Perempuan Angin

Perempuan_Angin_1

Engkau yang paling mahir menciptakan ombak di laut hatiku,
malam ini aku sedang belajar mematikan kehendak
dan memanjangkan kembali lipatan jarak,
sebab dekatmu kawah itu selalu bergolak, menanti saat meledak.
Rindu, sedang disimpan rapi di saku.
Engkau yang akan mengambilnya jika bertemu, tentu.

Perempuan itu gusar, tergesa
menyumpalkan kenangan yang rompal
dalam sebait puisi di jejaring sosial
Lelaki langit menjadi alamat paling lekat di ingatan
ketika lagu-lagu lama mengalun dari piringan hitam di ruang baca
Sesekali tangan mengibas, meraup uap kopi dan sisa ambung parfum di udara

– Waktu selalu tiada, janji adalah kemusykilan –

Betapa ingin ia berhenti menjadi angin.

Ratna Ayu Budhiarti, 2013

_____
Diambil dari “puisi di antologi Negeri Poci 5”

Diposting saat mengenang perempuan angin yang masih sangat dicintai dan dirindukan laki-laki langit.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s