Luka

Bagaimanapun juga, emosi dan rasa adalah reaksi kimia tubuh dari hasil input indera yang direspon oleh bagian otak bernama Lymbic system. Itu sebab manusia bisa merasakan sedih atau bahagia.

Secara teori, seharusnya manusia bisa saja mengatur apakah ia ingin sedih atau bahagia. Ya. Secara teori dan memang sebagian manusia yang ingin bahagia, sudah mengujicoba nya, baik dengan sugesti, atau memberikan input terhadap pengalaman indera (makan coklat, melihat hal-hal yang menyenangkan, dll).

Namun, bagaimana bila karena “luka hati” yang teramat dalam, otak sulit melupakan memori tentang (penyebab) luka tersebut? Maka sugesti psikis yang terjadi adalah kesedihan yang (seolah) terus menerus. Bagaimana jika dari sugesti tersebut, manusia justru mendapatkan pengalaman indera tentang (penyebab) luka tersebut?

Kesedihan memang tidak seharusnya dilayani. Pasrah terhadap waktu juga bukan solusi. Tapi setidaknya, luka harus dikenali dan dirawat sampai ia sembuh.

Itulah mengapa dianjurkan untuk berusaha tidak melukai, apalagi menambah luka orang yang sedang terluka. Jangan juga berusaha menyembuhkan luka orang lain. Salah-salah malah kamu yang terluka atau kamu malah semakin menambah luka. Jauh lebih baik memberitahu caranya, atau diam sekalian.

Jangan pernah merendahkan orang yang sedang terluka. Kamu tidak tahu seberapa keras dan jauh mereka berusaha sembuh dari lukanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s