Evolusi

Entah harus kupanggil apa kamu kali ini. Aku hampir tidak bisa mengenalimu lagi.

Kamu selalu membingungkanku. Mengenai segala hal tentang bentuk, rasa, dan pelbagai definisi yang seringkali kau utarakan kepadaku. Kamu seperti berevolusi dengan cepat. Dinamis seperti air yang menjadi kabut, uap, salju, atau embun. Sangat sulit melacak perubahanmu dari waktu ke waktu.

Hari ini kamu adalah hujan. Besok kamu menjadi langit. Menjadi sungai. Menjadi batu. Belum lagi saat kau menjadi serigala saat berkelana di antara rimba. Kemudian menjadi belantara saat tiba-tiba kamu menyesatkan banyak kepala. Lalu menjadi langit saat kamu menyadarkan setiap orang —termasuk aku— bahwa kamu begitu luas dan tak tergapai, namun pelukmu membentang. Aku hampir tidak bisa mengenalimu lagi.

Masih saja kukutuk diriku saat mengingat, akulah yang menjadi penyebab segala yang terjadi padamu. Seandainya saat itu aku tak datang mengganggu tidurmu, membangunkan kesadaranmu, dan memulai pembicaraan yang pekat, lebih pekat dari kopi dan malam yang ikut meriung bersama kita saat itu. Aku mengutuk diriku sendiri saat mengajakmu berkenalan; Menanyakan siapa engkau, dari mana kau berasal, mau ke mana dan untuk tujuan apa; Dan tentu saja menanyakan segala urusanmu yang seharusnya tak perlu aku tau.

Aku juga menyesal saat kita mulai terpaut rasa; seperti remaja tanggung yang baru bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Hampir setiap malam kita berbincang mesra, bertukar cerita, lalu berandai-andai mengenai segala siratan makna. Hubungan kita menjadi tidak biasa dan sesederhana saat pertama kali kita saling bertanya.

Ini akibatnya. Semakin dekat, semakin larut, justru kita semakin tak bisa mengikat diri satu sama lain dengan deskripsi. Sementara, kita saling butuh menukar afirmasi. Kita tak lagi bisa mengurai sosok satu sama lain. Kita tak bisa lagi saling melabelkan satu sama lain. Mungkin, kita sama-sama tersesat dalam rimba eksistensi dan esensi yang bersama-sama kita jelajahi.

Kini kau menamai dirimu pencari, dan aku musafir yang kau bawa serta. Meski kita hampir sama-sama tak bisa mengenal, namun rasa masih terlalu akrab. Kita sama-sama mencari serpihan yang kita harapkan bisa menjadikan kita utuh, satu, dan sejati. Dan dalam kelelahan kita yang amat sangat, yang ingin aku sampaikan hanya satu kalimat: “Kita masih manusia.”

Semoga kita bisa segera saling mengenali lagi, lalu bersama-sama pulang dengan membawa kesejatian.

Salam sayang.
Dari aku yang juga dirimu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s