Untuk Rara, Dari Papandayan

“Selamat ulang tahun, Raraaaaa…. Hadiahnya dua minggu lagi, yaa… Lo mulai beli perlengkapan naik gunung, deh. Carrier, sepatu, jaket, celana trekking, sleeping bag, nanti gue bikinin list-nya, deh.”

“Lo mau ngajak gue naek gunung? Yang bener aja?”

“Gue mau ngasih kejutan spesial buat lo. Udah lah. Nurut aja.”

Sore itu, 11 Oktober 2014, Rara, salah seorang teman baik saya yang saya kenal di salah satu social media dan komunitas musik independen, sedang merayakan ulang tahunnya di taman kota bersama pacar dan teman-teman dekatnya yang lain. Entah kenapa, muncul ide untuk mengajaknya ke tempat-tempat yang spesial bagi saya yang pernah saya kunjungi. Sore itu saya mengajaknya naik gunung di dua minggu mendatang. Karena baru pertama kali, maka saya pilih Papandayan yang trek-nya cukup mudah untuk orang yang pertama kali naik gunung.

“Gue ajak pacar gue, boleh nggak?” Rara merajuk, diikuti Agita, pacarnya Rara yang senyum-senyum meminta persetujuan.

“Nggak boleh!!! Ya boleh, lah!!!” Kemudian saya menoleh ke Ricky, teman yang biasa mendaki bersama saya. “Cuy, lo ikut, yaa… Buat back up gue.”

“Sip!!!” Ricky setuju.

“Gue ikut, dong.” Fina, pacar Ricky juga meminta persetujuan.

“Gue juga ikut, yaa…” Shitta, yang juga teman dekat kami juga antusias untuk ikut.

“Ya udah. Nanti yang mau ikut, gue bikinin grup WhatsApp untuk koordinasi dan ngasih tau kalian itinerary sama apa aja yang dibutuhin.”

Sepulang dari taman, saya mulai merancang itinerary dan membuat grup WhatsApp untuk memudahkan koordinasi dan brief. Selama kurang lebih seminggu, saya matangkan perencanaan, mempersiapkan peralatan, dan apa-apa saja yang kurang. Semuanya tercantum dalam check list yang saya buat. Lalu beberapa hari sebelum keberangkatan, saya mulai cek lagi kesiapan dari masing-masing personel yang ingin ikut mendaki. Bukan apa-apa. Tapi saya memang tidak pernah mau mengabaikan keselamatan dan safety procedure. Meskipun hanya mendaki gunung yang pendek, atau melewati trek yang cukup mudah. Saya tidak pernah mau meremehkan alam. Saya selalu memperhitungkan resiko dan kemungkinan terburuk yang bisa kapan saja terjadi, supaya semua yang saya bawa bisa selamat kembali sampai rumah tanpa kurang satu apapun, termasuk kesehatan.

Satu per satu saya berikan mereka check list peralatan pribadi yang harus di bawa. Seperti sleeping bag, sepatu, jaket, carrier, matras, jas hujan, dan gear lainnya. Bahkan saya menyempatkan untuk mengeceknya sendiri dengan mengunjungi mereka satu persatu. Sementara Ricky saya beri tugas untuk mempersiapkan dan mengecek peralatan tim. Seperti tenda, kompor, dan cooking set. Dan Fina saya beri tugas untuk mempersiapkan logistik yang sudah saya catat, baik Food Logistic maupun Non-Food Logistic seperti gas portabel, paraffin untuk cadangan bahan bakar, tali, trash bag, dan lain lain. Tak lupa saya brief mereka tata cara packing yang baik, supaya mereka nyaman dalam membawa perlengkapan mereka.

Jum’at sore, 24 Oktober 2014, kami berlima, berkumpul di kediaman Ricky untuk selanjutnya menuju ke terminal bis Primajasa di Cililitan. Bis kami berangkat sekitar pukul sepuluh malam. Shitta tidak berangkat brsama kami dari Jakarta, karena ia tinggal di Bandung. Maka kami janjian bertemu di terminal Guntur, Garut. Perjalanan memakan waktu kurang lebih lima jam. Selama perjalanan, kami bercanda terus menerus. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.

