Kabur Lagi ke Papandayan, 19 – 21 September 2014.

Sepulang dari Papandayan, akhir Agustus yang lalu, lagi-lagi saya merasa kosong. Keinginan untuk pergi jauh, masih sangat kuat.  Saya masih ingin pergi. Entah apa alasannya. Setidaknya dengan pergi saya tidak melihat apa-apa yang bisa membangkitkan kenangan yang sangat ingin saya tinggalkan. Hari-hari saya lewati dengan perasaan yang berat. Tidak enak. Saya harus pergi.

Telepon saya berbunyi. Sebuah pesan singkat pada messenger dari seorang teman lama.

“Gue liat foto-foto lo kemarin di Facebook. Itu di Mana?”

“Papandayan. Kenapa emang?”

“Gue berencana mau sesi pemotretan. Buat portofolio usaha gue. Lo bisa anter gue ke sana? Treknya susah, nggak?”

“Kebetulan. Gue emang lagi pengen kabur lagi. Boleh lah gue anterin. Berapa orang? Treknya gampang, kok.”

“Kemungkinan gue bawa model 2 orang. Sama gue jadi 3 orang. Tapi gue butuh Kru buat bantuin gue motret.”

“Oke. Gue bawa 2 orang cukup nggak? Jadi 3 sama gue. Peralatan siapin ya. Nanti gue bikinin list-nya. Olah raga juga. Biar stamina lo kejaga.”

“Sip.”

Tuhan mendengar kebutuhan saya. Kemudian semesta berkonspirasi bekerja mewujudkannya. Malam itu juga saya langsung buat itinerary-nya, lalu mengirimkannya ke teman saya. Singkat kata, setelah beberapa kali perombakan dan penyesuaian, ditambah hari-hari persiapan, kami akhirnya bertolak ke Garut menggunakan mobil, jum’at malam, tanggal 19 September. Hanya berlima. Teman saya si fotografer, seorang model, dan dua teman yang biasa mendaki bersama saya yang saya percaya bisa membantu saya selama perjalanan.

Kami sampai di Garut sekitar pukul 3.30 pagi, tanggal 20 September. Sempat juga mengalami kesulitan ketika mobil mulai memasuki jalan menuju Camp David yang saat itu masih mengalami perbaikan. Mobil tidak bisa menanjak karena medan berbatu. Mobil yang kami gunakan adalah Hyundai jenis City Car. Beberapa kali kami mendorong dan menyingkirkan batu-batu yang menghambat laju roda mobil. Alhasil, kami baru sampai Camp David sekitar pukul 6 pagi. Sudah terang.

Sehabis mendorong mobil, dekat Camp David.

Sehabis mendorong mobil, dekat Camp David.

Setelah sarapan dan beristirahat sebentar, kami memulai pendakian. Pendakian terasa agak sedikit lama. Dikarenakan di beberapa titik, sang fotografer berhenti untuk mengabadikan pemandangan dan momen. Sekaligus ada beberapa kali sesi foto dadakan untuk si model. Kami baru sampai Pondok Saladah sekitar pukul 11. Kami langsung mendirikan tenda dan memasak makan siang. Setelah makan siang, sang model beristirahat, sementara sang fotografer bersama seorang teman saya melakukan survey lokasi pemotretan.

Memulai pendakian

Memulai pendakian

Bersama sang model.

Bersama sang model.

Sang model berfoto di bibir Kawah.

Sang model berfoto di bibir Kawah.

Ocy, teman yang kerap menemani saya mendaki.

Ocy, teman yang kerap menemani saya mendaki.

Saya dan Ucok, menyiapkan makan siang.

Saya dan Ucok, menyiapkan makan siang.

Sorenya, kami bertolak ke kawasan Hutan Mati untuk melakukan pemotretan. Cukup lama kami berada di sana. Tampaknya sang fotografer tidak cukup puas untuk terus mengabadikan momen-momen. Setelah gelap, kami baru kembali ke tenda untuk memasak makan malam dan beristirahat.

Edelweis berlatar Pondok Saladah sore hari.

Edelweis berlatar Pondok Saladah sore hari.

Hutan Mati di sore hari.

Hutan Mati di sore hari.

Sang model berpose di Hutan Mati.

Sang model berpose di Hutan Mati.

