Peta Menujumu

Sudah berapa lama kita tidak berbincang, atau setidaknya bertemu? Rasanya baru kemarin. Namun semalam aku malah merasa sudah lama sekali. Kita mungkin terlalu sibuk. Sibuk yang mungkin sengaja kita buat-buat. Sibuk menepikan satu sama lain, kemudian jadi sibuk dengan merindukan. Sibuk menghalau rasa, kemudian jadi sibuk menyelami kesedihan. Sibuk membunuh ingatan, lalu jadi sibuk merasa kehilangan. Dan tentu saja, kita sibuk menghilangkan diri kita masing-masing, satu sama lain.

Aku kangen. Tiba-tiba saja. Yah, kangen memang tidak mengenal waktu dan tempat, bukan? Kurasa kita sepakat dalam hal itu. Mungkin ini bukan kangen. Tapi haus. Haus akan pelukan dan usapan-usapan ringan pada rambutku yang sudah tidak gondrong lagi. Atau bisa jadi, aku kesepian. Buktinya, setiap kali aku ingat suaramu, gaungnya tidak berhenti buru-buru. Karena terlalu kosong. Atau jangan-jangan, ini benar-benar rindu. Karena tidak bisa dicegat, lalu dikarungi untuk dibuang ke jalan tol atau laut, supaya tidak sempat mengganggu. Apa kamu merasakan hal yang sama denganku?

Seandainya kita tidak terlalu keras kepala saat itu. Tidak menjadi batu yang tuli, dan menjadi lunak saat diteriaki isyarat-isyarat. Seperti yang kubilang berkali-kali kepadamu. Aku percaya bahwa bila satu diantara dua pergi, atau bahkan keduanya, maka salah satu tidak akan kembali, atau bahkan keduanya. Aku percaya bila setelah tak bisa kembali, maka keduanya akan kehilangan. Yang pergi pun yang ditinggalkan, tidak akan bisa dipeluk, dicium, dan cepat atau lambat, yang pergi pun yang ditinggalkan tidak akan bisa lagi dimasukkan ke dalam saku yang ada di dalam kepala. Aku percaya itu.

Aku percaya karena berulangkali aku mengalaminya. Seperti siklus. Pattern yang baku. Tapi mungkin kita terlalu enggan membuka penyumbat telinga. Sampai akhirnya kesadaran menerobos perlahan-lahan, melubangi kita yang batu. Dan kita hanya tinggal menunggu waktu, untuk benar-benar sepenuhnya kehilangan. Mungkin itu yang semesta mau. Atau jangan-jangan, memang itu yang kita inginkan.

Aku kangen. Dan untuk membayarnya, maka aku sengaja membongkar gudang, blusukan ke toko-toko buku, perpustakaan kota, cuma untuk mencari peta supaya bisa pulang ke pelukanmu. Pelukan yang kini tinggal bayang-bayang. Mungkin peta tidak akan bisa kutemukan. Atau mungkin, peta yang kelak kutemukan, malah membawaku pulang ke rumah yang baru. Yang tak ada kau di sana. Dan “kita” akan benar-benar hilang. Mungkin, itu yang semesta mau. Mungkin juga, memang itu sebenarnya yang kita inginkan.

Semoga kamu juga mencari peta yang sama denganku. Semoga kita masih mungkin untuk kembali menemukan. Pulang.

Advertisements

1 Comment

  1. Kehilangan adalah hukum sakral hidup. Kehilangan sudah pasti terjadi. Entah karena salah satu dari kita yang bosan lalu mundur,atau Tuhan yang mengambil salah satu dari kita, Sekuat apapun kita memeluk,pasti akan kehilangan juga. Ngenaaa bgt masss tulisannya. Visit jg blog aku ya
    gestiwuri.wordpress.com 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s