Cinta yang Durhaka

Sudah sekian masa semenjak engkau ditetaskan semesta ke pangkuan langit. Waktu yang sangat lama bukan? Dan kau, masih nampak sangat mempesona. Seolah remaja yang yang sedang ranum-ranumnya Selayak bunga desa yang anggun dan jadi idola. Bagaimana tidak? Kau selalu rutin meremajai kerut-kerut wajahmu.

Waktu yang cukup lama. Aku selalu bertanya-tanya, tidak kah kau sedikit lelah? Berputar setia dari muara waktu sampai denyut nadimu sekarang ini. Kau perempuan tangguh. Meski telah melahirkan begitu banyak organisme; dari ukuran mikroskopis, sampai yang multiseluler dan kompleks. Tak terhitung juga banyaknya peradaban yang kau lahirkan, kau timang-timang, menjadi saksi atas keagungan dan keanggunanmu, sampai kemudian, akhirnya hancur saat kau meremajai kulitmu.

Kau perempuan tangguh. Perkasa melintasi sungai waktu. Meski seringkali kau tampak begitu menakutkan ketika kau bersolek supaya tetap cantik, ketahuilah. Aku sangat mencintaimu. Aku mencintai setiap kerutmu. Aku mencintai gunung-gunungmu, yang kerap kucumbu hingga orgasme, menelurkan kedamaian dari setiap napas pori-poriku. Aku mencintai rimba-belantaramu, yang tak bosan menyembunyikanku dari gejolak yang kuciptakan sendiri dalam hatiku. Aku mencintai laut-dan pantaimu, yang selalu melarung kesedihanku dengan debur ombak yang kau hembus tak jemu-jemu. Aku mencintai awanmu, yang hujannya menyembunyikan air mata yang meleleh dari kelopak mataku. Aku mencintai bentang kulitmu yang tak bosan kujelajahi saat menuju sudut-sudutmu yang kuziarahi. Aku mencintai segala hal yang kau sajikan cuma-cuma, Ibu.

Mungkin aku dan kaumku durhaka. Tak terhitung sudah kami merenggut keindahanmu. Kami ganti awanmu awan neraka. Kami suntikkan samuderamu dengan zat-zat kimia. Kami cukur habis rimba-rimba yang menjadi mantel keindahanmu. Kami cacah perutmu untuk mengeluarkan emas dan permata, dan darahmu, kami hisap supaya kami bisa terus menerus menghasilkan kepulan awan-awan neraka sebagai hadiah untukmu. Kami sangat durhaka padamu, Ibu.

Kami durhaka, dan kau tetap ikhlas menerima. Kami egois saat kau sedikit menggeliat supaya kembali pulih dan sehat. Kami tudingkan kepadamu berbagai caci dan sumpah serapah sebagai penghakiman. Namun kau tetap sabar. Berdiri tegar, dan tetap setia berputar. Kembali melahirkan pelbagai keindahan yang lambat laun kami hancurkan. Kami durhaka, dan kau tetap ikhlas mencinta.

Sebuah surat mungkin tak dapat menghiburmu, apalagi menolongmu. Namun, bacalah dulu. Sebelum kau hancurkan kami dengan geliat peremajaanmu. Setidaknya, kau tau, meski durhaka, masih ada yang begitu mencintaimu.

Tetaplah setia berputar, Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s