Sampai di terminal Guntur pukul 2.30 pagi. Saat itu gerimis turun setelah cukup lama Garut tidak diguyur hujan. Saya membaca kekhawatiran di raut wajah teman-teman saya pada saat itu. Kekhawatiran akan pemandangan yang tidak bisa dinikmati karena hujan. Kemudian saya ajak teman-teman untuk berteduh sambil istirahat meluruskan punggung dan kaki setelah berjam-jam mereka berada di kendaraan. Sementara mereka berteduh, saya dan Ricky bergegas mencari mobil Elf untuk mengangkut kami ke Cisurupan. Sebenarnya, tarif Elf ke Cisurupan semuanya sama. Yaitu setiap penumpang dikenakan tarif Rp. 20.000. Namun tetap kami harus mencari yang kursinya cukup untuk rombongan kami.

Kapasitas Elf lazimnya adalah 11-12 orang. Namun, berdasarkan peraturan dan kesepakatan antara supir Elf sana, maka mereka baru mau jalan jika mobil sudah berisi 13 orang. Tidak peduli ukuran badan. Belum termasuk supir. Karena hal itulah saya agak berhati-hati memilih Elf. Saya akhirnya ditawari oleh salah seorang supir Elf. Katanya, mobilnya baru berisi 7 orang. Pas lah dengan rombongan saya yang berjumlah 6 orang. Salahnya, saya tidak mengecek ulang ke dalam mobilnya dan menghitung sendiri. Kami sudah terlanjur menaikkan barang-barang, dan sebagian dari rombongan saya juga sudah saya suruh masuk Elf. Ternyata rombongan yang ada di dalam berjumlah 9 orang. Kalau ditambah rombongan saya jadi totalnya 15 orang belum termasuk supir. Jelas semua yang akan menaiki Elf tersebut komplain. Terutama Shitta yang memang agak galak. Ada perdebatan antara saya dengan supir dan calo-calo Elf di sana. Setelah dipaksakan, semua bisa masuk, kecuali saya. Saya marah dan memutuskan untuk mencari angkot lain. Tapi saya terus dibujuk dan akhirnya saya “dilipat” supaya semua penumpang bisa terangkut. Ya. Badan saya memang kecil. Rombongan saya dan rombongan lain yang ada di dalam, yang tadinya marah-marah, kemudian jadi tertawa melihat saya yang tersiksa “dilipat” di samping supir. Apalagi selama perjalanan saya ngoceh misuh-misuh ke supir, dengan backsong “Sakitnya Tuh Di Sini….”

Sampai Cisurupan, saya tidak bisa keluar. Kaki saya kram karena dilipat. Dengan dibantu teman-teman dan beberapa orang dari rombongan yang semobil dengan kami, saya digotong dengan kaki yang masih terlipat. Sudah beres? Belum. Baru saja saya meluruskan kaki, si supir dengan kurang ajarnya meminta saya untuk naik ke kap mobil karena ada tali yang menyangkut.

“KENAPA GUE????”

“Ya kan Akang yang paling kecil dan ringan badannya.”

Karena muka si supir sumringah, maka saya tidak jadi marah dan tidak bisa menolak. Sambil tertawa dan sambil kesal, saya segera memanjat Elf untuk mengurai tali yang kusut. Setelah selesai unload barang-barang kami, rombongan saya dan rombongan yang semobil dengan saya kemudian berkenalan. Lalu janjian untuk menyewa pick up bersama. Supaya lebih cepat dan mudah dan tidak menunggu-nunggu sampai pick up penuh quota. Kami sempatkan sarapan dulu sebelum menyewa pick up. Karena makanan di Camp David lumayan lebih mahal dibandingkan di bawah.

Pick up sudah siap. Kami mulai memasukkan barang-barang kami ke dalam pick up. Setelah semua masuk, maka kami berangkat menuju Camp David. Sepanjang jalan kami disajikan langit berawan dan matahari pagi yang malu-malu bersinar. Tampak gunung Cikuray menjadi primadona pemandangan pagi itu. Untuk tarif pick up, per orang dikenakan Rp. 20.000.

Perjalanan ke Camp David. Latar belakang adalah Gunung Cikuray.

Perjalanan ke Camp David. Latar belakang adalah Gunung Cikuray.

