Mencari (Ke)pulang(an): Catatan Perjalanan Menuju Papandayan, Agustus 2014.

Ada banyak alasan yang berkeliaran di dalam kepala saya mengenai tujuan saya berjalan. Mulai dari mencari (ke)pulang(an), mencari kesejatian, mengumpulkan serpihan diri supaya lengkap, atau bahkan lari dari luka. Saya tidak pernah tau dengan pasti apa yang saya cari dari setiap perjalanan. Tapi yang pasti, kata hati saya mengatakan: saya harus berjalan.

Awal Juli 2014, mungkin bisa dikatakan sebagai titik tolak saya untuk kembali berjalan. Momen-momen yang mengharuskan saya melepas segala sesuatu yang melekat. Tentu saja hal tersebut mengakibatkan luka. Dan sudah satu bulan lebih setelah saya terombang-ambing oleh luka akibat melepaskan.  Keinginan pergi dari kota atau pindah ke tempat yang baru, semakin menguat. Dan semakin lama semakin tak tahan rasanya.


29 Agustus 2014

Sebelum matahari kembali ke peraduan, saya sudah selesai mengepak barang ke dalam carrier. Saya putuskan dari semalam, bahwa hari ini saya harus kembali berjalan. Maka dari sebangun tidur, saya mulai sibuk mengepak barang-barang. Dari mulai pakaian, matras, sleeping bag, sampai survial kit. Iya. Saya terbiasa membawa barang-barang outdoor ketika melakukan perjalanan. Bukan apa-apa. Hanya untuk berjaga-jaga jika saya tiba-tiba berkeinginan bermalam di alam lepas, atau setidaknya ketika tidak mendapatkan penginapan.

Sehabis isya, saya pamit pada Ibu saya dan berangkat menuju terminal Primajasa di Cawang, Jakarta Timur. Saya putuskan untuk melakukan perjalanan secara random. saya menunggu tepat di pintu terminal, untuk menunggu bis yang pertama kali keluar terminal. Tidak sampai lima menit, saya langsung naik bus pertama yang keluar dari terminal, dengan tujuan Garut. Oke. Saya biarkan takdir membawa saya entah ke mana. “Terserah Tuhan saja lah. Aku mah gampang.”

30 Agustus 2014

Sekitar pukul 2:30 pagi, saya sampai di Terminal Guntur. Sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepala, kebingungan. Saya kemudian menuju warung di sebrang terminal, memesan kopi, lalu berpikir lagi, ke mana saya harus melanjutkan perjalanan. Apakah explore pantai-pantai eksotis di Garut sendirian, atau kembali menantang nyali dan bunuh diri ke Cikuray (baca: Jurnal Pendakian: Cikuray, Garut. 28-29 Desember 2013. The first and the last summit on this mount). Tak sampai satu jam, ada kejadian epic yang kemudian menentukan ke mana saya harus berjalan. Bis dari Jakarta memasuki terminal, dan menurunkan penumpang. Sebagian besar penumpang adalah para pendaki yang ingin mendaki. Mereka mulai berhamburan menuju warung tempat saya makan, dan beberapa ada yang beristirahat di masjid samping warung makan. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba salah satu teman yang biasa mendaki bersama saya menyeruak dari kumpulan para pendaki yang baru datang. Bukan hanya satu ternyata. Tapi ada beberapa. Mereka melihat saya dan kemudian mengajak saya bergabung mendaki Papandayan. “Terserah Tuhan saja lah. Aku mah gampang.”

Teman-teman sepergunungan saya masing-masing membawa tim. Mereka rupanya sedang mengadakan pendakian massal. Total seluruh personel adalah 42 orang. Sial. Bakalan ramai ini sih. :))) Kami mulai mencari mobil untuk membawa rombongan kami. Saya sebagai “tamu”, ikut membantu beberapa kepala tim. Pukul 3.30, kami mulai berangkat ke Papandayan menggunakan mobil elf yang kami sewa secara patungan. Sampai pom bensin Cisurupan, kami berpindah dari elf ke mobil pick up untuk menuju camp david. Kami patungan lagi untuk menyewa pick up.

