Tangguh

Terima kasih kepada hujan tengah malam, yang menahan ku di halte ini, sehingga dari balik uap kopi yang ku pesan, lahirlah pertemuan.

Malam ini mungkin akan jadi malam yang seperti kemarin, bila hujan tidak turun, dan mempertemukan kita diantara hangat uap kopi, dan cerita-cerita yang kau tuturkan. Malam ini tentu berbeda dari malam kemarin. Mungkin setelah malam ini, hidup akan lebih seru, meski kita tak lagi punya kesempatan untuk bertemu. Tutur lembutmu yang mengalir pelan, cukup untuk merubah hidupku.

Betapa tidak? Bagaimana bisa aku tidak tertarik berbicara pada orang yang rela menukar dingin dengan baju kusam yang kau pakaikan pada pengamen kecil yang bahkan tak kau kenal? “Apa bapak nanti ndak kedinginan?” adalah kalimat pertama yang spontan keluar dari mulutku. “Baju ini memang kusam. Tapi anak ini kedinginan. Kalau sakit, rumah sakit mana yang mau menampung anak ini, nak?” kata mu. Lalu, ku pesankan kopi dari penjaja minuman keliling, untuk sekedar mengganti kehangatan yang baru saja kau relakan.

Kemudian kata-kata lahir, setelah tegukan pertama.

Kau bukanlah pendatang yang silau akan fatamorgana kota. Katamu, dulunya kau mempunyai rumah. Tidak bagus. Namun asri. Di rumah itu, terasnya kau jadikan warung. Lumayan, untuk seorang pensiunan perusahaan swasta. Kau cukup bahagia dulu, dengan hidup sederhana yang apa adanya. Tentu saja, itu sebelum rumahmu berganti dengan pusat perbelanjaan yang menjual kepalsuan-kepalsuan kota.

Setelahnya, kau tinggal dengan istrimu di satu sudut kumuh kota Jakarta. Uang pengganti yang diberikan, tak cukup untuk membangun rumah baru, plus warung di terasnya. Tak kulihat sedikitpun amarah di matamu. Kau bercerita dengan senyuman. Senyum tulus yang menyejukkan. Seolah bisa menangkap kebingunganku, sambil tersenyum, kau bertutur kemudian, “Tiada yang terjadi melainkan dengan kesiapan. Kalau kamu mengaku beriman, maka jangan sangka kamu tidak diuji. Ini bukan sabar. Ini adalah rela terhadap ketentuan.”

Ya. Kau tidak mencoba melawan. Kau tukar bahagiamu di masa lalu, dengan kerelaan yang mengagumkan. Karena cinta Tuhan, katamu. Sehingga kau tetap mengulurkan tangan dengan kasih kepada mereka yang larut dalam beban. Sungguh, aku bersumpah. Kau amat layak dicintai oleh siapapun juga.

Bebanmu tentu amat berat, ya pak. Lebih berat dari botol-botol dan gelas-gelas minuman plastik yang kau panggul. Pantas saja senyummu amat ringan. Kakimu yang tanpa alas, kuat mencengkram aspal, menopang beban. Pundakmu, ya, pundakmu berisi. Berisi rahasia-rahasia hidupmu yang menelurkan kebajikan-kebajikan. Namun, betapa luar biasa. Ya. Kepalamu tetap tertunduk, bukan karena terhina. Namun karena hatimu terlalu kaya sehingga kau tak sanggup mengangkat dagu dengan kesombongan yang tak seharusnya.

Tidak semua malaikat nampak anggun dengan gaun berkilau genit menyilaukan mata. Mungkin kau salah satunya. Terima kasih telah menamparku dengan senyum dan hidupmu yang sederhana, tanpa ambisi apa-apa. Tetaplah tangguh, dan bercahaya.

Halte Taman Suropati – Jakarta,
11 Februari 2014, 00:16 WIB.

P.S.:
Semoga kelak kau temukan kekaguman ku, yang ku simpan dalam botol plastik, di sudut halte ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s