Dunia Kebalikan

Pernah pada suatu masa, alam berkata pada manusia. “Apalagi yang kamu mau? Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kamu ambil. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk memuaskan serakah mu.”

Manusia. Makhluk yang diciptakan dengan tujuan menjadi pemimpin bagi semesta, telah berubah seiring waktu menjadi monster paling menakutkan bagi seluruh penghuni semesta. Kerakusan mereka menyerupai lubang hitam. Terus menghisap dan menelan apa yang ada. Manusia telah menjadi ancaman bagi seluruh penghuni semesta, bahkan bagi kaumnya sendiri.

Mereka telah menuhankan diri sendiri. Oh, tunggu! Tidak. Bukan begitu. Mereka telah menuhankan kerakusan mereka sendiri. Sepanjang peradaban, bahkan peradaban tertua sekalipun, kisah manusia selalu diwarnai oleh pemuasan-pemuasan ego dan nafsu mereka. Perlahan-lahan, alam yang tersakiti mulai sekarat, dan membuat para dewa kesal. Padahal para dewa telah memperingatkan bangsa manusia akan karma.

Adalah salah seorang bangsa manusia. Sama seperti bangsanya yang cenderung mengikuti “insting” mereka yang destruktif terhadap alam. Suatu hari, salah satu dewa datang kepadanya. Membawanya melintasi ruang-waktu, ke semesta paralel yang jauh berbeda dari semesta yang ia tempati selama ini. Disana, segala sesuatunya berkebalikan. Segala sesuatunya serba terbalik dari apa yang biasa ia lihat di dunia nya.

Ia terperanjat. Bagaimana tidak? Disana ia melihat pohon-pohon menebangi manusia, menggergaji manusia hidup-hidup. Ia melihat hewan-hewan ternak menyembelih, menguliti, dan memotong-motong bagian tubuh manusia. Ia melihat keledai dan kuda-kuda menunggangi manusia, baik untuk kendaraan, maupun untuk peperangan. Ia melihat ikan-ikan memancing manusia. Anjing-anjing yang menjadikan manusia peliharaan. Sampai para hewan yang menjadikan manusia sebagai bagian dari pertunjukan sirkus sebagai hiburan mereka.

Semuanya serba berkebalikan. Apa-apa yang merupakan bentuk kesemena-menaan manusia terhadap alam di dunia nya, menjadi kesemena-menaan bagi manusia di dunia yang ia lihat saat itu. Ia sangat terpukul, sekaligus tersadar, bahwa tidak seharusnya manusia memperlakukan alam dan makhluk lain sesuai dengan inginnya. Melihat hal itu, kemudian dewa tadi membawa nya kembali ke semesta tempat ia berasal.

Sekembalinya dari Dunia Kebalikan, ia menjadi lebih pendiam. Ia juga sempat tidak makan berhari-hari saking shock nya. Rekan-rekan dan kerabatnya mulai khawatir. Dipaksanya ia bercerita. Setelah dibujuk dan dipaksa, akhirnya ia mulai bercerita. Semuanya menganggapnya gila. Lalu ia dikucilkan, sampai akhirnya mati sendirian.

Waktu berjalan. Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan kisahnya ikut terkubur bersama jasadnya. Para manusia bahkan tidak pernah ingat tentang apa yang ia ceritakan dahulu kala. Lalu, pada suatu masa, alam berkata pada manusia. “Apalagi yang kamu mau? Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kamu ambil. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk memuaskan serakah mu.”

_______
Cerita ini didedikasikan untuk @JiaEffendie yang sedang meledak-ledak gairah menulisnya, apalagi setelah beliau menemukan gambar ilustrasi karya Sveta Dorosheva, ilustrator asal Ukraina, di Tumblr.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s