Shalat Saat Travelling atau Mountaineering

Shalat merupakan salah satu dari lima rukun islam. Dan shalat lima waktu merupakan kewajiban setiap muslim, baik dalam kondisi apapun. Sehat maupun sakit, berdiri maupun duduk, di manapun seorang muslim tersebut berada. Dalam Al-Qur’an, disebutkan:

“…dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
[QS. Thaahaa : 14]

“Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
[QS. An-Nisaa’ : 103]

Lalu bagaimana bila seorang muslim sedang dalam perjalanan? Atau, bagaimana bila ia sedang berada di alam bebas seperti gunung? Berikut ini akan saya bahas mengenai tata cara shalat selama dalam perjalanan.

A. Saat berada dalam kendaraan 

Kamu sedang berada dalam kendaraan yang berjalan, sementara waktu shalat sudah tiba. Jangan khawatir. Kamu tetap dapat melaksanakan shalat meskipun dalam kondisi kendaraan sedang berjalan. Namun hanya shalat yang diperkenankan dilakukan saat berada dalam kendaraan hanyalah shalat sunnah. Sementara shalat fardhu hendaknya di-qadha, di-qashar, atau di-jamak apabila seorang pejalan telah sampai pada tempat tujuannya.

1. Bersuci

Sebelum shalat, seorang muslim diwajibkan untuk bersuci dahulu, yaitu berwudhu. Saat dalam perjalanan jauh menggunakan kereta api, atau bus yang ada kamar mandinya, tentu saja kita bisa melakukan wudhu. Namun bagaimana bila kendaraan yang kita tumpangi tidak memungkinkan untuk kita mengambil wudhu? Kita bisa menggantinya dengan tayyamum. Caranya sederhana:

– Membaca basmalah (Bismillahirrahmannirrahim), dilanjutkan niat dalam hati (untuk shalat).
Lafadz niat Tayammum adalah : “Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta’aalaa.”
– Meletakkan kedua telapak tangan kepada benda atau tempat yang berdebu bersih.
– Kedua telapak tangan tersebut ditapukkan kemudian diusapkan ke muka sebanyak dua kali.
– Kedua telapak tangan, tangan kiri mengusap punggung telapak tangan kanan sampai kedua sikut, dua kali. Dan sebaliknya, tangan mengusap punggung telapak tangan kiri sampai kedua sikut, dua kali.
– Urutan dilakukan dengan tertib.

Namun tayyamum tersebut menjadi batal apabila mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu, seperti buang air besar/kecil, buang angin, dan lain-lain. Tayyamum juga menjadi batal apabila sebelum shalat orang yang sudah ber-tayyamum melihat air.

2. Menentukan arah kiblat

Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat. Namun bagaimana jika kita shalat dalam kendaraan yang mana kendaraan tersebut berubah-ubah arah mengikuti jalur yang dilalui?

Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah Saw bersabda:

“Adalah Rasulallah shallallahu alahi wasallam shalat di atas kendaraannya dengan menghadap arah yang dituju kendaraan. Dan jika beliau hendak shalat fardhu maka beliau turun dan menghadap kiblat.”
(HR. al-Bukhari No.400)

“Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibn Umarradhiallahu anhu bahwa beliau berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.””
[HR. Bukhari No.1000]

“Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnah di atas punggung unta kemanapun arah menghadap. Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Ibn Umar-pun melakukan hal serupa.”
[HR. al-Bukhari No.1105]

Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’an, “Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat; maka ke mana jugapun kamu menghadap, di­sanapun ada wajah Allah;sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah : 115]. 

3. Tata cara shalat

Apabila sedang berada dalam kendaraan, shalat bisa dilakukan secara duduk. Namun seperti yang dibahas di atas, shalat dalam kendaraan hanya diperuntukkan untuk shalat sunnah. Sementara shalat fardhu sebisa mungkin hendaknya dilaksanakan dengan cara di-jamak atau di-qashar. Namun apabila kondisi tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan, ada keringanan lain untuk melakukan shalat di kendaraan. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 21869)

a. Qadha

Qadha shalat adalah mengerjakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan untuk mengganti shalat wajib yang ditinggalkan, sengaja maupun tidak. Tidak disyaratkan dalam meng-qadha shalat pada waktu yang sama dengan shalat yang ditinggalkan, seperti diperbolehkan meng-qadha shalat dhuhur di waktu isya’ atau lainnya.
Namun lebih utama tidak meng-qadha shalat di waktu-waktu yang dimakruhkan, yaitu :

1. setelah shalat subuh hingga terbitnya matahari
2. ketika terbitnya matahari hingga ketinggian seukuran tombak.
3. ketika istiwa’ (posisi matahari tepat di tengah).
4. setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari
5. ketika menguningnya matahari mendekati terbenam hingga sempurna terbenam.

