Polemik Rembang Dilihat Dari Kajian Lingkungan

Sudah semenjak beberapa tahun terakhir, perkara penambangan dan pabrik semen di Rembang belum juga menemukan titik temu. Apalagi, baru-baru ini, perkara semen Rembang kembali menjadi sorotan, karena adanya aksi semen kaki oleh warga Kendeng dan aktivis yang menolak keberadaan PT. SI di Rembang. Aksi menyemen kaki tersebut, kemudian (kembali) menjadi pemicu reaksi dari masyarakat. Tentu saja, ada pro dan kontra. Masing-masing pihak membawa kepentingan. Yang pro, melihat PT. SI berjuang demi pembangunan, sementara yang kontra, melihat bahwa aksi Petani Kendeng adalah semata untuk keberlangsungan hidup dan kelestarian alam Kendeng.

Eksplorasi alam untuk Natural Resources Industry, memang sedikit banyak akan membawa dampak, baik dari segi humanitarian, maupun lingkungan. Dalam banyak kasus, setiap rencana pengeksploitasian alam, akan membawa masalah seperti konflik agraria, kerusakan lingkungan, terancamnya ekosistem, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, untuk melihat masalah-masalah yang ditimbulkan pada pengelolaan Natural Resources Industry, menjadi tidak sederhana. Perlu pengamatan yang jeli dan analisa lebih lanjut pada setiap masalah yang terjadi pada kasus-kasus pengeksploitasian alam, termasuk pada konflik eksplorasi Pegunungan Kendeng ini. Maka dari itu, saya mencoba untuk sangat berhati-hati sekali untuk menilai perkara Kendeng ini. setidaknya saya melakukan ini setiap mengamati masalah-masalah yang terkait dengan eksplorasi alam.

Kawasan Kendeng dilihat dari kajian lingkungan.

Dalam kasus Kendeng, saya melihat dan menitikberatkan persoalan terhadap kemungkinan-kemungkinan dampak lingkungan yang diakibatkan apabila pabrik semen tetap beroperasi dan penambangan kapur tetap dilakukan (namun akan saya singgung juga sedikit mengenai aspek-aspek lain). Memang, AMDAL untuk PT. SI sudah dinyatakan layak melalui sidang AMDAL di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Kamis, 2 Februari 2017.[1] Namun, karena saya tidak bisa mengakses atau mendapatkan dokumen AMDAL tersebut untuk dipelajari, maka saya masih berpegang pada data-data kajian lingkungan hidup dan rekomendasi-rekomendasi yang bisa diakses secara publik dan dikeluarkan oleh para pakar. Salah satunya adalah dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, yang disusun oleh Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Semarang Caver Associaton (SCA), Indonesia Caver Society (ICS), dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang.

Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa, kawasan pegunungan Karst Rembang Utara merupakan kawasan imbuhan air atau cekungan air tanah (CAT) terbesar di Kabupaten Rembang yang sering dikenal sebagai Pegunungan Watuputih atau Kawasan Karst Watuputih.[2] Hal ini diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 26 Tahun 2011 lampiran poin nomor 124 yang menetapkan kawasan ini sebagai sumber air lintas kabupaten.

Selain itu, dalam Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 14 tahun 2011 pasal 19a, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Rembang masuk ke dalam wilayah kawasan lindung geologi. Hal ini merujuk pada Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 – 2030, di mana kawasan CAT Watuputih termasuk dalam kawasan lindung geologi (pasal 63). Penetapan kawasan CAT Watuputih sebagai kawasan lindung geologi juga diperkuat  dengan  Peraturan  Pemerintah  No.  26  Tahun  2007  tentang  RTRW Nasional  pasal  53–60.[3]

Keppres Nomor 26 tahun 2011 lampiran poin nomor 124 yang menyatakan bahwa CAT Watuputih termasuk dalam klasifikasi CAT B (lintas kabupaten) menjadikan kawasan ini menjadi kawasan konservasi seperti yang tertuang dalam pasal 25 Undang-undang No 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, dan Peraturan Pemerintah No  43  Tahun 2008  tentang  Air  Tanah pasal 40 ayat 1, dan 2.[4]