Sampai di Camp David, perwakilan rombongan saya dan rombongan yang baru kami kenal tadi pagi turun di pos penjaga untuk registrasi. Yang lainnya masuk lebih dulu dan kemudian unload barang. Tiap orang yang kami daftarkan, dikenakan biaya registrasi Rp. 7500 untuk satu hari. Karena kami bermalam, maka kami membayar untuk dua hari per orangnya. Setelah registrasi, saya menghampiri mereka. Kami istirahat sebentar, lalu kami berpamitan kepada rombongan yang baru kami kenal tadi untuk melakukan pendakian lebih awal. Kami berpisah di Camp David untuk kemudian janjian bertemu di Pondok Saladah. Tak lupa saya beri tahu mereka posisi di mana saya biasa mendirikan tenda. Yaitu Pondok Saladah agak ke ujung barat di antara pepohonan. Supaya terlindung dari angin dan lebih hangat.

Di Camp David sebelum melakukan pendakian.

Di Camp David sebelum melakukan pendakian.

Kami berpisah dengan rombongan tadi. Sebelum mendaki, tak lupa saya brief teman-teman saya mengenai apa-apa yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat mendaki gunung. Dari mulai menjaga formasi, menjaga interval, tidak putus komunikasi, sampai kode-kode yang akan kami pakai untuk memberitahu sesuatu kepada yang lainnya (interval, tempo, break, stop, dan isyarat-isyarat lain). Sebelum memulai pendakian, saya juga minta mereka melepaskan jaket yang mereka pakai. Karena meskipun pagi itu cukup dingin, namun nantinya saat pendakian mereka akan mengeluarkan keringat akibat gerak tubuh dan sengatan matahari, yang kalau ditutup jaket, maka tubuh akan mengalami dehidrasi. Saya juga minta mereka menyiapkan masker di tempat yang mudah dijangkau, karena kami akan melewati kawah.

Setelah mengecek kesiapan tiap personel, dari mulai tali sepatu sampai posisi carrier, mulailah kami mendaki. Sepanjang jalan, saya meminta mereka untuk mengambil pijakan yang paling landai supaya mereka tidak cepat lelah. Saya juga beritahu mereka untuk mengatur napas dan tidak ragu meminta istirahat apabila badan mulai terasa lelah, atau keluhan-keluhan tertentu yang mungkin mereka alami. Matahari semakin meninggi. Beberapa kali kami beristirahat sebentar-sebentar untuk mengumpulkan napas dan tenaga di jalur sepanjang kawah. Saya memang menekankan kepada mereka supaya tidak ngotot dalam mendaki. Karena destinasi tidak akan lari. Yang terpenting adalah keselamatan mereka selama perjalanan. Saat mulai memasuki kawah, saya pinta mereka memasang masker untuk menghindari gas beracun yang dikeluarkan kawah terhirup. Di warung sesudah kawahlah kami beristirahat agak lama.

Beberapa kali juga mereka takjub dengan pemandangan-pemandangan yang mereka lihat selama perjalanan. “Ini beneran nyata, kan?” “Sekarang lo semua jadi tau, kan!? Kenapa gue sering kabur sendirian dan jarang pulang. Ini hadiah buat kalian. Jadi, jaga baik-baik. Kebersiannya, dan kelestariannya juga. Ini rumah kalian juga sekarang.” Ujar saya sambil tersenyum. Mereka juga sempat terbengong-bengong pada pemandangan warga lokal yang beberapa kali mendahului kami menggunakan motor. “Itu mereka ngapain dan mau ke mana?” “Nanti lo tau sendiri.” Ujar saya.

Warga lokal menaiki motor melintasi jalur pendakian.

Warga lokal menaiki motor melintasi jalur pendakian.

Kami beristirahat kurang lebih 30 sampai 45 menit di warung sesudah kawah. Kami juga sempat memesan teh manis yang dijual juga lontong isi untuk sekedar mengganjal perut. Setelah cukup lama kami beristirahat, kami melanjutkan pendakian. Tak lupa sebelum berjalan kami saling mengecek kondisi satu sama lain. Kami mendaki perlahan namun pasti. Seperti sebelumnya, kami juga banyak berhenti sebentar-sebentar untuk sekedar mengatur napas.

Di jalur setelah kawah, menuju Gober Hut.

Di jalur setelah kawah, menuju Gober Hut.

Di jalur menuju Gober Hut.

Di jalur menuju Gober Hut.

Pemberhentian selajutnya adalah Pos Gober Hood. Sekitar 15 menit rombongan beristirahat di sana sambil menunggu saya melapor kepada ranger yang berjaga di sana.

