Cerita Tentang Selembar Sepuluhribuan

Cinta terkadang datang dari benda-benda sederhana, yang kemudian memunculkan peristiwa-peristiwa luar biasa.

Ini adalah cerita sebelum, seorang perempuan, secara tak sengaja, menjatuhkan selembar uang Rp. 10.000 yang luput dari lubang kantong celana jeans-nya.

Aku adalah seorang datar. Baik dari postur tubuh, maupun emosi. Itu kata sahabatku. Ya. Aku terlampau datar. Macam-macam saja sangkaan orang terhadap pembawaanku. Dingin, angkuh, belagu, cuek, nggak punya perasaan……Macam-macam. Beberapa menyebutku robot, zombie, atau bahkan hantu. Bahkan hantu saja masih punya ekspresi.

Aku juga tidak mengerti. Padahal aku hanya menyederhanakan hidup yang tampak rumit. Aku tidak suka kerumitan. Apa salah menanggapi segala sesuatu itu dengan biasa saja? Sesederhana mengatakan, “Oh…” saat melihat atau menghadapi sesuatu. Sisanya, membiarkan alam semesta bekerja dengan caranya saja. Aku rasa, mereka hanya tidak mengerti, bahwa dengan tidak “kagetan”, segala sesuatu itu akan dengan mudah terkontrol. Dan itu yang selalu membuatku tenang dalam menghadapi apapun.

Apa salah, jika aku memilih hidup tanpa mimpi, tanpa passion, tanpa ambisi apa-apa. Yah. aku juga merasa cukup dengan segala yang kupunya. Tidak. Jangan berpikir aku punya segalanya. Aku itu laki-laki kere. Tampang pun jauh dari ganteng. Itu sebab aku tidak punya pacar. Tidak ada yang spesial dari ku. Tapi aku baik-baik saja. Tidak ada yang kutuju dalam hidupku. Hidup ya hidup saja. Saat ini. Sekarang. Bukan kemarin, atau nanti-nanti. dan aku bahagia-bahagia saja. Bagiku, tidak ada yang salah dengan semua ini, meski mereka menganggap ada yang salah dengan ku.

Setidaknya, sampai suatu waktu…

Malam itu sudah terlalu larut. Saat aku ketinggalan bis terakhir yang seharusnya membawa ku pulang setelah lembur berjam-jam. Tanpa mengeluh, ya sudah, aku putuskan untuk jalan kaki sejauh 5 km menuju kontrakan kecil di pinggiran Jakarta. Lelah, sih. Cuma, mau bagaimana lagi? Memang sudah waktunya, mungkin, aku harus membiasakan lagi kakiku berjalan. Supaya semakin sah fungsinya.

Sampai aku tiba di isuatu gang yang lumayan gelap. Seorang perempuan, cantik, turun dari TAXI dengan agak tergesa. Saking tergesanya, sampai-sampai ia khilaf menjatuhkan selembar sepuluhribuan yang tadinya ingin ia masukkan kedalam kantong jeans nya. TAXI sudah jalan.

Aku pungut sepuluhribuan itu dari muka aspal yang sedikit basah. Sementara, perempuan tadi sudah menghilang di balik tikungan. Untung saja almarhum Ayahku selalu mendidikku untuk menjadi orang yang jujur. Terbayang olehku, di surga ia sedang mengacung-acungkan rotan sambil menghardik, “Kembalikan uang itu kepemiliknya.”

Sedikit tergesa, aku susul langkah perempuan tadi, mengikutinya melewati tikungan di depan ku. “BANGSAT!!!” Aku sedikit terkejut, menyangka bahwa perempuan itu berteriak kepadaku. Namun ternyata, ada tiga begundal yang sedang berusaha -entah- merampok atau memperkosa perempuan tadi. Dengan tenang, kuhampiri mereka.

“MAU APA KAMU? JANGAN IKUT CAMPUR! INI BUKAN URUSANMU.” Ujar orang yang badannya penuh tatto. Mari kita namai dia “si tatto”.

“Mengembalikan uang nona ini.” Ujarku.

“JANGAN BANYAK ALASAN!” Ujar orang yang mukanya penuh jerawat. Mari kita namai dia “si bopeng”. Sementara, yang satu lagi, yang lebih besar namun tampak bodoh, mari kita sebut dia “si pandir” masih mendekap perempuan tadi dengan pisau menempel di leher, siap memutus tenggorokan perempuan itu.

