Jangan Pipis Sembarangan.

Ini adalah sequel dari tulisan “Cerita Tentang Selembar Sepuluhribuan yang bercerita dari sudut pandang si sepuluhribuan. Ingat. Ini cuma cerita fiksi, ndak penting. Jangan serius-serius, lah.

“Hal-hal sederhana, bukan tak mungkin menimbulkan kejadian luar biasa nantinya. Termasuk perkara pipis sembarangan.”

Ini adalah pesan ku kepada kalian. Jangan pipis sembarangan. Ya di sembarang waktu, apalagi  di sembarang tempat. Dan, nggggg…. sembarang orang.

Sebelum pipis sembarangan, aku adalah salah seorang penjahat yang ditakuti oleh bangsa WORDM pada masanya. Ribuan tahun silam. Eh, wait. Aku bukan orang, sih. Aku ulat. Ulat ber-intelejensi-tinggi-nan-kejam-jua dari bangsa NUMBER. Bangsa kami menjajah bangsa WORDM sekian lama. Beberapa kali bangsa WORDM pun melakukan perlawanan yang…yeah…kecil bagi kami. Cuma saja, pada suatu kesempatan, dalam suatu peperangan, saat aku memimpin peperangan menghadapi bangsa WORDM, terjadilah hal yang tidak akan aku lupakan sampai sekarang.

Matahari masih terlalu muda untuk bersinar pagi itu. Di satu sisi planet NEBTANAS, di konstelasi 512, galaksi MELAN, bangsa kami sedang bermain-main dengan serangan fajar bangsa WORDM. Peperangan baru berlangsung 20 menit setelah kemudian aku merasakan kebelet pipis. Sayangnya, teko tempur yang aku kendarai tidak tersedia kamar mandi. Dan di arena peperangan, tidak terdapat WC Umum. Akhrnya, terpaksa aku daratkan teko tempur di dekat satu pohon. Dengan tergesa-gesa, aku pipis di balik pohon. Aku tidak menyadari ada bahaya yang mengancam.

Aku masih ingat rasanya ketika baru saja pipis di detik ke 2,3 dan sedang nanggung-nanggung nya, kemudian tersambar sinar penghancur dari teko tempur bangsa WORDM. Jasadku hancur seketika. Nyebelin banget. Itu masih nanggung banget. Pipis belum selesai sudah main tembak saja. Dan yang tidak kalah menyeramkan, aku masih ingat tampang malaikat maut yang misuh-misuh karena dikencingi saat sedang duduk di pohon tersebut menunggu mereka yang gugur untuk dibawa ke dimensi, atau sebuah universe bernama BARZAKH.

Itu sebabnya aku pesan kepada kalian, jangan pipis sembarangan. Ya di sembarang waktu, apalagi  di sembarang tempat. Dan, sembarang orang.

Tanpa ada basa-basi, aku langsung diseret menuju dimensi BARZAKH. Dimensi dimana setiap yang masuk, tak dapat kembali. Baru sampai di pintu gerbang, aku sudah disetrum. Masih kesal rupanya malaikat maut tadi. Lalu aku diberi nomor antrian yang entah untuk apa, lalu dilemparkan kedalamnya. Disana menyeramkan. Ada banyak jiwa dari berbagai bangsa disana. Ada yang ketakutan, tapi banyak juga yang senyam-senyum macam ulat jatuh cinta. Aku dapat nomor antrian 18.265.324.978.126. GILA! Ini sedang antri apa sih sebenarnya? Karena tidak tahu-menahu, aku mulai cemas. Dan aku terus cemas dan semakin cemas selama menunggu.

Sampai akhirnya, nomorku dipanggil. Aku berhadapan dengan Tuhan. “OK, kamu ini ndak ada baik-baik nya sama sekali. Karena AKU Maha Pengasih, maka AKU tidak masukkan kamu ke neraka. Aku kasih kamu kesempatan lagi. Kesempatan sekaligus hukuman. AKU akan titiskan kamu kedalam bibit pohon. Kamu akan tumbuh, dan selama AKU memberi kesempatan, kamu harus menebus dosa-dosamu yang terdahulu.”

“Kenapa pohon?” kataku.

“Tadi malaikat maut lapor kepadaKU. Katanya kamu selama hidup sering menebang pohon di planet NEBTANAS. Dan terakhir kali, kamu mengencingi pohon juga, kan? Kamu harus merasakan hidup jadi pohon.”

Kemudian…..BUZZZZZZZ……semua gelap. Aku adalah bibit yang baru ditanam. Di hari-hari berikutnya, aku tumbuh menjadi pohon di planet bernama Bumi. Aku berusaha menaungi manusia, berbuah sering-sering, meski daun dan buahku dimakan oleh spesies nenek moyangku, ulat bumi. Tapi aku merasa beruntung, karena nenek moyang bangsa WORDM justru menyuburkan tanah. Ah, aku malu. Seandainya mereka tau kelakuanku dulu.

Aku juga sering dikencingi manusia dan jin. Sering dijadikan tempat manusia dan jin pacaran. Aku juga merasakan jatuh cinta. Indah rasanya ketika aku dan pohon yang tak jauh didekatku, saling menebar serbuk sari, berbuah, dan bijinya tumbuh menjadi anak-anak kami.

Disuatu hari, aku ditebang. Aku pikir inilah akhirku. Tapi aku merasa dosa-dosaku belum terbayar semua. Maka aku mohon kepada Tuhan. “Tuhan, jangan ambil aku sekarang. Beri aku kesempatan tambahan.” Dan kemudian semuanya gelap.

Ini semua tidak akan terjadi, kalau aku tidak pipis sembarangan. Itu sebabnya aku pesan kepada kalian, jangan pipis sembarangan. Ya di sembarang waktu, di sembarang tempat. Apalagi, di sembarang orang.

