Perbincangan Abadi

Aku tak pernah tau bagaimana agar aku dapat berbicara langsung dengan mu. Hampir habis asa ku berupaya menghubungi mu, tanpa sedikitpun kau pernah berbicara pada ku.

Entah ini surat keberapa. Masih jelas ku ingat saat pertama kali berbicara dengan mu, yang ku dapati, aku hanya berbisik-bisik pada angin. Ku coba meneriakkan kamu di rongga angkasa, yang ku dapati hanya gema sementara. Sungguh penasaran aku. Mencari mu itu lebih sulit ketimbang mencari WiFi gratis di sudut-sudut kota. Sampai akhirnya seorang teman menyarankan, “Kenapa tak kau surati saja dia?”

Baiklah. Aku saat itu mulai menyurati mu. Gugup rasanya. Seperti remaja tanggung yang baru pertama jatuh cinta, hendak menuliskan surat ke pujaan hati nya. Aku ingat betul, bagaimana isi surat pertama ku. Saking gugupnya, aku hanya menulis, “Hai!” Untuk kemudian aku bingung, kemana aku harus mengirimkannya. Ya. Bingung saat pak pos menertawai ku geli saat melihat label tujuan yang ku tulis. “Untuk tuhan, di rumahnya.” Aku tak putus asa, saat kebetulan aku melihat secara tak sengaja, pak pos membuang surat ku, ke tempat sampah. Ku pikir, itu tempat kau biasa berada disana.

Aku tak berputus asa saat berbulan-bulan kau tak balas surat ku. Aku tuliskan lagi surat kedua. Isinya, “Hai! Apa kabar, tuhan. Boleh kita kenalan? Balas, ya!” Kali ini tak ku kirimkan lewat kantor pos. Aku tak mau surat ku berakhir di tempat sampah seperti kemarin dulu. Aku bakar surat kedua ku untuk mu. Ku pikir, kau tak terlihat. tentu harus dibakar agar kau dapat membacanya. Namun tak kunjung juga kau balas. Mungkin suratnya hanya jadi makanan api saat itu.

Surat ketiga kukirimkan lewat sungai yang mengalir ke laut. Tak juga berbalas. Surat keempat ku kuburkan di tanah. Dan ku dapati surat itu masih rapih terkemas dalam amplop berbulan-bulan kemudian. Aku mulai bingung. Kemana lagi aku harus mengirimkan suratku untuk mu. Aku penasaran. Penasaran akan dimana rumahmu. Penasaran juga kenapa tak kunjung kau balas surat-suratku. Katanya engkau maha dekat. Namun kenapa tak juga aku dapat menggapai mu. Aku kah yang terlalu jauh? Atau engkau yang memang enggan mendekat?

Ini suratku kesekian. Aku tuliskan tanpa lagi menyisipkan harapan. Supaya tak kecewa nanti nya. Aku tuliskan tanpa tau kemana harus ku kirimkan. Tak peduli kau balas atau tidak suratku, aku tetap akan menyurati mu. Namun, sebegitu penasarannya aku akan bincang mu, terima kasih. Terima kasih telah mengajarkan aku terus menghubungi mu. Mengajarkan ku terus mengingat mu dan mendamba mu. Selama aku bernapas, selama itu pula aku terus mengingat mu. Dan itu akan menjadi perbincangan abadi, antara aku dengan mu. Terima kasih untuk itu.

Terima kasih telah membalas suratku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s