Pulang

Image

Perkara pulang, bisa saja menjadi hal yang rumit.
Apalagi bagi seorang "pejalan".

Tuhan kerap kali berbicara pada manusia melalui gestur-gestur alam semesta, yang ditangkap gelombang otak, sehingga momen sesederhana apapun, jika memang itu adalah pertanda, maka akan menjadi sangat mengganggu seolah minta diperhatikan. Sudah beberapa terakhir, saya selalu diingatkan untuk pulang. Berbagai macam gestur dari semesta baik tulisan, kejadian, perbincangan, atau apapun bentuknya, seolah memberi tahu saya untuk segera pulang. Seperti sore ini. Ketika iseng mencari keyword “Suryakencana”, maka yang keluar adalah postingan salah satu teman. Iseng saya menulis komentar, dan jawabannya diluar perkiraan. “Pulang lah, sebelum semuanya terlambat :)”, katanya.

Image

Perkara pulang sudah berkali-kali jadi masalah dalam hidup saya. Mengintai diam-diam seperti hantu, dan datang tak terprediksi tiba-tiba seperti gempa. Saya adalah seorang pejalan. Jangan kau sangka saya ini pejalan beneran yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Well, meskipun tak jarang saya begitu. Saya adalah seorang pejalan yang mengambil jalan yang sunyi dalam perjalanan kehidupan. Berangkat dari rasa kehilangan akan diri sendiri, saya mencoba mencari tahu dan mengenal diri sendiri. Kemudian saya dihadapkan pada pilihan jalan. Silakan baca “Lone Wolf with Many Scars: The Beginning.”

Perkara pulang, bisa saja menjadi hal yang rumit. Apalagi bagi seorang “pejalan”. Setelah sekian tahun berjalan, tak ayal saya merasa lelah dan kemudian beristirahat. Alih-alih berhenti sejenak, yang ada malah merindukan kepulangan. Ya. Kepulangan memang menjadi hal yang paling dirindukan bagi seorang pejalan. Permasalahannya, pulang ke mana? Terlalu jauh berjalan dan menjejak, malah mengaburkan destinasi kepulangan. Sehingga membuat seorang pejalan terus berjalan dan berjalan mencari titik tujuan yang dinamakan rumah. Tempat kepulangan. Tempat peraduan. Bukan sekedar tempat untuk duduk dan meluruskan kaki supaya bisa berjalan kembali.

Saya rindu pulang. Berkali-kali saya mencoba mencari tentang tempat yang dinamakan rumah. Konon, rumah adalah tempat dimana hatimu berada. Percayalah. Bila memang begitu, kalau begitu saya sudah berkali-kali menemukan rumah lalu berkali-kali juga dipaksa meninggalkan. Pada setiap rumah yang semacam itulah saya menyerahkan seluruh diri saya dan jiwa saya. Menatanya dalam ruang-ruang, dan kemudian mencoba beristirahat. Tapi tetap, terusir jua tanpa bisa membawa apa-apa yang sudah ditata dalam tiap ruangnya. Tetap terusir paksa jua, sehingga saya melanjutkan perjalanan dengan luka yang baru, dan hampa, tidak membawa bekal apa-apa.

Saya kemudian mencari definisi lain dari rumah. Setelah perjalanan yang cukup panjang ke pulau di timur jawa dalam waktu lama, saya pun mendapatkan definisi baru dari rumah. Saya berpikir, rumah adalah tempat dimana kamu berada di dalamnya. Yaitu hati orang-orang yang mencintai kamu, dan mengabadikan kamu di dalam hatinya. Saya pun masih setuju definisi ini. Namun tampaknya sulit untuk beristirahat tenang jika rumah yang lain tidak dikunjungi, bukan? Saya setuju, namun saya belum puas.

Kemudian, ada masa di mana saya pernah mengasingkan diri cukup lama di tempat yang tak banyak manusia. Lepas dari kehidupan sosial, dari keluarga, dan dari orang-orang yang saya cintai. Di sini, saya dapatkan lagi definisi tentang rumah. Rumah adalah tempat di mana hatimu berada, dan kamu pernah dan akan selalu ada, untuk saat ini dan sampai akhir dari napas yang terhela. Lagi-lagi muncul permasalahan. Kerap kali saya menerka-nerka. Kerap kali saya coba-coba. Ujung-ujungnya cuma kecewa. Dipaksa pergi lagi tanpa bekal apa-apa. Dan memang, perkara pulang sudah menjadi hal yang rumit. Dari mulai mau pulang kemana, sampai bagaimana caranya.

Saya masih terus mencari rumah supaya saya bisa pulang. Mungkin kali ini saya sudah menemukan rumah, namun perlu berjuang untk masuk ke dalamnya. Mungkin juga nanti ada rumah-rumah lain, atau bahkan definisi-definisi lain dari rumah, dan kepulangan. Tapi di atas semua itu, saya ingin segera pulang sebelum terlambat menemukan. Saya sudah terlalu letih untuk kembali berjalan.

Semoga setiap kita segera menemukan tempat untuk berpulang. Meski pada akhirnya, kepada Tuhanlah kita semua berpulang.

_____

Catatan ini ditulis dengan backsound lagu “PureSaturday – Kosong” yang di-set repeat one.

Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap 'kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam
Walau tak pernah ada kesempatan
Terjebak dalam jerat mengikat
Namun tekad nyatakan bebas

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira...
Semua mati dan menghilang
Terlalu pagi temukan arti

Jalan panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar

Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira...
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap... Pergilah pulang
Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s