepupu lain dari Tyrannosaurus dengan ukuran yang lebih kecil dengan nama Yutyrannus Huali[8] dari periode waktu yang sama. (lihat Nature 489, 22–25; 2012). Kedua fosil ini mengindikasikan adanya bulu pada kedua spesies tersebut. Bulu pada kedua jenis Tyrannosauroidea ini tidak seperti bulu pada burung modern, namun dengan struktur yang lebih sederhana. Xu berpikir bahwa Dinosaurus berbulu yang hidup lebih awal ini adalah evolusi terdekat dari Tyrannosaurus. Maka dari itu ia berpikir bahwa T-Rex juga mempunyai bulu seperti kedua Dinosaurus tersebut.[9] Dan juga mengenai kemampuan melihat T-Rex, tidak ada bukti sedikitpun bahwa T-Rex melihat dan atau mengidentifikasi mangsa berdasarkan gerakan.

Tyrannosaurus Rex yang digambar ulang oleh Matt Martyniuk (2013)

Kejanggalan juga dapat kamu temukan pada Dilophosaurus. Ini juga dikatakan oleh Michael Ryan, kepala kurator dari Vertebrate Paleontology pada Cleveland Museum of Natural History.[10] Entah ide dari mana menambahkan “kedok” di sisi kepala Dilophosaurus. Karena tidak ada bukti sama sekali yang menunjukkan bahwa Dilophosaurus mempunyai “kedok” untuk mengintimidasi musuh seperti ikan cupang. Apalagi untuk menyemburkan racun. Sangat imajinatif sekali pembuat model Dinosaurus ini.

Sementara, mengikuti perkembangan sains, banyak juga hal lain yang menjadikan Dinosaurus yang ada dalam film Jurassic Park tampak salah. Seperti misalnya, para ilmuwan meneliti dan mulai berkesimpulan bahwa kemungkinan hampir semua Dinosaurus memiliki bulu. Lebih dari 30 spesies Dinosaurus non-avian telah dikonfirmasi memiliki bulu, ini dilihat baik lldari bukti langsung bulu yang telah menjadi fosil, atau indikator lain seperti paruh. Dinosaurus-dinosaurus tersebut terkonfirmasi sebagai Teropoda pemakan daging, seperti Velociraptor dan nenek moyang burung yang lainnya. Sementara itu, bukti fosil lain dari jenis baru Dinosurus herbivora yang baru ditemukan mengindikasikan bahwa semua Dinosaurus mungkin mempunyai bulu. Penelitian ini dipimpin oleh Pascal Godefroit dari Royal Belgian Institute of Natural History di Brussels.[11]

Dinosaurus mungkin berwarna cerah. Dinosaurus bersuara seperti burung.

 


Footnote

1. Godefroit, Pascal; Currie, Philip J.; Li, Hong; Shang, Chang Yong; Dong, Zhi-ming (2008). “A new species of Velociraptor (Dinosauria: Dromaeosauridae) from the Upper Cretaceous of northern China”. Journal of Vertebrate Paleontology. 28 (2): 432–438. doi:10.1671/0272-4634(2008)28[432:ANSOVD]2.0.CO;2
2. Paul, Gregory S. “Predatory Dinosaurs of the World.” (1988). New York: Simon & Schuster. hal. 464. ISBN 978-0-671-61946-6.
3. Turner, A.H.; Makovicky, P.J.; Norell, M.A. (2007). “Feather quill knobs in the dinosaur Velociraptor“. Science. 317 (5845): 1721. Bibcode:2007Sci…317.1721T. doi:10.1126/science.1145076.
4. American Museum of Natural History. “Velociraptor had feathers.” ScienceDaily. Dipublikasi pada 20-09-2007. Diakses pada 15-04-2017.
5. “10 Facts About Velociraptor.” Poin nomor 2. Thoughtco. Dipublikasi pada 16-02-2017. Diakses pada 15-04-2017
6. American Museum of Natural History. “Velociraptor had feathers.” ScienceDaily. Dipublikasi pada 20-09-2007. Diakses pada 15-04-2017.
7. Li, D., Norell, M. A., Gao, K.-Q., Smith, N. D. & Makovicky, P. J. Proc. R. Soc. B 277, 183–190 (2010). “A longirostrine tyrannosauroid from the Early Cretaceous of China”. doi:10.1098/rspb.2009.0249
8. Xu, X. et al. “A gigantic feathered dinosaur from the Lower Cretaceous of China”. Nature 484, 92–95 (2012). doi:10.1038/nature10906
9. Brian Switek. “Palaeontology: The truth about T. rex”. Nature. Dipublikasi pada 23-10-2013. Diakses pada 16-April-2017
10. Laura Geggel. “Awesome Dinos, Iffy Science Inhabit Jurassic World”. LiveScience. Dipublikasi pada 18 Juni 2015 . Diakses pada 16-04-2017.

