Belajar Mendengar



Aku teringat akan sebuah pagi buta, dimana saat itu aku sedang menikmati dinginnya malam bersama secangkir pahit kopi panas. Pagi itu, pukul dua lewat sebelas menit. Seketika telepon genggam ku berbunyi. Dilayarnya tertera nomor yang sama sekali asing bagiku. Kudiamkan saja. Hingga akhirnya nomor asing tersebut menghubungiku untuk ketiga kalinya, aku angkat untuk memastikan siapa dan ada apa meneleponku di saat seharusnya orang-orang tertidur lelap. Begini kira-kira percakapan kami saat itu.


“Halo?”

“Kamu masih marah ya?” Suara perempuan diseberang sana terlihat agak tertahan. Seperti menahan beban yang sangat berat.

“…….” Aku berdiam, awalnya hanya sekedar mencoba mengenali suara tersebut.

“Aku tau aku salah. Aku memang nggak pantes buat kamu.Mungkin bagi kamu, aku cuma sampah yang kotor, hina dan……..aku nggak tau mesti menyebut apalagi.” Suara itu mulai terisak. “Seharusnya aku menjaga kepercayaan kamu. Seharusnya aku nggak khianatin cinta kamu ke aku. Aku memang nggak tau diri.”

Ingin segera kuakhiri pembicaraan kami saat itu. Mengingatkannya bahwa ia salah sambung. Tapi aku penasaran. Aku memilih diam dan menyimak.

“Malam itu, seandainya aku nurut sama kamu untuk nggak pergi clubbing diam-diam, mungkin semua nggak akan kayak gini. Aku…menyesal. Aku nggak tau harus nyalahin siapa lagi selain diriku sendiri. Malam itu aku mabuk berat. Nggak tau gimana ceritanya, sadar-sadar aku sudah di Hotel, sama si Erick. Kamu tau, saat itu aku merasa sangat hancur. Aku ketakutan. Tapi semua udah terlanjur kejadian. Dan aku harus menanggung resikonya. Aku hamil dan kemudian harus menikah sama bajingan itu. Kamu tau rasanya? Sakit. Ya. Sakit. Karena aku………..aku………..Cuma kamu yang aku cintai.”

Mendadak kopi ku terasa sangat pahit. Sepahit apa yang dialami Nona diseberang sana.

“Kamu masih disana kan?”

“Masih” Ujarku getir.

“Aku tau kamu nggak bisa maafin kamu. Dan mungkin ini permintaan maafku yang terakhir sebelum…….besok pagi aku menikah.”

Tangisnya terpecah. Sesengukan. Kutunggu sampai agak reda tangisnya. Perasaanku ikut hancur, larut dalam tangisnya.

“Kamu tau?” Ujarku. “Dulu pernah ada seorang anak kecil yang bandel minta ampun. Ia seringkali membuat masalah di lingkungan sekitar rumahnya. Namun orang-orang selalu memaafkan kenakalan anak kecil itu saat dengan polosnya anak itu berujar, ‘maafin aku.’” Aku menghirup dalam-dalam rokok kretek ku, dan kuhembuskan kuat-kuat keudara.

“Suatu ketika, ia merengek minta dibelikan tembak-tembakan kayu yang pelurunya dari bambu. Meski dilarang, ia tetap meminta uang dengan alasan untuk membeli mainan yang lain. Ia tetap membeli tembak-tembakan kayu. Tidak langsung pulang, ia bermain bersama teman-temannya. Sampai akhirnya, peluru bambu yang ia tembakkan, tak sengaja mengenai mata teman nya. Teman nya dilarikan ke rumah sakit. Kembali lagi ia mengatakan, ‘maafin aku.’ Namun ia akhirnya sadar, kata maaf nya tidak mengembalikan mata teman nya yang cacat. Untuk kemudian, ia dimusuhi dan hidup dalam kesendirian. Namun, kejadian itu memunculkan tekadnya untuk terus berbuat baik terhadap sesama. Berusaha meminimalisir kesalahan, dan memperbaiki kesalahan lainnya. Kejadian tersebut merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”

Ia mendengarkan, sampai tangisnya semakin menggila. Pilu sekali rasanya.

“Setiap manusia mempunyai kesalahan. Dan kesalahan bukan berarti alasan untuk menghukum manusia dalam keterpurukan. Maafkan dirimu. Maafkan masa lalu mu. Merdekalah. Cepat atau lambat, pria yang kamu maksud akan memaafkan kamu.”

“Maksud kamu?”

“Ya. Kamu salah sambung. Tapi aku menyimak kok. Aku yakin, jalan ini memang yang terbaik untuk kamu.”

“Siapapun kamu, maaf. Aku sudah mengganggu kamu pagi-pagi buta begini. Tapi terima kasih.”

“Tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih. Malam ini kamu mengajarkanku bagaimana caranya belajar mendengar. Siapapun kamu, aku mohonkan doa agar pernikahanmu besok menjadikan kamu pribadi yang lebih baik, dan selalu berbahagia.”

Setelah saling mengucap salam, ia menutup teleponnya. Entah apa yang dia pikirkan disana saat itu. Akupun kembali larut dalam perenunganku mengenai kejadian yang baru kualami saat itu. Bagaimana kalau pasanganku yang mengalaminya. Bagaimana kalau adik perempuanku yang mengalaminya? Bagaimana kalau……ah sudahlah. Semesta memang selalu mengajariku hal-hal baru dengan caranya yang unik. Terima kasih, semestaku. Terima kasih, Tuhan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s