Rindu Disamping Nisan

IMG_20140624_103353

Pertemuan seumur hidupmu masih belum cukup bagiku. Sehingga, aku rela menyambangi rumah terakhirmu disela-sela malam luangku. Nampaknya ini bukan sekedar rindu yang tak kesampaian. Nampaknya, aku masih belum cukup puas dengan kekanak-kanakanku saat kau masih menjejak kokoh tanah, dan menopang segala beban keluargamu.

Aku datang kesini tanpa sepengetahuan Ibu. Aku tak mau Ibu mengetahui bahwa aku sering berbincang dan bercengkrama denganmu disini, berbatas tanah pusara yang terdesak makam-makam lain, diantara gelap pagi buta yang menusuk kornea mata. Orang-orang mungkin menganggapku gila. Namun sebenarnya, aku cuma ingin perbincangan kita menjadi rahasia berdua.
Ibu baik-baik saja. Anak-anakmu pun juga. Meski mereka adik tiriku, aku tetap menjaga mereka, seperti biasa, secara rahasia. Biarlah seisi keluarga mengatakanku terlalu acuh dan tak peduli dengan yang lain. Aku ingin kasih sayangku tetap menjadi rahasia. Seperti caraku mengunjungimu saat ini dan sebelumnya. Seperti caraku memberimu makan dengan do’a-do’a. Supaya kelak rinduku juga ikut menjadi rahasia.
Lalu, bagaimana kabarmu malam ini? Apakah air hujan yang merembes melalui celah-celah tanah saat ini ikut membasuh kerinduanmu? Aku harap iya. Karena aku juga melakukan hal yang sama untuk harapan yang sama. Berbasah kuyup supaya luntur pula kerinduanku terhadapmu. Tentang rasa bosan, tahan lah sebentar lagi. Kelak satu dari kami akan menyusul menemanimu. Jangan keluar dari liangmu. Nanti orang-orang akan lari melihatmu.
Ya, aku tau. Tidak mudah memang menahan rasa bosan dan rindu. Itu sebab aku selalu menyisipkan surat kedalam pusaramu. Supaya bisa kau baca-baca lagi kelak. Anggap saja itu surat kabar yang selalu kau lahap waktu dulu ketika menyantap pisang goreng diantara kerling matahari pagi. Itu juga sebab aku selalu meninggalkan rokok diatas pusaramu. Supaya kau dapat bernostalgia pada aroma tembakau favorit, plus obrolan-obrolan hangat kita berdua.

Tapi malam ini, aku sedang tak punya banyak uang untuk membeli rokok yang banyak. Aku cuma membeli satu. Itupun sudah hampir setengahnya kuhisap. Itu tanda aku harus pulang. Setengahnya lagi, biar kau yang habiskan. Jangan khawatir. Aku akan kembali lagi esok-esok. Rindu yang ku sandarkan disamping nisanmu, bukan untuk ku kuburkan dalam pusaramu dan kemudian ku lupakan. Namun untuk mendampingi mu sepanjang siang yang berdebu dan malam yang membeku.

Aku pulang dulu.
Jangan mudah kalah oleh rindu dan bosan, Ayah…
Cukup kami yang merindu.
Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s