Hantu

Photo by: @mozta_

Photo by: @mozta_

Ini cerita seram. Horor. Jangan coba-coba membacanya jika kamu tidak kuat menghadapi (ke)takut(an) mu sendiri.

 

Kamu percaya hantu itu ada? Aku percaya. Aku percaya bahwa hantu itu ada. Entitas tak kasatmata yang hidup di sekitar kita. Berkeliaran tanpa kita anggap keberadaannya, kecuali kalau mereka mencoba berinteraksi dengan kita yang ujung-ujungnya kita malah kabur. Ketakutan.

Beberapa orang percaya, bahwa mereka adalah roh-roh yang penasaran. Gentayangan. Ada unfinished business yang menahan mereka untuk menjadi tenang sehingga bisa moksa. Benar-benar kembali kepada Tuhan. Namun entah pada alasan apa, hantu-hantu penasaran itu seringkali dianggap jahat dan mengganggu. Ditanamkan lah ketakutan akan mereka oleh kebudayaan. Entah siapa yang memulai. Entah dosa siapa.  Aku percaya hantu itu ada. Karena kini aku adalah hantu. Aku percaya, aku ada.

        

Aku dulu pernah hidup. Dulu, saat aku masih bisa merasakan nyamannya pelukan, bertukar ludah dengan lidah dan bibir yang bertaut, dan saling menggenggam jemari tangan. Dulu, saat aku masih bisa merasakan degub jantung balapan, dikejar napas yang memburu, dan peluh yang mengiringi lenguh kenikmatan. Dulu, saat masih bisa bertukar kabar, cerita, tawa, dan air mata. Tolong garis bawahi kata “saat masih bisa”.

Tidak ada rasa penasaran saat itu. Aku merasa benar-benar ada. Terkoneksi dengan hati yang lain, seperti koneksi perempuan hamil dengan si jabang bayi melalui ari-ari. Berbagi segala hal, meski tanpa kabel, melalui frekwensi yang senada. Aku benar-benar merasa hidup. Tanpa sedikitpun merasa penasaran.

Itu terjadi sebelum hari dimana aku ditikam. Ditikam saat sekarat, setelah digigit hantu bernama kecurigaan. Kemudian mati penasaran, mengambang-ngambang di alam antah-barantah.

        

Hari-hari yang aku lewati saat hidup, adalah hari yang cerah. Tidak ada siang, senja, maupun malam. Hanya pagi dengan mataharinya yang berwarna merah muda, agak tua, sedikit. Langitnya pun tidak berawan. Sebagai penggantinya, bintang-bintang berbentuk bunga sakura menyala-nyala berserakan di lanskap kanvas yang tak ada ujungnya. Hari yang sempurna, dengan udara kebahagiaan yang diuapkan embun dari balik dedaunan. Begitu sempurna.

Namanya Dewi. Perempuan yang bersama-sama denganku menciptakan hari. Setiap kami bercinta, matahari merah muda semakin menyala. Setiap ia tertawa, bintang-bintang setengah bunga sakura beterbangan seperti kupu-kupu, dari perut kami, lalu bertengger di angkasa. Air mata kami menjadi embun yang setelah jatuh, ia menguap menjadi hawa bahagia. Kami bekerja sama menciptakan hari yang sempurna.

Namun apalah arti kesempurnaan tanpa ketidaksempurnaan? Ya, ketidaktahuan akan hal terburuk yang sangat mungkin datang. Sehingga kamu lupa mempersiapkan diri menghadapinya. Aku lupa menyadari, bahwa hari seharusnya punya sistim yang teratur, yang seharusnya mengalami pergantian tanpa beban agar tidak terlampau sesak oleh kebosanan.

Hari itu pun tiba. Aku melihat langit retak. Seperti plafon yang mulai rapuh dimakan air bocoran hujan. Sayangnya, aku terlalu naif dan buta akan kesempurnaan yang sudah aku dapatkan. Seorang nenek memperingatkan aku, bahwa langitnya akan runtuh, dan semuanya akan jatuh seketika, tanpa aba-aba. Aku terlalu acuh untuk percaya ucapannya yang seolah menakut-nakuti ku.

