Kepada Luka

Aku tidak dapat lagi menghitung waktu yang telah kuhabiskan bersama kalian. Sedetik dan seribu tahun tak lagi berbeda. Tetap terasa lama. Kalian telah berhasil meruntuhkan sistem waktu yang telah berabad-abad diciptakan manusia. Bahkan aku tak bisa lagi membedakan lama dan sebentar. Karena sudah begitu samar. Barangkali, karena aku terlalu asik menyaksikan tingkah polah kalian, di dalam kepala, hati, lalu menerobos ke tenggorokan, sampai entah bagaimana caranya, mengendap dalam kelopak mata, menunggu pecah di keheningan malam. Dan untuk itulah, aku perlu berbicara. Tidak dengan suara, karena lidah telah kalian bunuh. Namun dengan secarik surat—yang kali ini—tanpa air mata.

Kepada langit yang runtuh; Engkaulah gelegar pertama yang menetas. Membuatku terkaget-kaget. Kikuk. Panik. Kemudian tak sempat mencari selamat. Aku masih sering bertanya, apakah dapat kubangun kembali engkau dari sisa-sisa puing yang telah sia-sia. Aku masih sering menerka, akankah kelak kau dapat kembali lembayung, yang menghadiahkan semburat warna kembang setiap pagi dan senja, sementara kini engkau telah menjadi serpihan yang cuma-cuma.

Kepada badai yang meliuk manja; Aku akui, goyangan pinggulmu boleh juga. Membuat dada sesak akibat degub jantung yang cepat-cepat. Bolehkah aku beristirahat sejenak, untuk kembali menata seisi ruang yang telah porak poranda. Kapan engkau berhenti sejenak meraung, menderu dalam gaung, dan menyingkapkan barang semenit dua menit bianglala sehingga aku bisa lelap di penghujung warna-warninya.

Kepada jalan tanpa muara temu; Engkaulah yang mengajariku kepasrahan, karena kau tidak mengajarkan utara selatan. Kau tidak pernah menyajikan pilihan-pilihan. Engkau begitu lurus. Tegas. Tak ada cabang-cabang yang bisa menyilapkan tujuan. Namun, tolonglah. Mengapa tidak engkau berhenti menyajikan duri dan api yang kemarau, menggamit sedikit demi sedikit kakiku, dari mulai telapak, merambat ke betis, lalu paha, sampai habis pada selangka. Bolehlah rumput dan bunga dahlia kau tumbuhkan. Supaya setidaknya aku bisa tersenyum di sela lelah yang menyiksa —bukan seongok tengkorak kesepian dan batang pohon yang ranggas.

Kepada luka-luka; Engkau tau, aku sangat mencintaimu. Hampir seluruh waktu aku habiskan hanya untuk melihat polahmu. Meladeni pintamu. Merelakan hati kau iris-iris sementara aku hanya bisa tersenyum meringis. Manis. Aku juga tau bahwa engkau sangat mencintaiku. Tak ingin sedikitpun beranjak. Bermanja-manja tanpa jeda. Dan memelukku dalam lelap yang tak sempurna. Namun apalah arti cinta tanpa rindu di antaranya? Maka pergilah barang sebentar. Tak perlu nanti-nanti. Jangan takut hilang. Karena dibanding tawa, engkaulah yang akan sering kuulang. Pergilah tanpa melambaikan tangan. Tunggu aku di seberang jalan. Sesampainya aku nanti, jangan lupa hadiahi aku satu pelukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s