Raport Merah Penempuh Thariqah

Setiap manusia ada keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Begitu juga saya. Seumur hidup, saya terus menerus berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Saya terus merubah bentuk saya. Dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Namun jangan salah. Bukan bentuk umum (fisik) yang saya maksud. Yes, I’ve been changing into another form. And of course, with some hard process. Pain, and tears. That push me to kneel, and surrender. It’s not about emotion. But what I’ve passed in my own life. Lessons of life.

Banyak hal yang saya  pelajari selama beberapa hari kebelakang. Yaitu tentang bagaimana menerima (acceptance), pasrah (surender), dan bergerak menuju arah yang lebih baik (moving on). Percaya atau tidak, bab-bab tersebut lah yang kerap berulang dalam perjalanan hidup saya. Sehingga saya sudah sangat hapal bagaimana proses dan ending nya. Tapi sepertinya meski sudah sangat hapal, saya masih belum cukup mahir untuk melaksanakannya. Jangan tanya bagaimana prosesnya. Beberapa hari terasa seperti beberapa tahun. Jangan coba bayangkan bagaimana menderitanya. You’ll only find pain, pain, and pain. With tears, absolutely. Semuanya merujuk pada tujuan mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Membuat diri menjadi lebih baik dari bentuk sebelumnya. Menjadi paripurna.

Sudah beberapa tahun terakhir saya menjalani satu thariqah, banyak hal yang saya pelajari yang menunjang kematangan jiwa dan spiritual saya. Saya pikir apa yang saya dapet sudah sungguh-sungguh saya jalankan. Ternyata tidak. Pada akhirnya terungkap, bahwa apa yang saya jalani adalah NOL besar. Raport dengan nilai merah untuk saya. Ini bukan hasil introspeksi saya. Tapi inilah yang dikatakan oleh wakil dari Musryid (pembimbing spiritual) saya.

Memang. Menempuh perjalanan spiritual untuk menuju ke hadirat Nya bukan soal mudah. Banyak poin-poin yang harus dipenuhi. Selain dari segi syariat yang dimulai dari syahadat, pengejewantahan tarekat terhadap diri pribadi, hubungan antara diri dengan lingkungannya (seluruh makhluk), dan tentu saja hubungan antara diri dengan Sang Khaliq.

Sempurna kah syahadat saya? Mengucapkan penyaksian atas keesaan Tuhan dan kevalidan Muhammad sebagai utusanNya itu memang mudah. Hanya tinggal mengucap. Namun, apakah hati benar-benar “menyaksikan” nya? Selaraskah antara hati dan ucapan? Bila tidak, sah sudah. Saya telah menjadi seorang pembohong. Ya. Sampai saat ini saya masih terus berusaha menyempurnakan syahadat saya. Belum lagi empat rukun lainnya, yang tentunya masih jauh dari sempurna.

Memasuki suatu tarekat tentunya juga dibutuhkan manifestasi kedalam diri salikin (penempuh jalan). Dimulai dari NIAT. Saya akui bahwa niat saya menjalani thariqah sudah menyimpang dari tujuan. Ya. Tanpa saya sadari sepenuhnya, saya lebih tertarik dengan bonus dari perjalanan yang saya tempuh. Saya ingin menjadi mulia, dan celakanya saya pun terlanjur merasa mulia. saya melakukan dosa pertama yang pernah tercipta. Dosa yang membuat iblis terusir dari surga. Sombong. Sementara hakikatnya manusia adalah hina dihadapan Nya. Dan, saya tidak pungkiri. Saya menikmati kesombongan tersebut.

“Kembalikan niat dlm perjalanan menuju tujuan. Bukan terhenti pada bonus dari tujuan” – Syaikhina r.a.

Dengan sombongnya, saya malah mengharapkan keistimewaan dari perjalanan, dan merasa istimewa. Padahal faktanya, I’m nothing.

Manifestasi AKHLAK juga menjadi tolak ukur berbuah atau tidaknya tarekat pada diri salikin. Saya memang terus berjuang memperbaiki akhlak (perilaku) saya. Tapi sepertinya memang cuma sampai di kulit ari aja. Hanya sebatas dhahir (lahir). Sementara batin masih jauh dari yang diharapkan. Mengaku spiritual being, living with full of Divine within me, tapi nyatanya, kehidupan yang saya jalani masih sangat jauh dari Tuhan. Hal-hal simple, seperti melakukan segala sesuatu nya dalam rutinitas hidup diawali dan diakhiri dengan do’a. Atau menjaga hati dari penyakit-penyakit nya.

“Padahal seharusnya, segala aktivitas harus dengan mengingat/menyebut Nama Tuhan.” – Syeikhina r.a.

Yes. I’m a spiritual being wanna be. 

“Tanda thariqah itu berbuah adalah makin baiknya akhlak, budi, dan perilaku, berkembang dari hari ke hari. Melatih akhlak menjadi lebih baik hendaknya bukan hanya dilakukan secara dhahir, namun juga secara bathin. Melatih akhlak secara bathin yaitu dengan menghidupkan asma Tuhan dalam hati sebagai penerang, pelembut, penentram dalam hati yang kemudian akan menjelma kedalam seluruh perilaku.” – Syaikhina r.a.

Selain itu, manifestasi tersebut juga membutuhkan CINTA. Kemudian, saya mulai mempertanyakan tentang cinta yang kerap kali saya tebarkan di lingkungan sosial. Tuluskah? Nyatanya saya masih suka mengharapkan timbal balik dari apa yang telah saya tanamkan. Cinta. Seakan-akan cinta hanya di mulut aja. Hanya sedikit yang benar-benar berdiam di hati.

“Letak cinta itu dihati, bukan dimulut. Dari hati akan mengalir keseluruh tubuh dan menjelma jadi tingkah laku.” – Syaikhina r.a.

Belum lagi perilaku saya terhadap Sang Khaliq. Saya masih sering mengatur Sang Pencipta. Seolah saya tidak bisa membedakan, mana dalang, mana wayang. Saya masih sering ngambek jika ada hal-hal tidak enak yang menimpa saya. Entah, berapa lapis hijab yang memisahkan saya dengan Tuhan karena perilaku-perilaku saya. Saya masih jauh dariNya.

Kesemuanya sudah cukup menggambarkan bagaimana hancurnya raport yang saya pegang sebagai seorang penempuh jalan. Saya merasa gagal. Namun, atas Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih), saya masih percaya bahwa sisa hidup yang singkat ini adalah kesempatan yang Ia berikan untuk terus memperbaiki diri. Semoga saja kesempatan ini jauh dari kesia-siaan. Dan semoga, tulisan ini juga bisa menjadi perenungan terhadap siapapun yang membacanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s