Meng-qadha shalat dapat ditunda pelaksanaannya jika ketika meninggalkan shalat karena udzur seperti sakit, lupa, ketiduran (tanpa kesengajaan), dan lain-lain yang terjadi tanpa sengaja. Namun jika tanpa udzur seperti karena malas, maka wajib bersegera meng-qadha tanpa melaksanakan amal ibadah lainnya sebelumnya (seperti shalat sunnah) kecuali untuk tidur dan mencari nafkah yang diwajibkan.

Meng-qadha shalat jahriyah (shalat maghrib, isya’ dan subuh) di siang hari disunnahkan meng-isror (melirihkan) bacaan. Sebaliknya mengqadha shalat sirriyah (shalat dhuhur dan ashar) di malam hari disunahkan untuk mengeraskan bacaan. Kecuali, menurut Imam Mawardi tetap disunnahkan melirihkan bacaan shalat sirriyah sekalipun di-qadha di malam hari dan mengeraskan bacaan shalat jahriyah walaupun di-qadha di siang hari.

b. Qashar

Shalat qashar adalah shalat wajib empat rakaat yang dipendekkan menjadi dua rokaat. Shalat tersebut adalah shalat Dzuhur, Ashar dan Isya. Bagi seorang muslim yang sedang dalam perjalanan dengan jarak yang memenuhi syarat, maka ia boleh memendekkan shalatnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Namun itu hanya pilihan. Ia bisa juga tetap melakukan shalat empat rakaat.

Dalam al-Qur’an dikatakan:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
[QS. An-Nisa : 101]

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi seorang pejalan untuk dapat melakukan shalat qashar, yaitu:

– Jarak perjalanan mencapai 48 mil atau sekitar 78 km.
– Niat safar (bepergian). Maksudnya, harus ada niat yang jelas kemana arah perjalanan yang dituju.
– Perjalanan yang dibolehkan. Bukan perjalanan dosa (maksiyat). Orang yang bepergian dengan niat hendak mencuri, atau berzina, tidak boleh mengqashar shalat.

Qashar tidak boleh dilakukan jika:

– Niat tinggal di tempat tujuan lebih dari empat hari secara sempurna selain pulang dan pergi-nya. Namun Apabila niat tinggal di tempat yang dituju kurang dari 4 hari, atau tidak niat sama sekali maka ia boleh melakukan shalat qashar selama empat hari.
– Apabila sudah sampai ke tempat ia tinggal secara tetap.

Lalu bagaimana niat shalat qashar?

Shalat Qashar Dhuhur: Ushalli fardaz – Dzuhri qasran rokataini lillahi ta’ala.
Artinya: Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Ashar: Ushalli fardal Ashri qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Ashar secara qashar dua rakaat karena Allah.

Shalat Qashar Isya: Ushalli fardal Isya’i qasran rokataini lillahi ta’ala
Artinya: Niat shalat fardhu Isya secara qashar dua rakaat karena Allah.

Apabila qashar dilakukan secara berjamaah, maka tinggal menambah kata “imaman” (sebagai imam) atau “makmuman” (sebagai makmum) sebelum kata “Lillahi Taala”.

c. Jamak Taqdim dan Ta’khir

Seorang musafir juga diperbolehkan untuk melakukan shalat jamak, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Shalat jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang pertama yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Dzuhur atau Maghrib. Dengan kata lain, shalat Ashar dilakukan di waktu Dzuhur, dan shalat Isya dilaksanakan di waktu Maghrib.

Shalat jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang kedua yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Ashar atau Isya. Jadi, shalat Dzuhur dilaksanakan di waktu Ashar, dan shalat Maghrib dilakukan di waktu Isya.

Syaratnya adalah:

– Perjalanan yang dilakukan harus mencapai jarak bolehnya Qashar yakni 78 km atau 48 mil.
– Harus tertib. Yakni, shalat dzuhur dulu baru shalat Ashar; shalat Maghrib dulu baru shalat Isya.
– Niat jamak di shalat yang pertama
– Muwalat (segera) antara dua shalat tidak ada aktifitas pemisah yang panjang.
– Dalam perjalanan. Kedua shalat dilakukan di tengah perjalanan.