Berisitirahat di Gober Hut.

Berisitirahat di Gober Hut.

“Pondok Saladah sebentar lagi. Kita jalan, yuk.” Ajak saya ketika saya rasa mereka sudah cukup pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Memasuki Pondok Saladah, saya berhenti untuk sekedar menoleh ke belakang. Raut muka teman-teman saya yang letih berubah menjadi sumringah. “Ini beneran pohon Edelweiss?” Saya hanya tersenyum lebar, lalu kembali berjalan. Baru berjalan sebentar, tiba-tiba Rara berseru. “Eh, kok ada cilok? Bentar-bentar! Gue mau jajan!” “Ya udah. Kita nanti nge-camp di sana.” Ujar saya sambil menunjuk satu tempat di antara pepohonan.

Mendirikan tenda di antara pepohonan.

Mendirikan tenda di antara pepohonan.

Kami sampai di Pondok Saladah sekitar pukul 10 pagi. Lalu saya membagi tugas kepada masing-masing personel. Ada yang membantu saya mendirikan tenda, ada juga yang menyiapkan makan siang. Dua tenda sudah dibuat. Setelah merapihkan barang-barang ke dalam tenda masing-masing, kami makan siang bersama. Selepas makan siang, saya membebaskan mereka melakukan apa saja selama bukan melakukan hal yang dilarang, dan tidak mengganggu pendaki lain. Rara dan Agita memilih berkeliling Pondok Saladah, sampai akhirnya mereka duduk membaca buku di antara rumpun-rumpun edelweiss. Shitta dan Fina memilih tidur. Saya dan Ricky minum teh di beranda tenda.

Agita menikmati pemandangan Edelweiss Pondok Saladah.

Agita menikmati pemandangan Edelweiss Pondok Saladah.

Sekitar pukul 12, rombongan yang bertemu kami sebelumnya, tiba di tempat yang saya. Mereka mendirikan tenda dekat dengan tenda kami. Kami tidak banyak mengobrol. Karena setelah mereka makan siang, mereka melanjutkan jalan-jalan menuu kawasan Hutan Mati, sementara kami menunggu Shitta dan Fina bangun tidur. Mereka bangun pukul 3 sore. Namun sayang, kabut tiba-tba turun. Akhirnya kami memilih untuk tetap di tenda sampai kabut menipis.

Kabut baru menipis sekitar pukul 4.30 sore. Setelah menghabiskan teh dan kopi, kami akhirnya sepakat untuk jalan-jalan ke kawasan Hutan Mati. Sudah cukup gelap ketika kami sampai di sana. Selain karena kabut, langit juga cukup berawan. Kami menghabiskan waktu dengan berfoto di sana sampai gelap. Tidak sulit untuk kembali ke tenda. Kami sudah mempersiapkan head lamp untuk berjaga-jaga jika kami lupa waktu bermain di sana.

Sesampainya di tenda, kami segera memasak makan malam. Sebagian saya pinta untuk mengambil air di sumber air. Setelah makan malam siap, kami berkumpul untuk makan bersama. Sambil bercanda tentunya. Malam itu dingin sekali. Akhirnya setelah makan, semuanya masuk ke dalam tenda, kecuali saya dan Ricky.  Saya lebih memilih mengobrol di luar sambil menikmati teh hangat.

Tiba-tiba, dari dalam tenda, Rara memanggil saya. Ada yang penting, katanya. Saya pun masuk ke dalam tenda. Ternyata, Agita mengalami kedinginan yang amat sangat. Saya cek kondisi tubuhnya. Kakinya dingin sekali da tidak bisa digerakkan. Padahal pakaian yang dipakainya cukup safe dan seharusnya bisa melindungi ia dari hawa dingin. Saya langsung pinta Ricky membawakan saya kompor portabel dan satu panci, lalu saya memasak air di dalam tenda. Supaya tenda menjadi sedikit lebih hangat. Sementara menunggu air matang, saya buka thermal pad, untuk dipasangkan ke kaki Agita. Usut punya usut, ternyata Agita memang tidak begitu tahan dengan hawa dingin. Saya terus ajak Agita bicara dan memintanya untuk menceritakan proses perjalanan yang sudah kami lewati. Tentunya obrolan kami juga saya selingi hal-hal yang lucu yang kiranya bisa membuat Agita tertawa. Tujuannya supaya ia tidak panik, atau bahkan hilang kesadaran, dan bisa terus mengingat. Air sudah matang. Saya langsung buatkan teh pahit untuk diminumkan ke Agita.

