MANAJEMEN PENDAKIAN

Trek TNGP, jalur Cibodas, dekat Air Panas.
Mendaki gunung (mountaineering) merupakan olahraga sekaligus hobi yang dilakukan secara outdoor di pegunungan. Kegiatan ini melibatkan perencanaan dan persiapan (strategi) yang matang, ketahanan fisik dan mental, kerjasama tim, etika, tanggung jawab (baik terhadap diri sendiri, orang lain/tim, maupun lingkungan), ketepatan dalam pengambilan keputusan, kepekaan, serta survival. Saat ini, banyak orang yang hanya karena menonton film atau membaca novel, melihat postingan di medsos, kemudian tiba-tiba memutuskan untuk mendaki gunung tanpa mengindahkan hal-hal tersebut diatas, bahkan standar teknis dalam pendakian. Misalnya, naik gunung dengan menggunakan pakaian yang tidak sesuai dan tidak memenuhi standar keamanan, seperti pakaian berbahan jeans, tanktop, atau hot pants. Jelas itu akan membahayakan si pemakai. Atau dalam kasus lain, meninggalkan sampah di gunung, sehingga merusak keindahan dan bahkan ekosistem yang ada di gunung tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba berbagi sedikit tentang manajemen pendakian, terutama bagi yang baru pertama kali memulainya. Jangan pernah menyepelekan pendakian. Karena biasanya, menyepelekan pendakian akan mengurangi kesiapan dan kewaspadaan.

SEBELUM PENDAKIAN

Sebelum melakukan pendakian, ada baiknya mempersiapkan segala sesuatu nya dengan baik. Dari mulai perencanaan, peralatan, sampai biaya yang perlu dikeluarkan. Mari kita bahas satu persatu.

A. Perencanaan

1. MENCARI INFORMASI TENTANG GUNUNG YANG AKAN DIDAKI

Setiap gunung mempunyai karakteristik dan peraturan (baik tertulis maupun tidak) yang berbeda-beda. Jauh-jauh hari sebelum pendakian, ada baiknya apabila mencari tahu tentang informasi-informasi tersebut. Seperti perizinan, kewajiban yang harus dipatuhi, larangan-larangan, peraturan-peraturan khusus yang berlaku di gunung tersebut, mitos-mitos (ini penting, karena tidak menutup kemungkinan seorang pendaki justru akan mengalami mitos-mitos tersebut).

Selain itu, mengetahui jalur pendakian yang akan dilalui, jumlah dan jarak pos, kontur gunung, gambaran medan dan jalur pendakian, tempat sumber air, camp ground, juga tidak kalah pentingnya untuk meminimalisir risiko perjalanan. Seorang calon pendaki dapat mencari tahu melalui internet (apalagi sekarang sudah ada google maps :p), atau bertanya langsung ke orang yang pernah mendaki gunung yang akan menjadi tujuan.

2. MEMBUAT ITINERARY DAN MANAJEMEN WAKTU PENDAKIAN

Setelah mencari tahu informasi tentang gunung yang akan didaki, calon pendaki harus membuat perencanaan pendakian (itinerary), untuk me-manage waktu pendakian. Seperti: kapan harus mulai mendaki, kapan harus mulai berhenti, di mana kira-kira harus berhenti (check point), jam berapa kira-kira target sampai di tempat berhenti, di mana tempat untuk camp, jam berapa harus turun, dll.

3. MEMANTAU CUACA

Jangan meremehkan cuaca. Pendakian akan menjadi sangat menyengsarakan bila cuaca tidak bersahabat. Untuk itu, terus ikuti perkembangan cuaca. Juga agar lebih siap, sebaiknya peralatan pendakian memenuhi standar keamanan. Atau, pilih musim-musim yang sekiranya aman dan bersahabat untuk melakukan pendakian. Pemilihan gear yang tepat juga penting di sini untuk berjaga-jaga pada kondisi cuaca yang tidak terprediksi. Seperti selalu membawa jas hujan, memilih jaket yang tahan air, memilih pakaian yang cepat keringdll.

4. PERSIAPAN FISIK DAN MENTAL

Mempersiapkan fisik dan mental juga perlu. Melatih fisik sebelum pendakian sangat dianjurkan. Jangan sampai fisik tidak bugar pada saat pendakian yang mengakibatkan drop saat melakukan pendakian. Latihlah otot-otot perut, lengan, betis dan paha, dan kekuatan napas. Itu akan sangat membantu ketika melakukan pendakian.

