Mata Angin

Aku tidak pernah berencana menuliskan arah surat ini. Dengan raut penuh cinta, atau sedih. Namun kau arah angin, lebih tau bagaimana cara menentukan arah. Aku hanya menyadur kejujuran, bahwa kau tak pernah direncanakan oleh musafir yang mencari kepulangan.

Engkau guru, pada langkah-langkah kaki kecilku. Yang menyusuri ruas-ruas jalan, sampai ilalang, sampai semak-semak rimba yang bisa mengajakkku berjudi seharian. Kau memang tidak pernah meminta dua tungkai kakiku menjelajahi delapan penjurumu secara acak. Mereka cuma tau cara menjejak pasrah, berlari, berjingkat, bahkan terkadang digantikan oleh perut merayap seharian. Tubuh ini terlalu ingin tau cara mengenalimu. Atau setidaknya, mengemis sedikit banyak ilmu yang kau sembunyikan di balik kerikil, dan daun tua yang melayang pasrah.

Sedari muda, aku telah mengagumimu. Dari ikon di sudut lipat peta, kau tampak gagah. Maka kuputuskan setelah cukup dewasa untuk menelusuri sulur-sulurmu. Kau ajak aku berkeliling, menerobos hutan-hutan yang disembunyikan halimun gunung, melemparku ke paha samudera yang tersingkap-tutup digoda ombak, dan kadang-kadang kau dudukkan aku di antara neon-neon dan trotoar pada kota yang kelelahan. Lalu, kau tumbuhkan rasa lapar akan kerinduan, dari jawaban atas kepulangan yang kau sembunyikan di salah satu sulurmu.

Aku tumbuh dan kau besarkan, di antara pohon-pohon, rumput-rumput dan bunga liar, selimut halimun, debur ombak, dan lampu-lampu jalanan. Cuaca dan debu sudah tak lagi jadi soal. Rasa lapar, kau penuhi saat aku akhirnya tertidur pasrah di dalam surau ditemani isak tangis dari lambung dan kerongkongan, juga kerinduan. Ada kolak saat aku terbangun karena hentak azan yang bersemangat mengajakku makan. Tuhan tersenyum setelah aku kenyang. Dan rasa lapar menjelma menjadi keinginanku untuk terus menapakimu.

Aku tak peduli lagi jika hujan menghapus jejak-jejakku pada tanah basah. Tak peduli lagi jika angin mengubur goresan lambungku yang merayap di pasir tak bertepi. Di bawah matahari yang kehausan menghisap keringat. Aku hanya peduli pada “Apalagi yang bakal kau hadiahkan kepadaku sebagai kejutan?” Aku tak khawatir kau menghilang. Karena meskipun engkau telah luntur pada peta yang tercabik-cabik sisi saku, aku telah mengurungmu ke dalam kompas. Dan tentu saja mengunggahmu ke dalam ponsel cerdas. Aku tak akan tersesat juga. Karena kau juga tak pernah memberitahu akhir kepada ruas jalan. Sehingga kemudian rencana menjadi semu. Itu juga karena kau adalah delapan penjuru. Delapan penjuru adalah satu.

Setidaknya, jika benar akhirnya aku menemukan sesat, kau masih bisa kupandangi dari balik kompas, atau ponsel cerdas. Sebelum tertidur, saat kelaparan, di beranda surau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s