Setelah tubuhnya mulai bisa merasakan panas, saya ajak Agita keluar dan berkeliling dengan iming-iming melihat bintang. Padahal tujuannya supaya tubuhnya bergerak sehingga bisa tetap menjaga panas tubuh. Yah, sayangnya, langit sedang berawan. Bintang-bintang tidak begitu kelihatan. Lalu saya ajak Ia untuk ke tenda rombongan yang baru kami kenal tadi. Karena mereka sedang membuat api unggun. Kami berbincang sebentar, lalu pamit untuk beristirahat. Agita dan yang lainnya masuk ke dalam tenda untuk tidur. Saya dan Ricky berada di luar tenda sambil mengobrol.

Cukup lama kami mengobrol, lalu tiba-tiba hujan. Kami segera memasukkan barang-barang yang masih berada di luar ke dalam tenda. Karena tenda saya dan Ricky berkapasitas 2 orang, maka, tak banyak yang bisa kami lakukan di dalam tenda. Akhirnya kami memilih untuk tidur.

Paginya, seperti biasa, saya bangun lebih awal untuk memasak agar-agar. Ini penting. Karena tubuh butuh asupan nutrisi dan serat yang cukup. Saya bangun sekitar pukul 4 pagi. Hujan tinggal gerimis. Maka saya memasak di teras tenda. Sekitar pukul 5 pagi, hujan baru berhenti. Saya coba lihat ke luar, ternyata kabut tebal memenuhi Pondok Saladah. Rupanya kali ini saya tidak bisa mengajak teman-teman saya untuk menikmati sunrise. Maka saya putuskan untuk kembali tidur.

Sekitar jam 7 pagi, saya terbangun lagi. Kabut masih tebal. Percuma juga bila berjalan-jalan ke luar. Rara, Agita, Shitta dan Fina yang berada di tenda depan, sudah bangun juga. Saya dan Ricky kemudian bergabung masuk ke tenda depan sambil menenteng kompor dan cooking set. Kami mengobrol dan bercanda sambil sarapan dan menikmati teh, juga kopi. Cukup lama kami berada di dalam. Sekitar pukul 8 pagi, kabut mulai menipis. Akhirnya kami coba berjalan-jalan ke luar. Kami bersama-sama menyambangi rombongan sebelah untuk mengobrol.

Bertamu ke Tenda sebelah.

Bertamu ke Tenda sebelah.

Kabut tebal di Pondok Saladah.

Kabut tebal di Pondok Saladah.

Menghabiskan sisa logistik.

Menghabiskan sisa logistik.

Pukul 8.30, kabut kembali turun dan lebih tebal dari sebelumnya. Bahkan jarak pandang pun tidak sampai 2 meter. Padahal kami berencana turun pukul 9.30. Saya pikir, ini cukup berbahaya. Mengingat pada beberapa titik, jalur berbatasan langsung dengan jurang. Apalagi ini adalah pendakian perdana teman-teman saya, selain Ricky. Saya putuskan untuk menunggu. Tidak sampai setengah jam saya membuat keputusan, tiba-tiba hujan turun lagi dengan deras. Kami akhirnya masuk ke dalam tenda. Kami mengobrol lagi sambil menikmati teh hangat dan hawa dingin.

Berteduh di dalam tenda.

Berteduh di dalam tenda.

Hujan berhenti sekitar pukul 12 siang. Kabut pun mulai menipis. Namun langit mendung. Kamipun segera packing lalu bergegas turun. Tak lupa kami melakukan brief sebelum berjalan.

Saya dan Shitta beristirahat di jalur pendakian saat turun.

Saya dan Shitta beristirahat di jalur pendakian saat turun.

Kami sampai Camp David sekitar pukul 2.30 siang. Tak menunggu lama, kami segera mencari pick up untuk mengangkut kami ke Cisurupan. Sesampainya di Cisurupan, kami juga langsung mencari Elf untuk menuju ke terminal. Sesampainya di terminal, beberapa orang dari kami mandi dan makan. Kami baru kembali ke Jakarta sekitar pukul 5 sore. Shitta yang berdomisil di Bandung, menaiki mobil yang sama lalu turun di Tol Cileunyi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s