Menerjemahkan Kengerian

KSATRIYA

PART 1: Narendra

Tulisan ini adalah sequel dari cerita berantai “KSATRIYA” yang saya dan @biolahitam garap.


SAJAK 1 — Menerjemahkan Kengerian

/ I /

Aku sedang mencoba menerjemahkan kengerian
yang menyusup dari sela bantal kusam, barusan.
Saat terbangun, tak kutemukan apa-apa.
Hanya kopi, asbak, dan juntaian-juntaian kabel
yang diterobos cahaya lampu merah dari atas meja.
Tidak lupa kengerian yang ditabuh jantung
dan dihembus napas yang susah payah.
Aku sapu pandangan ke sudut-sudut gelap
sambil sesekali mengepulkan kretek cepat-cepat.
Barangkali, ia mau sudahi bersembunyi di balik meja,
setelah menyerah karena asap membuat pengap.

/ II /

Aku tak menemukan batu altar, pada gereja kuno
yang tampak megah karena pendar lilin-lilin.
Bermahkota gadis yang terbaring pasrah pada nasib
dikelilingi pria-pria bertudung putih lengkap dengan cadar.
Aku tak mendengar dengungan mantra dan
rapalan doa yang dilantunkan pendeta itu, kepada pisau.
Aku tak lagi menemukan diriku melompat ketengah-tengah
berteriak gila dengan tombak terhunus tegas
seperti Singa lapar, yang merobek leher pendeta
terus tembus sampai pucuk kepala.
Aku tak mendengar jerit tertahan para hadirin
berubah menjadi sekeranjang amarah yang ranum
saat mangsanya kupeluk dan kubawa dari gereja.
Aku dapat mangsa, sekaligus kehilangan bau anyir darah.

/ III /

Mataku tak cukup tua. Masih bisa untuk sekedar mengenal.
Namun, aku yakin. Aku tak menemukan bis tingkat
dimana aku dan gadis itu diam-diam berlari kecil
menyusuri lorong sempit yang tersusun tangga,
lalu, bersembunyi di balik kursi belakang karena risih
diperhatikan permainan neon yang menggunjing,
dan warna, dan jendela gedung tua, dan trotoar
dan lampu jalan yang sudah menyala semalaman.
Malioboro mati. Hilang keramahan berganti sinis ketakutan.
Teror dicatat genangan hujan, menenggelamkan kuda-kuda.
Becak lebur menjadi teralis dengan tulisan besar:
“Hati-hati kalau tak ingin mati. Sebaiknya kau pergi.”
Pergi? Bahkan aku tak dapat menemukannya. Seperti pulang.
Semua berkhianat. Sementara kengerian mengulurkan tangan.

/ IV /

Barangkali aku masih kanak-kanak. Mahir bermain petak umpat
seperti tikus yang gemar menyelinap di kolong meja gedung tua.
Tapi justru itu. Seharusnya ingatanku juga cukup kuat.
Cukup mampu untuk menerjemahkan kengerian
yang sudah ditangkap sarang laba-laba berbaur dengan gelap.
Setidaknya aku remaja. Yang tiba-tiba melompat dari balik gelap,
menerjang, menyerang, meraung dan mencabik daging rusa,
lalu bersimbah darah, bermandikan sorakan kemenangan
dari hantu-hantu penasaran. Riuh. Ramai. Aku senang.
Kengerian menjadi bola pingpong. Merasuki jasad-jasad sekarat.
Yang tak kutemui lagi, saat saklar lampu satu persatu kunyalakan.
Kengerian berpindah secepat kilat. Membonceng teriakan, “Jangan!”
Gadis itu mendapatkan kembali kengeriannya. Masih sayang, rupanya.
Sampai derap langkah ratusan rusa, berebut menghentakkan tangga.
Tak semuanya berkhianat. Ketakutan telah terbukti bersetia.
Bahkan rusa-rusa putih, dengan lambang bintang terbalik di dadanya.
Dan mobil yang tiba-tiba menjemput. Berbisik keras, “Cepat naik!”
Mungkin aku sudah renta. Sampai lupa. Tak semuanya berkhianat.

/ V /

Kengerian memang setia.
Termasuk kepada para penumpang mobil
yang berbaring di lantai karena, takut ketahuan.
Mereka takut, meski terhadap sudut-sudut kota Yogya.
Aku tak sanggup lagi menerjemahkan kengerian.
Hingga saat aku kembali ke kamar, kulinting ia bersama ganja
lalu kuhisap kuat-kuat, sambil tertawa.
Segala yang tak terdefinisikan memang baiknya ditertawakan, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s