Untuk Permaisuri di Satu Sisi Hati

Kepada engkau, perempuan tangguh, permaisuri yang tinggal di satu sisi hati.
Lama kita tidak bersapa. Bukan berarti aku lupa. Bukan juga berarti aku mulai alpa. Kamu tetap aku ingat di sepanjang detik waktu, dan detak nadiku. Aku mengingatmu dengan lafal do’a. Bukan dengan ingatan-ingatan yang pernah kita bangun bersama.
Apa kabar, kamu? Semoga kamu selalu sehat, dirahmati, dan selamat di setiap gulir waktu. Jangan terlalu  memikirkan beban-bebanmu. Kesehatanmu itu, lho. Kalau kamu terus-terusan larut dalam bebanmu, bukan tak mungkin sehatmu ikut hanyut. Kamu tidak sendirian. Orang-orang terdekat mu pasti membantu mu. Mereka pasti akan selalu ada untuk mu.
Kita hampir punya beban yang sama. Sama beratnya, sama rumitnya, dan sama nyebelin-nya. Itu yang membuat ku selalu mengingat mu dengan do’a-do’a. Menyenangkan rasanya ketika melihat seseorang yang bernasib sama. Apalagi ketika mengetahui ia cukup tangguh saat menghadapinya. Patutlah mereka yang memiliki mu berbangga. Betapa tidak? Kamu jadikan setiap yang kau lewati menjadi pelajaran. Kemudian, kau untai kata-kata untuk kemudian kau sampaikan. Tentunya dengan penuh kasih dan cinta. Mereka patut berbangga, karena kamu luar biasa.
Kamu perempuan tangguh. Aku tau saat menatap dalam-dalam matamu. Aku tau saat beberapa kali kita berbincang di ruas waktu. Aku juga bangga bisa mengenal mu, juga mencintai mu. Eh, tunggu!!! Jangan salah sangka dulu. Jangan pikir aku ingin menguasai mu. Ini bukan berahi. Tak ada niat sedikitpun untuk menjadi spesial dihadapan mu. Kalau bisa, aku juga tak mau jatuh cinta pada mu. Cuma, bisa apa aku, saat berulang kali melawan, namun Tuhan tetap menjatuhkan hatiku pada mu. Yang ku bisa cuma terus mencintai tanpa punya kemampuan untuk mengharap apapun darimu. Tolong, jangan tersinggung.
Betapa kamu aku hormati. Selayaknya maharaja menaruh rendah kepalanya dihadapan permaisuri. Kamu aku cintai. Selayaknya para malaikat memberkati seisi bumi. Jangan menjauh lagi. Percayalah, aku cukup tau diri. Biar aku tepati janji yang ditagih Tuhan kepada ku: Mencintai mu dan menjaga mu, dengan cara mengiringi dengan do’a-do’a untuk setiap langkahmu. Anggap saja itu tugasku. Tugasmu hanya menjalani langkahmu dengan hati-hati, sampai menuju tempatmu nanti kembali, dengan penuh rahmat illahi.
Kalaupun setelah membaca surat ini, kamu menepikan ku kembali, maka ingatlah untuk terus menguat. Ingatlah untuk terus menjejak dan berdiri tegap. Dengan kepala tertunduk, senyum terurai, dan kasih yang tergerai. Jangan juga lupa untuk berhenti saat lelah berjalan, bersimpuh saat lelah berdiri, dan bersujud saat lelah bersimpuh. Jangan kehilangan semangat untuk menjadi hadiah kecil yang indah, bagi semestamu.
Selamat ulang tahun, nona Aqmarinna. 🙂
_____
P.S.:
Serius atau tidaknya surat picisan di atas, tergantung asumsi masing-masing. Nyahahahahaha… :)))))
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s