GIVE

“Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai.” kata sebuah pepatah. Memang benar. Bahkan terkadang, apa yang kita tanam justru membuahkan balasan berlipat ganda. Entah itu hal baik, atau hal buruk. Di satu sisi, pepatah tersebut membuat kebanyakan orang berhati-hati dalam setiap tindakan yang akan mereka lakukan. Di lain sisi, pepatah tersebut justru secara tidak sadar membuat manusia yang memberikan hal-hal baik berekspektasi akan hasil yang akan mereka tuai nanti.

Banyak manusia lupa, bahwa tak jarang apa yang mereka tanam tidak membuahkan hasil yang sama. Dan seringkali hal ini membuat banyak manusia kecewa. Kecewa karena ekspektasi mereka. Berharap air susu dibalas dengan air susu. Bukan air tuba. Mereka menggantungkan diri mereka (dan apa yang mereka perbuat) pada ekspektasi-ekspektasi, dan harapan-harapan mereka. Sementara mereka bersikeras mengatakan mereka tulus dalam memberi.

Sebenarnya sah-sah saja. Siapa sih yang tidak mengharapkan hal-hal baik terjadi dalam hidup mereka? Berharap itu bukan dosa. Namun menggantungkan diri pada harapan-harapan, bagi saya hanya membenamkan diri dalam ketidakpastian. Atau kalau boleh saya katakan, terlarut dalam angan-angan. Lalu bagaimana jika hasil tidak sesuai harapan? Kebanyakan manusia hanya bisa berkeluh kesah. Menyalahkan apa saja yang kira-kira bisa dijadikan kambing hitam. Dirinya sendiri, orang lain, lingkungan, bahkan banyak juga yang menyalahkan Tuhan.

Mungkin mereka pikir, Tuhan adalah seorang akuntan. Memberi A, ya harus dapat A. Padahal Tuhan seringkali berbaik hati memberikan dua kali lipat, tiga kali lipat, berkali-kali lipat, dari apa yang manusia lakukan. Ya. Mungkin kehidupan tidak adil. Atau, jangan-jangan, manusialah yang terlampau egois?

Sangat jarang saya menemukan manusia-manusia yang menebar atau menanam benih, tanpa mengharapkan buah dari apa yang mereka tanam. Bagi mereka, apapun yang kelak mereka terima, bukanlah hal yang paling utama. Bila mereka menebar benih kebaikan, meski pohonnya tak berbuah pun, mereka merasa cukup senang dengan rimbun daunnya. Bila berbuah buruk pun, mereka menerima buahnya. Mungkin inilah yang dikatakan golongan yang bersyukur. Mereka mendedikasikan hidupnya, untuk seluruh instrumen semesta.

Lalu bagaimana dengan kamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s