Dialog Sunyi dengan Tuhan

Di sudut ruang gelap, penuh asap rokok bercampur kemenyan.
Aku duduk bersandar pada dinding, berhadap-hadapan dengan Tuhan.
Tak ada do’a-do’a, tak ada pembicaraan.
Cuma sunyi yang menjadi tuan.

Lama kami terdiam. Sambil berhadap-hadapan.
Dalam gelap, aku bisa merasakan,
Ia tak berhenti melempar senyuman.
Sementara aku masih asyik dengan tangisan.

Satu-dua jam, kami semakin terlarut dalam kesunyian.
Isyarat-isyarat yang beterbangan, larut ditelan malam.
Hela napas yang berat akhirnya kuhembuskan.
Lalu Ia mulai memelukku penuh kehangatan.

Dengan gusar, aku meronta, berkata dengan suara tertahan:
“Engkau telah berulang kali menjanjikan,
tak satupun sempat jadi kenyataan.
Kali ini kububuhi juga munajat-munajat yang kupersembahkan.
Namun janjiMu masih belum juga kelihatan.”

Sunyi kembali menjadi tuan.
Isak tangisku makin menderu seolah tak berkesudahan

Dengan lembut, perlahan Ia membisikkan:
“Maka, apakah amal perbuatanmu menentukan apa yang Ku tentukan?
Segala yang Ku tentukan, hanya terjadi karena kemurahan hati Ku yang Ku tunjukkan.
Belum juga kah kau paham?”

Seketika lidahku kelu.
Hanya tersisa isak tangis tersedu-sedu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s