Pengembara, Bintang Utara, dan Cinta

Ada cahaya, jauh di tepi cakrawala langit utara. Polaris, orang-orang menamakannya. Seorang anak kagum memandangnya. Setiap hari, ia hanya memandangi cahaya tersebut. Hingga timbul keinginannya untuk meraih dan menyimpannya sebagai kebanggaan.
Tahun berlalu, anak itu tumbuh dewasa. Keinginannya yang kuat tertanam sedari kecil, membentuk tekadnya untuk berjalan mengembara. Hanya untuk melihat cahaya indah di utara. Siapa tau ia bisa mencurinya. 
Bertahun-tahun berlalu. Daerah utara ternyata jauh dari keindahan yang selama ini ada dalam pikiran kanak-kanaknya. Ya. Akhirnya ia sampai ke utara. Daerah dengan dingin ekstrim yang sanggup memecahkan tulang hanya dengan hembusannya. Tapi ia terus berjalan. Cahaya indah itu semakin dekat terlihat. Namun, ia terkejut bukan kepalang. Bahwa ternyata selama ini yang dilihatnya dari kejauhan adalah refleksi dari cahaya di sebuah rumah.
Didepan rumah tersebut, ia jatuh tersungkur. Bukan karena kecewa. Keinginannya untuk membawa pulang cahaya tersebut sudah musnah, tergantikan dengan setitik asa untuk tinggal dalam rumah sederhana tersebut. Bayangannya tentang memamerkan cahaya tersebut berubah menjadi bayangan saat ia menikmati coklat hangat, dibawah selimut, berbincang bersama penghuninya.
Ia jatuh tersungkur, hampir kehilangan daya. Kakinya tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Apalagi saat itu sedang badai. Es menjadi lebih dingin berkali-kali lipat. Ia pun merangkak sampai kepintu. Diketuknya perlahan pintu tersebut. Tak ada jawaban. Diketuknya lagi, tak ada balasan. Namun ia tau, ada orang didalam sana. Mungkin ia takut, pikirnya. Ia kembali mengetuk. Namun kali ini lebih lemah. Daya nya hampir tiada. Kemudian ia menjelaskan siapa dan darimana dirinya. Sang penghuni tidak menjawab.
Ia kemudian mulai membayangkan suatu keniscayaan. Mungkin ia akan mati kedinginan disini. Jauh dari keluarga dan teman-teman. Ia mulai meringkuk, kemudian bersenandung. Ia ingin sekali mengetuk lagi, namun ia tak mau mengganggu. Apalagi kondisinya yang semakin melemah. Ia bersenandung. Lirih, tapi syahdu. Asa nya telah berubah. Ia hanya ingin bertemu dan bertatap muka dengan pemiliknya, kemudian mengucapkan terima kasih telah memenuhi mimpi-mimpinya sedari kecil. Ia bersenandung lirih, menanti sang penghuni. Meringkuk, kedinginan, didepan pintu. Ia tak tau, dan mungkin tak akan pernah tau tentang keniscayaan yang baru saja ia pikirkan.
Setidaknya, ia menyadari satu hal. Ya. Ia telah menjadi kuat karena cinta yang menuntunnya, kemudian ia hancur karena memberikan seluruh diri dan hidupnya pada cinta. Ia menyadari, ia telah jatuh cinta, menyerah tanpa syarat. Ia sadar, ia jatuh cinta……..sampai akhir hayatnya.
P.S.: Saya percaya, kisah cinta pengembara tersebut akan abadi, seabadi es yang meliputi jasadnya. Semoga.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s