Terimakasih Manusia Pohon

Aku percaya, bahwa kita, barangkali diciptakan untuk memenuhi takdir yang lain. Sedih, bahagia, rasa syukur, alasan hidup, bahkan kematian. Betapa takdir diciptakan saling terikat dan terkait sehingga membentuk rangkaian yang menjadi mekanisme semesta. Sama seperti halnya pertemuan kita, beberapa tahun lalu. Di tempat dan waktu yang bukan seharusnya untuk bertemu. Namun, aku masih percaya bahwa engkau adalah jawaban atas do’a ku saat itu.

Aku tak pernah menyangka, engkau hadir begitu saja beberapa detik setelah aku mengucap Amin dengan sungguh-sungguh. Seolah-olah engkau tumbuh dari balik akar dan semak rimba. Saat itu bahkan aku sempat berpikir engkau adalah malaikat maut yang ingin menjemput. Namun aku segera menepiskan pikiran itu, mengingat kau tidak membawa sabit besar, dan kau tidak seram-seram amat.

Kita bertemu entah di salah satu sudut rimba yang barangkali Tarzan pun bisa tersesat di sana. Ya. Aku tersesat. Awalnya turun badai. Lalu karena adikku tidak membawa jas hujan, mau tak mau aku relakan jas hujanku dipakai olehnya. Aku terus bertahan dan mencoba menerobos badai. Kabut tidak mau ketinggalan. Semena-mena mereka bermunculan dari balik pohon-pohon. Membuat barikade yang menghalangi jalan. Dan entah bagaimana caranya, aku terpisah dari rombongan. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tau nanti bisa tersusul.

Badai mulai mereda meski hujan belum reda. Perlahan-lahan kabut mulai menipis. Dan aku sadar, aku telah tersasar. Jalur yang terjal dan hutan yang semakin asing membuat fisikku semakin melemah. Terlebih, aku tak memegang persediaan logistik. Aku kehausan. Dehidrasi. Kedinginan.

Tiba-tiba hutan berubah menjadi istana megah yang ramai lalu lalang orang. Ini pasti halusinasi. Aku tidak sanggup berpikir lagi dan mengingat. Aku terjatuh. Tiba-tiba aku merasa damai. Ada bunyi air sungai yang muncul tiba-tiba. Aku mengantuk sekali. Aku sadar, ini hipothermia. Namun aku sudah tak sanggup bergerak lagi. Mungkin sudah tiba waktuku pulang. Aku membaca doa sebelum tidur, ditambah dengan doa supaya mendapat pertolongan.

Amiiiiiin. Dengan sungguh-sungguh aku ucapkan. Dan sayup-sayup kau memangil-manggil. Menepuk-nepuk pipi lumayan kencang. Kau bangunkan aku yang sebentar lagi mau tamasya ke surga. Agak kesal. Namun setelah kau memberiku minuman, kesal itu terbawa masuk melewati pencernaan. Dengan sigap pula kau menelanjangiku dan menggantikan bajuku. Kau dengan tulus merajang air di atas kompor portabel. Dan kau memberiku nasi uduk daganganmu cuma-cuma.

Maafkan aku tidak sanggup berbincang-bincang. Hanya bisa menjawab interogasimu sekenanya dan seadanya. Bahkan setelah teh habis ku minum dan kau mengantarkan aku kembali ke jalur yang benar sampai bertemu padang edelweiss, tempat aku berencana bermalam di sana. Kau memang tidak sempat mengantarkan aku ke rombongan. Namun aku juga tidak menghaturkan terima kasih, apalagi sekedar berkenalan.

Bertahun-tahun aku terus melewati jalur yang sama. Berharap kau muncul lagi tiba-tiba, menawarkanku nasi udukmu yang hangat. Bertahun-tahun aku menunggumu mengetuk tendaku menawarkan jajananmu. Hanya ingin mengucapkan terimakasih, lalu membuatkanmu teh hangat setelah sebelumnya kutepuk-tepuk pipimu, dan kutelanjangi dirimu dan memberikanmu pakaianku. Namun rupanya pertemuan Amin itu adalah yang pertama dan terakhir, barangkali. Atau kau benar-benar manusia pohon, muncul dari akar dan semak rimba, barangkali. Namun, terima kasih sudah menyelamatkanku. Terimakasih.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s