Rekomendasi untuk melestarikan kawasan CAT Watuputih, seperti yang dilansir tirto.id, juga ditegaskan oleh Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Surono. Ia menegaskan, Keppres harusnya menjadi acuan untuk melestarikan kawasan CAT Watuputih. Dari data yang ia miliki, kawasan CAT Watuputih memang daerah imbuhan air. Selain itu, penelitian Dinas Provinsi Tingkat I Jawa Tengah pada 1998 menyebutkan jika CAT Watuputih atau pegunungan Watuputih di Kendeng Utara secara geomorfologis merupakan tipe bentang alam karst. Bentang alam karst itu diperkuat dengan penemuan gua-gua alam dan sungai bawah tanah yang menjadikan kawasan itu daerah tangkapan air.[5]

Apa saja potensi risiko dari perubahan morfologi akibat penambangan di kawasan CAT Watuputih? Mengutip dari dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”,

Perubahan morfologi kawasan karst Pegunungan Watuputih akibat penambangan dapat mempengaruhi pola distribusi air, di mana bukit karst berfungsi sebagai tendon air utama yang mengontrol suplai air ke dalam tanah. Akibat perubahan morfologi pada kawasan karst Pegunungan Watuputih akan mengakibatkan terjadinya degradasi jumlah air yang tersimpan di dalam CAT Watuputih, terjadi perubahan komposisi aliran dasar (diffuse flow) dibanding aliran total. Berdasarkan teori epikarst, penambangan bukit gamping akan mengurangi jumlah simpanan air diffuse, dan sebaliknya akan meningkatkan aliran conduit saat hujan. Dampak yang sangat tidak diharapkan adalah bertambahnya persentese aliran conduit saat musim hujan yang dapat mengakibatkan banjir dan berkurangnya persentase aliran diffuse saat musim kemarau sehingga mata air akan menjadi kering. Hilangnya fungsi epikarst akan mengakibatkan hilangnya fungsi resapan air pada kawasan CAT Watuputih, di mana mata air yang ada di sekitar kawasan karst CAT Watuputih mampu memenuhi kebutuhan untuk 14 kecamatan Kabupaten Rembang. Dalam kontek bencana, hilangnya fungsi resapan menyebabkan hilangnya jeda waktu air tersimpan, sehingga pada saat musim hujan air yang seharusnya terserap ke dalam tanah akan berubah menjadi air permukaan/run off, pada saat melebihi debit puncak air hujan yang datang akan cepat hilang sebagai aliran air permukaan dan hal ini dapat berpotensi terjadinya banjir di wilayah-wilayah dataran yang berhubungan langsung dengan DAS yang bermuara pada CAT Watuputih. Berdasarkan analisis citra dan peta rupabumi, kegiatan yang mengakibatkan perubahan morfologi akibat penambangan akan berpotensi hilangnya serapan air yang akan menjadi aliran permukaan dan akan memberi pasokan air ke K. Bengawan Solo, K. Lusi, K. Tuyuhan sehingga, potensi banjir yang selalu terjadi di setiap tahunnya akan lebih tinggi karena bertambahnya jumlah debit air yang dipasok dari hilangnya fungsi resapan air.[6]

Berdasarkan penelitian ASC Yogyakarta tahun 2014, pertambangan semen di Pegunungan Kendeng Utara akan mengganggu ekosistem karst, terutama satwa endemiknya yakni kelelawar. Fungsi kelelawar pada ekosistem gua adalah membuang kotoran di dalam gua yang menjadi sumber makanan untuk binatang lain. Juga terdapat ular yang hidup di gua-gua di kawasan karst, membantu mengendalikan populasi tikus. Selain itu, menurut Sigit Wiantoro, Peneliti Kelelawar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kelelawar juga berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga, sehingga tidak terjadi ledakan populasi serangga sehingga menjadi hama. Penelitian ASC juga menyebutkan, kawasan karst juga berfungsi terhadap penyerapan karbon di udara sebagai penyebab pemanasan global. Berdasarkan penelitian dari Yuan Duaxian (2006) kawasan karst di dunia mampu menyerap karbon 6,08×108 ton/annual. Sehingga penambangan batu gamping di kawasan karst beresiko meningkatkan emisi karbon di kawasan itu dan sekitarnya.[7]

