Suluk Ramadhan 1415H

EID_Window

Betapa Ramadhan kali ini, saya mengalami titik tolak baru  yang membawa saya kepada level pencapaian spiritual yang baru.

Saya selalu percaya, bahwa shaum, atau berpuasa, adalah salah satu cara manusia untuk mencapai level kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Yaitu dengan cara mengalahkan ego dan diri sendiri. Bukan hanya menahan hasrat untuk makan dan minum. Namun juga menahan hasrat untuk berpikir buruk maupun bertindak buruk. Benar-benar pertarungan untuk menaklukkan diri sendiri. Sehingga kelak mereka yang secara serius menjalaninya, akan menjadi manusia-manusia baru yang lebih baik.

Apa yang saya alami pada Ramadhan kali ini, rupanya lebih dari itu. Rasa-rasanya, Ramadhan kali ini cukup berat bagi saya. Meski apa yang saya alami sebenarnya adalah dasar-dasar “pelajaran” yang pasti dilewati para penempuh jalan spiritual. Yaitu detachment (ke-tak termelekat-an), seclusion (pengasingan), surrender (penyerahan diri), dan acceptance (penerimaan). Saya seringkali mendapatkan pelajaran-pelajaran hidup tersebut. Namun, entah kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Memang ada niat bulat sebelumnya untuk melewati Ramadhan kali ini dengan sepenuh jiwa dan raga. Keinginan untuk fokus menjalani Ramadhan kali ini dengan khalwat (menyepi agar dapat fokus menghayati keberadaan Tuhan dan memperbaiki kualitas diri), sudah ada sebelum Ramadhan tiba. Namun saya tidak pernah menyangka, bahwa kejadian-kejadian setelahnya justru mengarahkan saya kepada keinginan saya tersebut. Ya. Siapa sangka, harapan saya didengar, diamini semesta, dan dikabulkan Tuhan.

Awal-awal Ramadhan, saya mendapatkan order design dari client. Itu mengharuskan saya untuk menghabiskan waktu di kantor (yang mana kantor saya adalah tempat yang menjadi tujuan saya melaksanakan khalwat). Saya hanya pulang sesekali saja. Hanya untuk berganti baju, atau sahur. Ini berlangsung selama sekitar seminggu.

Tanggal 7 Ramadhan, selepas shalat jum’at, ada konflik yang tiba-tiba saja pecah antara saya dengan keluarga saya. Bahkan saya tidak dapat mengingat apa masalahnya. Yang saya ingat adalah, pembicaraan yang baik-baik, dengan solusi yang cukup baik, tiba-tiba saja menjadi emosional dengan munculnya masalah-masalah lain yang tiba-tiba saja meledak. Suasana mendadak sangat tidak enak. Kami semua mencoba menahan emosi. Sampai entah mengapa tiba-tiba, karena perasaan yang masih kalut dan pikiran yang belum tenang, ada satu momen yang pada saat itu saya artikan bahwa saya sudah tidak punya tempat lagi di rumah keluarga saya.

Langit seketika runtuh. Saya patah hati. Saya kuat-kuatkan hati, mengunci rapat mulut, menghindari konflik yang semakin meruncing, kemudian mengumpulkan tekad. Saya putuskan untuk meninggalkan rumah hari itu juga. Saya segera mengemas pakaian, dokumen-dokumen penting, dan beberapa barang yang kira-kira akan saya butuhkan nantinya. Hancur rasanya pada saat itu. Sambil kebingungan, saya terus bergerak mencari tujuan, sambil mencoba mengingat-ingat kenapa masalah bisa menjadi sehebat itu. Buntu.

Saya tidak tahu harus tidur di mana. Sempat juga saya tidur menggelandang di taman. Namun, dalam kondisi sehancur itu, setidaknya yang saya syukuri adalah, saya masih mempunyai ‘kepulangan’ lain. Saya masih memiliki calon istri yang saya pikir akan mampu mengobati luka dan mengumpulkan kembali kepingan-kepingan diri saya yang sudah berserakan. Saya mencoba menghubungi calon istri saya, hanya untuk sekedar mengobati luka. Beberapa kali mengajaknya bertemu sebagai teman bicara. Meskipun selalu saja gagal karena waktu yang tidak mengizinkan.

Pada 9 Ramadhan, saya coba hubungi lagi kekasih saya. Selain karena butuh kuping untuk mendengarkan dan bahu untuk tempat saya menangis, juga karena kangen karena sudah cukup lama tidak bertemu. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kekuasaanNya. Di telepon, ia mengakhiri hubungan kami secara sepihak, dengan alasan yang sulit sekali diterima logika saya. Saya baru saja hancur. Kemudian dihancurkan lagi sehancur-hancurnya. Seketika, konsep saya mengenai kepulangan, musnah sudah. Karena saya sudah terlanjur menyerahkan sebagian besar diri saya ke keluarga dan calon istri saya. Saya tidak ada sepertigadua dari utuh. Ya. Saya tidak lagi mengerti, apa itu kepulangan.