Mental pun perlu disiapkan. Perkirakan hal-hal terpahit yang sangat mungkin akan dialami. Sehingga kita waspada, mempunyai rencana antisipasi, dan siap ketika hal tersebut terjadi. Misalnya, saat terjebak dalam cuaca buruk.

5. CHECK LIST PERALATAN, DAN PERBEKALAN

Peralatan dan perbekalan sangat menentukan keberhasilan dan keamanan suatu pendakian bila semuanya memenuhi standar keamanan. Untuk itu, buatlah checklist yang berisi kelengkapan dari peralatan dan perbekalan. Selalu lakukan re-check sebelum melakukan pendakian.

A. PERALATAN
     — PERALATAN TIM

  • Tenda
  • Peralatan memasak + bahan bakar
  • Matras
  • Kantong air

            PERALATAN PRIBADI

  • Ransel (Carrier atau Daypack)
  • Pakaian (untuk mendaki dan untuk berganti) dan Jaket gunung
  • Sepatu trek + kaos kaki (plus kaos kaki cadangan)
  • Sleeping bag
  • Kupluk
  • Ponsel
  • Alat navigasi (Peta, Kompas, Busur derajat, GPS, dll)
  • Peluit (untuk memberi tanda jika terjadi hal darurat)
  • Alat survival (Cermin, bisa untuk memantulkan cahaya matahari jika sedang dalam kondisi darurat; Stick light; P3K; Pisau, dll)
  • Korek api
  • Senter/head lamp
  • Jas hujan
  • Tissue kering dan tissue basah
  • Plastik sampah (trash bag)

PENTING!

  • Jangan menggunakan pakaian berbahan jeans. Karena selain berpori lebar, apabila basah, akan menjadi sangat berat.
  • Gunakan jaket yang bahannya dapat menahan hawa dingin, angin, dan air.
  • Gunakan sepatu yang memenuhi standar keamanan. Usahakan yang ringan, namun kuat, dan bersol anti-slip.
  • Pilihlah ransel yang kuat dan bagus, dan lebih baik lagi jika sesuai torso. Agar nyaman saat membawa peralatan dan perbekalan.

B. PERBEKALAN/LOGISTIK (MENCAKUP OBAT-OBATAN)
PERBEKALAN TIM

  • Beras
  • Air
  • Makanan kaleng
  • Makanan instant olahan
  • Minuman instant
  • Buah

PERBEKALAN PRIBADI

  • Snack
  • Makanan siap makan
  • Coklat
  • Obat-obatan,  P3K, dll

PENTING!

Logistik seharusnya dapat mencukupi kalori yang dibutuhkan tubuh saat mendaki. Basal Metabolic Rate (BMR) atau Laju Metabolisme Basal (LMB) adalah energi minimal yang diperlukan tubuh dalam keadaan istirahat sempurna baik fisik maupun mental, berbaring tetapi tidak tidur dalam suhu ruangan 25 derajat C (Darwin, 1988:7).

Secara praktis besarnya BMR seseorang dapat dihitung dengan mengalikan berat badan dengan 24 kalori (berat badan x 24 kalori). Misalnya berat badan seseorang 60 kg kebutuhan BMRnya adalah 1440 kalori, sedangkan jumlah kebutuhan kalori per hari dapat ditentukan berdasarkan kelipatan BMR sebagai berikut:

Jumlah Kebutuhan Kalori per Hari

Untuk aktifitas di alam terbuka jumlah kalori yang diperlukan seseorang berkisar 2500 s/d 3500 kalori per hari. Kebutuhan akan kalori pendaki laki-laki dan wanita berbeda, karena pada wanita jaringan lemak bawah kulitnya lebih tebal, sehingga pengeluaran kalori tubuh lebih kecil.

Pilih bahan makanan yang mencukupi nutrisi tubuh juga, seperti karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Pilih bahan makanan yang tahan lama, dan mudah diolah, juga usahakan ringan.

Untuk obat-obatan, mempersiapkan oksigen dan alumunium foil sangat disarankan. Mengingat udara semakin mendekati atmosfir semakin menipis, dan tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi sesak napas kekurangan oksigen, lalu pingsan. Sementara alumunium foil disiapkan untuk berjaga-jaga apabila ada yang terkena hipothermia.

