Buat Apa Percaya Tuhan?

Buat apa percaya Tuhan?

Berdasarkan pertanyaan dari http://ask.fm/dymsokei/answer/119683950205

Tengah pagi buta, HP saya berbunyi. Ada notifikasi dari aplikasi Ask.fm rupanya. Dan saya mendapatkan pertanyaan bagus yang sayangnya dari anonymous user. Pertanyaannya sangat panjang dan menarik. Membuat saya tidak sabar untuk menjawabnya. Saya berencana menjawab sederet pertanyaan panjang tersebut melalui blog. Sayangnya, saya tidak bisa membalas saat itu juga dikarenakan malas posting dari HP. Ribeeeeeet.

Kali ini saya akan coba menjawabnya, sesuai dengan apa yang saya percaya.


Pertanyaan:

Buat apa percaya bahwa yang terjadi adalah murni kehendaknya (si tuhan)?

Bukankah hal tsb pada hakikatnya adalah pasrah pada ketidakpastian dunia ini?

Mengapa tidak hilangkan saja sosok tuhan yang bahkan kalau memang ada, tidak bisa diketahui apalagi diprediksi maunya?

Saat kau gagal, mengapa tidak terima saja dg jiwa besar tanpa mengada2 “hikmah” seperti “tuhan merencanakan sesuatu yg terbaik untukku”.

Mengapa tidak akui bahwa diri kita insignifikan dan bukan pusat dari kehidupan ini?

Mengapa tidak terima saja bahwa apa yang terjadi pada diri kita tidak akan sepenuhnya bisa kita kontrol, karena banyak variabel yang ikut menentukan keberhasilan maupun kegagalan kita?

Mengapa harus menipu diri dengan berdoa dan merasa ada yg mengurusi usahamu?

Toh, jika kamu haus sekarang, kamu tidak akan berdoa terlebih dahulu sebelum pergi ke dispenser untuk minum.

Toh, pada kasus haus dan butuh air minum di atas, jika lokasimu diganti di padang pasir dan kesulitan mencari air, baru kamu akan berdoa.

Toh pada akhirnya doa hanya untuk hal2 yg dirasa tidak bisa sepenuhnya kita kontrol.

Toh, hal2 yg pada zaman dahulu tidak bisa dikontrol manusia, saat ini sudah bisa dikontrol.

Mengapa harus bersikap menyedihkan dg menganggap bahwa ada sesosok di atas sana yg memperhatikanmu?


Jawaban:

Dear anonymous. Sebelumnya saya ingin berterima kasih karena telah mempercayakan pertanyaan ini kepada saya. Sangat senang rasanya ada yang memberi saya pertanyaan sebagus ini. Mengingatkan saya terhadap masa-masa pencarian saya beberapa tahun lalu. Saya menjura terhadap kamu yang sudah sejauh ini berpikir tentang ketuhanan.

Perlu diketahui, saya akan menjawab pertanyaan  kamu, sesuai dengan apa yang saya percaya dan yakini. Sesuai dengan apa yang saya rasakan dan saya alami. Saya tidak berharap jawaban saya bisa memuaskan kamu. Saya juga tidak berharap kamu percaya dengan apa yang saya tuliskan di sini. Karena percaya dan puas itu datang dari diri sendiri. Dan saya tidak punya hak sama sekali untuk memaksakan apa yang saya percayai kepada kamu.

Baiklah, saya akan mulai menjawab pertanyaan kamu.

Buat apa percaya bahwa yang terjadi adalah murni kehendaknya (si tuhan)? Bukankah hal tsb pada hakikatnya adalah pasrah pada ketidakpastian dunia ini?

Saya percaya, bahwa sebelum alam semesta tercipta, Tuhan telah menuliskan ketentuanNya di atas Lauhul Mahfudz (dalam literatur Hindu, dikenal sebagai Akashic Records). Segala sesuatu yang akan terjadi selanjutnya, telah tertulis di situ. Segala sesuatu berjalan diatas kekuasaan dan kehendakNya. Dan tidak ada sesuatupun yang mampu mengakses informasi yang tertulis pada Lauhul Mahfudz ini. Mengakses saja tidak bisa, maka bagaimana mungkin makhluk bisa mengubahnya? Maka dari itu, apa yang menjadi ketentuan Tuhan (Qada’), dilihat dari sudut pandang makhluk, akan tampak seperti ketidakpastian. Dan karena keterbatasan inilah, manusia mengetahui bahwa kepastian adalah ketidakpastian. Karena keterbatasan inilah, maka makhluk tidak berdaya atas segala ketentuanNya. Apa yang bisa dilakukan ketika tidak berdaya selain pasrah?

Mengapa tidak hilangkan saja sosok tuhan yang bahkan kalau memang ada, tidak bisa diketahui apalagi diprediksi maunya?