Berhari-hari saya meratap. Bertanya-tanya, mengapa segala bibit-bibit kebaikan yang saya tanam harus berbuah rasa sakit yang menghancurkan. Bertanya-tanya, di mana keadilan Tuhan. Jangan tanya seberapa sakit. Sakit sekali rasanya. Seolah saya sudah tidak punya siapa-siapa, sudah tidak punya apa-apa lagi. Lebih dari diabaikan, seolah rasanya saya sudah dihempaskan sejauh-jauhnya, sejatuh-jatuhnya. Nampaknya, keinginan saya untuk mengasingkan diri (khalwat), dikabulkan dengan jalan yang seperti ini. Dengan bonus, ‘dipaksa’ untuk mencicipi zuhud (detachment). Dipaksa untuk tidak melekat dengan segala sesuatu, apalagi hal-hal yang telah menjadi kecintaan.

Saya terus meratap dan meratap. Menangis dan merasakan pedih. Sangat sulit saat itu untuk bisa membohongi diri sendiri bahwa saya tidak apa-apa dan baik-baik saja. Saya memilih jujur dan menerima rasa sakit dan luka yang telah ditimpakan kepada saya. Akhirnya, saya mencoba melewati itu semua sendirian. Rasa perih terus mendera setiap pagi. Air mata saya tidak bisa berhenti mengalir setiap malam. Ini adalah hari-hari penaklukan, pikir saya. Namun rupanya, belum cukup juga saya paham. Meski sudah dibuat merasa tidak mempunyai siapa-siapa, tidak mempunyai apa-apa, dan tidak mempunyai daya apa-apa, saya akui, saya masih saja sulit untuk menerima. Saya masih belum ridha terhadap segala kemalangan yang ditimpakan kepada saya.

Hingga akhirnya, tibalah saya pada titik di mana saya menyadari bahwa saya tidak mempunyai daya apa-apa………..di hadapan Tuhan. Saya menyadari, bahwa saya cuma hamba di bawah kuasa Tuan. Saya kemudian menyerah. Lalu apalagi yang bisa dilakukan dari seorang yang benar-benar sudah kehilangan daya? Menerima. Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya saya hanya bisa menerima, sambil memohon belas kasih Tuhan, dan menggantungkan harapan-harapan (yang diselipkan pada do’a-do’a) kepada Tuhan. Saya mungkin akan tampak sangat menyedihkan dihadapan Tuhan. Tapi saya tidak bisa bohong, bahwa memang saya masih sangat hancur dan penuh pengharapan. Maka sempurnalah ketidakberdayaan saya di hadapan Tuhan.

Berhari-hari saya lalui dengan sangat berat. Berusaha melepaskan apa-apa yang memberatkan hati dan pikiran, tidak semudah mengatakannya. Perlahan-lahan saya mencoba mengikhlaskan. Satu per satu luka saya rasai, saya kenali, saya basuh dengan lembut, lalu kemudian saya lepaskan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mempereteli satu per satu luka. Jadi, sambil menunggu sembuh, saya mau tidak mau harus tetap menerima rasa sakit. Saya tidak mencoba menolaknya. Mungkin kali ini memang saya harus menerimanya.

Tidak semua hal buruk, terus menerus menjadi buruk. Sedih itu tidak selamanya sedih. Seperti halnya hidup itu tidak selamanya hidup, dan mati tidak selamanya mati. Berangsur-angsur, saya membaik. Dari hari ke hari, saya semakin ringan. Satu per satu persoalan akhirnya saya terima, kemudian saya kembalikan kepada Tuhan. Sebagai balasannya, satu per satu jua masalah selesai dengan tiba-tiba. Keluarga saya meminta saya kembali pulang, meski akhirnya saya putuskan untuk menggenapkan suluk sampai akhir Ramadhan. Mantan kekasih calon istri saya juga kemudian saya relakan, tanpa saya harus memaksa diri mengerti dan menerima alasan kenapa ia mengakhir hubungan.

Saya mulai memaafkan diri, memaafkan masa lalu, dan menerima apa yang terjadi saat ini. Begitupun yang terjadi di hari-hari berikutnya. Sisa-sisa perih hanya saya terima. Saat itu saya berpikir, tidak ada gunanya lagi protes kepada Tuhan. Karena saat itu saya sedang ditunjukkan bahwa saya tidak berdaya. Perih, hadapi dan terima. Bahagia, syukuri dan jalani. Sampai akhirnya saya mencapai satu titik kesadaran. Saya mengakui dengan penyaksian hati dan pikiran, jiwa dan raga, kesadaran dan seluruh indera, akan ke-Mahakuasa-an Tuhan.

Tidak berasa, sudah tigapuluh hari saya ditempa sedemikian rupa dalam pengasingan. Saya sudah tidak sehancur saat pertama. Justru dari perenungan-perenungan saat malam, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding kesedihan itu sendiri. Betapa tidak saya berterima kasih di atas segala perih?

Sore ini, saya sempurnakan suluk saya. Semoga juga sempurna ibadah dan penempaan saya. Supaya kelak, saya bisa menjadi manusia sebenar-benarnya manusia. Semoga saya mendapatkan apa yang mereka sebut kemenangan. Semoga diri dan ego ini memang sudah benar-benar saya taklukkan. Semoga.


 

Kartu_Lebaran_1435H

Selamat hari raya Idul fitri juga, bagi kalian yang merayakan.

Semoga kalian diberi berkah dan anugerah kemenangan yang tak kalah hebatnya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s