Jurnal Pendakian: Cikuray, Garut. 28-29 Desember 2013. The first and the last summit on this mount.

22 Desember 2013
Base Camp Pelangi Eco Travelling
Utan Kayu
___

Sore hari, di basecamp kami sudah hadir 7 orang. Hari itu kami sedang mengadakan briefing pendakian yang akan kami laksanakan menjelang akhir tahun. Pendakian ke Gunung Cikuray (2.818 MDPL). Kami membicarakan tentang kesiapan fisik dan mental, juga peralatan dan perlengkapan. Serta teknis standar pendakian. Apalagi saat itu ada seorang pemula yang ingin ikut pendakian. Inel namanya. Ini kali pertama ia melakukan pendakian. Maka kami benar-benar mempertanyakan mengenai kesiapan mentalnya. Mengingat mendaki gunung bukanlah hal yang sepele. Jumlah yang akan ikut pendakian adalah 22 orang. Dibagi 5 tim kecil. Inel masuk tim saya. Hari itu, kami juga sekaligus melakukan checklist alat-alat. Mulai dari alat-alat pribadi, sampai kelompok.

27 Desember 2013
___

Ini adalah hari keberangkatan. Tim saya berkumpul di basecamp, sementara tim yang lain akan bertemu di Kampung Rambutan, kecuali yang berangkat dari Bekasi. Mereka memilih bertemu di terminal Garut. Sebelum berangkat, kami melakukan re-check peralatan dan perlengkapan. Peralatan dan perlengkapan kami cukup savety tanpa kurang satu apapun. Setelah melakukan re-check, berangkatlah kami menuju terminal Kamung Rambutan untuk berkumpul dengan tim yang lain. Kami berangkat dari sana sekitar pukul 23.00 WIB.

28 Desember 2013
___

Kami sampai di terminal Garut pukul 03.00 WIB. Kemudian beristirahat sebentar. Beberapa tim melakukan re-packing, sementara yang lain ada yang berbelanja logistik. Setelah packing logistik dan re-check, sekitar pukul 05.30, kami berangkat menuju Pemancar. Yaitu titik awal pendakian kami. Kami men-carter angkot menuju kesana.

Perjalanan dari terminal menuju Pemancar memakan waktu sekitar 60-90 menit. Mengingat setelah melalui jalan utama, angkot masuk menuju jalan yang lumayan parah. Jadinya, angkot harus berjalan perlahan-lahan kalau tidak mau terbalik. Kami harus melewati areal perkebunan teh dengan jalan kecil dan mendaki.

Jalur menuju pemancar

Sekitar pukul 07.00 WIB, kami sampai di Pemancar. Sebagian ada yang menyiapkan air, karena sepanjang jalur pendakian, hampir tidak ditemui sumber air (sumber air terakhir ada di sebelum POS 2). Ada yang sarapan terlebih dulu. Sebelum mulai mendaki, saya sempatkan mengecek satu persatu para pendaki pemula mengenai keamanan dan kenyamanan barang bawaannya. Mengingat jalur pendakian nanti cukup ekstrim, maka setiap pendaki harus dalam kondisi aman dan nyaman saat membawa barang bawaan. Setelah semua siap, kami memulai pendakian pada pukul 08.00 WIB.

View dari pemancar

Kami melakukan briefing kembali di tanah lapang setelah melalui areal perkebunan teh. Para penanggung jawab tim mulai memperkenalkan anggota yang mereka bawa, juga sekaligus memberitahu teknis-teknis lapangan, seperti: menjaga sikap, teknis pendakian berkelompok, jarak dan interval, dan hal-hal lain yang kami anggap merupakan standar keamanan dalam pendakian berkelompok.

Kami mulai mendaki, saya berada di posisi sweeper bersama 3 orang yang lain. Sementara tim yang saya bawa, saya gabungkan dengan para pendaki perdana yang lain. Setelah melewati areal perkebunan, kami mulai memasuki hutan. Seperti info yang saya dapatkan, hutan di Gunung Cikuray, agak “berbeda” dengan hutan di gunung lain. Jalur yang kami lewati mulai kelihatan sangar. Setelah beberapa lama berjalan, kami break sejenak di POS 1. Tidak lama kami berhenti disana, kemudian langsung melanjutkan perjalanan.