Aku tetap maju dengan tenang. Tujuanku dari awal cuma mengembalikan uang. Tidak lebih. Tidak ada niat juga untuk jadi pahlawan. Ketiga orang itu makin panik. Aku lalu melempar sepuluhribuan itu kearah mereka. “Tolong kasihkan nanti.”

Lalu aku berbalik lagi. Sedikit lega, karena tidak ada bayangan Ayah yang mengacung-ngacungkan rotan sambil memasang muka horror-nya. Teriakan minta tolong perempuan tadi makin menjadi. Aku tidak peduli. Itu sudah nasibnya. Dia tinggal menerimanya saja. Sudah. Selesai.

Aku terus berjalan. Beberapa langkah, sampai akhirnya aku mendengar salah seorang dari bromocorah tadi berujar sambil tertawa, “Pengecut itu tidak akan menolong kamu, manis. Dia pengecut. Badannya yang kerempeng itu tidak akan sanggup juga melawan kami.”

“DHANGGGGG” Kulempar tas ku sembarangan, dan mengenai si tatto, sampai ia tersungkur menubruk tong sampah. “BAK – BUK – BAK – BUK – BAK – BUK” Tidak sampai lima menit, mereka lari tunggang langgang. Habis muka mereka dipukuli seorang pengecut kerempeng macam aku. Si tatto patah tangannya. Si bopeng remuk hidungnya. Si pandir, memegangi erat-erat selangkangannya. Sementara perempuan tadi masih terkesima.

Pengecut ini memang tidak peduli, tadinya. Tapi memang, sedari kecil, almarhum Ayahnya yang pelatih kung-fu, kerap mengatai si pengecut ini ketika menangis saat berlatih. Itu yang membuat aku naik darah. Tidak boleh ada yang memanggilku pengecut selain ayahku. Waktu itu, ayahku saja aku pukul…….karena aku kesal dikatai terus…………pada akhirnya.

“Terima kasih.” Aku tersadar dari situasi yang barusan sempat membeku. “Saya pikir kamu sama bajingannya dengan mereka.” Dia masih terisak. Aku tak tega, maka akhirnya aku bantu ia berdiri, dan mengantarnya pulang.

Aku tak pernah benar-benar sadar, bahwa hidupku telah berubah sepenuhnya. Setelah, seorang perempuan, secara tak sengaja, menjatuhkan selembar uang Rp. 10.000 yang luput dari lubang kantong celana jeans-nya.

Ini adalah cerita setelah, seorang perempuan, secara tak sengaja, menjatuhkan selembar uang Rp. 10.000 yang luput dari lubang kantong celana jeans-nya.

Namanya Alya. Cantik. Berkacamata. Masih mahasiswi. Ia naksir padaku semenjak kejadian malam itu. Beberapa bulan setelahnya, setelah dengan gigih dan sabar ia menemaniku, mengantarkan makanan pagi-pagi untuk bekal ke kontrakanku, menjengukku ketika sakit, dan berbagai hal yang selama ini aku anggap biasa saja, membuatku menerima cintanya.

Sementara, aku ya tetap aku. Dengan segala kedinginan-sikap-mental-dan-kecuekan-tak-berujung-batas. Ya mau bagaimana. Ini memang aku. Jadi siapapun yang dekat denganku harus menerima segala kekurangan, well, maksudku, kelebihan, ummmm, mungkin lebih tepatnya, keunikanku.

Aku tidak juga sadar, bahwa itu sebenarnya menyakitinya. Di satu titik jenuhnya, ia dengan kalap mendamprat ku dengan membabibuta. Menurutnya, aku tidak peka. Tidak perduli terhadapnya. Aku sih cuek-cuek saja. Bagaimanapun juga, sudah jadi hukum alam, laki-laki itu selalu salah dimata perempuan. Aku tidak ambil pusing. Kami bertengkar, dan dia pergi.

Dia tidak juga memberi kabar, setelah beberapa minggu semenjak pertengkaran kami. Ada perasaan aneh yang muncul. Ada yang kosong rasanya. Tidak lagi ada tupperware berisi bekal makanan dipagi hari. TIdak ada lagi SMS lucu kekanakan di jam makan siang. Tidak ada lagi telepon di penghujung malam yang ditingkahi tawa renyah dan riang. Aku mulai merasa kehilangan. Jadi seperti ini rasanya. Aku kesepian.