B. Packing

Setelah semua peralatan dan perbekalan siap dan sudah di-checklist, saatnya packing. Apabila pendakian dilakukan sendirian, hendaknya cukup membawa barang-barang dan perlengkapan yang praktis dan efisien, juga jangan terlalu berat. Namun apabila pendakian dilakukan bersama tim, bagilah barang bawaan sesuai dengan kategori. Misalnya, satu ransel berisi tenda dan sleeping bag, satu ransel berisi logistik dan alat masak, dan yang lain berisi pakaian. Namun tetap menyisipkan raincoat dalam setiap tas, agar si pembawa dapat langsung mengenakannya saat cuaca mendadak hujan. Jangan lupa untuk menyisipkan logistik pribadi untuk berjaga-jaga jika terpisah dari tim.

Usahakan packing tidak melebihi ⅓ berat badan pembawa. Jadi pembagian juga harus merata dan disesuaikan dengan kondisi fisik si pembawa. Perkirakan juga berat ransel yang akan bertambah apabila terkena hujan (basah).

Lapisi bagian dalam ransel dengan trash bag agar air tidak tembus ke dalam dan membasahi bawaan. Isi ransel dengan efisien dan berat yang merata agar nyaman ketika dibawa. Letakkan barang-barang yang penting, seperti raincoat, senter/headlamp, atau P3K, di tempat yang mudah dijangkau. Pastikan si pembawa nyaman dengan beratnya beban dan posisi ransel saat dibawa, untuk menghindari fisik yang drop.

C. Memberitahukan rencana perjalanan

Sebelum mendaki, baiknya izin keluarga dan orang-orang terdekat terlebih dahulu. Beritahukan rencana perjalanan, dari mulai waktu pendakian, jalur yang akan diambil, sampai perkiraan waktu kembali, agar mudah dilacak. Usahakan apabila memungkinkan untuk terus menjalin komunikasi mengenai titik terakhir keberadaan saat pendakian nanti.

SAAT PENDAKIAN

Saat melakukan pendakian, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Melakukan brief sebelum memasuki jalur pendakian sangat diperlukan. Brief ini bertujuan memberitahukan rencana-rencana saat melakukan pendakian. Seperti waktu berhenti, teknik pendakian, rencana sampai puncak, checkpoint, dsb. Briefing juga bertujuan untuk mengingatkan para peserta mengenai hal-hal yang berkaitan dengan apa yang harus dan apa yang jangan dilakukan baik saat pendakian maupun saat camp.

1. Penentuan formasi

Dalam pendakian tim, positioning dan penentuan formasi, sangat penting. Secara garis besar, ada 3 pembagian tim. Yaitu pemimpin pendakian (leader), anggota, dan sweeper. Pemimpin pendakian dan sweeper biasanya adalah orang yang memahami jalur atau medan, atau lebih berpengalaman dalam melakukan pendakian. Pemimpin pendakian bertugas menentukan arah dan jalur yang dipilih. Sweeper bertugas berjaga-jaga dan “menyapu” jalur apabila ada anggota yang tertinggal. Sementara yang lain diletakkan di tengah agar tetap terkontrol.

Dalam melakukan pendakian tim, jaga posisi dan interval antar tiap personel. Jangan terlalu jauh. Ingat juga siapa yang ada di depan dan ada di belakang masing-masing personel.

2. Teknik pendakian

Dalam melakukan pendakian, carilah jalur yang aman dan tidak merugikan. Mengikuti jalur yang resmi (yang diperbolehkan oleh pengelola) sangat disarankan. PIlihlah pijakan yang lebih rendah, agar kerja otot paha dan betis tidak terlalu berat. Usahakan kedua tangan kosong, agar dapat mencengkram dan berpegangan pada akar-akar, pohon-pohon, atau batuan. Pastikan dulu yang dipijak dan yang dipegang cukup kokoh agar tidak tergelincir.

Jagalah interval antara satu anggota dengan anggota yang lain. Apabila terlalu jauh tertinggal, bisa mengingatkan anggota yang ada di depan untuk mengatur jarak, atau mengatur tempo langkah. Yang berada di depan juga seharusnya sering mengecek anggota yang ada di belakang. Begitu juga sebaliknya. Yang dibelakang harus tetap mengawasi yang berada di depan.

Jaga napas. Jangan terburu-buru. Atur napas sedemikian rupa, agar pasokan oksigen yang dihirup mencukupi kebutuhan tubuh. Apabila kondisi lelah, atau sesuatu terjadi pada tubuh, jangan malu dan ragu untuk melaporkannya terhadap anggota lain. Mintalah break atau istirahat. Jangan ragu meminta tolong apabla membutuhkan pertolongan. Misalnya, saat kaki kram atau terkilir, dll.