9.
9.
9.

Polemik Rembang Dilihat Dari Kajian Lingkungan

Sudah semenjak beberapa tahun terakhir, perkara penambangan dan pabrik semen di Rembang belum juga menemukan titik temu. Apalagi, baru-baru ini, perkara semen Rembang kembali menjadi sorotan, karena adanya aksi semen kaki oleh warga Kendeng dan aktivis yang menolak keberadaan PT. SI di Rembang. Aksi menyemen kaki tersebut, kemudian (kembali) menjadi pemicu reaksi dari masyarakat. Tentu saja, ada pro dan kontra. Masing-masing pihak membawa kepentingan. Yang pro, melihat PT. SI berjuang demi pembangunan, sementara yang kontra, melihat bahwa aksi Petani Kendeng adalah semata untuk keberlangsungan hidup dan kelestarian alam Kendeng.

Eksplorasi alam untuk Natural Resources Industry, memang sedikit banyak akan membawa dampak, baik dari segi humanitarian, maupun lingkungan. Dalam banyak kasus, setiap rencana pengeksploitasian alam, akan membawa masalah seperti konflik agraria, kerusakan lingkungan, terancamnya ekosistem, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, untuk melihat masalah-masalah yang ditimbulkan pada pengelolaan Natural Resources Industry, menjadi tidak sederhana. Perlu pengamatan yang jeli dan analisa lebih lanjut pada setiap masalah yang terjadi pada kasus-kasus pengeksploitasian alam, termasuk pada konflik eksplorasi Pegunungan Kendeng ini. Maka dari itu, saya mencoba untuk sangat berhati-hati sekali untuk menilai perkara Kendeng ini. setidaknya saya melakukan ini setiap mengamati masalah-masalah yang terkait dengan eksplorasi alam.

Kawasan Kendeng dilihat dari kajian lingkungan.

Dalam kasus Kendeng, saya melihat dan menitikberatkan persoalan terhadap kemungkinan-kemungkinan dampak lingkungan yang diakibatkan apabila pabrik semen tetap beroperasi dan penambangan kapur tetap dilakukan (namun akan saya singgung juga sedikit mengenai aspek-aspek lain). Memang, AMDAL untuk PT. SI sudah dinyatakan layak melalui sidang AMDAL di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Kamis, 2 Februari 2017.[1] Namun, karena saya tidak bisa mengakses atau mendapatkan dokumen AMDAL tersebut untuk dipelajari, maka saya masih berpegang pada data-data kajian lingkungan hidup dan rekomendasi-rekomendasi yang bisa diakses secara publik dan dikeluarkan oleh para pakar. Salah satunya adalah dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, yang disusun oleh Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Semarang Caver Associaton (SCA), Indonesia Caver Society (ICS), dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang.

Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa, kawasan pegunungan Karst Rembang Utara merupakan kawasan imbuhan air atau cekungan air tanah (CAT) terbesar di Kabupaten Rembang yang sering dikenal sebagai Pegunungan Watuputih atau Kawasan Karst Watuputih.[2] Hal ini diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 26 Tahun 2011 lampiran poin nomor 124 yang menetapkan kawasan ini sebagai sumber air lintas kabupaten.

Selain itu, dalam Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 14 tahun 2011 pasal 19a, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Rembang masuk ke dalam wilayah kawasan lindung geologi. Hal ini merujuk pada Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 – 2030, di mana kawasan CAT Watuputih termasuk dalam kawasan lindung geologi (pasal 63). Penetapan kawasan CAT Watuputih sebagai kawasan lindung geologi juga diperkuat  dengan  Peraturan  Pemerintah  No.  26  Tahun  2007  tentang  RTRW Nasional  pasal  53–60.[3]