Sementara, syarat shalat Jamak Ta’khir adalah:

– Niat shalat ta’khir di waktu yang pertama di luar shalat. Artinya, ketika pejalan memutuskan hendak jamak ta’khir dan saat itu sudah masuk waktu dzuhur, maka ia harus niat untuk jamak ta’khir.
– Dalam perjalanan sampai selesainya kedua shalat.
– Dalam jamak ta’khir, tertib atau urut tidak wajib. Maka, boleh melakukan shalat Ashar atau dzuhur lebih dulu; atau mendahulukan maghrib atau isya. Ini berbeda dengan shalat jamak taqdim. Namun, tertib itu sunnah.

Untuk niat shalat jamak taqdim:

– Niat shalat jamak taqdim Dzuhur dengan Ashar: Ushalli fardaz-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak dengan Ashar karena Allah.

– Niat shalat jamak taqdim Maghrim dengan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a taqdimin bil Isya’i fardan lillahi Ta’ala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak dengan Isya karena Allah.

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak taqdim.

Untuk niat shalat jamak ta’khir:

– Niat shalat jamak ta’khir Dzuhur dan Ashar: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak ta’khir dengan Ashar karena Allah

– Niat shalat jamak ta’khir Maghrib dan Isya: Ushalli fardal Maghribi jam’a ta’khirin bil Isya’i fardan lillahi taala.
Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak ta’khir dengan Isya’ karena Allah

Untuk shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak ta’khir.

d. Jamak dan Qashar (digabung sekaligus)

Yaitu dua shalat dikumpulkan dalam satu waktu, sekaligus rokaatnya disingkat untuk yang asalnya empat rakaat, seperti dzuhur, ashar dan isya.
Niatnya adalah:

– Niat shalat qashar dan jamak taqdim: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.
– Niat shalat qashar dan jamak ta’khir: Ushalli fardal-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri qashran rak’ataini lillahi taala.

Catatan:
– Ganti kata Dzuhur dan Ashar dengan Maghrib dan Isya sesuai keperluan.

B. Saat berada di alam lepas

Ketika travelling ke alam liar seperti gunung, bukan alasan untuk tidak melakukan shalat.

1. Memperhitungkan waktu 

Di era sekarang, mungkin sangat mudah menentukan waktu shalat karena sudah ada alat penunjuk waktu, baik jam tangan maupun handphone. Namun bagaimana jika kamu berada dalam kondisi tidak mempunyai alat penunjuk waktu dan tidak mengetahui waktu? Kamu bisa saja mengetahui waktu dari memperkirakan pergerakan benda-benda langit, seperti matahari atau bintang.

a. Shubuh

Waktu subuh menurut kesepakatan para ulama adalah ketika terbitnya fajar shadiq, dan ini adalah sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat subuh ketika fajar merekah.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ary)

Fajar ada dua macam yaitu fajar shadiq dan fajar kadzib (dusta).
Fajar kadzib berciri: Pada cakrawala tempat terbit matahari, ada cahaya putih ke atas dan akan turun terus sampai akhirnya menyebar ke utara dan selatan sampai mendatar. Di saat tersebut (ketika fajar kadzib) sisi kiri dan kanan (nomor 2 dan 3) dari cakrawala tempat terbit matahari (nomor 1), masih dalam keadaan gelap.

Perhatikan gambar:

fajar_false-white_syafaq_zodiacal-light1
Sementara, fajar shadiq dapat dikenali seperti gambar di bawah ini:

fajar_shadiq_pakarfisika
– No. 1 cahayanya putih mendatar. Ini menunjukkan fajar shadiq. Patokannya tergantung letak matahari ketika terbitnya.
– No. 2 kelihatan gelap/hitam. Warna gelap ini akan berangsur-angsur hilang dan berubah jadi warna putih.

Kemudian, untuk akhir waktu subuh dibagi dua:

1. Ikhtiyary (pilihan) terus berlangsungnya waktu tersebut.
2. Idlthirary (terpaksa) sampai terbitnya matahari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.: “Barangsiapa menjumpai rakaat sebelum terbitnya matahari sungguh telah menjumpai shalat subuh.” (HR. Bukhari no. 545 dan Muslim no. 656 dari Abu Hurairah)

b. Dzuhur

Para ulama telah sepakat bahwa waktu dhuhur berawal ketika matahari sudah tergelincir (waktu zawal), sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Dan waktu dhuhur dimulai ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

Dan waktu dhuhur berakhir ketika masuk waktu ashar (ketika bayangan benda sepanjang aslinya). Seperti yang disebutkan dalam hadits: “Dan waktu dhuhur adalah sebelum tiba waktu ashar.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

c. Ashar

Awal waktu ashar adalah akhir dari waktu dhuhur. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Jibril shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya pada hari pertama ketika bayangannya sama dengan bendanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

