Belantara Lembah Mandalawangi

Akhir-akhir ini, tidak ada lagi yang mengisi kepalaku selain riangmu di setiap pagi. Kau selalu saja berhasil menggagalkan kantukku dengan senyum sumringah, merajuk supaya aku lekas bangun dan merajut bahagia di dalam kepala. Kau tak pernah gagal mengajak hatiku melonjak-lonjak girang seperti senam pagi, mengikuti  langkah-langkah kecil yang kau ciptakan.

Kau adalah Belantara. Begitu aku biasa memanggilmu, akrab. Seakrab kawan lama. Padahal baru beberapa tahun aku menautkan hati kepadamu. Semenjak…………aku jatuh cinta pada akar-akarmu yang rumit, dan hijaumu yang begitu menggembirakan. Belum  lagi celah pada tubuhmu yang biasa kukelitiki. Sehingga tawa bisa berderai mengalir menyusuri gorong-gorongmu. Menuju lembah tempat aku merebahkan lelah.

Ya. Kau adalah Lembah. Di mana kabutmu selalu menutupi kesedihanku. Menggantinya dengan sejuk yang membuat airmataku membeku. Sehingga aku lebih memilih meracik hangat dari cengkrama kita di antara susu yang kuseduh. Berbicara tentang apa saja yang menyenangkanmu. Yang tentunya juga menenangkanku. Tenang sehingga tiba-tiba tumbuh bunga. Tidak hanya satu. Tapi serumpun, dua rumpun, seratus rumpun menjelma satu-satu. Lalu mendadak bahagia mekar dari semerbak wangimu.

Kau Mandalawangi. Di mana bunga-bunga keabadian kau tumbuhkan. Supaya Ayah-Ibumu, aku, dan Ibuku, dan semua orang yang akrab dengan senyummu, bisa menitipkan harapan dan kebahagiaan di sela-sela kelopaknya. Dan selama ini, kau belum pernah gagal sekalipun. Betapa kau menjadi poros baru bagi kami yang mencintaimu. Sedari pagi, sampai malam saat kami terlelap ketika menina-bobokanmu.

Pagi ini, sama dengan pagi yang biasa. Kau bangunkan aku dengan tawa riangmu. Melonjak-lonjak di atas kasurku. Padahal aku baru tidur pukul tiga. Menahan demam semalaman. Dan bukankah, kau juga sedang demam? Ah, tentu saja kau tak peduli. Yang kau pedulikan adalah bagimana kau bisa memenuhi hasratmu untuk bermain, lalu menularkan kebahagiaanmu dengan senyum polos yang menggemaskan siapapun. Aku bersyukur memilikimu.

Maka cepatlah besar, Belantaraku. Supaya kelak kau bisa kuculik menjejaki tanah negerimu. Supaya kelak kau dapat menggantikan aku dan ayahmu, mencintai tanah moyangmu, yang sesubur dan seharum edelweismu. Karena kau, Belantara Lembah Mandalawangi, telah menjadi poros baru harapan keluargaku.

Aku
Pamanmu, juga teman dekatmu.

Belantara Lembah Mandalawangi 1

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s