Sang model berpose di Hutan Mati.

Sang model berpose di Hutan Mati.

Ucok membantu mengarahkan reflektor cahaya untuk sesi pemotretan.

Ucok membantu mengarahkan reflektor cahaya untuk sesi pemotretan.

Sesi pemotretan.

Sesi pemotretan.

Berfoto bersama di Hutan Mati.

Berfoto bersama di Hutan Mati.

Senja di Hutan Mati.

Senja di Hutan Mati.

Beristirahat? Ternyata tidak. Bintang-bintang mulai bermunculan dan menyajikan pemandangan yang super-keren bagi kami. Sambil nyemil makanan dan menikmati teh panas, kami menikmati pemandangan dan suasana malam itu. Sang fotografer sibuk mengabadikan momen “pentas langit”, saya dan seorang teman saya lebih memilih mengobrol ngalor-ngidul sampai kami lupa kami bicara apa saja.

Bercengkrama di dalam tenda.

Bercengkrama di dalam tenda.

Mily Way di atas Pondok Saladah. Hasil jepretan sang fotografer.

Mily Way di atas Pondok Saladah. Hasil jepretan sang fotografer.

Malam semakin larut, kami akhirnya satu persatu beranjak masuk ke tenda untuk tidur. Tinggal saya saja yang masih di luar tenda. Memanfaatkan waktu sendiri untuk mengulang kembali satu persatu ingatan peristiwa-peristiwa hidup, supaya kesedihan lebih mudah ditelusuri dan diurai. Hari ini saya berulangtahun. Dan seperti yang sudah-sudah, ulang tahun seperti sebuah titik tolak bagi saya untuk menuju bentuk baru. Semakin larut,  semakin dalam saya tenggelam dalam perenungan. Dan tak terasa, sudah lewat tengah malam. Saya akhirnya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat.

Pagi-pagi sekali, saya sudah bangun untuk berburu sunrise. Saya segera bergegas mencari spot untuk memotret sunrise. Cukup lama saya berada di sana. Sampai matahari lumayan meninggi. Saya kembali ke tenda untuk memasak sarapan, karena sehabis itu kami akan melakukan sisi pemotretan lagi di spot yang berbeda.

Sunrise Papandayan.

Sunrise Papandayan.

Kami memulai sesi pemotretan sekitar pukul 8 di kawasan hutan lindung dekat Pondok Saladah. Selesai sesi pemotretan, kami segera kembali ke tenda dan mulai packing, karena akan kembali ke Jakarta. Kami turun pukul 1 siang. Dan sampai di Camp David pukul 3. Setelah beristirahat sebentar, kami langsung bergegas pulang menuju Jakarta.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Di kawasan hutan lindung.

Menyapa ilalang.

Menyapa ilalang.

Ocy saat packing.

Ocy saat packing.

Ucok saat packing.

Ucok saat packing.

Sebelum pulang.

Sebelum pulang.

Sebelum pulang.

Sebelum pulang.

Saat menuruni Papandayan.

Saat menuruni Papandayan.

Saat menuruni Papandayan.

Saat menuruni Papandayan.


Foot note:

Mobil mulai melaju melewati kota Garut. Setelah melewati terminal saya minta turun.

“STOP!!! STOP!!! STOP!!! Cuy, kita pisah di sini yaa… Titip temen-temen gue sampe Jakarta.”

“Hah? Ngapain lo? Mau ke mana?”

“Cari pacar.”

Teman saya yang sudah cukup paham tingkah saya yang satu ini, akhirnya mengijinkan. Kami berpisah di sana. Dan saya… Saya tidak tahu mau ke mana lagi. Setelah berdiam cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk menuju kampung halaman saya di Jawa Tengah. Seperti biasa, alat komunikasi saya matikan. Saya baru sampai esok sorenya. Baru dua jam beristirahat, iseng saya menyalakan HP. Belum ada dua menit saya menyalakan HP, ada panggilan masuk dari bos saya (sekaligus pembimbing spiritual saya).

“Assalamu’alaikum, Syeikh.”

“Wa’alaikum salaam. Kamu mau sampai kapan lari?”

“………………………”

“Pulang segera. Lusa kita bicara.”

Tidak pakai banyak alasan, saya pilih untuk menurut. Saya pulang esok paginya memakai kereta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s