(Sok) Bijak

Manusia mati meninggalkan kebajikan.

Kamu tentu sudah sering dengar pribahasa tadi kan? Ya. Hanya kebajikan lah yang menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya. Dan hanya kebajikanlah yang membuat manusia tetap dikenang setelah tiada nya. Aku lebih suka menyebutnya sebagai dharma. Bukan supaya terkesan sok spiritualis. Tapi biar cepet nulisnya.
Dharma atau amal perbuatan baik, tentunya lahir dari kesadaran hati untuk melakukannya. Kesadaran itu bisa berasal dari pendidikan yang berasal dari luar diri maupun penempaan-penempaan hidup atas diri seseorang. Nggak ada bedanya kok. Yang membedakan cuma media pembelajaran dan metode pelaksanaanya saja.
Kenapa begitu? Silahkan amati kemudian simpulkan sendiri. Aku hanya berikan satu contoh, dimana setiap jenjang pendidikan selalu menyisipkan pendidikan moral sebagai bentuk pengajaran. Oleh karena itu, sangat mudah sebenarnya untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya normatif.
Kita semua sebenarnya tau kok, mana yang baik dan yang buruk. Namun dalam metode pelaksanaannya, kebanyakan hanya dimulut saja. Aplikasi nya nol. Atau bisa jadi ada aplikasi nya, namun ada tujuan tersembunyi yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya didalam pelaksanaanya. Sangat jauh dengan mereka yang mendapatkan pencerahan dan penempaan secara langsung, sehingga pembelajaran hidupnya sangat kental terasa, juga pengaplikasian dharma nya tidak berdasarkan tujuan tertentu yang menguntungkan diri ataupun kelompoknya.
Dalam penempaan (atau bisa dikatakan pengalaman) secara langsung, manusia akan belajar hal-hal yang kelak menjadi pedoman jalan hidupnya. Dan dari pembelajaran langsung itulah manusia akan menjadi bijak (arif) dalam menyikapi apa yang terjadi dalam hidupnya. Jadi bukan sekedar pencitraan publik supaya dianggap keren, formalitas memenuhi norma, apalagi mengambil keuntungan. Mereka yang mengalami pembelajaran hidup secara langsung, mengalami fase bijak itu sendiri karena cenderung sebagai guide dalam menjalankan hidupnya. Dan memang, akan berimbas baik kesekelilingnya. Sehingga menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Itulah yang disebut tercerahkan.
Kebanyakan orang-orang yang dianggap bijak atau tercerahkan ini, sering dimintai pendapat oleh orang lain yang sedang mengalami ketidak tenangan dalam hidupnya. Atau sekedar membagi pengalaman hidupnya. Atau bahkan sekedar menuangkan pikiran-pikirannya tentang hidup.
Entah dosa siapa, saat ini kebajikan atau kearifan seseorang sering disalah arti kan oleh yang lain. Kebanyakan orang dengan mudahnya memberikan label sok bijak ataupun pencitraan tanpa menelusuri apa yang telah atau sedang “orang sok bijak” tadi alami. Ya. Itulah fakta yang terjadi. Padahal seharusnya kebaikan tak mengenal diskriminasi. Oke. Taruhlah kalau si A yang sok bijak memang mempunyai kepentingan dibalik jubah bijak dan penunaian dharma nya. Biar saja lah. Kita tidak pernah tau kalau siapa tau nantinya justru ia akan benar-benar mengenal, mengalami, memahami kemudian tercerahkan dengan sendirinya. Jadi untuk apa repot? Kalaupun tidak, setidaknya kita tak akan pernah tau kalau ternyata pencitraannya merubah orang lain menjadi benar-benar tercerahkan.
Mungkin yang dipermasalahkan adalah, semakin banyaknya orang-orang yang sok tercerahkan atau bahkan benar-benar tercerahkan, tertangkap basah melakukan hal-hal yang bertolak belakang dari apa yang tercitrakan pada diri mereka. Tapi kenapa harus merujuk pada label? Kenapa bukan merujuk pada “apa” ia sebenarnya? Yaitu sisi dari hakikat manusia yang kerap berbuat salah? Ingat, “To err is human.” Seberat apapun kesalahannya, manusia ya manusia. Dan manusia tidak selamanya baik juga tidak selamanya buruk. Fluktuatif.
Aku sendiri tidak peduli akan judgement yang mereka lontarkan kepadaku. Apalagi kalau hanya sekedar asumsi dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Hey, tunggu dulu. Tidak peduli bukan berarti tidak mendengarkan pendapat dari orang lain yaaa… Ketidakpedulian ku disini dalam arti, apapun yang mereka sangkakan, aku tetap berjalan diatas kaki ku sendiri. Sementara sangkaan itu aku terima sebagai pembelajaran lain. Seperti bagaimana cara menyikapi sangkaan atau penghakiman, misalnya. Atau menempa hati agar lebih bisa memaklumi, misalnya. Tidak ada yang sia-sia kok.
Jadi untuk apa merasa takut untuk menjadi arif dan bijak? Untuk apa merasa takut keluar dari keremangan (bahkan kegelapan) menuju pancaran yang lebih terang? Ya memang. Dibutuhkan keberanian yang cukup untuk memulai suatu hal kecil yang mungkin akan merombak seluruh hidup, sikap, dan cara pandang seseorang terhadap hidup. Tergantung tekad hati yang bulat dan tentu saja nyali yang cukup untuk mengawalinya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s