Lone Wolf with Many Scars: The Beginning

Sore menjelang malam. Seorang teman menatap iba padaku. Padahal saat itu, sungguh, aku sedang senang bukan kepalang. “You’re the lone wolf with many scars”, katanya sedih. Aku seketika terdiam. Ia terus menatapku lekat-lekat. Pilu. Sepilu aku mengakui kebenaran kata-katanya.

Ya. Aku adalah jiwa yang mengembara dalam pahitnya perjalanan hidup. Berjalan sendirian di jalan hidup yang penuh alang rintang, duri-duri dari belukar yang menjuntai, dan kerikil-kerikil tajam pada jalur yang mendaki curam. Aku adalah jiwa yang berjalan dengan penuh luka, yang terlindungi oleh darah, keringat, dan air mata yang mulai kering mengerak, sehingga cukup kebal adanya.

Kemudian aku terlontar ke waktu dimana aku mengambil keputusan untuk mengambil jalan yang kutempuh saat ini. Padahal, ada plang besar yang bertuliskan: “JALANAN INI TIDAK ENAK!” yang ditulis dengan font besar dan tebal berwarna merah, lengkap dengan gambar tengkorak disebelahnya. Padahal, ada pilihan lain. Jalan yang lebih lapang, rata, aman, nyaman, namun sayangnya berujung hampa. Nekat benar aku saat itu. Hanya karena mendengar kabar, bahwa dengan lewat jalan itu, nanti akan sampai ke puncak terindah, dimana bunga-bunga kebahagiaan abadi tumbuh bersama pohon-pohon yang berbuah kearifan. Banyak yang mengatakan, puncak itu tidak pernah ada. Entah bodoh atau nekat, aku mulai memantapkan langkah dengan sombongnya memasuki gerbang perjalanan itu.

Sudah bertahun-tahun lalu. Sampai aku cukup malas untuk mengingatnya. Kesombonganku perlahan mulai meluntur seiring dengan luka-luka yang tertoreh. Kepala tertunduk pasrah, kaki gontai melangkah. Entah sudah berapa lama aku berjalan. Temanku benar. Aku kesepian dalam perjalanan. Sudah saatnya lukaku diobati. Supaya tercapai tujuan di puncak perjalanan.

Sore menjelang malam. Seorang teman menatap iba padaku. Aku menerawang dalam pilu. Harapan-harapan mulai mengembang, mereka-reka akhir dari kesendirian. Namun, seketika aku tertarik lagi pada kenyataan: Aku adalah jiwa yang berjalan gontai di jalan hidup yang pahit…..sendirian.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Pulang | kolom sunyi kontemplasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s