Egois


Pernah nggak menyadari satu hal kecil dalam hidup? Bahwa terkadang, disadari atau tanpa kita sadari, kita cukup diskrimatif dalam hidup. Hanya mengizinkan dan menerima apa yang kita inginkan dalam hidup. Ya. Kita terlalu pemilih sehingga menerima segala sesuatu hanya untuk kesenangan pribadi semata. Hanya sesuai selera. Dan tanpa pengamatan yang lebih mendalam. Ujung-ujungnya, kita terperangkap dalam asumsi kita sendiri tentang suatu hal.

Mereka yang terbiasa hidup dibawah terangnya lampu, kebanyakan panik ketika tiba-tiba saja mati listrik. Dan saat itu terjadi, imajinasi mereka bermain sehingga mereka berasumsi akan hal yang belum tentu nyata dan jauh dari apa yang sebenarnya terjadi. Semua berawal dari ketakutan yang sekian lama tertanam dalam hati. Padahal, justru dalam gelap, kita bisa melihat lebih jelas.

Mereka yang terbiasa hidup diantara keramaian, kebanyakan seketika akan terganggu bila mendadak sepi. Seolah sepi merupakan “suara” paling bising yang memekakan telinga hati. Dan saat itu terjadi, maka ketakutan seketika menyergap dan menyerang mereka yang tak terbiasa akan kondisi ini. Padahal, justru dalam sunyi, kita bisa mendengar lebih banyak.

Ya. Memang. Kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan. Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Seringnya begitu. Dan itu terjadi pada kebanyakan dari kita. Aku, mungkin kamu, mungkin mereka, kita semua kebanyakan egois dan diskriminatif terhadap suatu hal. Dan kebanyakan, semua berasal dari rasa takut dari ego yang kita miliki.

Kita terlalu sering membuat penghakiman-penghakiman atas suatu hal yang kita sendiri belum tentu mengerti. Padahal dalam suatu pembelajaran, bukankah yang terpenting adalah penerimaan? Lalu bagaimana kita sebegitu diskriminatifnya akan suatu hal yang seharusnya bisa kita jadikan pembelajaran?

Aku sedang berusaha belajar melihat, mendengar, dan menerima segala hal. Dan ini tidak semudah apa yang pernah kita bayangkan. Dimulai dari melihat hal-hal yang tak ingin kita lihat dan ketahui dari diri, kemudian mencoba melihat hal-hal yang tidak ingin kita mengerti sebelumnya dari orang lain. Dimulai dari mendengar apa yang biasa kita abaikan dari diri saat ia bersuara, kemudian mencoba mendengar apa yang orang lain suarakan saat mereka ingin didengar. Aku mencoba mengerti dan memahami segala sesuatunya secara utuh tanpa terpengaruh oleh butanya asumsi-asumsi.

Ya. Memang tidak mudah. Sama sekali tidak mudah saat kita harus menahan ego kita untuk mendeskripsikan, kemudian mendiskriminasikan suatu hal yang sebenarnya kita takuti tanpa alasan. Namun mengapa tidak? Bukankah hidup adalah pembelajaran akan suatu pengalaman?


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s