Dari semua data di atas lah yang kemudian membuat saya penasaran. Mengapa Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, tetap ngotot mengeluarkan izin lingkungan baru (untuk PT. SI melakukan penambangan) pada 23 Februari 2017 kemarin? Bahkan ia menyatakan, jika ternyata tidak boleh ditambang, ia akan me-review. Dia berdalih KLHS tidak menentukan itu. Karena yang akan diatur akan mengarah pada KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst) dan KBAK tersebut ditentukan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah.[8] Lalu, mengapa pihak PT. SI menyatakan sikap seolah tidak percaya atas perlunya perlindungan Gunung Watuputih?[9] Bagaimana isi AMDAL-nya?

Oversupply Semen

Seperti yang dilansir geotimes.co.id, [10] industri semen sesungguhnya kapasitas terpasangnya sudah melampaui kebutuhan dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Pada 9 Januari 2017, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan dengan jelas, “Pada 2016, posisinya oversupply 25 persen dari kebutuhan.” (Tempo.co, 09/01/2017).

Tahun 2017 ini dipastikan kapasitas berlebih itu akan mencapai 30%. Namun, hitung-hitungan kebutuhan yang meningkat pesat di tiga tahun mendatang akan membuat kelebihannya turun. Pada 2016, kebutuhan semen mencapai 65 juta ton, dan diperkirakan akan naik menjadi 80 juta ton per 2019. Berapa kapasitas terpasang sekarang? Sekitar 102 juta ton.

Dalam kondisi seperti itu, Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso menyatakan bahwa organisasinya telah sejak lama meminta Pemerintah RI untuk melakukan moratorium pendirian pabrik semen. Kapasitas total seluruh pabrik PT. SI yang ada sekarang adalah 30 juta ton, dan utilisasinya mencapai hampir 97%, lantaran mereka menjual sebanyak 29 juta ton. Mereka mengakui bahwa di Jawa memang pasokannya berlebih, namun mereka terus mengincar wilayah Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku yang masih kekurangan pasokan dan bisa terus berkembang. Apakah Semen Indonesia kemudian mendukung Pemerintah RI dalam membatasi pendirian pabrik semen? Ya. Tetapi dengan catatan bahwa pembatasan itu tidak diberlakukan bagi pabrik mereka di Rembang. Sekretaris Perusahan Semen Indonesia Agung Wiharto, masih seperti dikutip Tempo, menyatakan, “Pabrik kami di Rembang (Jawa Tengah) akan tetap jalan karena moratorium tidak bisa kembali (back date).”

Sementara tirto.id melansir,[11] Badan Pusat Statistik dan Asosiasi Semen Indonesia mencatat bahwa tahun 2015 terjadi surplus semen. Artinya, produksi lebih banyak dibandingkan konsumsi. Tahun itu, konsumsi semen hanya 60,4 juta ton. Tumbuh tipis 0,67 persen dari tahun sebelumnya. Sementara produksi semen di Indonesia mencapai 75,29 juta ton. Artinya, ada kelebihan sekitar 15 juta ton. Jika melihat hanya pada data 2015, Indonesia tentu tak butuh pabrik semen baru.

Data konsumsi dan produksi semen tahun 2016 belum resmi dirilis. Tetapi menurut Agung Wiharto, angka konsumsinya mencapai 65 juta ton. Tetap saja masih surplus.

Namun, bagaimana dengan tahun-tahun selanjutnya? Bagaimana jika pertumbuhan konsumsi semen meningkat tahun ini dan tahun depan, dan tahun depannya lagi?

Sejak tahun 2003 hingga 2015, rata-rata pertumbuhan konsumsi semen tercatat 6,4 persen. Pertumbuhan pada 2015 itu terendah, setidaknya selama 13 tahun terakhir. Semen Indonesia memprediksi pertumbuhan konsumsi semen tahun ini akan meningkat. Proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang dikejar selesai 2019 dinilai akan menjadi salah satu pemicu pertumbuhan.

