Ksatriya

Wahai Ksatriya. Ku lihat malam ini raut kusut wajahmu di antara kerut muka yang tergores tegas . Ku lihat kuyu matamu yang basah tergenang lelehan air mata penderitaan. Ku dengar berat napasmu yang terhimpit beban kehidupan. Ku rasakan kehampaan jiwamu dalam sunyinya pengasingan.

Wahai Ksatriya, ketahuilah! Pengasinganmu adalah suatu kepastian. Suluk mu adalah suatu keniscayaan. Fase yang harus terlewati pada tiap pengembaraan. Agar hatimu tetap murni adanya.
Wahai Ksatriya. Janganlah menyalahkan dirimu atas suatu keadaan. Engkau tiada bersalah atas tuduhan yang kau hujamkan dalam penghakiman. Kamu hanya lupa. Kamu hanya lupa tentang siapa engkau, bagaimana kau dibentuk, dan tentang mengapa engkau diadakan.
Maka, mari simak kembali cerita yang pernah aku tuliskan kepada kalian, tentang kasta dimana engkau berada, wahai Ksatriya.—

Ksatriya. Adalah sejarah kesendirian terpanjang yang pernah ada di dunia. Sendiri sejak awal mula, sendiri saat mengembara, sendiri pada akhir hayatnya. Ksatriya adalah penempuhnya. Kesendirian terpasung dalam hidupnya, bukan untuk membunuhnya. Namun untuk menguatkannya dan melepaskannya dari belenggu ketermelekatan menjadi abdi dunia.
Ksatriya tangguh berjalan diatas kakinya, dengan penuh beban di atas pundak sampai kepalanya. Membuatnya kerap kali merunduk dan sulit untuk mengangkat dagu dengan sombongnya. Resah adalah guru sekaligus kekasihnya, yang memaksanya terus berdiri dan berjalan, sekalipun lutut gemetar tak terkira.
Ksatriya. Ia ringan melangkah dalam keheningan yang hampir abadi. Berkali-kali dihidupkan, berkali-kali pula dimatikan. Namun ia selalu siap mengulang kehidupan dan kematian dalam kesendirian. Membuatnya tangguh bertarung melawan hidup, dan tak cukup lemah menaklukkan dirinya sendiri.
Ksatriya. Bertaruh kehormatan, memegang erat sumpah setia terhadap jiwanya dan Tuhannya. Memegang erat nama dirinya, menggenggam erat keharusan, meski kemudian mati remuk redam adanya.
Kstariya. Dengan penuh kerelaan menyerahkan dirinya pada pengabdian yang merupakan kemutlakan. Mengabdi untuk diasingkan kemudian. Karena baginya, pengabdian, pengasingan, dan kesendirian adalah suatu kemutlakan. Kemutlakannya adalah keselamatan, dan berkah bagi sekitarnya.
Maka, ingatlah kembali masa dimana mereka diciptakan, dan kisah ini kembali kutuliskan, saat engkau mulai lelah mengembara di antara kota-kota takdir, dan putus asa saat mereguk getirnya air sungai dharma.
______
 
Seringkali saya menyebut tentang ksatria, sehingga banyak yang menyangka saya pemimpi. Pemimpi yang tidak bisa membedakan mana imaji, mana realita. Tentu kebanyakan orang membayangkan bahwa sosok ksatria yang seringkali saya sebut disini adalah seseorang atau kelompok dengan sosok gagah, tampan, berwibawa, menenteng pedang dengan penuh kebanggaan, duduk diatas kuda perang yang membuatnya terlihat gagah. Padahal jarang sekali saya menyebut sesuatu secara eksplisit, sesuai dengan kondisi fisik yang terlihat. Untuk beberapa kasus, saya lebih suka mendekripsikan jiwa. Dan ksatria disini bukanlah penampilan fisik seseorang, ataupun profesi. Ksatria yang saya maksud adalah karakteristik dari jiwa seseorang, yang terdeskripsikan secara khusus seperti narasi di atas.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s