Sampai di camp david, pukul 4:30. Hari masih gelap. Udara yang tipis, plus paru-paru yang lelah akibat merokok terlalu banyak dan sempat mendorong pick up yang mogok saat menuju ke camp david, cukup membuat saya kesulitan bernapas. Ditambah lagi udara dingin yang keterlaluan. Beberapa rombongan ada yang melaksanakan shalat shubuh, sebagian ada yang mencoba tidur sebentar sebelum memulai pendakian.

Hari sudah mulai terang. Matahari bersinar menyorot tebing tinggi yang tampak indah menjulang dari camp david. Pagi yang damai. Setidaknya saya jadi lupa sesaat terhadap kesedihan yang sedang mendera saya bertubi-tubi. Saya memesan kopi gelas ketiga. Sampai akhirnya, saya mengenali satu sosok yang baru datang. Saya dekati untuk memastikan saya tidak salah lihat. Benar saja, yang saya lihat adalah salah satu teman yang cukup akrab yang saya kenal dari sosial media. Siapa yang sangka dia juga “kabur” ke sini.

Tebing yang disorot cahaya fajar.

Tebing yang disorot cahaya fajar.

Bertemu teman akrab dari sosial media.

Bertemu teman akrab dari sosial media.

Pendakian dimulai pukul 6:00. Saya jalan duluan bersama tim advance. Selain melihat kondisi pendakian yang lumayan ramai sehingga kami harus mencari lapak terlebih dahulu, saya juga tak ingin melewatkan pemandangan lautan halimun dari kawah papandayan. Setelah briefing dan berdoa, kami mulai mendaki. Saya tidak ingin terburu-buru melakukan pendakian ini. Saya ingin meresapi setiap langkah sambil membalut luka-luka, menggantinya dengan hamparan sumber kebahagiaan yang dilukis langsung oleh Tuhan di bumi Garut ini.

Nikmat sekali rasanya menyusun napas. Menarik kebahagiaan, lalu menghela luka. Menjejak tanah-tanah rapuh sisa erupsi di pinggir kawah, sambil menelaah batu-batu kecil, siapa tau ada serpihan diri saya yang bersembunyi di baliknya. Sesekali pendakian diiringi dengan canda, supaya nggak serius-serius amat, dan suasana bisa mencairkan rasa senang dan bersahabat.

Lautan halimun terlihat dari punggung kawah.

Lautan halimun terlihat dari punggung kawah.

Setelah melewati kawah, kami beristirahat sejenak. Sudah hampir pukul 08.00. Matahari mulai terik. Rencananya, kami beristirahat sebentar. Namun rasa malas hinggap sehingga kami enggan untuk beranjak. Memang, beberapa tim advance memutuskan untuk terus bergerak. Hanya saya dan salah seorang teman saya asik berteduh sambil menikmati lanskap yang terhampar. Wal hasil, saya tersusul oleh rombongan sisa. Bahkan setelah mereka selesai beristirahat pun, saya juga masih enggan beranjak. Saya dan teman saya beru beranjak setelah sama-sama sadar, tidak ada dari kami yang membawa air. Konyol memang. Kami pun bergegas untuk menyusul mereka.

Belum sampia setengah perjalanan, kami beristirahat lagi sebentar. Namun tampaknya teduhnya pohon rimbun nampak lebih menggoda. Kami tertidur. Entah berapa lama. Saat terbangun, kami baru sadar, bahwa kami membawa satu tenda. SIal. Kenapa baru ingat sekarang? :)))) Akhirnya kami memotong jalur dan melewati jalur terjal yang jarang dilewati pendaki. Kami terus berjalan sampai menuju pondok saladah. Di perbatasan, sudah menunggu salah seorang teman saya. Dia misuh-misuh karena terlalu lama menunggu saya. Errr… Menunggu tenda sih lebih tepatnya. :)))) Kami kemudian berjalan ke salah satu sudut di pondok saladah untuk bergabung dengan yang lain.

