Ketika Kata Saling Bercumbu Mesra (#PoetWar @dymsokei & @paramitadita)

Pada suatu malam yang iseng, ada dua anak manusia menebar bias-bias merah muda dari lentera-lentera kata yang mereka nyalakan di linimasa. Pada suatu malam yang iseng, kata-kata yang ditenun rapih, saling di-lontar-sambut-kan dengan penuh kemesraan. Mari tengok apa yang telah membuat linimasa pada malam itu jatuh cinta.

____

@paramitadita: Memita rindu, dirajut dari doa-doa, disimpulkannya jarak yang berderak, disematkannya pada bahu di akhir pertemuan.

@dymsokei: Selain sebagai simpul yang menghubungkan jarak, do’a juga bertindak sebagai selimut yang membuat rindu semakin lekat.

___

@paramitadita: Karena jatuh cinta yang padamu, doaku tak sesingkat biasa. Sekalipun kita satu yakin, dan kamu kata lain dari amin.

@dymsokei: Karena jatuh cinta padamu, do’aku menjadi sangat singkat. Bunyinya: “Bahagialah.”

@paramitadita: Karena jatuh cinta yang padamu, jantungku tak lagi mendetak sendiri pun juga dua-dua. Dia mendetakkan namamu di atas doa-doa.

@dymsokei: Karena jatuh cinta padamu, jantungku tak lagi memompa darah lambat-lambat, pun juga buru-buru. Ia memompa lafal asmamu dibuluh yang merindu.

@paramitadita: Karena jatuh cinta yang padamu ada bingar di dada sebelah kiri. Digambarnya dengan utuh, dicintainya dengan sepenuh.

@dymsokei: Karena jatuh cinta padamu ada bisik yang mengganggu di rongga kepala. Mendesis-desis lirih, mengabaikan pelbagai perih.

___

@paramitadita: Sisakan sedikit ruang kosong di hatimu. Itu tempat nantinya doa-doa baikku bersarang ketika sisa tempat lainnya dipenuhi olehnya.

@dymsokei: Tak perlu kau sisakan ruang-ruang kosong untuk do’a-do’a ku. Do’aku seperti hujan, tak peduli kemana jatuh, kau tetap terbasuh.

___

@paramitadita: Suatu hari yang nanti, panembrama rindumu kan kurumahkan dalam limar. Dan doamu yg berhasta kan kugantikan syikal. Aku tak ingin mereka dingin terbiar.

@dymsokei: Suatu hari yang kelak, kumara rindumu, kan kubiarkan tetap menyala membakar. Dan do’amu yang rahasia, kujadikan nyala, supaya ku musnah adanya.

@paramitadita: Suatu hari yang nanti,layang-layangmu tak lagi kubiarkan terbang, Tuan. Dia menetap di ujung pelangi yg kita pandangi di ceruk bernama peluk

@dymsokei: Suatu hari yg nanti, bayang-bayangmu tak lagi kubiarkan menepi, Puan. Selayak ia menggantung di raga yg ini, ku biarkan ia menetap di hati.

___

@paramitadita: Dalam diam kita setuju. Rindu yang malu-malu dan doa yang diam-diam juga indah.. 🙂

@dymsokei: Dalam pedih, kita malu-malu mengakui, rindu yang disimpan hati-hati dan do’a rahasia yang dikirim rapih-rapih, tetap menyisakan perih. 🙂

___

@paramitadita: Yang selalu berlebihan: cawan-cawan kepercayaan dan cara-caraku memujamu.

@dymsokei: Yang selalu berlebihan: pemusnahanku saat aku memujamu.

___

@paramitadita: Aku bagimu, (semoga bukan) bar abu-abu redup setelah birmu tandas.

@dymsokei: Aku bagimu, (semoga tetap) ranah abu-abu kelam, setelah matahari mengkhianati malam.

