Tak Kenal, Maka Tak Sayang

Catatan ini adalah kelanjutan dari postingan yang pernah saya post dahulu, “Siapa Aku?”

Pernah ada satu pertanyaan yang dulu paling sering muncul dalam pikiran saya. “Siapa saya sebenarnya?” Bukan karena saya amnesia. Atau, sebatangkara yang tidak mempunyai nama. Memang, secara gamblang, saya adalah saya. Saya mempunyai nama, bergerak, berpikir, merasa… Saya, seperti mereka-mereka yang selama ini berinteraksi dengan saya. Tapi……bukan itu maksud saya. Ini bukan tentang nama atau identitas sosial. Pertanyaan itu membuat saya menggali dan menggali lebih dalam. Mencoba menyelami sisi yang telah lama saya abaikan. Pertanyaan yang bagi saya memiliki kesan mendalam. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk menjawabnya. Dan beratus-ratus jawaban datang silih berganti mencoba memuaskan ego saya untuk menjawab pertanyaan sialan tadi. Sampai akhirnya, ada satu jawaban yang cukup memuaskan saya. Siapa saya? Saya manusia.

Apakah pertanyaan itu cukup berhenti pada jawaban tersebut? Tadinya saya pikir, iya. Namun, memang benar. Semakin dalam mencari, semakin tenggelam lah sang pencari. Bukan berarti tersesat. Namun, justru ketika menyelami pertanyaan-yang-setengah-mati-sulit-untuk-dijawab tadi, justru malah sang pencari akan menemukan pertanyaan-pertanyaan baru seolah minta tersu diselami.

Banyak yang bertanya, “Buat apa saya susah-susah jauh mencari tentang siapa sebenarnya diri kamu? Memang jawaban apa yang kamu harapkan? Kamu berharap kamu itu Gavan atau Sarivan?” Saya cuma bisa diam. Karena, mau dijelaskan bagaimanapun, bila seseorang belum mengalami proses yang sama, mereka tidak akan mengerti. Dan memang. Hanya saya sendiri yang merasakan akibat dari pencarian bertahun-tahun yang melelahkan tersebut. Ya. Saya akhirnya mengetahui kelemahan dan kelebihan saya. Mengetahui tabiat, karakter, dan sifat-sifat saya. Dan yang terpenting, akhirnya saya memahami esensi mengapa saya diciptakan.

Kalau sudah cukup mengenal, lalu apa? Dalam prosesnya saja, seorang pencari akan mengalami pertarungan-pertarungan dengan diri/ego nya sendiri, untuk kemudian berdamai dengan dirinya sendiri. Kemudian mengakrabkan, lalu seseorang bisa dianggap mengenal dirinya sendiri. Setelah itu, seorang pencari biasanya akan mulai mencintai dirinya sendiri, sebelum menebarkan cinta keselilingnya. Bagaimana bisa seseorang mencintai orang lain tanpa mencintai dirinya sendiri? Bagaimana bisa seseorang menjadi rahmat bagi orang lain tanpa merahmati dirinya sendiri?

Rahmankan dulu dirimu, baru rahiimi orang lain.

Setelah seseorang mulai mendapatkan imbang atas dirinya sendiri, maka proses akan berulang terus menerus, sampai seseorang akan mengalami kesadaran spiritual yang lebih tinggi, dan juga keseimbangan sempurna antara soul-mind-body. Lelah, namun bagi beberapa orang, proses ini merupakan keharusan. Karena mengenali diri merupakan bagian dari penempuhan jalan spiritual.

Spiritualisme adalah proses seumur hidup. Bukan momen sesaat.
– @WayahMangir

Kenali dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhan mu.
– Imam al-Ghazaly

Mencintai diri bukan berarti memanjakan diri. Namun menempanya menjadi lebih baik dari yang terdahulu dan kemarin. Mencintai diri bukan membangga-banggakan diri (yang artinya sama dengan mengelus-elus ego dengan kesombongan). Namun menundukkannya sesuai dengan esensi mengapa ia diciptakan, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam (dengan beribadah -pent: Ibadah dalam arti luas juga mencakup hubungan dengan sesama manusia, makhluk lain, dan alam).

Semoga kita cukup berani menyelami lebih dalam tentang siapa sebenarnya diri ini.

Catatan kaki:
Saya telah menyia-nyiakan waktu hidup hampir seperempat abad. Lima tahun sebelumnya, saya memulai proses pencarian ini. Dan sampai sekarang, proses ini masih terus berlangsung. Dan proses ini masih ada pada titik kesimpulan bahwa: “Segala sesuatu itu adalah tiada. Termasuk diri.” (Nggak usah dipikirin. Kalau belum waktunya nanti malah pusing sendiri. :)) )
______
Catatan ini akhirnya saya posting setelah mendekam lama dalam draft, karena pagi-pagi, Nyonya @__azza dan Nona @aqmarinnaa sudah bahas mengenai mencintai diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s