Kehilangan

“Saya baru kehilangan pacar. Dan itu sakit. Kamu mengerti?” Ujar salah seorang teman pada suatu malam.

Sambil tersenyum getir, saya jawab, “Saya baru kehilangan diri saya sendiri. Kamu mau coba rasanya?”

Perkara hidup memang tidak jauh-jauh berputar di masalah eksistensi, esensi, dan afirmasi, yang bergerak pada perjalanan masing-masing manusia. Tanpa salah satu di antaranya, mungkin manusia tidak benar-benar hidup. Dan memang, manusia kerap kali melakukan pertarungan-pertarungan dalam hidupnya, untuk memenuhi ketiga hal tersebut. Manusia-manusia bertarung mencari eksistensi, menggali esensi, dan berusaha mendapatkan afirmasi baik dari orang lain maupun diri sendiri.

Dan saya akui, masing-masing orang punya kadar pertarungannya sendiri. Berat bagi dia belum tentu berat bagi saya. Berat bagi saya belum tentu berat bagi orang lain. Dan untuk beban yang menyita sebagian besar perhatian, kerap kali manusia begitu egois mengklaim bahwa bebannya melebihi beban yang pernah ia lewati, atau bahkan yang manusia lain pikul.

Setiap orang pernah patah hati. Hancur berkeping-keping dan kehilangan arah. Kehilangan seseorang yang dicintai adalah alasan yang paling banyak ditemui dari perihal patah hati. Dan kalau mau jujur, semua akibat berasal dari satu entitas yang dinamakan cinta. Seperti cinta yang berbeda-beda jenisnya, tentu kehilangan akan menjadi berbeda dampak sakitnya. Kehilangan pacar, pasti tidak sama sakitnya dengan kehilangan keluarga. Kecuali, jika seseorang memberikan dan menggantungkan keseluruhan hidupnya, semangatnya, jiwanya, apa yang dia punya, kepada yang ia cintai. Mungkin itu akan sama atau bahkan lebih menyakitkan, karena setelah kehilangan, ia tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Hampa.

Seperti semua manusia, saya pun pernah kehilangan. Saya pernah kehilangan saudara, pacar, sahabat, teman, dan bahkan Tuhan. Dan berbagai jenis kehilangan juga alasannya pun, sepertinya saya pernah mengalaminya. Rasanya? Saya tidak akan membanding-bandingkan. Tapi tetap, segala macam kehilangan itu tidak enak. Dan itulah konsekwensi dari rasa memiliki sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup yang dijalani.

Bukan hanya pada entitas di luar diri kehilangan dapat berlaku. Namun bagi beberapa orang, kehilangan diri sendiri pun bisa saja terjadi. Biasanya terjadi pada mereka yang mulai mencari tau tentang esensi keberadaannya di alam semesta, atau mereka yang sudah pernah mengenal dirinya sendiri. Memang, ini adalah salah satu fase pencapaian tingkat kesadaran spiritual setiap manusia. Dan ini sangat mungkin terjadi berulang-ulang, sama seperti kehilangan entitas luar diri.

Saya pernah berkali-kali merasakan kehilangan diri sendiri. Bingung, resah, takut, dan berbagai macam rasa tidak enak lainnya, bersatu dan datang dalam satu waktu. Berbagai macam pertanyaan semacam “apa-siapa-kenapa saya”, rajin mondar-mandir di dalam kepala.  Menyakitkan saat tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Bagaimana tidak? Seumur hidup, kita akan hidup dengan diri sendiri. Berdialog, berdiskusi, berbagi, dan bertarung bersama-sama.

Tidak mudah bagi saya untuk keluar dan melewati fase tersebut. Dan tampaknya, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menerima. Jawaban se-menyenangkan apapun, bila tidak ada penerimaan tentunya sama artinya dengan berjalan di tempat. Karena saya percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup adalah bagian dari fase pembelajaran. Dan tanpa penerimaan, pembelajaran akan sia-sia. Tak akan mencapai titik terang.

Dengan penerimaan pun, untuk menemukan kembali diri yang “hilang”, saya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pasti ada fase-fase denial dalam pencarian yang harus saya kalahkan. Ya. Saya harus bertarung habis-habisan dalam riuhnya pikiran yang kalut. Berusaha menajam-najamkan dan menguat-nguatkan hati yang hampir hancur. Tidak mudah, bukan? Mungkin bila tidak kuat, saya bisa gila.

Itu sebabnya saya bilang, kehilangan diri sendiri itu lebih pelik dan menyakitkan daripada kehilangan pacar. Bukan berarti saya menganggap remeh kehilangan yang lain. Bagaimanapun, kehilangan punya kadar rasa sakitnya sendiri-sendiri. Bukan berarti karena sakit, lantas pasrah saja menenggelamkan diri. Seharusnya rasa sakit itu menyadarkan. Menyadarkan akan rasa memiliki. Dari rasa memiliki akan ada upaya untuk menjaga, dan menghargai. Dan mempertahankan ketika masih memiliki, atau saat kembali menemukan.

Jangan pernah takut untuk kehilangan. Tapi jangan kehilangan keberanian untuk bangkit dari luka akibat kehilangan. Selamat belajar dari kehilangan. 🙂

Advertisements

6 Comments

  1. mungkin aku belum merasakan kehilangan diri sendiri (atau sudah, aku tidak tahu) tapi perasaan bertanya-tanya tentang aku siapa-apa-bagaimana dan mengapa aku dan kita semua hadir di bumi ini, sudah terngiang sejak kecil. Nice post. Membuatku menggali lagi memori ketuhanan yg tergerus nikmat duniawi. terima kasih. 🙂

    Like

  2. aku rasa, saat ini aku sedang dalam proses itu walaupun masih gamang. Semakin bertambah hari aku semakin merasa sendirian di tengah dunia yang ramai dan tak jarang merasa muak lingkungan sosial. Masih mencari sesuatu yang aku rindukan, walaupun wujud nyatanya tidak ada.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s