Beristirahat di POS 1
 
 
Berfoto di POS 1 sebelum melanjutkan perjalanan
 
Medan jalur pendakian Gunung Cikuray agak mirip dengan jalur pendakian Gede-Pangrango via jalur putri. Hutan dengan tingkat kemiringan lumayan, akar-akaran yang tersembul dari permukaan tanah, namun dengan kontur permukaan tanah merah (bukan berpasir/berbatu). Itu yang menyebabkan kami berjalan sangat berhati-hati. Perjalanan terasa sangat lama, karena jarak antar POS lumayan jauh. Menjelang dzuhur, kami memutuskan untuk break. Sudah kebiasaan bagi kami berhenti disaat kira-kira adzan berkumandang. Kami juga menyempatkan untuk makan siang, dan kembali mengisi persediaan air. Mengingat jalur yang ditempuh semakin ekstrim dan tidak akan ditemui sumber air selepas tempat kami berhenti (antara POS 1 dan POS 2).
Makan siang di antara POS 1 dan POS 2
Setelah semuanya siap, akhirnya kami memulai kembali perjalanan. Kali ini saya mendapat giliran membawa dirigen air. Itu yang membuat saya agak tertinggal sangat jauh dibelakang. Akhirnya, saya dan empat teman yang lain (sweeper), memutuskan untuk meninggalkan dirigen air di semak-semak antara POS 2 dan POS 3. Kemudian melanjutkan perjalanandengan santai. Iya. Santai. Tidak terburu-buru. Menyempatkan tidur siang, berhenti semaunya, berjalan se-mood nya. :))))
Tak terasa, hari semakin sore. Saat itu sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu kami berpikir tim yang lain sudah melewati POS 6. Sementara kami baru saja beranjak dari POS 4 menuju POS 5. Hutan pun semakin gelap. Kami mulai menyiapkan senter dan headlamp agar bisa langsung digunakan pada saatnya harus digunakan.
Suasana hutan di sore hari.
 
