Tangis Sunyi Terakhir Kali

Pagi di padang edelweiss Suryakencana. Aku terbangun hanya karena menggigil kedinginan. Dingin sekali pagi ini. Sinar matahari perlahan menembus sela-sela tenda. Matahari sudah meninggi rupanya. Ah. Aku kesiangan lagi untuk menyaksikan terbitnya matahari di Puncak Gede. Badai semalam sukses membuatku kesiangan lagi. Biarlah.

Sepintas, aku teringat kembali. Beberapa hari yang lalu, aku kabur dari rumah. Bertengkar hebat dengan pacarku. Disini, setiap pagi, aku selalu teringat pertengkaran kami. Dan pagi ini, aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Rasa-rasanya aku harus pulang ke rumah, memeluknya, dan meminta maaf. Aku sadar aku terlalu egois untuk memperjuangkan cemburu ku saat itu yang benar-benar buta. Pagi ini aku sadar, aku kangen dia.

Ku kemas tenda dan barang-barangku setelah sarapan. Aku bergegas turun dan pulang ke Jakarta. Lima jam kurasa cukup, termasuk istirahat, perjalanan menuruni gunung, menyisiri hutan, sampai Cibodas. Ku perkirakan, sore ini aku sudah sampai rumah, memeluknya, kemudian bercinta. Ya. Se-kangen itu aku.

Di Kandang Badak, saat beristirahat, aku berkenalan dengan seorang pendaki. Ia menawarkanku teh hangat saat melihatku yang kelelahan. Akhirnya kami memutuskan untuk menuruni gunung bersama. Kami sampai Cibodas sore hari. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak singgah di warung langganan. Aku langsung turun menuju Jalan Raya Puncak. Dan lagi-lagi, si pendaki baik hati ini menawarkanku tumpangan sampai ke Jakarta. Ya. Ia ternyata membawa mobil. Apalagi ia setengah memaksa. Katanya, daerah rumahnya tidak jauh dari rumahku.

Sampai dirumah, aku tidak mengetuk pintu. Aku masuk lewat pintu samping. Mengendap-endap. Kupikir aku akan memberikan kejutan. Aku perlahan masuk ke kamar. Kutemukan pacarku menangis. Aku akhirnya urung untuk mengagetkannya. Pelan-pelan aku sapa ia.

“Aku pulang, Sayang. Kamu kenapa?” Tidak ada jawaban. “Sayang?” Ia masih diam terisak. Aku menghela napas panjang.

Aku memutuskan untuk menunggu ia tenang. Kami berdiam cukup lama. Aku menatap wajahnya, mengusap kepalanya, mengurai rambutnya. Dia masih terdiam. Dengan napas terhela, akhirnya tak sabar aku angkat bicara. Aku jelaskan tentang alasan kepergianku, lalu alasan kenapa aku marah, dan penyesalanku karena lebih membela ego ku dibanding membela hubungan kami. Ia tetap terdiam.

Aku mulai stres. Hampir saja aku memutuskan untuk kembali ke gunung. namun ku redam egoku. Tidak. Aku tidak boleh marah lagi saat ia masih marah. Aku lalu beranjak ke ruang tamu. Menunggu dengan gelisah, berharap ia menghampiriku. Setengah jam, satu jam, akhirnya ia keluar kamar. Ia duduk disebelahku, terdiam. Ku tunggu ia angkat bicara. Mungkin ia masih amat kesal. Matanya masih sembab. Kami masih larut dalam diam.

Kemudian ia mengambil remote TV. Ia menyalakan TV, dan dengan gelisah, memindah-mindah channel TV sekenanya. Dan di channel berita, ia berhenti memencet-mencet remote TV. Selang beberapa menit, tersiar berita di layar kaca.

“Telah ditemukan mayat seorang pendaki bernama Rimba Kelana, 29 tahun, di Suryakencana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sore tadi. Ia ditemukan pendaki lain yang curiga melihat tenda yang sejak tadi pagi tertutup. Diduga pendaki tersebut terkena hipothermia. Saat ini mayat telah di evakuasi di markas Montana, Cibodas.”

Tangis pacarku meledak. Aku tercekat. Ya. Aku hampir tak percaya…………….Aku telah tiada.

Epilogue:
Sementara itu, seorang pria yang tadi mengantar ku sampai kerumah, menunggu di depan pintu, untuk menjemputku, ke alam baka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s