Keppres Nomor 26 tahun 2011 lampiran poin nomor 124 yang menyatakan bahwa CAT Watuputih termasuk dalam klasifikasi CAT B (lintas kabupaten) menjadikan kawasan ini menjadi kawasan konservasi seperti yang tertuang dalam pasal 25 Undang-undang No 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, dan Peraturan Pemerintah No  43  Tahun 2008  tentang  Air  Tanah pasal 40 ayat 1, dan 2.[4]

Rekomendasi untuk melestarikan kawasan CAT Watuputih, seperti yang dilansir tirto.id, juga ditegaskan oleh Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Surono. Ia menegaskan, Keppres harusnya menjadi acuan untuk melestarikan kawasan CAT Watuputih. Dari data yang ia miliki, kawasan CAT Watuputih memang daerah imbuhan air. Selain itu, penelitian Dinas Provinsi Tingkat I Jawa Tengah pada 1998 menyebutkan jika CAT Watuputih atau pegunungan Watuputih di Kendeng Utara secara geomorfologis merupakan tipe bentang alam karst. Bentang alam karst itu diperkuat dengan penemuan gua-gua alam dan sungai bawah tanah yang menjadikan kawasan itu daerah tangkapan air.[5]

Apa saja potensi risiko dari perubahan morfologi akibat penambangan di kawasan CAT Watuputih? Mengutip dari dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”,

Perubahan morfologi kawasan karst Pegunungan Watuputih akibat penambangan dapat mempengaruhi pola distribusi air, di mana bukit karst berfungsi sebagai tendon air utama yang mengontrol suplai air ke dalam tanah. Akibat perubahan morfologi pada kawasan karst Pegunungan Watuputih akan mengakibatkan terjadinya degradasi jumlah air yang tersimpan di dalam CAT Watuputih, terjadi perubahan komposisi aliran dasar (diffuse flow) dibanding aliran total. Berdasarkan teori epikarst, penambangan bukit gamping akan mengurangi jumlah simpanan air diffuse, dan sebaliknya akan meningkatkan aliran conduit saat hujan. Dampak yang sangat tidak diharapkan adalah bertambahnya persentese aliran conduit saat musim hujan yang dapat mengakibatkan banjir dan berkurangnya persentase aliran diffuse saat musim kemarau sehingga mata air akan menjadi kering. Hilangnya fungsi epikarst akan mengakibatkan hilangnya fungsi resapan air pada kawasan CAT Watuputih, di mana mata air yang ada di sekitar kawasan karst CAT Watuputih mampu memenuhi kebutuhan untuk 14 kecamatan Kabupaten Rembang. Dalam kontek bencana, hilangnya fungsi resapan menyebabkan hilangnya jeda waktu air tersimpan, sehingga pada saat musim hujan air yang seharusnya terserap ke dalam tanah akan berubah menjadi air permukaan/run off, pada saat melebihi debit puncak air hujan yang datang akan cepat hilang sebagai aliran air permukaan dan hal ini dapat berpotensi terjadinya banjir di wilayah-wilayah dataran yang berhubungan langsung dengan DAS yang bermuara pada CAT Watuputih. Berdasarkan analisis citra dan peta rupabumi, kegiatan yang mengakibatkan perubahan morfologi akibat penambangan akan berpotensi hilangnya serapan air yang akan menjadi aliran permukaan dan akan memberi pasokan air ke K. Bengawan Solo, K. Lusi, K. Tuyuhan sehingga, potensi banjir yang selalu terjadi di setiap tahunnya akan lebih tinggi karena bertambahnya jumlah debit air yang dipasok dari hilangnya fungsi resapan air.[6]

Berdasarkan penelitian ASC Yogyakarta tahun 2014, pertambangan semen di Pegunungan Kendeng Utara akan mengganggu ekosistem karst, terutama satwa endemiknya yakni kelelawar. Fungsi kelelawar pada ekosistem gua adalah membuang kotoran di dalam gua yang menjadi sumber makanan untuk binatang lain. Juga terdapat ular yang hidup di gua-gua di kawasan karst, membantu mengendalikan populasi tikus. Selain itu, menurut Sigit Wiantoro, Peneliti Kelelawar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kelelawar juga berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga, sehingga tidak terjadi ledakan populasi serangga sehingga menjadi hama. Penelitian ASC juga menyebutkan, kawasan karst juga berfungsi terhadap penyerapan karbon di udara sebagai penyebab pemanasan global. Berdasarkan penelitian dari Yuan Duaxian (2006) kawasan karst di dunia mampu menyerap karbon 6,08×108 ton/annual. Sehingga penambangan batu gamping di kawasan karst beresiko meningkatkan emisi karbon di kawasan itu dan sekitarnya.[7]