Satu persatu remahan langit berguguran. Pada lubangnya yang menganga sedikit demi sedikit, keluar wabah berwarna kehitaman. Bergerombol terbang, datang kepada ku, lalu membentuk formasi mirip malaikat maut, dan mengenalkan diri sebagai “kecurigaan”. Aku bergumam dalam hati, saatnya sudah tiba. Seharusnya aku mempersiapkan diri sedari awal. Tidak ada yang bisa melindungimu dari patah hati.

Ia berjalan tak terlalu cepat, tak terlalu lambat. Merayap, lalu kemudian menyergap. Memelukku seperti vampir yang birahi, kemudian menggigit leherku. Wabah itu seketika hilang dari pandangan. Ia pergi. Tidak. Ia tidak pergi. Ia masuk ke tubuhku lewat luka yang ia gigitkan. Aku mulai merasa ketakutan.

Bukan hanya itu. Rongga-rongga yang tercipta di atas sana mulai menghembuskan awan badai, dan juga malam. Perempuanku tiba-tiba jatuh cinta pada malam. Seperti terhipnotis, ia mulai menghampiri malam, berjalan mengikuti angin. Aku mencoba menghalaunya. Menariknya kembali, memeluknya erat. Namun angin terlalu kencang. Aku ditikam oleh angin yang berhembus kencang. Menerbangkanku tinggi-tinggi, lalu menghempaskanku ke bumi. Matahari merah muda, bintang-bintang bunga sakura, udara kebahagiaan, terbawa angin kemudian berkumpul jadi satu. Semuanya runtuh tiba-tiba. Menimpa tubuhku yang sudah remuk tak karuan ini tanpa belas kasihan. Semuanya porak poranda menjadi serpihan-serpihan tajam.

        

Aku tak menyadari bahwa aku sudah mati. Aku masih menganggap aku masih ada. Aku masih melihat perempuanku berjalan semakin menjauh. Aku meneriakinya. Tidak ada respon. Kupikir, ia tidak dengar karena terlalu jauh. Aku coba bangkit, meski aku sudah tak berbentuk. Tertatih-tatih aku melata, mengejarnya. Mencoba menariknya kembali. Menyadarkannya dari gendam yang dihembuskan malam. Aku berhasil mendekatinya. Namun ia seolah tak melihat. Aku seolah tak ada di dekatnya.

Aku seperti hantu. Melayang-layang mengelilinginya, memanggil lirih namanya. “Kembalilah… Kembalilah…” Sementara jarak yang ditempuh semakin jauh. Ruang telah berganti menjadi lapangan tanpa ujung. Hanya pasir dan ranting kering. Inilah alam kematian. Begitu sepi. Herannya, suara dan keberadaanku tak juga disadarinya. Aku tak lagi berbeda dari dahan kering atau pasir yang menari-nari ditiup angin. Luput dari perhatiannya. Aku semakin gusar, dan penasaran.

Aku tak mau menyerah. Dengan berbagai cara, aku mencoba berinteraksi dengannya. Sesekali aku menariknya kasar, sehingga ia tersentak, lalu jauh melompat. Sesekali aku berusaha menampakkan diri, lalu ia lari semakin menjauh, ketakutan. Aku benar-benar seperti hantu. Diyakini keberadaannya, namun diabaikan dan dianggap tak ada. Ditakuti saat muncul, kemudian dihindari sejauh mungkin.

Aku sempat mengutuk masyarakat yang mengajarkan bahwa hantu itu jahat, menyeramkan, penuh amarah, dan jelek. Larilah kalau kau tau di situ ada hantu. Mereka tidak tau saja rasanya jadi hantu. Bahwa seringkali pengabaian itu menikam jantungmu dalam-dalam, tapi maut enggan mengunjungi mu lagi, sehingga yang tersisa hanyalah kesakitan. Mereka tidak tau hidup diantara luka dan rasa penasaran, yang seperti amoeba, hobi sekali membelah diri. Mereka tidak tau rasanya berjuang keras untuk tetap dianggap ada, dan kemudian hidup damai berdampingan.

Aku masih saja berusaha menganggap aku ada. Tidak mudah untuk percaya bahwa diri ini ada, bila kamu tidak dianggap ada. Jangan-jangan kepercayaanmu adalah hasil rekayasa pikiranmu sendiri. Namun aku terus berusaha keras untuk percaya bahwa aku memang benar-benar ada. Meski kerap dihantui rasa penasaran dan kenangan akan hari yang sempurna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s