Yet Another Story of Ramayana

Terkadang, niat baik yang kamu dedikasikan untuk kebaikan banyak orang, akan diabadikan sebagai bentuk kejahatan. Sejarah memang dimiliki oleh para pemenang perang.

Pernah tertulis roman yang cukup terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia. Tentang bagaimana hanya karena seorang perempuan, maka terjadilah peperangan besar. Inilah Ramayana.

Yang tertuilis disini bukan kisah Ramayana seperti yang selama ini kita kenal. Ini adalah kisah kebalikan yang ditulis dengan singkat. Mungkin saja, inilah yang sebenarnya. Namun, ini bukan tentang kebenaran dari cerita. Namun moral yang dapat diambil sesudahnya.

____

Tersebutlah, disebuah Kerajaan bernama Alengka, ada seorang Raja yang bijak, cucu keturunan dari Mahabali, pemimpin para Ashura. Raja itu bernama Rahwana. Seorang raksasa dari kalangan Ashura yang berkulit hitam. Taat terhadap ajaran Shiva dan Brahma.

Suatu hari, Rahwana mendengar. Bahwa ada seorang Raja bernama Rama, dari bangsa Deva, yang kerap memusnahkan wanita dan anak-anak kasta sudra dengan memutilasinya (Dikutip dari Ayodhya Kandam, Chapter 100). Ia gelisah mendengarnya. Ia berpikir, Sri Rama harus dihentikan. Akhirnya, dengan kegelisahannya, ia menghadap kakeknya, Prahlada, dan menyatakan keinginannya untuk melawan Mahawisnu, Sri Rama. Prahlada mencoba menasihati Rahwana untuk tidak melawan Sri Rama. Rahwana bersikeras. Akhirnya, Prahlada mengajukan syarat. Bila Rahwana dapat mengangkat cincin emas peninggalan Mahabali, maka ia diijinkan untuk pergi memerangi Sri Rama. Rahwana mencoba mengangkat cincin emas itu, namun gagal. (Dikutip dari versi lain Ramayana dari satu kisah bangsa Dravida –pent.)

Rahwana kecewa. Namun kegelisahannya mendorong ia untuk tetap melawan Sri Rama. Maka, diculiklah Dewi Sita, istri dari Sri Rama. Ia berhasil. Ia tidak melawana langsung Sri Rama karena ingat pesan kakeknya, bahwa ia tidak akan sangup melawan Sri Rama. Maka ia mencoba cara lain dengan menculik Dewi Sita, supaya Rama menghentikan pembasmian terhadap kalangan kasta Sudra.

Rupanya, Sri Rama murka mendengar Dewi Sita berhasil diculik oleh Rahwana. Kemarahannya ia luapkan pada Lesmana. Rama khawatir dan cemburu. Ia takut Dewi Sita celaka ditangan Rahwana. Maka ia menyerang Alengka. Padahal, Dewi Sita dalam pengasingannya oleh Rahwana, ia diperlakukan dengan sangat baik oleh Rahwana.

Singkat cerita, Rahwana berhasil dikalahkan oleh Sri Rama dan pasukannya, yang juga dibantu oleh Hanuman. Dewi Sita berhasil “diselamatkan”. Dan “kepahlawanan” nya tertulis turun temurun melintasi linimasa peradaban manusia. Dengan alur cerita, “Inilah akhir dari seorang Raja yang jahat yang buta akan kekuasaan dan wanita.”

Maka, berkabunglah kasta Sudra. Dan raksasa-raksasa dari bangsa Ashura, cemar namanya sepanjang masa. Gugurlah predikat Mahabaik yang dimiliki Mahabali dan keturunannya. Dan harapan agar suatu hari nanti semua kejahatan bisa lenyap seperti pada jaman pemerintahan Mahabali, pupus sudah.

____

Catatan kaki:
Diceritakan kembali dari kumpulan beberapa referensi yang pernah saya posting di twitter Juni lalu. http://chirpstory.com/li/92272

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s