Dari semua data di atas lah yang kemudian membuat saya penasaran. Mengapa Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, tetap ngotot mengeluarkan izin lingkungan baru (untuk PT. SI melakukan penambangan) pada 23 Februari 2017 kemarin? Bahkan ia menyatakan, jika ternyata tidak boleh ditambang, ia akan me-review. Dia berdalih KLHS tidak menentukan itu. Karena yang akan diatur akan mengarah pada KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst) dan KBAK tersebut ditentukan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah.[8] Lalu, mengapa pihak PT. SI menyatakan sikap seolah tidak percaya atas perlunya perlindungan Gunung Watuputih?[9] Bagaimana isi AMDAL-nya?

Oversupply Semen

Seperti yang dilansir geotimes.co.id, [10] industri semen sesungguhnya kapasitas terpasangnya sudah melampaui kebutuhan dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Pada 9 Januari 2017, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan dengan jelas, “Pada 2016, posisinya oversupply 25 persen dari kebutuhan.” (Tempo.co, 09/01/2017).

Tahun 2017 ini dipastikan kapasitas berlebih itu akan mencapai 30%. Namun, hitung-hitungan kebutuhan yang meningkat pesat di tiga tahun mendatang akan membuat kelebihannya turun. Pada 2016, kebutuhan semen mencapai 65 juta ton, dan diperkirakan akan naik menjadi 80 juta ton per 2019. Berapa kapasitas terpasang sekarang? Sekitar 102 juta ton.

Dalam kondisi seperti itu, Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso menyatakan bahwa organisasinya telah sejak lama meminta Pemerintah RI untuk melakukan moratorium pendirian pabrik semen. Kapasitas total seluruh pabrik PT. SI yang ada sekarang adalah 30 juta ton, dan utilisasinya mencapai hampir 97%, lantaran mereka menjual sebanyak 29 juta ton. Mereka mengakui bahwa di Jawa memang pasokannya berlebih, namun mereka terus mengincar wilayah Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku yang masih kekurangan pasokan dan bisa terus berkembang. Apakah Semen Indonesia kemudian mendukung Pemerintah RI dalam membatasi pendirian pabrik semen? Ya. Tetapi dengan catatan bahwa pembatasan itu tidak diberlakukan bagi pabrik mereka di Rembang. Sekretaris Perusahan Semen Indonesia Agung Wiharto, masih seperti dikutip Tempo, menyatakan, “Pabrik kami di Rembang (Jawa Tengah) akan tetap jalan karena moratorium tidak bisa kembali (back date).”

Sementara tirto.id melansir,[11] Badan Pusat Statistik dan Asosiasi Semen Indonesia mencatat bahwa tahun 2015 terjadi surplus semen. Artinya, produksi lebih banyak dibandingkan konsumsi. Tahun itu, konsumsi semen hanya 60,4 juta ton. Tumbuh tipis 0,67 persen dari tahun sebelumnya. Sementara produksi semen di Indonesia mencapai 75,29 juta ton. Artinya, ada kelebihan sekitar 15 juta ton. Jika melihat hanya pada data 2015, Indonesia tentu tak butuh pabrik semen baru.

Data konsumsi dan produksi semen tahun 2016 belum resmi dirilis. Tetapi menurut Agung Wiharto, angka konsumsinya mencapai 65 juta ton. Tetap saja masih surplus.

Namun, bagaimana dengan tahun-tahun selanjutnya? Bagaimana jika pertumbuhan konsumsi semen meningkat tahun ini dan tahun depan, dan tahun depannya lagi?

Sejak tahun 2003 hingga 2015, rata-rata pertumbuhan konsumsi semen tercatat 6,4 persen. Pertumbuhan pada 2015 itu terendah, setidaknya selama 13 tahun terakhir. Semen Indonesia memprediksi pertumbuhan konsumsi semen tahun ini akan meningkat. Proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang dikejar selesai 2019 dinilai akan menjadi salah satu pemicu pertumbuhan.

“Pertanyaannya, kalau tahun 2017 proyek pembangunan Jokowi bagus dan tumbuh 10 persen gimana?” ujar Wiharto.