Apabila kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, jangan dipaksakan. Berhentilah di tempat yang memungkinkan untuk beristirahat. Karena hal terpenting dalam sebuah pendakian adalah keselamatan. Bukan mencapai puncak.

SAAT CAMP

Pilihlah tempat yang dekat dengan sumber air. Jangan mendirikan tenda di lembah atau cekungan. Karena justru udara lebih dingin dan angin itu selalu berhembus ke tempat yang tekanan udaranya rendah. Mendirikan tenda diantara pepohonan sangat baik. Karena pepohonan dapat menahan angin.

Sebelum mendirikan tenda, bersihkan dulu tempat yang akan didirikan tenda dari batu-batu dan akar-akar. Selain agar tidur menjadi nyaman, hal tersebut juga menjaga agar tenda tidak sobek terkena gesekan batu atau akar. Lapisi dengan trash bag atau rumput terlebih dahulu dulu, agar bagian bawah tenda tidak lembab. Setelah itu, baru dirikan tenda.

Perapian atau dapur sebaiknya dibuat di tempat yang menyentuh tanah langsung. Untuk itu, bersihkan alang-alang atau pepohonan disekitar tempat yang akan dijadikan dapur. Tujuannya agar mencegah terjadinya kebakaran. Kumpulkan sampah pada satu titik, agar nantinya mudah membersihkannya.

SETELAH PENDAKIAN

Sebelum bersiap turun, pastikan barang bawaan telah terpacking dengan baik. Lakukan checklist ulang. Jangan lupa untuk membawa sampah turun. Leave no trace. Jangan meninggalkan sampah di gunung. Berhati-hatilah saat turun. Jangan terburu-buru. Tetap ingat kaidah-kaidah yang dilaksanakan saat pendakian.


DO AND DONT’S

Apabila tersesat atau terpisah dari tim:

LAKUKAN STOP:

S = STOP/Sit!

Berhentilah terlebih dahulu. Duduk sejenak dan tenangkan hati dan pikiran.

T = Think!

Berpikir sejenak. Coba ingat jalur pendakian. Bila tidak bisa mengingat, mulailah berpikir untuk membuka peta, melihat kompas, atau untuk memberi tanda posisi keberadaan dengan light stick, atau menggerak-gerakkan cermin

O = Observe!

Perhatikan keadaan sekeliling. Apakah jalur tersebut terdapat jejak kaki? Apakah masih baru atau tidak? Apakah ada tanda-tanda jalur tersebut dilewati? Dan sebagai persiapan, mulailah mencari-cari alat yang dapat digunakan untuk survival.

P = Plan!

Susun rencana untuk melakukan survival. Susun rencana survival dengan matang. Tentunya dengan melihat kondisi fisik, persediaan logistik, obat-obatan, oksigen, dan air, juga ketersediaan alat-alat survival.

JANGAN:

  • Panik, karena panik hanya akan menyulitkan proses SAR dan sangat mungkin membuat semakin jauh tersesat. Panik juga akan membuat tidak jernih dalam berpikir dan mengambil keputusan.
  • Memisahkan diri dari sisa personel.

Apabila ada yang sakit

LAKUKAN:

  • Istirahat dan berhenti.
  • Tangani personel yang terkena gejala penyakit tertentu dengan benar. Jangan sampai salah penanganan.

JANGAN:


Disusun dan dirangkum dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan.

Informasi lain seputar pendakian:

Advertisements

6 Comments

  1. Pingback: Meski Sedang Berpuasa, 8 Tips Ini Bisa Membuat Aktivitasmu Mendaki Gunung Jalan Terus – BOBOTOH PENGGIAT ALAM

  2. Pingback: Nomor Telepon Basecamp Gunung-gunung di Indonesia | kolom sunyi kontemplasi

  3. Pingback: Penyakit-penyakit Gunung dan Cara Penanganannya | kolom sunyi kontemplasi

  4. Pingback: 11 Teknik Bertahan Hidup di Alam Liar | kolom sunyi kontemplasi

  5. Pingback: ViewRanger – Pemandu Arah dalam Menjelajah | kolom sunyi kontemplasi

  6. Pingback: Shalat Saat Travelling atau Mountaineering | kolom sunyi kontemplasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s