“Pertanyaannya, kalau tahun 2017 proyek pembangunan Jokowi bagus dan tumbuh 10 persen gimana?” ujar Wiharto.

Dari data konsumsi selama 13 tahun itu, tim riset Tirto menghitung perkiraan konsumsi di tahun-tahun mendatang dengan menggunakan metode forecasting. Dalam ekonomi dan bisnis, ia biasa digunakan untuk memperkirakan penjualan, produksi, ataupun konsumsi pada suatu waktu mendatang berdasarkan data-data sebelumnya. Dari data-data yang tersedia, didapatkan prediksi konsumsi semen pada 2020 sebesar 78,72 juta ton.

Kapasitas produksi PT Semen Indonesia sendiri mencapai 30 juta ton. Ia memiliki empat pabrik di Jawa, satu pabrik di Sumatera Barat, satu pabrik di Sulawesi Selatan, dan satu lagi di Vietnam. Dari total produksi semen di Indonesia, sebesar 33 persennya dari Semen Indonesia. Emiten pelat merah ini juga menguasai 42 persen pangsa pasar.

“Semen Indonesia itu kapasitas produksinya mentok, jadi kami itu butuh pabrik semen. Yang kelebihan itu kompetitor kita dan produksi nasional, tapi per-company berbeda-beda. Kalo enggak ada kapasitas tambahan, besok market share kami diambil asing,” jelas Wiharto.

Jika melihat dari sejarah penambangan di Rembang, Anis Maftuhin, Ketua Bidang Media Forum Kiai Muda Jateng, seperti yang dilansir detik.com pada 21 Maret 2017 menuturkan, penambangan di Rembang bukan barang baru. Sejak dua puluh tahun lalu sudah ada yang menambang. “Semen Indonesia belum pernah menambang sampai hari ini. Yang melakukan penambang-penambang lain.” Jika benar begitu, merujuk kepada Keputusan Presiden No. 26 Tahun 2011 lampiran poin nomor 124, Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 14 tahun 2011 pasal 19a, Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 – 2030 pasal 63, Peraturan  Pemerintah  No.  26  Tahun  2007  tentang  RTRW Nasional  pasal  53–60, dan kajian-kajian terhadap lingkungan oleh para pakar, maka segala bentuk eksploitasi di kawasan CAT Watuputih harus segera diberhentikan.

 

 


Footnote

1. Dipublikasi pada 7 Februari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://www.mongabay.co.id/2017/02/07/komisi-nyatakan-amdal-layak-akankah-pt-semen-indonesia-tetap-melaju-di-rembang/”
2. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 1.
3. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 7.
4. Ibid.
5. Dipublikasi pada 4 Januari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan https://tirto.id/tambang-dan-pabrik-semen-di-rembang-mengancam-sumber-air-cefA
6. Dokumen “KAJIAN POTENSI KAWASAN KARST KENDENG UTARA PEGUNUNGAN REMBANG MADURA KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH”, hal. 51-53.
7. Dipublikasi pada 27 Januari 2015, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://www.mongabay.co.id/2015/01/27/apa-yang-hilang-jika-pegunungan-kendeng-di-tambang/
8. Dipublikasi pada 24 Februari 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://kbr.id/berita/02-2017/alasan_ganjar_keluarkan_izin_semen_indonesia_di_kendeng/88877.html
9. Sekretaris PT. SI, Agung Wiharto, seperti dikutip Kompas.com (25/02/2017), menyatakan “… kami hanya minta diberi kesempatan beroperasi, benar gak nanti akan hilang air.” Dipublikasi pada 1 Maret 2017, diakses pada 27 Maret 2017 pada tautan http://geotimes.co.id/ganjar-mbalelo-pranowo-semen-rembang-dan-darurat-klhs/#gs.NFQu9lQ
10. Artikel berita dapat diakses pada tautan http://geotimes.co.id/ganjar-mbalelo-pranowo-semen-rembang-dan-darurat-klhs/#gs.NFQu9lQ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s