Dari data konsumsi selama 13 tahun itu, tim riset Tirto menghitung perkiraan konsumsi di tahun-tahun mendatang dengan menggunakan metode forecasting. Dalam ekonomi dan bisnis, ia biasa digunakan untuk memperkirakan penjualan, produksi, ataupun konsumsi pada suatu waktu mendatang berdasarkan data-data sebelumnya. Dari data-data yang tersedia, didapatkan prediksi konsumsi semen pada 2020 sebesar 78,72 juta ton.

Kapasitas produksi PT Semen Indonesia sendiri mencapai 30 juta ton. Ia memiliki empat pabrik di Jawa, satu pabrik di Sumatera Barat, satu pabrik di Sulawesi Selatan, dan satu lagi di Vietnam. Dari total produksi semen di Indonesia, sebesar 33 persennya dari Semen Indonesia. Emiten pelat merah ini juga menguasai 42 persen pangsa pasar.

“Semen Indonesia itu kapasitas produksinya mentok, jadi kami itu butuh pabrik semen. Yang kelebihan itu kompetitor kita dan produksi nasional, tapi per-company berbeda-beda. Kalo enggak ada kapasitas tambahan, besok market share kami diambil asing,” jelas Wiharto.

Jika melihat dari sejarah penambangan di Rembang, Anis Maftuhin, Ketua Bidang Media Forum Kiai Muda Jateng, seperti yang dilansir detik.com pada 21 Maret 2017 menuturkan, penambangan di Rembang bukan barang baru. Sejak dua puluh tahun lalu sudah ada yang menambang. “Semen Indonesia belum pernah menambang sampai hari ini. Yang melakukan penambang-penambang lain.” Jika benar begitu, merujuk kepada Keputusan Presiden No. 26 Tahun 2011 lampiran poin nomor 124, Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 14 tahun 2011 pasal 19a, Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 – 2030 pasal 63, Peraturan  Pemerintah  No.  26  Tahun  2007  tentang  RTRW Nasional  pasal  53–60, dan kajian-kajian terhadap lingkungan oleh para pakar, maka segala bentuk eksploitasi di kawasan CAT Watuputih harus segera diberhentikan.

 

 


Footnote

1. Dipublikasi pada 7 Februari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://www.mongabay.co.id/2017/02/07/komisi-nyatakan-amdal-layak-akankah-pt-semen-indonesia-tetap-melaju-di-rembang/”
2. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 1.
3. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 7.
4. Ibid.
5. Dipublikasi pada 4 Januari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan https://tirto.id/tambang-dan-pabrik-semen-di-rembang-mengancam-sumber-air-cefA
6. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 51-53.
7. Dipublikasi pada 27 Januari 2015, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://www.mongabay.co.id/2015/01/27/apa-yang-hilang-jika-pegunungan-kendeng-di-tambang/
8. Dipublikasi pada 24 Februari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://kbr.id/berita/02-2017/alasan_ganjar_keluarkan_izin_semen_indonesia_di_kendeng/88877.html
9. Sekretaris PT. SI, Agung Wiharto, seperti dikutip Kompas.com (25/02/2017), menyatakan “… kami hanya minta diberi kesempatan beroperasi, benar gak nanti akan hilang air.” Dipublikasi pada 1 Maret 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://geotimes.co.id/ganjar-mbalelo-pranowo-semen-rembang-dan-darurat-klhs/#gs.NFQu9lQ
10. Artikel berita dapat diakses pada tautan http://geotimes.co.id/ganjar-mbalelo-pranowo-semen-rembang-dan-darurat-klhs/#gs.NFQu9lQ

Howdy,

Well, setelah sekian lama vakum, akhirnya gua balik lagi nulis di sini. Dengan sedikit perombakan sana-sini. Apa aja?

  1. Gua menghapus beberapa postingan yang sudah nggak relevan lagi.
  2. Gua memindahkan hampir semua postingan puisi atau sajak ke rumah baru: seratnadiprana.
  3. Mengubah beberapa kategori dan tag postingan.

Ke depannya, nggak akan ada postingan galau berbau curhat menye-menye lagi kayaknya. Konten-konten yang akan gua sajikan nampaknya akan lebih ke hal-hal serius. Alasannya? Simple. Umur. Gua udah nggak cocok lagi di umur segini untuk menye-menye lagi.

So, semoga betah, yaaa…