Tentang @toiletcafe

“Sampeyan muridnya Kang Luqman?”
“Iya. Kok sampeyan kenal Kang Luqman? :-|”
“Hahaha… Kalangan sufi, siapa yang nggak kenal Kang Luqman? Beliau orang hebat kok. Sampeyan beruntung.”
“Hehehe”

Itu dialog saat pertama kali sekali kami saling sapa. Muhammad Vandi, atau dikenal di twitter dengan  Jamban, atau @toiletcafe, hadir begitu saja dalam hidup saya. Katanya sih dia selebtwit. Tapi saya mengenal dia bukan sebagai akun ber-follower banyak. Saya mengenal dia sebagai sesama pejalan, sesama salik, dan sesama pecinta SangMahaPecinta. Memang, dia tidak pernah bercerita bahwa dia seperti yang saya sebut tadi. Terlalu humble. Namun bagaimana bisa seorang pecinta tidak mengenal sesama pecinta?

Kami jarang bersapa, namun saya yakin, kami saling menyapa lewat gerak-gerik, tindak-tanduk, dan sikap yang kami pancarkan masing-masing. Dia sering berbicara menggunakan akhlak perilakunya. Ya. Napasnya adalah akhlak. Darahnya adalah cinta. Saya belajar banyak dari dia.

Rasanya tidak percaya. Setelah mendengar berita semalam, sampai detik saya menulis tulisan ini, saya masih tidak percaya kalau dia akhirnya sudah berhasil mencapai tujuannya……menemui Tuhannya. saya membayangkan, betapa bahagianya dia setelah akhirnya rindu yang ia pendam terhadap Tuhannya tertebus juga. Kamu beruntung, mban. Saya iri. Saya pikir saya yang akan menang dan duluan mencapai Tuhan yang kita rindukan.

Dan kamu curang. Asal kamu tau, dari semalam saya mati-matian menahan tangis karena perjanjian tolol diantara kita untuk tidak menangisi kematian. Kamu berhasil membuat saya kalang kabut setelah sebelumnya kamu tidak berhasil membuat saya kalang kabut karena emoticon kelabang yang selalu bikin hang HP saya. Kamu…… Kamu juaranya.

Saya ingat percakapan rahasia diantara kita.  Kita saling mendoakan jasad dan ruh kita satu sama lain. Mendoakan keberkahan atas hidup kita satu sama lain. Dan kali ini saya menang. Saya tetap bisa meneruskan do’a-do’a yang tidak akan mati.

Saya masih mengingat, kita memegang puisi yang sama. Yang kerap kita jadikan pengingat. Dan dengan puisi ini, saya akan selalu mengingat kita.

Marilah kita jatuh cinta lagi
Dan sebarkan debu emas ke seluruh penjuru Bumi
Marilah kita menjadi musim semi baru
Dan merasakan tiupan lembut dalam wewangian surgawi
Marilah kita busanai Bumi dalam kehijauan
Dan seperti getah pohon yang muda
Biarkan berkat dari dalam mengaliri kita
Marilah kita ukir permata dari hati kita yang membatu
Dan pancarkan cahayanya untuk menyinari jalan cinta
Lirikan cinta sejernih kristal
dan kita diberkati karena cahayanya.
– Jalaluddin Rumi

Selamat jalan, sahabat. Ini seperti kali pertama kita bertemu, dan jatuh cinta, dalam cintaNya.

P.S.:
Tunggu saya di pintu makam. Supaya nanti kita bisa berjumpa, minum kopi, menyulut kretek, dan kembali berbincang tentang Tuhan dan cinta.

____

Tulisan lain tentang mu:

Advertisements

1 Comment

  1. nggak nyangka kalau toiletcafe ternyata seperti itu. maksud saya, selama ini saya hanya mengenalnya di twitter sebagai akun yang suka iseng, lucu-lucuan, bahkan terkadang saru. tapi rupanya dia lebih dari itu. selamat jalan jamban. selamat istirahat dengan tenang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s