Bantuan Berupa Penundaan

Tak terhitung banyaknya hamba yang taat,
menjerit dalam do’a,
sehingga kabut ketulusan membubung ke langit.

Dan dari rintihan penyesalan dosa,
naik wewangian melampaui atap langit.

Sehingga para malaikat yang patuh memohon
kepada Rabb, seraya berkata,
“Wahai Engkau yang menjawab semua do’a
wahai Engkau yang perlindungannya didambakan,

Seorang hamba-Mu yang taat tengah memohon
dengan berendah hati,
tak digantungkannya harapan
kecuali kepada-Mu.

Engkau Sang Penganugerah limpahan
bahkan kepada mereka yang asing pada-Mu,
setiap pendamba memperoleh dambaannya dari-Mu.”

Rabb bersabda, “Bukanlah karena dia tercela,
sehingga anugerah-Ku baginya ditunda:
penundaan itu adalah sebuah bantuan.

Kebutuhannya membawa dia
dari kelalaiannya kepada-Ku,
terseok-seok merayap dia ke jalan-Ku.

Seandainya langsung Ku-penuhi keperluannya,
segera dia berbalik: tenggelam kembali
dalam permainan hidupnya.

Walaupun dia merintih,
dari kedalaman jiwanya:
‘Wahai Rabb, Sang Maha Pelindung;’
biarlah dia menangis
dengan hati patah dan dada terluka.

Aku senang mendengar rintihannya:
‘Wahai Rabb,’
dan do’a yang dia rahasiakan.

Dan bagaimana dalam permohonan
dan beralasan kepada-Ku,
akan dia ajukan aneka bujukan,
bahkan coba memperdaya dan memaksa.”

Orang memasukkan burung nuri dan bulbul
ke dalam kandang yang bagus,
untuk mendengar keindahan suara
dan nyanyian mereka.

Itu tak dilakukan orang
terhadap burung hantu atau gagak.

Atau, seperti kisah dua orang
yang pergi menemui seorang pembuat roti:
yang pertama seorang yang tua dan buruk-rupa,
yang ke dua seorang pemuda tampan,
yang cemerlang wajahnya disukai sang tukang roti. [1]

Ke duanya meminta roti,
Sang tukang roti segera memberi si tua buruk-rupa
sepotong roti tak-beragi,
lalu langsung menyuruh dia pergi.

Tapi apakah dia akan juga segera memberi roti
pada sang pemuda; yang ketampanan
dan kecemerlangannya dia sukai?
Tidak! Dia akan menahannya.

Dia akan berkata, “duduklah sebentar,
kau takkan rugi sedikit pun,
roti segar yang baru tengah dibakar.”

Lalu, ketika sudah matang,
dan roti panas-segar dihidangkan kepadanya,
sang tukang roti akan berkata,
“tunggulah sebentar lagi,
halwa segera dihidangkan.”

Begitulah dia suka menahan sang pemuda,
dan secara tersembunyi menjadikan sang pemuda
sasaran perhatiannya.

Seakan berkata, “Aku punya urusan penting
yang perlu kita bicarakan, karena itu
tunggulah sebentar, wahai wajah cemerlang.”

Ketahuilah dengan yakin,
inilah sebab mengapa mereka yang beriman,
menjumpai berbagai kekecewaan
ketika memohonkan kebaikan
dan menghindari kejahatan.

– Jalaluddin Rumi –
________

Catatan:
[1]  Menyatakan perbedaan keadaan orang berdosa
dengan orang bertakwa.

________

Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 4217 – 4237
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Di post ulang dari http://ngrumi.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s