Sementara, waktu berakhirnya ashar ada dua macam:

1. Waktu ikhtiyari, yaitu ketika bayangan benda dua kali panjang aslinya.

“Dan pada hari kedua Jibril shalat bersama mereka ketika bayangan dua kali lipat panjang bendanya. Kemudian dia mengatakan waktu ashar adalah diantara dua ini.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

2. Waktu idlthirary (waktu terpaksa), yaitu sampai tenggelamnya matahari.

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari tenggelam berarti ia mendapatkan shalat ashar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

d. Maghrib

Para ulama bersepakat bahwa waktu maghrib adalah ketika matahari terbenam. Cara mengetahuinya adalah sebagai berikut:

1. Bila sedang berada di pesisir/pantai, coba menghadap ke barat supaya pengamatan menjadi lebih mudah. Bundaran matahari akan terlihat dengan jelas ketika terbenam. Di saat itulah, waktu maghrib tiba.

2. Bila di arah barat terbentang gunung atau benda yang menjulang sehingga menghalangi cakrawala, maka pengamatan bisa dilakukan dengan cara melihat ke arah timur, kemudian perhatikan. Apabila langit yang mendekati cakrawala timur terlihat hitam (gelap) secara merata, dan yang di atasnya terlihat lebih terang, maka sudah masuk waktu maghrib. Perbedaan kontras antara dua bagian langit tersebut pun harus jelas. Bila masih samar, maka belum masuk waktu maghrib. Untuk meyakinkannya kamu bisa menghadap ke arah barat, ke tempat yang cukup tinggi. Kalau sudah tidak ada lagi sinar dari arah barat berarti sudah masuk waktu maghrib, dan biasanya ditandai dengan warna kemerah-merahan di langit. Namun jika sinar masih ada, maka diperkirakan matahari belum terbenam, meskipun langit berwarna merah atau gelap sekalipun.

“Dan waktu maghrib ketika terbenam matahari.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 1023 dari Jabir bin ‘Abdillah)

Untuk akhir waktu maghrib, yaitu ketika terbenamnya warna kemerah-merahan di langit.

“Dan waktu maghrib adalah selama syafaq (warna kemerah-merahan) belum hilang.” (HR. Muslim no. 967 dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash)

e. Isya’

Awal waktu isya’ adalah setelah hilangnya warna kemerah-merahan di langit.

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat isya’ ketika terbenamnya warna kemerah-merahan.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ari)

Dan akhir waktu isya’ dibagi dua.

1. Waktu ikhtiyary (pilihan), yaitu ketika pertengahan malam. Misalnya, jika matahari terbenam pada pukul 6 sore dan terbit pada jam 6 pagi maka batas akhir waktu isya’ adalah pukul 12 malam.

“Dan waktu isya’ sampai pertengahan malam.” (HR. Muslim no. 967 dari Abdullah bin Amr bin Ash)

2. Waktu idlthirary (terpaksa) sampai masuknya waktu subuh.

“Suatu hal yang berlebih-lebihan bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datangnya waktu shalat yang lain.” (HR. Muslim no. 1099 dari Abu Qatadah)

2. Bersuci

Sama seperti ketika dalam perjalanan, apabila tidak diketemukan air untuk berwudhu, maka diperbolehkan mengganti dengan tayyamum. Hal yang sama juga diperbolehkan apabila air terlalu dingin sehingga dapat membahayakan tubuh atau mengganggu kekhusyukan shalat. Namun, sangat disarankan sebisa mungkin tetap menggunakan air selama keadaan tidak darurat.

Dalam berwudhu, anggota badan yang wajib untuk dibasuh adalah wajah, kedua tangan hingga batas siku, mengusap sebagian kepala dan mencuci kaki hingga batas mata kaki. Masing-masing wajib dibasuh/diusap sekali saja. Kalau dua atau tiga kali sifat hanya sunnah.

Berwudhu juga bisa dilakukan ketika masih menggunakan sepatu.  Praktek seperti ini memang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dahulu. Dan menjadi bagian dalam tata aturan berwudhu` terutama bila dalam keadaan udara yang sangat dingin.

Caranya sama dengan wudhu` biasa kecuali hanya pada ketika hendak mencuci kaki, maka tidak perlu mencopot sepatu, tapi cukup membasuh bagian atas sepatu dari bagian depat terus ke belakang sebagai ganti dari cuci kaki. Sepatu tetap dalam keadaan dipakai dan tidak dilepas.