Lanskap yang memanjakan mata.

Lanskap yang memanjakan mata.

Kami mulai mendirikan tenda, sementara yang lain mulai memasak makan siang. Setelah tenda berdiri, kami makan bersama. Tidak banyak yang kami lakukan hari itu. Mengingat kekhawatiran kami akan kondisi fisik para pemula, maka kami membatalkan untuk ke padang edelweiss tegal alun hari itu. Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menikmati suasana di pondok saladah. Saya sendiri memutuskan untuk merebus teh lalu menikmatinya di antara edelweis yang bertebaran, sampai senja datang.

Menikmati teh di antara edelweis.

Menikmati teh di antara edelweis.

Edelweis yang sedang mekar-mekarnya.

Edelweis yang sedang mekar-mekarnya.

Selepas shalat Isya dan makan malam, kami satu rombongan (42 orang) kumpul bersama di depan api unggun. Dimulai dari perkenalan masing-masing orang, sampai curhat colongan kami lakukan. Sekitar pukul 22.00, sebelum bubar dan tidur, kepala tim pendakian mulai mengajak kami berembuk untuk rencana esok pagi. Kami akan berburu sunrise dan main-main ke hutan mati dan tegal alun. Setelah merencanakan rencana untuk esok, kami satu persatu mulai masuk tenda untuk istirahat. Beberapa ada yang hunting foto langit malam. saya memilih untuk tidur mengistirahatkan badan dan mata yang kurang tidur sedari kemarin.

31 Agustus 2014

Hari masih gelap. Saya terbangun pukul 3 pagi. Karena lapar, saya kemudian memasak mie instan dan air untuk menyeduh minuman. Sendirian. Satu per satu anggota rombongan pendakian mulai pada bangun dan mulai beraktifitas dari balik tendanya masing-masing. Tak berapa lama, sudah ada saja yang ribut membangunkan yang lainnya. Ya. Memang kami berencana berangkat bermain-main pukul 05.00.

Tadinya saya mau ikut. Namun karena malas, akhirnya saya memilih untuk diam di lokasi camping menjaga tenda dan barang-barang, sambil memasak untuk sebelum pulang. Mereka pun mulai berangkat untuk trekking. Saya melanjutkan tidur sebentar.

Sebangunnya saya, mereka belum kembali. Saat itu pukul 08.00. Sudah 2 jam saya tertidur. Saya kemudian mulai memasak sarapan dan kemudian membongkar tenda lalu packing. Sekembalinya mereka, kami makan bersama lalu mereka mulai packing. Kami mulai turun pukul 12.00 siang. Sesampainya di camp david, sudah pukul 14.30. Setelah beristirahat sebentar, kami pun bersiap pulang ke Jakarta, mengejar bis menuju Jakarta yang berangkat pukul 17.00.


Info pendakian Papandayan

  • Berangkat dari terminal bis Primajasa, Cawang, Jakarta Timur, naik bis jurusan Garut (AC) : Rp. 42.500.
  • Dari terminal Guntur ke pom bensin Cisurupan, carter Elf: Rp. 12.000/orang (per mobil isi 11 orang).
  • Dari pom bensin Cisurupan  ke camp david, carter mobil pick up: Rp: 15.000/orang.
  • Registrasi per orang : Rp 10.000 (2 hari. 1 hari Rp. 5000).
  • Registrasi untuk mendapatkan Simaksi harus menggunakan kartu identitas.
  • Disarankan untuk membeli bahan makanan atau jajanan/cemilan di Cisurupan. Karena harga jajanan dan makanan di camp david lumayan mahal.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s