Saya mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Bagaimana cara saya mengetahui keberadaan Tuhan? Tuhan itu bukan matter. Tidak akan bisa diketahui dengan indera. Kalau kamu mengetahui konsep dimensi dalam fisika, bahwasanya manusia adalah makhluk dimensi 3. Bagaimana mungkin makhluk dimensi 3 bisa mengetahui apa yang ada pada dimensi yang lebih tinggi? Sebut saja waktu. Makhluk dimensi 3 tidak akan bisa mengakses masa lalu dan masa depan secara fisik. Berbeda dengan manusia yang terikat ruang dan waktu, Tuhan yang saya percayai, tidak terikat dan bergantung terhadap sesuatu apapun, termasuk waktu. Dari sifat Tuhan tersebutlah saya meyakini bahwa Tuhan berada di dimensi yang lebih tinggi. Saat ini manusia hanya mengenal konsep sampai Dimensi ke-11 (M-Theory). Bisa saja dimensi lebih dari itu. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Jadi Tuhan yang saya percaya tidak akan bisa tersentuh oleh apa yang berada di dimensi 3, yaitu dimensi materi.

Beberapa manusia memang ada yang bisa mengakses informasi masa depan. Dalam artian, tidak sepenuhnya mengakses. Yang saya ketahui, alam semesta ini sesunggunya adalah vibrasi. Bila diibaratkan selembar kertas, alam semesta berjalan mengikuti waktu. Masa lalu, masa kini (yang sebenarnya adalah ilusi), dan masa depan. dan yang saya ketahui, alam semesta itu mempunyai pattern. Karena alam semesta adalah vibrasi, beberapa manusia yang gelombang otaknya dapat menangkap sedikit vibrasi dari masa depan, akan seolah-olah dapat mengetahui masa depan. Makanya saya tidak heran atas kisah Nabi Khidr, atau fenomena cenayang. Tapi, tentunya, jika ingin berpegang pada sains, hal ini masih pseudo-science. Perlu ada penelitian untuk mengetahui fenomena ini.

Saat kau gagal, mengapa tidak terima saja dg jiwa besar tanpa mengada2 “hikmah” seperti “tuhan merencanakan sesuatu yg terbaik untukku”.

Merujuk pada pengetahuan saya tentang kegagalan, bisa dilihat di sini: http://ask.fm/dymsokei/answer/119659165053

Untitled-2

Saya katakan, dalam perspektif spiritual, tidak ada yang namanya kebetulan, bahkan kegagalan. Segala sesuatu yang terjadi sudah digariskan sebelumnya. Hal ini seperti yang saya ungkapkan pada jawaban sebelumnya. Bahwa segala sesuatu sudah digariskan. Entah itu (dalam pandangan manusia) baik atau buruk, enak atau tidak enak.

Saya saat ini sedang dalam level pengertian, bahwa Lauhul Mahfudz adalah blue print dan sebuah grander plans. Segala sesuatu yang akan terjadi telah dituliskan sebelumnya. Dan apa yang terjadi pada segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berhubungan dengan garis takdir yang lain. Misalnya, saya bertemu si A. dan karena saya bertemu si A, maka si A mengenal saya dan kemudian si A jatuh hati pada saya. Tidak berapa lama, saya  dan si A pacaran. Kemudian sekian lama kami putus. Karena dari kegagalan hubungan tersebut, si A berusaha memaksimalkan potensinya untuk bangkit dari kesedihannya. Dan si A kemudian menjadi orang yang berhasil. Sementara itu, saya yang melihat si A sudah berhasil, merasa menyesal, kemudian berusaha menjadi lebih baik dari si A dan mendapatkan orang lain yang lebih baik dari si A. Ya. Betapa kita tidak bisa tidak terikat dan atau tidak bersinggungan dengan garis takdir orang lain.

dalam kasus lain, saya berulang kali mengalami hal-hal yang terlalu sempurna untuk dikatakan kebetulan. Bila terus diselami akan tampak seperti kepingan-kepingan puzzle yang berantakan namun sebenarnya sangat teratur.

Mengapa tidak akui bahwa diri kita insignifikan dan bukan pusat dari kehidupan ini?

Justru saya sangat mengakui bahwa saya sangat insignifikan dan bukan dari pusat kehidupan. Konsep Rahmatan lil ‘Alamin adalah term yang (saya pahami) merujuk pada perintah pengabdian manusia untuk mensejahterakan, menjaga dan merawat alam. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang berpotensi merusak (meski alam punya kemampuan sendiri untuk meregenerasi dirinya sendiri tanpa bergantung pada manusia). Jadi term tersebut adalah semacam rem agar manusia tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Itu yang sat ini saya pahami.

Mengapa tidak terima saja bahwa apa yang terjadi pada diri kita tidak akan sepenuhnya bisa kita kontrol, karena banyak variabel yang ikut menentukan keberhasilan maupun kegagalan kita?

Justru saya sepakat dengan kamu. Hal ini bisa kamu baca pada postingan saya, “Destiny oh destiny”.

Mengapa harus menipu diri dengan berdoa dan merasa ada yg mengurusi usahamu?