Aku tersadar saat aku merasakan hangat disekujur tubuhku. Bau tinta dimana-mana. Aku coba kumpulkan kesadaranku, lalu mulai mencari tau, apa yang terjadi sebenarnya. Rasa sedih menyelimutiku saat aku sadar, aku telah menjadi bentuk lain.

Dulunya aku adalah seorang ulat ningrat yang menjadi panglima perang. Kemudian aku menjadi pohon yang biasa saja. Sekarang aku adalah selembar uang kertas sepuluhribuan yang baru saja dicetak dari pabriknya. Dibuat dari kayu hasil penebangan jasadku yang sebelumnya. Tuhan hobi bercanda, rupanya.

Aku kemudian beredar dari tangan ke tangan. Dari tangan yang wangi, sampai tangan yang sangat bau. Tak jarang aku diremas. Sakit rasanya. Aku menyaksikan banyak kisah perjalanan hidup manusia. Dan karena saking seringnya, kehidupan mereka sudah tak menarik lagi bagiku.

Aku memang berguna dalam hidup manusia. Tapi, kalian tahu, kan? Menjadi uang itu tidak mudah. Dan bagian tersulitnya adalah bukan diremas dan dilecek manusia. Bagian tersulitnya adalah, ketika kamu harus berjuang seumur hidup melawan rasa bosan. Hidup sebagai uang itu sangat membosankan. Saking membosankannya, aku sering berdoa, agar kelak aku bisa berkomunikasi dengan manusia. Supaya kesalahan masa lalu ku (pipis sembarangan), tidak terulang lagi di kehidupan mereka.

Tuhan mendengarnya. Rupanya, terakhir kali berdo’a, aku sedang berada di dalam kotak amal jariyah masjid. Ya. Tak lama setelah itu, aku dibelanjakan ke toko material. Disana aku bertemu dengan kuli iseng yang baik hati. Aku suka dia. Dia seperti aku saat jadi pohon. Badannya tegap. Bahunya kokoh. Sekokoh hatinya menghadapi hidup. Aku hidup disisinya selama tiga hari. Dan disuatu malam yang iseng, dia menyuarakan suara hati ku. Dia menulis kalimat di badanku. Geli rasanya. Bunyinya: “Jangan pipis sembarangan.” Aku bahagia.

Esoknya, aku berpindah tangan, karena dia ingin merokok. Dia beli rokok di minimarket dekat tempat tinggalnya. Aku berpindah ke tangan seorang kasir cantik. Tapi hanya beberapa jam sebelum akhirnya aku berpindah ke tangan seorang supir TAXI. Itupun tidak lama. Aku berpindah tangan lagi keseorang wanita yang akhirnya aku cintai, sampai saat ini.

Malam itu, saat aku berpindah ke tangan wanita itu, aku tak sengaja terjatuh. Dia sedang tergesa-gesa rupanya. Aku sempat sedih sebentar. Namun seorang pemuda krempeng memungutku dan berusaha memberikanku ke wanita tadi. Ah, jodoh memang tidak kemana….! Dan disitulah cinta itu dimulai.

Aku mendengar teriakan dari wanita tadi. Aku tidak tau ada apa sebenarnya. Namun perasaanku mengatakan, ia dalam bahaya. Aku masih berada dalam genggaman pemuda tadi. Aku sangat berharap pemuda tadi menolong wanita itu. Namun, aku dilemparkannya. Wanita tadi ternyata memang sedang dalam bahaya. Ada tiga begundal yang sedang mengintimidasi wanita tersebut, dan pemuda yang memungutku. “Tolong kasihkan nanti.” katanya. Dan ia pergi begitu saja. BANGSAT. Aku marah. Tapi apadaya, aku cuma selembar sepuluhribuan tanpa daya apa-apa.

Hidup memang penuh kejutan. Tak lama setelah dia melangkah, dia justru berbalik, dan menyerang para begundal yang ingin membahayakan wanita tadi. Tidak butuh waktu lama untuk mengusir para begundal tersebut. Pemuda tadi hebat. Setelah aku dipungut, dan diberikan kepada wanita tadi, kami pulang bersama. Siapa yang sangka, cinta tumbuh dihati mereka berdua.

Aku akhirnya hidup dalam pigura. Tidak hidup nomaden berputar-putar lagi. Aku disandingkan dengan foto nya, dan foto pemuda tadi. Sedikit cemburu, sih. Rupanya aku jatuh cinta dengan wanita tadi, yang kemudian aku ketahui bernama, Alya. Kami hidup beberapa bulan. Cukup senang melihatnya dari atas sini. Meski kadang ada rasa cemburu juga saat melihat ia bercinta dengan pemuda tadi yang kini jadi pacarnya. Beruntung sekali ia.

Ya. Dia pemuda yang beruntung. Cuma sedikit bego. Dia terlalu acuh terhadap Alya. Bahkan disaat-saat terakhir hidup Alya, dia justru menghilang entah kemana. Laki-laki macam apa itu? Ya. Alya sudah meninggal. Aku mencuri dengar dari seorang temannya yang sedang mengepaki barang-barang Alya, tak lama setelah beberapa hari Alya dilarikan ke Rumah sakit. Ada rasa kehilangan. Namun biarlah. Setidaknya, disisa hidupku yang entah sampai kapan, aku tetap bersanding bahagia, dalam pigura, ………..meski hanya dengan fotonya.

_____
Dedicated to @dausgonia.
_____
Sebenernya masih panjang ceritanya. Tapi karena pegal, maka dicukupkan dulu. Saya ndak mau kalian beranggapan, uang tadi adalah uang yang bawel dan tukang curhat. Iyain aja lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s