DON’T EVER GIVE YOUR SELF TOTALLY TO SOMEBODY YOU LOVE.

Saya pernah mengalami ini. Ini bukan pertama kalinya saya dihancur leburkan oleh entitas tak kasat mata bernama cinta.

Seorang teman pernah berkata, “Jangan memberikan diri kamu dan jiwa kamu seutuhnya kepada orang yang kamu cintai. Bila kamu memberikan segalanya, maka apalagi yang kamu punya? Dan ketika ia pergi, apa lagi yang tersisa?”

Dia mengatakannya saat saya sudah terlanjur memberikan seluruh jiwa dan raga saya kepada orang yang saya cinta, untuk pertama kalinya. Saat itu saya sedang hancur berantakan. Hancur karena pengabaian dan ditinggalkan. Kamu tau rasanya hancur sehancur-hancurnya sehingga kamu merasa tidak ada lagi dimana-mana? Itu sakit. Silahkan saja kalau mau mencoba.

Keajaiban selalu datang. Bagi jiwa yang kuat, hati akan memiliki kemampuan meregenerasi dirinya sendiri. Rasa cinta itu saya alihkan ke diri saya sendiri. Kemudian saya menjadi orang yang sangat mencintai diri saya sendiri. Saya menjadi lebih kuat, dan lebih kejam. Untuk selanjutnya, bahkan tiada tempat untuk cinta khusus bagi orang lain. Saya menjadi tak tersentuh, dan tak bisa dimiliki. Dingin, kejam, entah apalagi julukan yang mereka berikan kepada saya.

Cinta memang sangat tak terduga. Kehadirannya bagaikan hantu yang….entah….tiba-tiba muncul bukan dari mana-mana.

Ada seseorang yang saat pertama kehadirannya, saya menganggapnya masalah. Bukan karena ia menyebalkan. Tidak sama sekali. Tapi intuisi mengatakan bahwa dia memang masalah (kali ini saya yang menyebalkan, bukan? :p). Tidak ada indikasi saya akan jatuh cinta kepadanya. Sampai akhirnya setelah beberapa hari dari pertemuan pertama, kami sama-sama saling menginginkan (setidaknya begitulah ekspektasi dari analisa saya.). Ya, saling paham bahwa kami adalah masalah bagi satu sama lain, saling paham bahwa kami saling menginginkan satu sama lain, dan sama-sama paham bahwa kami harus segera mengambil tindakan. Kami sepakat untuk saling membelakangi. Menolak apa yang kami rasakan pada saat itu.

Tibalah masa dimana saya harus bertarung dengan gigihnya melawan entitas asing yang entah tiba-tiba datang darimana. Saya melawan rasa dengan sugesti penuh kedalam diri, “Aku tak dapat ditaklukkan. Tidak lagi. Tidak kali ini.” Namun, setiap pertarungan pasti ada pemenangnya. Saya terjatuh, bersimpuh dan menyerah kalah. Kemudian menjadi bulan-bulanan perasaan yang menyebalkan ini. Namun tetap, saya menahan agar perasaan ini tidak mengendalikan mulut saya untuk melontarkan pernyataan kepada nya.

Segala sesuatu yang dibendung, pada saatnya akan mengalir juga. Sekuat-kuatnya saya menahan, pada akhirnya akan terlontar juga. Ya. Akhirnya saya menyatakannya. Saya menyatakannya dengan menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya. Saya telah menyerah total.

Ini bukan kali pertamanya saya melakukan kebodohan yang sama. Ini kali kedua saya memberikan seluruh jiwa dan diri hidup kepada orang yang saya cintai. Saya pernah mengalami ini. Ini bukan pertama kalinya saya dihancur leburkan oleh entitas tak kasat mata bernama cinta. Bukan karena nggak kapok dengan pengalaman pertama. Bukan karena ingin terjatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun karena terlalu cinta.

Ya. Cinta telah menang dan kembali menghancurkan saya. Lebih hancur dari sebelumnya. Hancur tak tertolong lagi. Sehingga hanya kepasrahan terhadap keputusanNya pada kota-kota takdir yang tersisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s