Namun perlu diingat, sepatu yang digunakan haruslah yang menutupi hingga mata kaki dan bukan terbuat dari bahan yang tipis tembus air. Juga tidak boleh ada bagian yang bolong/robek.

3. Menentukan arah kiblat

Ketika hari masih terang, kita mudah menentukan arah kiblat. Namun akan menjadi kendala ketika malam hari atau ketika kondisi tertutup kabut tebal yang menutup cahaya matahari.

Ada beberapa cara menentukan arah kiblat :
– Cara termudah gunakan kompas/GPS.
– Perhatikan tumbuhan lumut yang banyak terdapat di gunung. Lumut biasa hidup di daerah yang minim mendapatkan cahaya matahari, oleh karena itu kebanyakan lumut akan hidup di daerah yang menghadap ke arah barat.
– Rasi Bintang Orion (Bintang Waluku/Bajak/Belantik) untuk arah Barat.
Ini adalah rasi paling mudah dikenali. Ciri khasnya adalah tiga buah bintang yang terang, saling berdekatan dan dalam satu garis lurus. Tiga bintang itu disebut sabuk orion. Satu garis yang menghubungkan tiga bintang itu bisa dijadikan petunjuk arah kiblat.

Bila masih bisa melihat posisi matahari, jangan salah. Kamu bisa saja terkecoh. Karena matahari tidak selalu benar-benar terbit di arah timur, dan tenggelam di arah barat.

Hal ini disebabkan karena perbedaan kecondongan belahan bumi terhadap matahari pada waktu-waktu tertentu.

Untuk mengetahui arah dengan melihat posisi matahari, silakan perhatikan gambar berikut:

pathofsun_40deg

C. Kondisi-kondisi lain

1. Ber-hadas besar

Untuk bersuci dari hadas besar di alam terbuka, dapat dilakukan dengan benda padat seperti batu, kayu dan lain-lainnya, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang lebih banyak menggunakan batu. Yaitu tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Penggunaan tissue basah juga diperbolehkan.

2. Baju tidak suci

Apabila kondisi pakaian tidak suci atau terkena najis, baik ringan maupun berat, maka hendaknya tidak melakukan shalat dan mengganti shalatnya (meng-qadha) ketika sudah mendapatkan pakaian yang bersih dari najis. Itulah sebabnya disarankan membawa peralatan shalat saat bepergian jauh, supaya lebih terjaga dari najis.

3. Baju tidak menutup aurat

Salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat. Maka apabila pakaian yang dikenakan tidak menutupi aurat, hendaknya ia meng-qadha shalatnya sampai ia menemukan pakaian yang menutupi aurat. Kecuali jika kamu berada dalam kondisi darurat. Seperti dalam kondisi survival, misalnya. Hal ini juga berlaku pada poin nomer 2 di atas.

4. Sakit dan kondisi cuaca

Bukan hal yang aneh lagi ketika seorang pejalan, atau pendaki, mengalami sakit dalam perjalanannya. Entah karena fisik yang drop, atau kondisi yang tidak memungkinkan tubuhnya bergerak bebas, seperti kedinginan yang amat sangat. Maka islam memberikan solusi untuk melakukan shalat dengan cara duduk, berbaring, atau dengan isyarat tubuh (gerakan jari atau mata). Begitu juga apabila cuaca sedang badai, atau hujan deras. Maka shalat dalam keadaan tersebut sangat diperbolehkan.

4. Junub

Apabila seorang pejalan mengalami mimpi basah, atau yang perempuan baru selesai menstruasi, normalnya adalah melakukan mandi junub. Namun apabila kondisi lingkungan tidak terdapat air sama sekali, atau tidak memungkinkan untuk menggunakan air, maka mandi junub bisa diganti dengan tayyamum, dengan tambahan niat: “sebagai pengganti mandi besar.”

Wallahu’alam bis sawab


Informasi lain seputar pendakian:

Advertisements

6 Comments

  1. Pingback: Nomor Telepon Basecamp Gunung-gunung di Indonesia | kolom sunyi kontemplasi

  2. Pingback: MANAJEMEN PENDAKIAN | kolom sunyi kontemplasi

  3. Pingback: Penyakit-penyakit Gunung dan Cara Penanganannya | kolom sunyi kontemplasi

  4. Pingback: 11 Teknik Bertahan Hidup di Alam Liar | kolom sunyi kontemplasi

  5. Pingback: ViewRanger – Pemandu Arah dalam Menjelajah | kolom sunyi kontemplasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s