Toh, jika kamu haus sekarang, kamu tidak akan berdoa terlebih dahulu sebelum pergi ke dispenser untuk minum.

Toh, pada kasus haus dan butuh air minum di atas, jika lokasimu diganti di padang pasir dan kesulitan mencari air, baru kamu akan berdoa.

Toh pada akhirnya doa hanya untuk hal2 yg dirasa tidak bisa sepenuhnya kita kontrol.

Toh, hal2 yg pada zaman dahulu tidak bisa dikontrol manusia, saat ini sudah bisa dikontrol.

Berdoa itu bukan hanya perihal meminta. Berdoa bisa saja memuji atau merayu. Tentu kamu akan bertanya-tanya, bagaimana saya bisa meminta pada sesuatu yang bahkan tidak bisa ditangkap indera atau alat? Bagaimana saya bisa mencintai, memuji dan merayu sesuatu yang tidak ada? Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, makhluk dimensi 3 tidak akan bisa menangkap apa-apa yang ada di dimensi yang lebih tinggi.

Lalu bagaimana saya bisa mengetahui bahwa Tuhan itu ada? Pengalaman. Saya akan ceritakan, namun mohon jangan anggap pengalaman saya adalah bagian skenario dari sinetron Hidayah, atau kesan-pesan dalam acara motivator.

Saya pernah bertanya-tanya tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Menciptakan. Saat itu saya tidak sepenuhnya percaya bahwa manusia hidup karena ada ruh di dalamnya. Dan Tuhan tidak menciptakan saya. Apa yang terjadi? Saya mengalami Near Death Experience – Out of Body Experience. Saya keluar dari tubuh saya tanpa saya bisa mengkontrolnya. Saya bisa menggerakkan “tangan” dan “tubuh” saya, namun tangan dan anggota tubuh saya di bawah sana tidak bergerak sedikitpun. Jangan tanya segimana horornya. Saya rasa siapapun tidak ingin melihat mayatnya sendiri tergeletak tak berdaya. Setiap kali saya berpikir begitu, saya selalu mengalami Near Death Experience. Siapa yang tidak kapok kalau dibegitukan? Maka saya percaya, Tuhan Maha Kuasa dan Maha Menciptakan. Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.

Saya pernah ketika sedang merokok sendirian di kamar, tiba-tiba saya tersedot ke dalam lorong yang datang entah dari mana. Saya melihat dimensi yang isinya makhluk-makhluk aneh bersayap dan bercahaya. Saya pikir itu mimpi. Tapi sangat jelas bahwa saya bisa merasakan sakit ketika saya menampar pipi saya. Saya ketakutan. Sekitar sejam saya ada di sana. Kemudian saya tiba-tiba tersedot di lubang yang sama yang entah datang dari mana. Saya kembali ke kamar saya, dan waktu hanya berlalu lima menit.

Saya bukanlah orang yang mempunyai penghasilan besar. Gajian pun jarang-jarang. Saya seringkali kelaparan. Lalu setiap saya merasa sangat lapar, saya hanya mengucap, “Tuhan, saya lapar.” dan selalu saja ada makanan yang datang. Entah saya ditraktir, atau dibawakan makanan. Bagaimana bisa saya yakin bahwa Tuhan tidak mendengar?

Kamu boleh percaya atau tidak. Bukan kewajiban saya untuk membuat kamu percaya apa yang saya alami dan saya rasakan. Namun begitulah cara Tuhan menunjukkan diriNya kepada saya. Dengan pengalaman-pengalaman yang sulit diterima akal logika.

Mengapa harus bersikap menyedihkan dg menganggap bahwa ada sesosok di atas sana yg memperhatikanmu?

Yang perlu kamu ingat adalah, kamu tidak bisa memaksakan diri untuk menyamakan satu konsep yang kamu percayai dengan konsep yang orang lain percayai. Termasuk dalam hal menyedihkan. Menyedihkan bagi kamu, belum tentu menyedihkan bagi saya. Begitu juga sebaliknya.

Dan mengenai ada sesuatu yang mengawasi dari atas sana, saya tidak percaya. Yang saya percayai, Tuhan bukan berada di atas. Ingat. Tuhan yang saya percayai tidak terikat dimensi ruang dan waktu. Jadi bagi saya, Tuhan meliputi segala sesuatu. Tidak bergantung pada sesuatu termasuk ruang-waktu. Dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Kok, bisa? Karena Tuhan meliputi segala sesuatu. Bagaimana bisa yang meliputi segala sesuatu tidak mengetahui apa yang diliputinya?


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada kamu telah bertanya kepada saya. Yang perlu kamu ingat adalah, sebenarnya saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai hal seperti ini karena keterbatasan ilmu saya. Yang paling tepat kamu tanyai adalah diri kamu sendiri. Karena keyakinan itu tidak seharusnya datang dari orang lain. Namun dari diri sendiri. Percayailah apa yang kamu percaya. Semoga kesejahteraan, kedamaian hati dan kebahagiaan senantiasa memelukmu. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s