Selepas maghrib, akhirnya kami bertemu dengan rombongan. Kami tidak menyangka bahwa mereka juga masih berada di POS 5. Kami bergabung kembali. Setelah break sebentar untuk mempersiapkan senter dan mengisi perut dengan camilan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini saya yang berada paling depan memimpin rombongan. Tampaknya kondisi fisik para anggota perdana sudah banyak yang mulai drop. Terbaca dari raut wajah kelelahan mereka dan frekwensi break. Saya khawatir mental mereka juga mulai drop. Untuk itu saya berjalan dengan tempo yang terjaga. Agar rombongan tidak tertinggal. Mengingat medan pendakian semakin ekstrim dan cahaya yang terbatas.
Sesekali saya melihat kebelakang, memastikan rombongan tidak tertinggal, dan memperhatikan interval antar personel. Perasaan saya mulai tidak enak. Suasana makin mencekam. Serasa ada banyak mata yang mengawasi di kiri-kanan-depan-belakang-atas kami. Hal serupa juga dirasakan sweeper yang berada paling belakang rombongan. Dia merasakan ada yang mengikuti. Namun ketika menoleh kebelakang, tidak ada orang sama sekali.
Hingga, pada suatu kesempatan, saat rombongan meminta break, saya dipanggil teman saya, Meyzar, untuk turun ke bawah.
“DJIIIII…. KEMARI DJIIII… TURUN KEBAWAH!!!”
“GUE JAUH, ZAAAAR…!!!” dengan malas saya membalas teriakan.
“URGENT! ADA YANG KENA!!! BURUAN!!!”
DHEG!!! Perasaan tidak enak yang saya simpan sedari tadi akhirnya terjawab. Saya langsung bangkit, melempar backpack, lalu berlari setengah melompat menuju arah panggilan. Setelah bertemu si pemanggil, saya kemudian diberikan alumunium foil, serta jaket. “HYPO!!!” pekik saya dalam hati. Kemudian saya bergegas turun menuju personel yang drop.
Personel yang lain pun segera bergerak cepat. Ada yang membongkar carrier, menyiapkan peralatan memasak, kemudian memasak air panas untuk menghangatkan badan personel yang drop. Ada juga yang membantu saya menangani personel yang drop. Personel yang drop saya bungkus alumunium foil, lalu saya lucuti satu persatu pakaiannya, dari mulai sepatu, kaos kaki, celana, lalu menggantinya dengan yang baru. Ada yang menempelkan botol air berisi air panas ke perut korban, sementara yang lain sambil memeluk juga tetap menjaga kesadaran korban. Mengajaknya bicara agar tidak hilang kesadaran. Karena kami pikir dia terkena Hypothermia.
Sekujur tubuhnya dingin. Berbagai macam pikiran buruk mlang melintang melintasi pikiran saya. Jangan sampai saya turun membawa mayat. Namun, entah karena insting atau kebiasaan, saya mencoba mengecek denyut nadi. LHO, KOK!? Denyut nadinya keras. Dan dia menangis. saya mulai curiga. Apalagi dia selalu melihat ke satu titik. Tepat di semak-semak sebelah kiri saya. Jangan-jangan…….!!!!
Benar saja. Ketika menengok, ada sosok wajah marah seorang perempuan dari balik semak-semak. Saya langsung diingatkan oleh teman saya agar tidak melihat. Beberapa anggota tim yang menyadari hal serupa, terus menjaga kesadarannya agar ia tidak “dimasuki” oleh makhluk-makhluk penunggu gunung, sambil terus membaca do’a, memohon perlindungan kepada Tuhan. Akhirnya korban terselamatkan.
Namun, jangan kira semua sudah berakhir. Kami mencoba melanjutkan perjalanan. Menyusul sisa tim yang jalan terlebih dahulu untuk menyiapkan tenda. Saya kembali memimpin sisa rombongan. Namun, si korban tidak mau melanjutkan perjalanan. Dia bilang, “perempuan” tadi masih menunggu di depan, menghadang. Mau membawa si korban ke alamnya. Saya arahkan headlamp ke depan. Benar saja. Sosok itu masih menunggu, duduk manis diatas batang pohon.
Entah ide siapa, seperti ada yang menyarankan saya untuk “ber-tatakrama” meminta izin kepada para penunggu gunung, lalu menghaturkan hormat, sambil berujar dalam hati, “Salamku kepada penguasa Cikuray, mohon izin untuk memasuki hutan ini, melakukan perjalanan, bermalam, dengan penuh keselamatan tanpa kurang apapun ketika kembali. Semoga rahmat, keselamatan dan keberkahan tercurah untuk seluruh makhluk yang ada di gunung ini.” Ajaibnya, seketika sosok yang tadi menghadang, hilang begitu saja. Dan personel kami yang drop akhirnya mau melanjutkan perjalanan, meski masih sedikit ketakutan karena kejadian barusan.
Kami akhirnya sampai juga di POS bayangan (POS 7) sekitar pukul 23.30 WIB. Beberapa teman sudah mendirikan tenda-tenda. Kemudian yang drop langsung di evakuasi kedalam tenda. Sisanya, langsung mempersiapkan tenda kelompoknya masing-masing, kemudian segera tidur. Saya yang masih sedikit ngeri karena kejadian tadi, apalagi ketika buang air kecil sempat ditertawai perempuan tanpa sosok, memilih untuk langsung tidur. Saya tertidur sangat pulas sampai shubuh menjelang summit.
 