Aku mencoba meneleponnya. Tak aktif. Kucoba berkali-kali, tetap saja tak aktif. Aku lewati malam dengan penuh rasa penasaran. Tidak. Ini bukan rasa penasaran. Ini lebih kearah kekhawatiran.

Hari masih pagi saat aku menginjak halaman salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Hari itu aku tidak ke kantor. Aku berusaha mencari jawaban atas kekhawatiranku yang sudah melewati batas sangat mengganggu. Mataku liar mencari-cari. Aku mulai bertanya ke mahasiswa-mahasiswa yang ada. Kebanyakan mereka tidak mengenal Alya. Sampai akhirnya kutemukan seseorang, yang kebetulan adalah sahabat dekat Alya.

Dia awalnya marah kutanyai setelah tau siapa aku. Dia berpikir, akulah penyebabnya. Dia berpikir, seharusnya aku mendampinginya. Kemudian dia menangis. Dia menceritakan semuanya. Semua yang selama ini aku tidak tahu tentang Alya. Dan aku, untuk pertamakalinya setelah berbelas-belas tahun, menangis. Menyesal.

Alya adalah seseorang yang kurang lebih sama dengan ku. Menyimpan kepedihan luar biasa dari masa lalu. Ia yatim piatu. Terakhir kali diadopsi pamannya sampai pamannya mencoba memperkosanya. Ia kabur dari Bandung ke Jakarta. Bekerja paruh waktu untuk biaya kuliahnya. Supaya kelak saat dia lulus, ia bisa menjadi wanita yang layak dalam pertarungan hidup. Ia wanita yang tangguh.

Aku pikir ia adalah anak manja. Dengan segala keceriaannya, ia menutupi hal-hal terpahit dalam hidupnya. Berusaha memberikan kebahagiaan bagi orang-orang sekelilingnya, dengan senyum terbaiknya. Berusaha menutupi kesendiriannya dengan menjadi wanita paling baik bagi mereka yang mengenalnya. Kerap menjadi wadah curhat teman-temannya karena dipercaya selalu bisa memberikan solusi terbaik dari masalah teman-temannya. Dan dia berusaha menutupi sakitnya, dengan bertingkah ceria dihadapan siapapun yang ditemuinya. Ia benar-benar wanita yang tangguh.

Aku? Aku lemah. Mengalami hal-hal yang ia alami, namun tanpa aku sadari, aku larut didalamnya. Aku tidak setangguh dia. Dan itu sungguh menamparku telak. Ditambah lagi rasa kehilangan yang amat sangat, setelah mengetahui, baru tiga hari yang lalu ia meninggal karena tumor otak yang ia derita. Tidak ada yang tahu. Rupanya ia terlalu sering menyimpan kepedihannya sendirian, stres, lalu kemudian memperburuk penyakitnya. Aku menyesal. Namun menyesal tidak akan mengembalikan ia juga.

Akhirnya, aku mulai mengerti, apa itu jatuh cinta. Aku mulai mengerti, apa itu air mata. Aku mulai mengerti apa yang selama ini membuat hidup manusia semakin rumit, dan memang, sangat adiktif, namun penuh warna. Dia dan kebersamaan kami yang mengajarkanku menjadi manusia. Bukan zombie lagi, ataupun robot-robotan. Saat ini, aku jatuh cinta, seutuhnya, sebagai seorang manusia.

Ini terjadi setelah, seorang perempuan, pernah, secara tak sengaja, menjatuhkan selembar uang Rp. 10.000 yang luput dari lubang kantong celana jeans-nya, di suatu malam.

Aku pulang dengan langkah gontai. Pikiranku kemana-mana. Sampai akhirnya aku tersadar karena ada TAXI hampir menyerempet ku. TAXI tadi berhenti sekitar tiga meter didepanku. Dari balik pintunya yang terbuka, ada seorang perempuan, cantik, turun dari TAXI dengan agak tergesa. Saking tergesanya, sampai-sampai ia khilaf menjatuhkan selembar sepuluhribuan yang tadinya ingin ia masukkan kedalam kantong jeans-nya. TAXI sudah jalan. Kemudian bayangan ayahku kembali menyeringai galak diatas awan sambil membawa rotan.

….wanita itu, juga berkacamata.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s