___

@paramitadita: Menunggu. Itu sebab kubaca lembar-lembar alasan. Ketika waktu terbunuh, kutau penantianku tak lebih cantik darinya.

@dymsokei: Menanti. Itu sebab kugambar kanvas-kanvas mimpi. Supaya ketika masa berganti, tintaku tetap abadi diatasnya.

___

@paramitadita: Hal baik yang kuingat: lutut kapalanmu sebab kamu pendoa, menyemai namaku di ladang banara. 🙂

@dymsokei: Hal baik yang kuingat: jejak langkahmu pada genangan air yang berdurasi 5 detik, lalu memendar menjadi do’a setelah kau hilang selamanya.

___

@paramitadita: Suatu hari, rindumu yang setiap hari kau suruh mendatangi tuannya itu rindu beristirahat juga.

@dymsokei: Suatu masa nanti, rindumu yang setiap hari rajin mengunjungi, mati karena terlalu lelah menanti.

___

@paramitadita: Saya mau liburan di punggungmu, lalu pulang dan menetap di dada sebelah kirimu.

@dymsokei: Punggungmu itu, arena sirkus. Pikiranku bergejolak, syahwat dan cinta bertarung pula mengadu pekat.

@paramitadita: Saya tidak tau ada berapa mata pisau di balik punggungmu ketika kamu mengatakan rindu. Dan ketika akhirnya kumeregang itu genap keseribu..

@dymsokei: Saya tidak tau ada berapa sembilu kau tancapkan di dadaku saat kamu menoreh rindu. Saya genapkan seribu, tambah satu, lalu mati di cintamu.

___

@paramitadita: Hatiku masih merindu dan seluruhnya untukmu.. Elegi menelan yang tak dikatakan, tapi kita diam-diam mendoakan..

@dymsokei: Hatiku masih menyendu karena mu.. Ego yang terus meninggi namun dirahasiakan, membunuh do’a-do’a kita, pelan-pelan.

___

@paramitadita: Pada dini hari di matamu yang sepi, seluruhku ingin orang itu sepenuhnya aku.

@dymsokei: Pada hulu pagi di senyummu yang dingin, seluruhku ingin menjadi hangat yang mengulum sepenuhmu.

___

@paramitadita: Saya menjadikanmu detak dan detik-detik.. Kamu menjadikanku derak dan titik letih..

@dymsokei: Saya menjadikanmu nadi dan nada-nada. Kamu menjadikanku noda dan notasi henti.

___

@paramitadita: Kita adalah pikiran-pikiran, ditimang angan, dihadapkan pilihan, dan memilih hilang lari tanpa saling menemukan.

@dymsokei: Kita adalah bayi-bayi impian, yang ditimang ketiadaan. Baru sempat direka-reka sebelum akhirnya memilih sebatangkara.

___

@paramitadita: Malam menyemai sepi dan di akhir musim, rindu-rindu ranum tertuai. Saya dibuatnya bingung harus menjual pada siapa.

@dymsokei: Malam memanen sendu di sudut dingin. Buahnya terlalu ranum untuk dijual. Kemudian akhirnya disantap sendiri setelah dituai.

___

@paramitadita: Beberapa rindu berangsur-angsur larut, bukan karena ada pertemuan, tapi karena tau mereka tak akan pernah ditemukan.

@dymsokei: Beberapa mimpi berangsur ciut. Bukan karena takut pada perwujudan, namun karena terlalu lama dibiarkan.

___

@paramitadita: Sebab rinduku air maka kubiarkan membanjir, lalu kubiarkan dia mengalir yang bermuarakan padamu peringaimu.

@dymsokei: Sebab rinduku batu, maka kubiarkan ia mengelu. Kemudian kubiarkan ia menancap kokoh menghujam jantungku.

@paramitadita: Rindu dan doaku yang mana lagi yang tidak kualamatkan padamu.

@dymsokei: Rindu dan do’aku yang manalagi yang masih terlihat matamu?

___

Linimasa, Selasa, 17 Desember 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s