Mempersiapkan tenda, tengah malam. :-s
Saya tidur? Seingat saya, iya. Namun tidak bagi teman-teman yang satu tenda dengan saya. Menurut mereka, saya tidak tidur semalaman. Saya terus menerus berbicara sendirian dengan mata yang masih melek dengan segarnya. Seolah-olah saya berbicara dengan seseorang tanpa sosok. Terlebih lagi saya kerap kali meminta dan bahkan melakukan hal yang aneh-aneh. Seperti minta coklat dan jahe, marah-marah ketika teman-teman saya mencoba menyadarkan saya, minta tolong digaruki punggung saya (yang jelas ini bukan kebiasaan saya). Memang, seingat saya, ketika masuk tenda dan tidur, saya seperti didatangi perempuan cantik yang membawa saya ke istana tipikal hindu, yang dibangun dengan bata merah. Megah betul. Didalamnya saya dijamu, dan diajak berbincang-bincang. Perempuan itu sempat protes pada perilaku teman saya yang katanya sempat menyinggung penghuni sana. Seolah meledek keberadaan mereka. Ketika terbangun, seingat saya, saya terbangun dengan posisi sila, dan langsung membangunkan yang masih tidur agar siap-siap untuk summit. Wallahu’alam.

29 Desember 2013
___

Shubuh hari telah tiba. Setelah kami bangun, kami mulai memasak minuman hangat dan sedikit makanan untuk menghangatkan badan, kemudian bersiap-siap untuk summit. Kami berangkat summit sekitar pukul 05.00 WIB. Sampai di puncak, penderitaan kami kemarin serasa terbayar dengan pemandangan yang membentang luas dihadapan kami. Kami dapat melihat lanskap yang amat luas. Di timur laut, kami dapat melihat Gunung Ciremai. Di utara, kami dapat melihat Gunung Guntur. Di barat laut, kami dapat melihat Gunung Tangkuban Perahu dan Kota Bandung. Di barat, kami dapat melihat Gunung Papandayan. Di barat daya, kami dapat melihat Pelabuhan Ratu. Di selatan sampai ke tenggara, terhampar garis pantai selatan. Di timur, terlihat Gunung Slamet. Dan Matahari masih malu-malu tersembul ujungnya di arah tenggara. Maha Besar Tuhan.
Ketika Summit
Menunggu sunrise
Gunung Selamet dan sunrise
Garis pantai selatan
Gunung Guntur
Pantai selatan
Gunung Ciremai dan Gunung Talaga Batur
Background-nya bagus. Foreground-nya merusak pemandangan. :-p
Foto bersama sebelum turun summit
Setelah menikmati sunrise, kami kembali ke camp. Kemudian memasak dan rapih-rapih. Setelah makan bersama, kami segera turun untuk akhirnya pulang ke Jakarta.
Makan bersama

Sementara itu di tempat lain
___

@biolahitam, salah seorang sahabat saya yang memounyai ikatan batin yang kuat, tidak dapat mendeteksi keberadaan saya. Saya dikira sudah meninggal. Pacar saya, terus menerus menangis karena berfirasat terjadi hal buruk pada saya. Kakak saya yang batal ikut pendakian, juga mengalami firasat buruk. Begitu juga orang tua salah seorang teman saya, Meyzar.

Pasca pendakian
___

Tumben sekali @SoundOfYogi menanyakan kabar saya. Sebelum akhirnya mengutarakan bahwa saya ada yang mengikuti. @citraprima, menyampaikan pendapatnya, bahwa “penghuni” Cikuray postur tubuhnya lebih besar dari “penghuni” gunung-gunung lain. Guru ngaji kakak saya bilang, ini adalah pendakian terakhir tim kami kesana. Bila ada yang nekad kesana lagi, siap-siap akan menjadi korban hilang. Saya? Merasa ngeri sendiri dan garuk-garuk kepala.

INFO PENDAKIAN CIKURAY VIA JALUR PAMANCAR
___

Berangkat dari terminal Kp. Rambutan naik bis jurusan Kp. Rambutan – Garut (AC) : Rp. 42.000
Dari terminal Garut ke Pamancar, carter angkot : Rp. 40.000/orang (tim kami 22 orang)

Namun disarankan lebih baik men-carter mobil bak. Selain daya tampung besar, juga lebih kuat mendaki jalur yang terjal.

Retribusi masuk : Rp. 4000 (lupa euy)
Retribusi pendakian : Se-ikhlash-nya. (kemarin kami memberikan biaya per orang Rp. 10.000 untuk pembangunan fasilitas bagi para pendaki)

MANUAL BOOK MANAJEMEN PENDAKIAN
___

Silakan unduh di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s